Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
42. Mengingatkan


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


Waktu pun berlalu sesuai masanya. Hari-hari dilalui seperti biasa. Namun, ada yang berbeda dalam kehidupan Kezia. Semakin ke sini sikap Abizar semakin tidak seperti dirinya, terutama sikapnya terhadap Kezia. Lelaki itu lebih perhatian bahkan begitu siaga terhadap istrinya yang tengah hamil tua. Kezia pun merasa nyaman dengan sikap suaminya.


"Minum susunya dulu, Mbak!" titah Abizar pada satu malam. Sudah menjadi kebiasaannya dalam seminggu ini, Abizar selalu membuatkan susu hamil untuk Kezia sebelum perempuan itu tidur.


"Makasih." Kezia menerima gelas yang berisi cairan berwarna putih tersebut.


Abizar tersenyum, lalu duduk di tepi tempat tidur, menunggu gelas kosong dari susu yang diminum oleh istrinya tersebut.


"Pelan-pelan, dong, minumnya! Belepotan gini." Abizar membantu mengelap cairan putih yang tersisa di ujung bibir Kezia.


Kezia tercekat seketika. Ada getar aneh yang mendera hatinya. Getar itu membuat jantungnya tidak baik-baik saja. Tiba-tiba berdetak kencang seperti genderang mau perang. Terlalu sering mendapatkan sikap manis Abizar membuat Kezia merasakan sesuatu yang berbeda dirasakan oleh hatinya. Hatinya merasa hangat ketika Abizar memperlakukannya seperti istri sesungguhnya. Perhatian lelaki itu membuat Kezia mulai jatuh cinta, tetapi ia tidak berpikir ke arah sana. Kezia tidak berani menyebut itu adalah cinta.


"Tidur, gih!" Perintah Abizar memecahkan lamunan Kezia. Ia tersenyum kala suaminya tersebut mengusap kepalanya dengan lembut, kemudian ia mengangguk.


Kezia berbaring di tempat tidur, lalu Abizar menutup tubuhnya dengan selimut sampai batas perut. Tak lupa Abizar memberikan kecupan hangat di kening perempuan tersebut.

__ADS_1


"Selamat malam, Mbak," ucapnya dengan lembut.


"Selamat malam," balas Kezia lalu menutup kedua matanya.


Setelah memastikan istrinya tertidur, Abizar beranjak untuk menyimpan gelas kosong bekas susu tadi, setelah itu bergegas tidur di samping sang istri. Kini, tidak ada lagi batas wilayah teritorial di tempat tidur tersebut. Kewaspadaan Kezia sudah tidak lagi ketat, Abizar bahkan dibiarkan untuk memeluknya kala terlelap. Mungkin benar jika hati Kezia sudah terjebak.


...*****...


Kedekatan Kezia dan Abizar tentu saja membuat seseorang kepanasan. Siapa lagi kalau bukan Devan. Lelaki itu merasa terabaikan oleh Kezia. Ia tidak mau jika Kezia sampai jatuh cinta kepada Abizar. Ia pun memutuskan untuk menemui Kezia secara diam-diam, saat Abizar sudah berangkat bekerja.


"Zee, gue mau ngomong sesuatu sama lo."


"Eh, Van. Kamu belum berangkat kerja?" tanya Kezia bersikap biasa saja. Sikap yang selalu ia tunjukkan kepada sahabatnya tersebut, seolah ia tidak pernah tahu jika Devan menyukai dirinya. Kezia tetap menganggap Devan sebagai sahabatnya saja.


"Sebentar lagi, gue mau ngomong sesuatu dulu sama lo."


"Ngomong apa?" Kezia terlihat antusias, lalu memutar penutup selang dan menghentikan aktivitasnya menyiram tanaman. Tubuhnya pun menghadap ke arah Devan. "Ada apa? Kayaknya serius," imbuh Kezia lagi.


Devan tersenyum pelik. Tentu saja serius, ini menyangkut masa depannya kelak. Sudah sejak lama ia bermimpi hidup bahagia bersama Kezia, sekarang mimpi itu terancam sirna lantaran hubungan Kezia dan Abizar malah semakin dekat saja.

__ADS_1


"Gue mau tanya sama lo tentang hubungan lo sama Abizar. Apa kesepakatan yang kalian buat di awal pernikahan masih berlaku sampai sekarang? Yakni saat bayi itu lahir, kalian akan bercerai, atau ... lo sama Abizar udah berubah pikiran?"


Pertanyaan itu membuat Kezia bergeming di tempatnya. Berdiri kaku sambil mengerjap bingung. Jujur, ia tidak ingat dengan kesepakatan itu, jika saja Devan tidak mengingatkannya kali ini.


"Kenapa diam, Zee? Apa mungkin lo udah jatuh cinta sama si Abi?" cecar Devan lagi. Tatapan Devan terlihat mengintimidasi. Tangannya mengepal kuat menahan emosi.


"Aku ...." Kezia bingung mau menjawab apa. Lidahnya terasa kelu saat melontarkan kalimatnya.


"Gue harap lo tetap konsisten dengan sikap lo terhadap si Abi. Lo sendiri yang bilang, kalau Abizar terlalu kekanak-kanakan. Dan lo juga harus inget kalau dia masih punya pacar di Jepang."


Tatapan Kezia langsung meredup mendengar penuturan Devan. Untuk beberapa waktu hatinya sempat terlena dengan perhatian Abizar, ia lupa jika lelaki itu sudah punya pacar.


"Iya, aku tahu, Van. Makasih udah ngingetin aku tentang hal itu. Aku akan membentengi hatiku agar tidak bisa jatuh cinta dengan Abi."


Devan tersenyum puas mendengarnya. Ia pun kembali mengungkapkan perasaannya kepada Kezia, "gue juga minta lo jangan lupain perasaan gue terhadap lo selama ini. Kasih gue kesempatan, Zee! Gue janji nggak bakalan menyia-nyiakan kesempatan itu. Saat lo udah bercerai sama Abi, gue bakalan jagain lo sama anak lo dengan sepenuh hati."


Devan menggenggam kedua tangan Kezia. Tanpa mereka ketahui, seseorang di belakangnya sedang menahan emosi. Kedua tangannya mengepal kencang, dengan urat kemarahan tergurat di lehernya. Abizar yang kembali pulang harus menyaksikan pemandangan yang membuat jantungnya seperti tertusuk benda tajam.


...****************...

__ADS_1


...To be continued...


__ADS_2