
...Happy Reading...
...****************...
"Lalu, tanggapan Mbak apa tentang perasaan aku?" tanya Abizar lagi. Keberaniannya sudah muncul kembali.
Kezia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Senyuman hambar masih menghiasi bibirnya yang sedikit gemetar.
"Aku ... aku nggak tahu mesti ngomong apa. Sebenarnya aku nggak bisa ...."
Wajah Abizar langsung tertekuk kala mendengar jawaban Kezia yang menjurus pada kalimat penolakan. Abizar sadar jika dirinya mungkin selama ini sudah keterlaluan. Karena yang Kezia tahu, Abizar sudah punya pacar.
"Aku nggak bisa bohong kalau aku juga merasakan hal yang sama, Bi." Kezia melanjutkan ucapannya. Ia tersenyum kala melihat kepala sang suami kembali mendongak menatap dirinya.
"Yang bener, Mbak?" tanya Abizar terlihat antusias. Kedua matanya berbinar sambil memegang kedua bahu Kezia.
Perempuan hamil itu menganggukkan kepalanya. Menatap kedua mata cerah yang begitu semangat menuntut jawabannya.
"Iya, aku juga jatuh cinta sama kamu," aku Kezia. Senyumnya mengembang sempurna. Sorot tegas tanpa keraguan terpancar dari kedua matanya.
Tanpa basa basi tubuh Kezia langsung masuk ke dalam pelukan Abizar. Lelaki itu terlalu bersemangat, sehingga lupa jika perut istrinya sudah besar. Keduanya pun tertawa karena tidak jadi berpelukan, pandangan keduanya sama-sama tertuju pada perut Kezia yang besar.
"Nggak bisa meluk. Kehalang dia," kekeh Kezia sambil mengusap perutnya.
__ADS_1
Abizar tersenyum, lalu menekuk kedua kakinya dan berlutut di depan Kezia. Menyejajarkan wajahnya dengan perut buncit milik istrinya, lantas menempelkan bibirnya di sana. Mengecup perut istrinya dengan lembut berkali-kali, lalu berkata, "Halo, Anak papa? Kamu juga denger, kan, tadi mamamu bilang apa? Dia udah jatuh cinta sama papa gantengmu ini. Papa hebat, kan? Udah bisa bikin mamamu kelepek-kelepek? Pesona papa memang nggak ada duanya, Sayang."
"Kamu ngomong apa? Jangan ngajarin anak yang nggak-nggak! Lagipula siapa juga yang jatuh cinta duluan? Itu kamu, kan?"
Kezia langsung melayangkan protes dengan menjewer telinga Abizar. Lelaki itu pura-pura kesakitan, tetapi Kezia tahu itu hanya sandiwara, karena ia tidak menjewer dengan kencang. Abizar pun berdiri sambil tertawa riang.
"Iya, iya. Aku yang jatuh cinta duluan sama Mbak," ungkap Abizar. Kezia melepaskan telinga Abizar, senyum tipisnya melukiskan rasa malu yang membuat denyut nadinya berantakan.
"Jadi kesepakatan kita yang kemarin itu ...."
"Lupakan aja!" tukas Kezia memotong.
Abizar tersenyum. "Jadi inget waktu itu," kekehnya.
"Inget apa?" Kezia mengenyit.
Kezia menghela napas kasar. Tentu saja ia selalu ingat akan kebodohannya waktu itu. Malam itu adalah malam tersial dalam hidupnya, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Semua yang terjadi sudah ada yang mengatur.
"Iya, aku inget," ucap Kezia lirih.
"Nggak apa-apa. Itu udah masa lalu. Yang penting sekarang kesepakatan itu udah nggak berlaku. Aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang terbaik untuk kalian." Abizar mengusap perut Kezia dengan lembut. Kezia pun tersenyum sambil menatap tangan Abizar yang masih menempel di perut.
Mereka pun sepakat untuk memulai hubungan baru sebelum anak mereka lahir ke dunia, dan tidak ada perceraiannya setelahnya. Beberapa saat dalam keheningan, tiba-tiba kepala Abizar perlahan mendekati wajah Kezia. Perempuan hamil itu pun reflek menutup wajah suaminya dengan telapak tangan.
__ADS_1
"Mau ngapain?" tanya Kezia pura-pura polos.
"Tanda jadi, Mbak. Masa nggak ngerti." Bibir Abizar mengerucut saat memindahkan tangan Kezia dari wajahnya.
Kezia pun tertawa. "Kita ini udah nikah, ngapain pake tanda jadi lagi?" kekehnya.
Abizar mendengkus. Ia ingin melampiaskan rasa bahagianya. Istrinya itu benar-benar tidak peka.
"Memangnya salah mencium istri sendiri?" Kini giliran tangan Abizar yang menempel di wajah istrinya. Tepatnya di kedua pipi perempuan tersebut. Membuat bibir Kezia sedikit mengerucut karena mendapat tekanan di kedua pipinya itu.
Tanpa aba-aba, Abizar langsung membidik bibir Kezia dengan bibirnya. Menahannya sedikit lama, hingga bibir Kezia sedikit terbuka. Bukannya berhenti, Abizar malah melakukan hal yang tidak terpuji, sehingga napas keduanya pun mulai tidak terkendali.
"Abi!" sentak Kezia sambil mendorong dada bidang suaminya. Ia hampir kehabisan napas karena ulah suaminya tersebut. "Aku bisa mati kehabisan udara," pekiknya lagi.
"Maaf, abisnya enak." Abizar menyengir kuda, lalu kembali mencondongkan kepalanya. "Lagi, dong!" pintanya.
"Eeeeh, nggak, ya. Kamu, kan, mau kerja. Pergi sana!" Kezia mendorong wajah Abizar dengan telapak tangannya.
"Sedikit lagi, lah. Tadi baru percobaan, sekarang beneran."
Kezia mendengkus. Jika diteruskan, sudah tentu akan terjadi sesuatu yang membuat mereka berkeringat. Ia pun memilih untuk minggat.
"Mbak, mau ke mana? Diminta cium malah pergi." Abizar merajuk sambil menghentakkan kakinya ke lantai marmer yang dia pijak. Setelah itu kakinya langsung beranjak. "Tunggu aku!"
__ADS_1
...****************...
...To be continued...