
...Happy Reading...
...****************...
"Abi ... belikan ini!" Kezia merengek manja, karena melihat suaminya diam saja.
"Tapi ini bukan tas buat bayi, Mbak."
"Iyalah, sejak kapan bayi pake tas kayak gini? Lagipula calon anak kita laki-laki. Sekali-kali, kek, manjain istri," seloroh Kezia.
Abizar menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya kasar. Tangannya terulur untuk melihat barkot harga di tas tersebut. Kedua matanya pun sontak terbuka sempurna, karena ternyata harga tas tersebut terlalu mahal menurutnya.
"Gila! Masa cuma tas kecil aja harganya sampe 30 juta?" pekiknya sambil menggelengkan kepala.
"Emang harganya segini, Abi. Memangnya kamu nggak mampu beli?" sanggah Kezia. Sebagai anak pertama dari seorang konglomerat yang terkenal memiliki pohon uang berupa perusahaan fintech di berbagai negara, tentu tidak mungkin jika Abizar tidak mampu membelinya.
"Bukan masalah nggak mampu beli, Mbak. Duit segitu nggak ada apa-apanya buat aku, tapi sayang aja kalau duit segitu hanya bisa kebeli satu tas kecil doang. Ya ... minimal bisa beli tiga barang, kan, lumayan. Atau ... beli yang lebih gedean." Abizar memberikan saran, lantas menunjuk sebuah tas yang lebih besar. "Kayak gini contohnya, biar nanti aku bisa pinjam," lanjutnya yang membuat Kezia seketika meradang.
"Itu tas buat orang naik gunung, Abi. Orang aku maunya ini, kok," protes Kezia sambil memeluk tas yang diinginkannya. "Ternyata bener, ya, kata Devan, kalau kamu itu perhitungan. Baru kali ini, loh, aku minta sama kamu," sambung Kezia merajuk dengan memberenggutkan bibirnya.
Abizar berdecak. Ia kesal karena Kezia selalu saja percaya pada omongan Devan. "Aku nggak perhitungan, Mbak. Ya udah, lah, sini aku beli!"
Abizar mengambil alih tas mahal tersebut dari tangannya Kezia, lalu memberikannya pada penjaga toko yang melayani mereka. "Ini, Mbak. Tolong dibungkus, ya!"
Senyuman Kezia mengembang sempurna karena keinginannya telah terlaksana, lantas memberikan satu kecupan tanda terima kasih di pipi suaminya. "Makasih, ya, Bi. I love you," ucapnya merayu.
Abizar hanya bisa menghela napas kasar, tetapi tidak bisa dipungkiri hatinya begitu senang karena mendapatkan sebuah kecupan. Terlebih melihat istrinya begitu riang, Abizar tidak merasa rugi sudah mengeluarkan banyak uang.
...******...
__ADS_1
Hari sudah menjelang malam ketika Kezia dan Abizar kembali dari pusat perbelanjaan. Tubuh Abizar begitu kelelahan karena belanja seharian. Lain lagi dengan Kezia, perempuan hamil itu malah terlihat masih bersemangat, karena merasa senang sudah mendapatkan tas mahal.
"Apa istimewanya, sih, tas itu, Mbak? Sampai mau tidur masih ditatap juga."
Kezia terperanjat saat suaminya tiba-tiba bertanya. Ia yang tengah fokus mengagumi tas barunya itu tidak sadar kapan suaminya itu datang dari luar.
"Ngagetin aja, sih." Kezia mengusap dadanya sendiri, lalu menyimpan tas miliknya di samping bantal dengan hati-hati. Tak lupa kembali memberikan usapan lembut seperti memperlakukan seorang bayi.
"Segitunya." Abizar mencibir sambil menggelengkan kepalanya.
"Biarin. Ini tas mahal pertama yang aku punya. Sudah tentu sangat istimewa," seru Kezia, membuat Abizar tertawa. Kezia memang seorang anak pengusaha, tetapi kekayaannya bagaikan setitik nila di dalam susu sebelangga, jika dibandingkan dengan kekayaan keluarga suaminya. Apalagi Kezia adalah seorang perempuan pekerja keras yang tidak tergantung pada orang tuanya. Ia pasti sayang untuk menghamburkan uang hasil kerja kerasnya. Mumpung punya suami kaya, kenapa tidak minta saja?
"Aku malah nggak punya tas semahal itu. Paling mahal tas punyaku harganya satu jutaan," ungkap Abizar lalu duduk di tepi ranjang di seberang sang istri.
"Salah siapa? Uang kamu banyak, kenapa nggak dipakai buat beli apa aja? Dasar pelit!" Kezia meledek suaminya.
Kezia tertegun mendengar suaminya berkata. Ia tidak menyangka jika suaminya yang terkenal pelit itu mengenal yang namanya sedekah.
"Nggak nyangka kalau suami aku ini punya hati mulia," cetus Kezia dengan menatap bangga.
Abizar membusungkan dadanya. "Abi gitu, loh," katanya jumawa.
Hal itu membuat Kezia berdecak sebal. Ia jadi menyesal karena sudah memuji suaminya. "Sombong!" umpatnya pelan.
"Biar sombong, tapi Mba suka, kan?" Abizar mencondongkan kepalanya mendekati wajah Kezia. Perempuan itu pun sontak memundurkan kepalanya.
"Nggak," sanggah Kezia sambil melipat tangan di depan dada.
"Masa?" Wajah Abizar semakin dekat dengan wajah istrinya. Menilik wajah gugup dan malu yang tercetak di raut wajah istrinya itu.
__ADS_1
"Nggak usah deket-deket, deh!"
Abizar tersenyum melihat istrinya salah tingkah. Bukannya berhenti, lelaki itu malah mencium pipi sang istri.
"Iiiih, Abi!" Kezia tercekat sambil melototkan mata. Abizar pun tertawa.
"Kenapa? Memangnya nggak boleh aku cium istri sendiri?"
"Bukannya gitu, setidaknya bilang dulu, kek. Biar akunya nggak kaget."
"Kalau gitu aku mau bilang kalau aku lagi 'pengen'."
Mendengar kata 'pengin', bulu guduk Kezia langsung merinding.
"Tas tadi, kan, nggak gratis. Sekarang aku minta bayarannya," kekeh Abizar.
"Oh, gitu ... ya udah, nih, aku balikin tasnya. Dasar perhitungan!" Kezia mengambil tas miliknya lalu memberikannya pada Abizar. Tawa lelaki itu pun kembali terdengar.
"Bercanda, Sayang," ucap Abizar merayu. Perempuan itu pun tersipu.
Sorot mata Abizar membuat Kezia tidak tega. Ia pun dilema. Sebenarnya Kezia hendak menolak, tetapi Abizar kian mendesak. Katanya, Abizar akan melakukannya dengan pelan-pelan seperti peringatan bidan. Kezia pun tidak bisa menghindar. Akhirnya malam itu pun menjadi malam panjang yang penuh kehangatan.
...****************...
...To be continued...
Sambil nunggu update bab aku, baca novel punya bestie aku, yuk.
__ADS_1