Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
Bab 59. Bukan Salah Abizar


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


Uhuk! Uhuk!" Kezia tersedak ice cream yang dimakannya saat mendengar pertanyaan Devan. Kepalanya menoleh dengan tatapan menghunus tajam.


"Kenapa masih tanya lagi?" Kezia memalingkan wajahnya lagi ke arah lautan, seolah tidak peduli. Perempuan itu mengira jika Abizar menggugat cerainya karena ingin menikahi Selena, karena yang Kezia tahu Selena masih berada di Indonesia.


Kedatangan Selena ke Indonesia waktu itu yakni bersama dengan klien yang bekerja sama dengan perusahaan Juno. Selena adalah brand ambassador produk yang akan mereka luncurkan. Jadi ketika Selena tahu jika Abizar ternyata bekerja di perusahaan itu, perempuan itu langsung menemui Abizar. Namun, sayangnya pertemuan itu malah melemparnya ke dalam lumpur duka. Selena harus menerima kenyataan saat dikhianati oleh kekasihnya.


"Kalau lo berpikir alasannya karena Selena, lo salah besar, Zee."


Kalimat berikutnya yang Devan lontarkan sukses membuat Kezia penasaran. Kepalanya kembali menghadap Devan. Mulutnya terdiam, tetapi tatapannya menyiratkan sebuah pertanyaan. Jadi apa alasan Abizar melakukan itu?


"Kalau bukan karena Selena, lalu karena apa?" tanya Kezia.


Devan tersenyum kecut melihat Kezia yang penasaran seperti itu. Yang berarti Kezia masih berharap kepada Abizar.


"Tante Angel. Dia sakit stroke gara-gara serangan darah tinggi yang menyebabkan pembuluh darahnya pecah. Sebelumnya dia bertengkar dengan Abizar lantaran mau menemui lo waktu itu," terang Devan.


Kezia terkesiap sampai menjatuhkan ice cream yang dia pegang. "Maksud kamu? Mama nggak memperbolehkan Abi ketemu sama aku?" tanya Kezia bingung.


Selama ini mertuanya itu selalu baik terhadapnya. Bahkan terlihat sangat menyayanginya. Lalu, kenapa sekarang malah melarang Abizar untuk berteman dengannya? Bahkan dirinya sampai sakit seperti itu.


"Ya, karena tante Angel nggak mau Abi dipukuli lagi oleh pengawal yang disewa papa kamu."


"Pengawal?" Kezia tidak tahu jika Surya diam-diam menyewa pengawal untuk menjaganya dari kejauhan. Terutama menjaganya agar jangan sampai bertemu Abizar.


"Kamu nggak tahu, kan, kalau selama ini papa kamu menyewa pengawal untuk menjagamu dari Abi."

__ADS_1


Deg!


Pernyataan itu seolah menghantam jantung Kezia. Selama ini dia selalu mengira jika Abizar sudah menyerah setelah ia usir tempo lalu. Ia pikir Abizar tidak pernah datang untuk menemuinya lagi, karena cinta Abizar kepadanya sudah mati.


"Jadi ... Abi sering datang menemui aku, tapi dihalangi oleh pengawalnya papa?"


Devan mengangguk menanggapi pertanyaan Kezia yang terdengar gugup. Bibir perempuan itu gemetar ketika mengatakan itu. Kilatan bening terpancar dari sorot mata sendu.


"Kenapa papa melakukan itu? Seharusnya papa nggak perlu memukuli Abi, karena aku juga sudah bertekad buat melupakan dia."


"Mana gue tahu." Devan mengedikkan bahunya. "Mungkin papa lo takut lo terpengaruh lagi sama Abi," lanjut Devan memberikan pendapat.


"Tapi pasti ada alasan lain selain itu, Van. Papa nggak akan setega itu sama orang." Kezia tidak percaya. Yang dia tahu papanya adalah orang yang lembut dan tidak suka kekerasan.


"Mantan suami lo itu keras kepala. Katanya dia pernah berdebat sama papa lo, dan mengancam akan membawa lo dengan paksa kalau saja om Surya nggak ngizinin dia ketemu sama lo. Tentu aja om Surya geram, apalagi ia selalu berpikir jika Abi adalah penyebab cucunya meninggal. Ya ... jadi tambah kesel, kan? "


Jika seperti itu kenyataannya, Kezia tidak bisa menyalahkan perbuatan papanya. Salah siapa Abizar keras kepala, tetapi ia juga merasa bersalah kepada Angelina. Wajarlah seorang ibu mengkhawatirkan anaknya.


"Apa kondisi mama Angel masih parah?" tanya Kezia setelah keheningan tercipta beberapa saat.


"Udah baikan, tapi masih butuh perawatan."


Kezia mengusap dadanya. "Syukurlah," ucapnya lega.


Devan menatap wajah Kezia beberapa saat. Bibirnya ingin mengucapkan sesuatu, tetapi terasa berat.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Sepertinya kamu mau mengatakan sesuatu?" tanya Kezia yang seolah bisa membaca pikiran Devan.


Devan tersenyum. "Iya, ada sesuatu yang perlu gue katakan sama lo."

__ADS_1


"Apa?" tukas Kezia, sedikit penasaran.


"Abi masih mencintai lo, Zee." Dengan tegas Devan mengatakan itu. Kezia melongo takjub mendengarnya.


"Apa kamu bilang?" tanya Kezia ingin memastikan pendengarannya barusan.


"Abi masih cinta sama lo. Lo nggak budek, kan?" Devan berdecak kesal.


"Aku nggak denger jelas tadi," kelit Kezia seraya mendengkus, lalu memalingkan wajahnya. Tak bisa dipungkiri jika hatinya mendadak tidak tenang, diiringi detak jantung yang berirama berantakan.


Devan pun tertawa. "Jadi?" tanyanya sambil menelengkan kepala, sekedar untuk melihat wajah Kezia. "Lo mau nemuin Abi?" tambahnya lagi.


"Untuk apa?" Kezia menoleh menatap Devan.


"Untuk apa lo tanya?" Devan terkesiap mendengar Kezia mengatakan itu. Ia yakin jika Kezia juga masih mencintai Abizar, lalu kenapa sikap perempuan itu seolah tidak peduli seperti itu?


"Selama ini lo berpikir kalau Abi lebih memilih Selena, kan? Nyatanya itu nggak benar. Jelas-jelas Abi lebih memilih lo sampai dia rela tubuhnya dipukuli berkali-kali. Dan untuk anak lo, waktu itu lo salah paham, Zee. Jadi kematian anak lo bukan sepenuhnya salahnya Abi," jelas Devan merasa gemas dengan sikap Kezia.


Kezia bergeming. Mencerna baik-baik perkataan Devan, juga sedikit heran dengan perubahan sikap lelaki tersebut. Waktu itu Devan begitu berapi-api saat melihat Abizar berpelukan dengan Selena. Dia lebih marah daripada Kezia. Jangan ditanya dengan perasaannya, seharusnya Devan memprovokasi Kezia untuk meninggalkan Abizar, dan kesempatannya untuk mendapatkan perempuan itu.


Namun, sikap Devan malah berubah total. Lelaki itu malah mendukung sang rival.


...****************...


...To be continued...


Sambil nunggu up, mampir di novel othor keren ini, yuk


__ADS_1


__ADS_2