Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
Bab 45. Tidak Tega


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


"Bi, gimana sama Selena? Dia pasti kecewa karena kamu sudah memutuskan dia secara mendadak."


"Uhuk! Uhuk!" Abizar tersedak makanannya saat Kezia melayangkan pertanyaan demikian. Mereka tengah berada di restoran sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. "Mbak ngomong apa?" tanyanya pura-pura tidak dengar.


Beberapa hari yang lalu mereka telah membahas masalah tersebut, dan Abizar berjanji akan memutuskan Selena dengan segera. Kini, keduanya sudah memutuskan untuk bersama sampai menua, dan tentu saja Kezia tidak ingin ada orang kedua. Makanya dia meminta ketegasan dari suaminya.


"Aku nanyain Selena. Memangnya kamu nggak denger? Makannya fokus banget, sih," ulang Kezia. Tangannya menyodorkan botol air mineral pada Abizar. Lelaki itu meraihnya, lalu meminumnya dengan cepat, agar makanan yang tersangkut di tenggorokannya segera lewat.


"Oh, Selena. Memangnya dia kenapa?" Abizar memasang wajah polos ketika bertanya, seolah Selena bukanlah orang yang pernah hadir dalam hatinya. Ia tidak ingin membuat Kezia cemburu kepada perempuan itu.


"Bagaimana kabar dia? Katanya dua hari yang lalu kamu udah mutusin dia?" Kezia mengulang pertanyaannya.


"Oh, iya ... aku, kan, udah janji sama Mbak buat mutusin Selena. Mbak tenang aja," ucap Abizar sambil cengegesan.


"Terus dia bilang apa?"


"Ya ... nggak bilang apa-apa," balas Abizar sedikit canggung.


"Masa, sih, nggak bilang apa-apa? Dia nggak ngerasa sakit hati gitu? Bukannya kamu udah pacaran sama dia sebelum nikah sama aku?" cecar Kezia lagi.


Abizar meneguk minumannya lagi. Tanpa disadari keringat dingin pun keluar dari dahi. "Kalau sakit hati sudah pasti, namanya juga diputusin. Tapi Mbak nggak usah khawatir, dia orangnya gampang moveon, kok. Dia pasti mengerti dengan kondisi kita. Hubungan pernikahan itu lebih kuat dari pada sekadar pacaran, apalagi perselingkuhan," seloroh Abizar sambil tersenyum hambar.


"Yakin?" Kezia menelengkan kepalanya, menatap lekat wajah Abizar yang terlihat gelisah.

__ADS_1


"Udahlah, jangan bahas dia lagi. Aku nggak suka ngebahas mantan, takut ada yang marah terus minta pulang."


"Siapa?" tanya Kezia sambil menegakkan duduknya.


"Siapa lagi?" Abizar menunjuk istrinya dengan mengedikkan dagu. Sebelah matanya mengedip menggoda istrinya itu.


"Aku?" tanya Kezia sambil menunjuk dirinya sendiri memakai jari. Abizar mengangguk sambil tersenyum menyeringai.


"Nggak, lah. Masa aku marah? Orang aku yang nanya duluan," imbuh Kezia menyangkal.


Abizar mencebik, sebenarnya dia yang tidak mau membahas masalah hubungannya dengan Selena. Pasalnya, sampai sekarang lelaki itu belum juga memutuskan kekasih selingkuhannya tersebut. Ia tidak tega dan tidak tahu harus memulai dari mana, saat dirinya menelepon perempuan tersebut. Selena adalah perempuan mudah rapuh dan berhati lembut. Bagaimana jika perempuan itu melakukan sesuatu yang buruk? Abizar pun merasa takut.


"Mbak makannya udah?" tanya Abizar mengalihkan pembicaraan. Kezia pun mengangguk mengiyakan.


"Belanja keperluan bayinya jadi, nggak?" tanyanya lagi. Niat mereka pergi ke Mall tersebut memang untuk membeli beberapa perlengkapan bayi. Namun, Abizar meminta untuk makan terlebih dahulu.


"Apa?" Abizar mengedikkan dagu.


"Ikut aku aja. Nanti juga tahu."


Kezia berdiri, lalu mendorong kursi yang dia duduki, dan Abizar pun mengikuti.


...*****...


"Memangnya di sini ada perlengkapan bayi?" Abizar bertanya saat ia dibawa oleh Kezia ke sebuah toko tas dengan merk ternama. Lelaki itu celingukan dengan wajah heran, tetapi tidak bisa menolak saat istrinya menarik tangannya dengan kencang.


"Udah, ah. Ikut aja!" ajak Kezia sedikit memaksa.

__ADS_1


"Mbak, tas yang waktu itu masih ada?" tanya Kezia pada seorang penjaga toko.


"Eh, Mbak Kezia. Masih ada, Mbak. Mau dibungkus sekarang? Sebentar, ya, saya ambilkan." Penjaga toko itu ternyata mengenal Kezia, lalu pergi mengambil pesanan pelanggannya.


"Mbak mau beli tas bayi? Memangnya di sini ada? Ini, kan, toko tas branded semua," cecar Abizar yang semakin bingung dengan keinginan istrinya.


"Kata siapa aku mau beli tas bayi?" kilah Kezia.


"Loh, katanya tadi mau beli perlengkapan bayi."


Belum sempat Kezia menanggapi, penjaga toko yang tadi sudah kembali dengan membawa sebuah tas mewah dengan warna beige.


"Ini, Mbak." Perempuan penjaga toko itu memberikan tas tersebut kepada Kezia.


Raut gembira terpancar dari wajah Kezia. Sorot matanya begitu bercahaya melihat tas mewah yang sudah dia incar saat berbelanja dengan adiknya—Aruna. Seminggu yang lalu, Aruna mengajak Kezia berbelanja tas di toko langganan keluarga mereka. Kezia pun kepincut dengan sebuah tas yang harganya melebihi harga sebuah sepeda motor. Sebenarnya jika Kezia bersedia, Aruna mau membelikannya untuk sang kakak. Namun, perempuan hamil itu menolaknya. Dia bilang tolong dipisahkan saja, dan akan kembali lagi bersama suaminya.


"Belikan ini, ya, Bi!" pinta Kezia dengan antusias.


"Hah?" Abizar masih melongo di tempatnya.


...****************...


...To be continued...


Sambil nunggu up novelku, mampir ke karya othor keceh yuk!


__ADS_1


__ADS_2