
...Happy Reading...
...****************...
Agung yang mendapatkan mandat dari Abizar untuk menjemput Kezia masih menunggu di depan meja resepsionis. Lelaki itu sengaja berdiri di sana, sekalian untuk menggoda perempuan cantik yang menjadi penghuni meja itu. Ya, begitulah sikap Agung jika bertemu perempuan cantik.
Di sela aktivitas unfaedah-nya itu, Agung terkejut saat melihat Devan yang setengah berlari sambil membopong seorang wanita hamil.
"Eh, Pak Devan bawa siapa, tuh?" tanyanya pada resepsionis itu.
Rani yang juga melihat Devan membawa Kezia pun menjawab, "bukannya itu Mbak Kezia, dia itu dulu sekretarisnya pak Juno. Belum lama dia datang, terus diantar sama pak Devan ke lantai atas, tapi kenapa sekarang dia malah digendong pak Devan, ya? Apa mungkin mau lahiran?"
Otak Agung langsung tersentil saat mengingat istrinya Abizar juga tengah hamil besar, dan namanya juga sama yakni Kezia. Agung pun lantas mengejar Devan, tetapi sayangnya lelaki itu ketinggalan, karena Devan sudah mengendarai mobilnya dan melaju dengan kencang.
Agung membungkukkan badannya dengan kedua tangan bertumpu pada lutut. Napasnya ngos-ngosan karena kelelahan mengejar Devan. "Hah ... cepet banget, sih, perginya," decaknya.
Setelah napasnya mulai netral, Agung menghubungi Abizar dengan menggunakan ponselnya. Namun, beberapa kali ia menghubungi, Abizar tak kunjung mengangkatnya.
"Ah, sial. Lagi ngapain, sih?" gerutu Agung lalu menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku kemejanya. Ia pun memutuskan untuk kembali ke lantai lima tempat Abizar berada.
...******...
__ADS_1
"Maafkan aku, Selena. Aku nggak bermaksud untuk menyakiti kamu. Maaf ...."
Di dalam ruangan kerja Abizar, lelaki itu tengah memohon pengampunan pada Selena yang tengah menangis sesegukan. Ya, Abizar telah menjelaskan semuanya, dan tentu saja Selena tidak bisa menerima.
"Kak Abi jahat! Kenapa Kak Abi menyerah gitu aja? Bukankah aku udah bilang bersedia untuk menunggu. Kalau perlu aku akan bicara dengan orang tua kamu. Sekarang kamu malah menikahi perempuan itu!" tekan Selena yang masih mengira jika Abizar terdesak oleh orang tuanya untuk menerima Kezia. Selena sangat percaya dengan cinta Abizar yang tidak akan berpaling darinya.
"Aku sudah bilang, aku nggak menyerah, Sel. Aku memang sudah mencintai dia, istriku."
Mendengar Abizar menekankan kata 'istriku' membuat tangisan Selena semakin kencang terdengar. Terlalu sakit seakan menusuk telinganya.
"Haduh ... kamu nangisnya jangan kencang-kencang! Nanti kalau ada yang dengar, disangkanya aku lagi nyakitin kamu." Tanpa tahu malu Abizar berkata seperti itu. Mungkin otak lelaki itu pernah terbentur batu, sehingga sedikit geser dan tidak sadar jika dirinya sudah sangat menyakiti Selena.
Namun, otak Selena juga mungkin tertular penyakit bebalnya Abizar. Gadis itu masih mengira jika Abizar hanya terpaksa, dan berpura-pura bersikap kejam agar Selena mau meninggalkannya.
"Hah? Maksudnya?" Abizar tertohok mendengar perkataan Selena.
"Iya, aku rela dimadu dengan perempuan itu. Asalkan Kak Abi bisa adil terhadap kami ...."
"Gila! Yang bener aja lo." Perkataan itu tentu saja bukan terlontar dari mulut Abizar ataupun Selena. Agung yang tiba-tiba masuk ke ruangan Abizar ternyata mendengar percakapan terakhir mereka berdua. Ia pun begitu terkesiap melihat kelakuan Abizar di sana. Pun dengan kesediaan Selena yang rela menjadi istri keduanya.
"Agung!" Abizar sontak berdiri dan menghadap sahabat sekaligus anak buahnya tersebut. Kedua matanya melotot tajam, ketika mengingat tugas yang dia berikan kepada Agung.
__ADS_1
"Kezia mana?" tanya Abizar sambil melongok ke arah belakang Agung dan tidak mendapati istrinya di sana. Raut wajahnya semakin kusut dan takut. Abizar takut Kezia salah paham kepadanya saat melihat Selena ada di ruangannya.
"Gue bingung sama lo, Bi. Tadi lo nyuruh gue buat jemput istri lo di bawah, tapi sekarang lo malah berduaan sama cewek lain yang mau jadi istri kedua lo. Sebenarnya mau lo apa, Bi? Mau mainin perasaan mereka sekaligus, hah?" Bukannya menjawab pertanyaan Abizar, Agung malah nyerocos memarahi sahabatnya tersebut.
"Lo jangan ngomong sembarangan, Gung. Kalau nggak tahu apa-apa mending diem aja. Gue lagi pusing, nih." Abizar pun berdecak frustrasi sambil mengacak rambutnya sendiri.
"Gue nggak mau terlibat urusan lo, nya. Gue ke sini cuma mau ngasih tahu. Gue nggak ketemu sama istri lo, tapi tadi gue lihat pak Devan menggendong seorang perempuan hamil besar dengan terburu-buru. Gue pikir itu istri lo, soalnya kata si Rani namanya Kezia juga."
Penyataan itu membuat Abizar tersentak seketika. "Ke mana mereka?" tanyanya khawatir.
"Nggak tahu. Pokoknya buru-buru. Istri lo kayak kesakitan, kayaknya dia mau lahiran."
Tak menungu waktu lama, bahkan tak lagi memedulikan Selena, Abizar langsung berlari keluar ruangannya.
"Kak Abi, mau ke mana?" Teriakan Selena sempat membuat langkah Abizar berhenti mendadak. Tubuhnya berbalik dan menatap Selena dengan lekat. Ada perasaan tidak tega, tetapi Abizar harus mencari istrinya. Dari cerita Agung, sepertinya Kezia tengah mengalami masalah.
...****************...
...To be continued...
Sambil nunggu up, silakan mampir di novel temen aku, ya. Sudah pasti bagus.
__ADS_1