Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
38. Punya Hak


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


Di malam yang dingin. Abizar merasakan hawa panas yang berbeda. Dalam otaknya selalu terbayang akan adegan panasnya bersama Kezia tempo itu. Hal itu dikarenakan oleh hasutan-hasutan sesat dari kedua sahabatnya tadi siang. Abizar jadi tidak fokus seharian.


"Kenapa, sih?" Kezia menatap Abizar heran. Tingkah lelaki itu terlihat gusar.


Abizar yang semula menunduk, langsung mendongak menatap Kezia. Kedua matanya menatap lekat perempuan itu. Entah kenapa tubuh Kezia terlihat sexy malam ini. Ia baru sadar jika hormon kehamilan dalam tubuh Kezia membuat beberapa bagian tubuh Kezia terlihat lebih padat dan berisi.


"Kamu lihat apa?" Kezia menutupi bagian dadanya yang menjadi sorotan netra Abizar. Ia berkata sedikit keras, membuat Abizar sontak tersadar.


"Eh, aku lihat apa memangnya? Jangan kepedean, deh!" sanggah Abizar sambil mengalihkan pandangan.


"Memangnya aku nggak tahu arah mata kamu ke mana?" sentak Kezia.


"Itu cuma perasaan Mbak aja. Aku ngantuk, mau tidur." Abizar melengos dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Kezia mendengkus kesal, lalu berjalan menuju sisi ranjang kosong di samping Abizar. Tak lupa perempuan itu membentangkan guling dan bantal sebagai batas teritorial. Ia tidak ingin kecolongan.


Malam kian larut, tetapi Abizar tak kunjung mengantuk, sedangkan Kezia sudah tertidur pulas di balik selimut. Pikirannya larut dalam bayangan yang tidak baik untuk ketenangan batin dan imannya. Kata-kata dua sahabat semprulnya selalu terngiang-ngiang di telinga.


Pandangan Abizar tertuju pada plafon kamar, sebelum dirinya menoleh pada wajah cantik Kezia yang mengubah posisi tidurnya menghadap ke arahnya. Ditatapnya dengan lekat wajah cantik istrinya itu. Kedua netranya menyisir wajah itu sampai ke bagian leher Kezia. Ekor matanya tidak sengaja menangkap satu bagian yang membuat kedua matanya kian terbuka. Abizar sampai harus menelan saliva, lantaran sesuatu yang mencuat di balik baju kebangsaan Kezia sangat menggoda nalurinya. Tangannya terasa gatal ingin menapaki bukit bermadu yang pernah dia jelajahi dulu.


"Sial! Kenapa harus bangun di saat seperti ini?" Abizar berdecak saat merasakan ketegangan di bagian bawah tubuhnya. "Kalau gue pengen, dia pasti nggak bakalan ngasih," imbuhnya semakin mengeluh resah. Desakan itu kian menuntut, lantaran Kezia malah menyibak selimut, padahal kedua mata perempuan itu masih tertutup.


Adanya hormon estrogen dalam tubuh Kezia karena kehamilannya, membuat suhu tubuh perempuan jadi meningkat lebih panas daripada biasanya. Hal itu membuat perempuan hamil tersebut selalu merasakan rasa gerah, dan selimut yang membungkusnya tersebut membuatnya tidak betah.


Jika sudah seperti itu, Abizar pun merasakan hal yang sama. Ia merasa kegerahan lantaran melihat kulit putih mulus yang terpampang di bagian bawah baju Kezia, yang tersingkap sampai melewati lututnya. Abizar semakin frustrasi dibuatnya.

__ADS_1


"Gue mandi aja, deh."


Abizar beranjak dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi untuk menenangkan diri. Namun, sialnya rasa dingin dari guyuran air tersebut malah membuat si Lanang semakin menjulang. Sungguh tidak ada gunanya Abizar mandi tengah malam.


"Aaarghh! Gue mesti gimana buat nenangin dia?" Abizar mengacak rambutnya frustrasi. Setelah selesai mandi, Abizar mondar-mandir di dekat tempat tidur. Sesekali matanya melirik tubuh Kezia yang tertidur pulas tanpa rasa bersalah. Padahal tubuh itu seolah melambai-lambai menarik perhatian Abizar. Bak medan magnet yang menariknya begitu kuat.


Tiba-tiba saja ide cantik terlintas di benaknya. Abizar tahu bagaimana caranya agar Kezia tidak bisa menolak keinginannya. Senyuman licik membingkai bibir Abizar. Ia pun segera melakukan rencananya.


"Mbak, bangun!" Abizar menepuk-nepuk pipi Kezia pelan. Beberapa kali ia melakukannya sampai kedua mata Kezia perlahan terbuka.


"Ada apa?" Kezia bertanya dengan suara parau. Terdengar sexy di telinga Abizar.


"Mbak kenapa tidur di sini? Aku pegal."


Kedua mata Kezia menyipit sembari mengumpulkan kepingan-kepingan kesadaran dalam otaknya. Hingga semua kepingan itu terkumpul semua, kedua mata Kezia sontak melebar sempurna. Apalagi saat menyadari kepalanya tengah bertengger di dada bidang suaminya.


"Nggak apa-apa, Mbak. Kalau mau tidur kayak gini juga boleh, kok," ujar Abizar membuat kening Kezia berkerut bingung.


"Maksud kamu apa? Aku nggak tahu kenapa aku bisa tidur meluk kamu. Seingat aku tadi udah ngasih pembatas guling dan bantal di tengah. Kenapa sekarang jadi nggak ada? Ini pasti ulah kamu, ya?" tuding Kezia sambil mendongakkan kepala.


Abizar tersenyum miring lalu berkata, "mana kutahu. Kita sama-sama tidur tadi. Aku juga kebangun gara-gara tanganku sedikit kebas. Mbak aja yang tidurnya nggak bisa diam. Noh, bantal sama gulingnya ada di belakang Mbak." Abizar menunjuk dengan mengedikkan dagu. Tentu saja Kezia tidak bisa melihatnya, lantaran tubuhnya masih ditawan oleh Abizar.


"Kalau kayak gini berarti Mbak sudah masuk batas teritorial aku. Jadi, Mbak harus melakukan semua permintaan aku, apa pun itu." Abizar berkata lagi dengan senyuman penuh arti.


Tatapan curiga masih tersirat dalam sorot mata Kezia. Kedua netranya menangkap sebuah kelicikan yang tergambar pada tatapan sayu yang penuh napsu. Tubuh Kezia memberontak minta dilepaskan, tetapi pelukan Abizar malah semakin kencang.


"Tenanglah, Mbak! Aku nggak akan minta yang macam-macam, kok. Aku cuma minta diizinkan buat nengokin anakku sekarang."


"Apa?" Kezia tentu terperanjat. Ternyata firasatnya memang tepat. Abizar tengah melakukan siasat.

__ADS_1


"Aku nggak mau!" tolak Kezia cepat. Tentu ia mengerti dengan maksud kalimat 'menengok anak' dalam kandungannya tersebut.


"Mbak jangan egois, dan jangan melanggar kesepakatan yang Mbak buat sendiri, ya! Masih ingat, kan, aturan yang waktu itu Mbak katakan? Siapa pun yang melewati batas teritorial di ranjang ini, apa pun alasannya dia harus mendapatkan denda. Dendanya terserah pemilik wilayah, kan? Jadi, Mbak nggak bisa nolak permintaan yang aku minta barusan."


"Tapi kenapa harus minta itu? Bukannya kamu nggak suka perempuan tua macam aku? Aku juga nggak menggoda kamu lebih dulu, kan?" geram Kezia, kedua matanya melayangkan tatapan penuh peringatan dalam dekapan Abizar.


Abizar tak lantas menjawab pertanyaan Kezia. Dirinya malah sibuk menatap wajah istrinya dengan lekat. Pandangan mereka pun terkunci beberapa saat. Pelukan Abizar pun malah semakin erat.


"Abi! Kamu mau bunuh aku? Aku nggak bisa napas!" sentak Kezia.


Abizar pun dengan cepat melonggarkan pelukan itu, "Maaf," katanya sambil menyengir.


"Lepaskan aku!" pinta Kezia lagi.


"Nggak, kecuali Mbak mau memberikan apa yang aku mau."


Kezia bergeming lagi, tiba-tiba saja tubuhnya meremang ketakutan. Sepertinya Abizar tidak main-main dengan keinginannya.


"Lagipula bukankah berhubungan badan di kehamilan tua itu sangat dianjurkan oleh dokter? Untuk mempercepat proses lahiran. Iya, kan?"


Perkataan Abizar tersebut membuat Kezia tercekat. Dari mana lelaki itu tahu tentang hal demikian, karena selama ini dia tidak pernah ikut saat dirinya kontrol ke dokter kandungan. Apa dia mencari tahu sendiri, lantaran ingin menyalurkan hawa napsunya saja, atau Abizar peduli terhadap Kezia dan anaknya?


"Kalau Mbak diem aja. Berarti perkataan aku benar. Jadi nggak ada alasan buat nolak." Melihat Kezia hanya diam saja, Abizar berkata lagi dengan lembut sambil merapikan anak rambut Kezia yang terurai di pipi, lalu menyelipkannya ke belakangan telinga.


Angin kegalauan pun menyapu wajah Kezia. Haruskah dia melayani suaminya? Bagaimanapun lelaki itu mempunyai hak atas dirinya.


...****************...


...To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2