Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
33. Mabuk


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


Suara musik berdegum memekakkan telinga. Sudah satu jam Abizar duduk di bangku depan bar counter sebuah klub malam di tengah-tengah Kota Tokyo. Lelaki itu sedang galau. Tak tahu harus berbuat apa, sehingga dirinya memutuskan untuk merilekskan otaknya dengan meminum minuman memabukkan di sana. Padahal hal itu tidaklah benar, justru minuman haram hanya akan membuatnya semakin terjerumus dalam lembah kehancuran.


"Gue harus bilang apa sama Selena? Kali ini sepertinya orang tua gue nggak bakalan ngizinin gue balik ke Jepang lagi," racau Abizar setelah menenggak beberapa gelas minuman yang disajikan.


Di sela kegilaan Abizar, tiba-tiba saja dering ponselnya terdengar. Perempuan yang tengah diracaukan oleh Abizar itu melakukan panggilan telepon. Setengah sadar Abizar menerima panggilan tersebut, lalu menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Halo, Kak. Kamu di mana? Berisik banget, sih!" tanya Selena yang merasa terganggu dengan suara musik yang sangat keras di seberang teleponnya.


"Halo, Sayang. Aku lagi menenangkan diri di rumah teman," bohong Abizar setengah mabuk. Kepalanya menopang pada lengan yang menempel di meja bar, jari telunjuknya memutari ujung gelas miliknya.


"Bohong, kenapa berisik banget? Kamu lagi di bar?" sanggah Selena. Abizar tak lantas menjawabnya. Ia malah menenggak lagi minumannya, membuatnya semakin mabuk saja.


"Kak Abi? Kamu masih dengerin aku, nggak? Katakan kamu di mana sekarang? Pasti kamu mabuk, kan?" Selena mencecar Abizar. Namun, Abizar malah tertawa sumbang.


"Aku mencintai kamu, Selena." Abizar meracau lagi setelah tawanya reda, membuat Selena menghela napasnya. Kini ia yakin jika kekasihnya tersebut benar-benar mabuk di sebuah bar.


"Aku juga mencintaimu, Kak. Jadi sekarang tolong bilang, kamu ada di bar mana? Biar aku jemput kamu sekarang."


"Jemput? Ke mana? Ke Indonesia? Aku nggak mau," potong Abizar semakin tidak jelas perkataannya.


"Kamu ngomong apa, sih, Kak?" Selena semakin bingung dengan ucapan Abizar. Sampai tiba-tiba ada suara laki-laki lain yang terdengar. Laki-laki itu berbicara dengan bahasa Jepang.


"Halo, ini siapa?" tanya Selena pada orang yang mengambil alih ponsel Abizar.

__ADS_1


Lelaki itu mengobrol dengan Selena menggunakan bahasa Jepang. Dia adalah lelaki yang bekerja sebagai bartender di klub malam tersebut. Ia mengatakan kepada Selena jika orang yang mempunyai ponsel tersebut sudah mabuk berat. Ia berinisiatif untuk mengambil alih ponsel Abizar, karena melihat pelanggannya tersebut sudah tidak berdaya di meja counter-nya.


Setelah mengakhiri panggilan telepon, Selena bergegas menuju bar tempat Abizar berada. Sebelumnya ia sudah dikirim lokasi bar tersebut oleh bartender tadi melalui ponsel Abizar. Mobil perempuan itu pun melesat dengan kecepatan penuh. Selena khawatir dengan kondisi kekasihnya.


Sesampai di bar tersebut. Selena celingukan di antara kerumunan banyak orang. Riuh suara musik dan hingar bingar kehidupan malam di bar tersebut, membuat telinga Selena sedikit terganggu. Walaupun begitu, ia tetap mencari di mana kekasihnya berada. Ia pun melakukan panggilan telepon ke ponsel milik Abizar lagi. Tentu saja yang mengangkatnya adalah bartender tadi.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Selena tahu keberadaan kekasihnya setelah selesai menelepon. Ia pun menepuk-nepuk pipi Abizar berusaha menyadarkan lelaki itu. Batas kemampuan Abizar ketika minum minuman terlarang itu memang sangat dangkal. Baru beberapa gelas saja, lelaki itu sudah tumbang.


"Kak Abi ... bangun, Kak!" seru Selena masih menepuk-nepuk pipi kekasihnya.


Abizar yang sudah teler pun membuka matanya. Mengerjap beberapa kali mencoba mengenali siapa perempuan yang berada di dekatnya itu. "Kamu siapa?" tanyanya tidak sadar.


"Aku Selena, Kak. Ayo, kita pulang!" jawab Selena, berusaha membantu Abizar untuk berdiri. Namun, tubuh lelaki itu terlalu berat baginya, sehingga perempuan itu sedikit kewalahan memapah tubuh Abizar.


"Selena? Selena pacar aku ...." Abizar malah berhenti saat tubuhnya sudah berhasil berdiri. Tentu saja karena ditopang oleh tubuh Selena dengan susah payah.


"Kak Abi, jangan gini!" tolak Selena merasa risih, tetapi Abizar malah semakin tidak tahu diri. Tanpa rasa malu, Abizar sengaja mengendus-endus leher Selena dan memberikan rangsangan di sana.


Tidak mau mempermalukan dirinya, Selena pun meminta bantuan kepada petugas bartender untuk membawa Abizar ke mobil miliknya di parkiran.


"Arigatou gozaimasu," ucap Selena saat mengucapkan terima kasih sambil membungkukkan tubuhnya kepada bartender yang membantunya itu. Lelaki itu membalasnya, lalu pergi meninggalkan Selena.


Setelah lelaki itu pergi, Selena masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Sejenak menatap Abizar yang duduk terkulai di sampingnya.


"Kamu ini kenapa, sih, Kak?" lirih Selena merasa kasihan. Abizar tidak merespon apa-apa. Bibirnya sibuk meracau tidak jelas.


Selena yang bingung mau membawa Abizar ke mana, akhirnya memutuskan untuk membawa Abizar ke sebuah penginapan. Selama ini ia tidak pernah diizinkan untuk mengunjungi kediaman Abizar, sehingga dia tidak tahu tempat tinggal lelaki itu. Selena juga tidak mungkin membawa Abizar ke rumahnya. Mereka pasti akan marah.

__ADS_1


"Kamu tidur di sini saja malam ini, Kak. Besok pagi aku akan ke sini jemput kamu lagi," ucap Selena setelah berhasil membaringkan tubuh Abizar di kasur sebuah kamar penginapan yang dia sewa.


Peluh di dahinya bercucuran karena begitu lelah membawa lelaki itu dengan susah payah. Bahunya pun terlihat turun naik saat mengatur napasnya yang tersengal. Baru kali ini ia merasa direpotkan oleh Abizar.


Tubuh Selena berbalik dan hendak pergi, tetapi tiba-tiba tubuhnya tidak bisa bergerak saat ada tangan kekar menahan lengannya dari arah belakang. Tentu saja itu adalah ulah Abizar.


"Selena, aku mencintai kamu. Aludra pasti salah menafsirkan kalau aku hanya tergila-gila pada kecantikan kamu saja."


Kening Selena berkerut mendengar Abizar meracau seperti itu. Tubuhnya pun berbalik, dan menghadap Abizar lagi. Langkahnya mendekat, lalu duduk di samping Abizar. Tangannya masih erat digenggam oleh lelaki tersebut.


"Aku juga mencintaimu, Kak. Tapi apa maksudnya ucapan kamu tadi? Memangnya Aludra menafsirkan apa?" tanya Selena yang sama sekali tidak dijawab oleh Abizar. Lelaki itu malah memeluk lengan Selena dengan erat.


Selena menghela napasnya. Berbicara dengan orang mabuk memang tidak ada gunanya. Ia pun mencoba untuk melepaskan lengannya dari cengkeraman Abizar.


Namun, usahanya ternyata sia-sia. Lelaki mabuk itu malah menarik tangan Selena hingga tubuhnya pun ikut tertarik menimpa Abizar. Selena tidak bisa bergerak, karena kini Abizar malah memeluk tubuhnya dengan erat. Degup jantungnya pun jadi bertambah cepat.


"Kak Abi?"


Selena menelan ludahnya susah payah, saat Abizar membawa tubuhnya bergulir ke samping. Membuat posisi tubuhnya kini berada di bawah kungkungan lelaki itu.


"Selena, tunggu aku! Aku pasti akan menikahimu," ucap Abizar sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Jelas sekali jika dirinya tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan saat ini.


Namun, perkataan itu justru membuat Selena terenyuh. Ia merasa bahagia karena Abizar seperti sedang melamarnya. Ia pun rela jika malam ini akan terjadi sesuatu di antara mereka. Menurut Selena, mungkin ini adalah satu-satunya cara agar mereka bisa ditakdirkan untuk bersama.


...****************...


...To be continued...

__ADS_1


Apa yang akan terjadi di antara mereka? Kasih komentarnya, ya 🙏😅


__ADS_2