
...Happy Reading...
...****************...
"Gimana kalau gue minta semua saham lo yang ada di kafe ini?" pintar Abizar tanpa basa basi.
"Gue setuju." Tanpa berpikir panjang, Devan pun langsung menyetujui.
Abizar malang tertawa sumbang, "Bucin banget, sih," kekehnya meledek.
Devan memicing tidak suka. "Ada yang lucu? Bukannya lo juga bucin sama pacar lo itu?" katanya.
"Nggak sebucin lo kayaknya, Bang. Gue nggak akan rela ngasih semua saham gue demi cinta." Abizar menghentikan tawanya. Menyisakan sedikit senyum di bibirnya. Lelaki itu ternyata lebih sayang hartanya ketimbang Selena.
"Dasar pelit!" cibir Devan, lalu terdiam sejenak sebelum ia berkata lagi, "jadi gimana? Kita sepakat?" Devan kembali memastikan, tetapi Abizar malah menggelengkan kepalanya pelan.
"Gue, sih, maunya sepakat, tapi gue tetep nggak bisa ngelepasin Mbak Zee sekarang, Bang. Orang tua gue pasti ngelarang."
"Jadi, lo berniat mengikat Kezia selamanya? Katanya lo nggak cinta sama dia?" Devan menegakkan duduknya, dan berkata serius pada Abizar. Sorot matanya tersirat keberatan.
"Bukan begitu, gue memang nggak cinta sama dia, tapi warisan papa gue lebih banyak daripada saham lo itu. Jadi, gue masih berpikir ribuan kali buat ngelepasin Mbak Zee. Kecuali kalau Mbak Zee yang mau sendiri," tutur Abizar.
Devan masih bergeming. Dalam hatinya ia membenarkan perkataan Abizar. Semua keputusan ada di tangan Kezia. Ia jadi ingat saat dirinya meminta Kezia untuk lari dari pernikahannya. Perempuan itu menolak dengan tegas. Lalu, bagaimana jika ternyata Kezia yang tidak mau meninggalkan Abizar dan mempertahankan pernikahan mereka? Apa Devan benar-benar tidak punya kesempatan.
"Kalian lagi ngomongin apa?" Suara Alfath menyita perhatian Devan dan Abizar. Lelaki yang pandai memasak itu datang sambil membawa dessert terbaru dari menu makanan cafe mereka.
Alfath duduk di samping kiri Devan, lalu menyimpan makanan penutup berupa kudapan manis yang dia bawa di atas meja. "Kalian masih membahas masalah Kezia, ya," tebak Alfath. Ia bisa membaca hal tersebut dari ketegangan yang terlukis di wajah kedua sahabatnya.
Setelah menyimpan makanannya, ia pun beralih pada wajah Devan. "Lo nggak boleh egois untuk mempertahankan cinta lo terus, Van. Kezia sekarang udah bukan perempuan bebas yang bisa lo kejar lagi. Dia udah jadi istrinya Abi," tutur Alfath menasihati.
__ADS_1
"Lo nggak ngerti, Al. Mereka menikah bukan karena cinta. Mereka berdua sama-sama terpaksa, dan gue kasihan sama Kezia kalau harus menderita gara-gara terkekang sama pernikahannya," cetus Devan.
"Gue ngerti, tapi apa pun alasan mereka menikah, itu bukan urusan lo lagi. Memangnya lo bisa jamin, kalau lo udah berhasil merusak rumah tangga mereka, lo bisa dapatkan cinta Kezia?"
"Gue yakin bisa. Gue bakalan kerahin semua usaha, agar hati Kezia luluh dengan perhatian gue sama dia," ucap Devan dengan yakin.
"Cih, yakin banget!" Abizar mencibir pelan, segini tidak dapat didengar oleh Devan.
"Tapi lo bakalan berurusan dengan keluarga lo sendiri. Mereka akan benci sama lo, kalau mereka tahu lo mau merebut istri dari sodara lo sendiri."
"Walaupun gue bakalan diusir dari rumah, gue nggak peduli," tekan Devan dengan yakin.
Alfath mengembuskan napas kasar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir jika Devan sudah dibutakan oleh cinta. sedangkan Abizar tidak ingin lagi berkomentar. Dia juga bingung harus bersikap bagaimana dengan Devan.
...******...
Malam harinya, Abizar tengah mempersiapkan segala keperluannya untuk pergi ke Jepang di kamarnya, dan tentu saja ditemani oleh Kezia.
"Memangnya aku burung, pake dilepasin," celetuk Kezia tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang sedang dia mainkan. Perempuan itu sama sekali tidak ingin membantu menyiapkan keperluan sang suami yang hendak pergi. Ia malah terlihat sibuk sendiri.
"Aku serius, Mbak. Bang Devan itu cinta mati sama Mbak. Dia bakalan ngelakuin apa aja buat dapatin cinta Mbak. Memangnya Mbak nggak punya perasaan sama sekali sama dia?"
Perkataan itu membuat tangan Kezia berhenti menggulirkan layar ponselnya. Kepalanya mendongak menatap Abizar sambil mengerjap bingung. "Aku nggak pernah mencintai Devan," ucap Kezia jujur.
Abizar menarik salah satu sudut bibirnya. Entah kenapa dia merasa senang mendengar pengakuan Kezia. "Baguslah kalau begitu, tapi aku kasihan Bang Devan. Dia jadi Sadboy sejati," kelakar Abizar sambil tersenyum penuh arti.
Kezia sedikit merasa bersalah. Ia memang tidak pernah memberikan harapan palsu kepada Devan, tetapi ia tahu perasaan lelaki itu begitu besar kepadanya. Sayangnya, Kezia tidak bisa membalas cinta Devan, apalagi sekarang dirinya sudah menikah dengan Abizar.
"Mau nganterin ke depan, nggak?" Permintaan Abizar membuat lamunan Kezia jadi buyar. Pandangannya kembali tertuju pada suaminya yang hendak menyeret koper di lantai.
__ADS_1
"Udah selesai?" tanya Kezia dan dibalas anggukan oleh Abizar. Kezia pun turun dari ranjang dan mengikuti suaminya ke luar.
Sesampainya di depan rumah. Jiro sudah menunggu di dalam mobilnya. Ada Devan juga yang sengaja datang ke rumah itu. Pandangan Kezia dan Devan sejenak bertemu, tetapi Kezia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia teringat akan perkataan Abizar tadi. Kezia berpikir untuk tidak memberikan kesempatan kepada Devan untuk mendekatinya lagi, karena Kezia tidak ingin Devan lebih sakit hati.
...******...
Perjalanan menuju ke Jepang membutuhkan waktu kurang lebih tujuh jam lamanya. Setelah sampai di rumahnya yang berada di sana, Abizar langsung menelpon istrinya. Menanyakan apakah Devan masih mengganggunya. Kezia pun berkata jujur jika dirinya sengaja menjauhi lelaki itu. Kezia tidak mau memberikan harapan palsu.
"Bagus, Mbak. Sebagai istri, Mbak harus pandai menjaga diri saat jauh dari suami." Layaknya suami yang bijak, Abizar berkata seperti itu di balik sambungan teleponnya.
"Lalu sebagai suami, apa kamu juga bisa jaga diri saat jauh dari istri?" Kezia bertanya balik. Membuat Abizar tidak bisa berkutik, "aku melakukan itu karena tidak ingin melukai hati Devan lebih dalam lagi. Aku hanya ingin dia bahagia bersama perempuan lain yang bisa mencintainya dengan tulus. Bukan semata-mata ingin jadi istri berbakti buat kamu. Toh, kamu juga bukan suami terbaik buat aku," tambah Kezia panjang lebar. Abizar semakin tak bisa menyangkal.
"Udah, deh, Mbak. Jangan mancing-mancing buat kita bertengkar lagi. Bukannya kemarin kita udah berdamai. Kita udah sepakat, kan, sebelum kita bercerai, masing-masing dari kita nggak akan saling mengkhianati."
Ya, setelah perselisihan yang terjadi di antara Kezia dan Abizar. Mereka pun sepakat untuk sama-sama adil. Keduanya setuju untuk tidak main hati ketika mereka masih berstatus suami istri. Abizar juga berjanji akan memutuskan Selena setelah dirinya kembali ke Jepang. Kezia hanya ingin keadilan dari sikap Abizar yang melarangnya dekat dengan Devan.
Beberapa saat berbincang, panggilan mereka pun selesai. Abizar pamit untuk beristirahat karena dirinya sudah lelah di perjalanan, karena waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 waktu sekitar.
Namun, beberapa menit panggilan itu berakhir. Dering ponsel milik Abizar terdengar lagi. Abizar yang belum terlelap pun kembali terjaga, lalu melihat layar ponselnya. Terpampang wajah Selena yang menjadi foto profil si penelepon di seberang sana.
Kedua mata Abizar sontak terbelalak sempurna. Lelaki itu memang sempat mengabarkan jika dirinya akan pulang dengan penerbangan malam hari ini. Tentu hal tersebut dikatakan saat dirinya belum membuat kesepakatan dengan Kezia. Abizar benar-benar lupa. Ia tidak menyangka jika Selena akan secepat itu menghubunginya.
"Halo, Sayang. Udah sampai rumah?" sapa Selena ketika Abizar sudah menerima panggil tersebut.
"Udah, baru beberapa menit yang lalu," jawab Abizar.
"Besok kita ketemu, ya. Aku udah kangen sama kamu."
Abizar terdiam sejenak. Ia ingat akan janjinya kepada Kezia. Namun, mendengar suara manja dari kekasihnya, membuat hatinya langsung meleleh begitu saja. Abizar langsung mengabaikan kesepakatan itu. Toh, istrinya itu tidak akan tahu apa yang dilakukannya saat mereka jauh. Ia pun dengan yakin berkata, "Tentu aja, Sayang. Aku juga kangen sama kamu."
__ADS_1
...****************...
...To be continued...