
...Happy Reading...
...****************...
"Abiiiii ... balik badan!" pekik Kezia sambil menutupi bagian dadanya.
Namun, bukannya menurut, lelaki itu malah melangkah maju seperti orang linglung.
"Heh, kenapa malah maju? Balik badan, Abi!" Kezia membentak lebih keras. Kali ini Abizar baru tersadar.
"Eh, iya, Mbak?" Seperti orang kebingungan Abizar membalikkan tubuhnya menghadap ke arah pintu, sedangkan Kezia langsung berlari ke arah lemari. Mengambil bajunya, lalu pergi ke kamar mandi.
"Udah, Mbak?" tanya Abizar, tetapi tak ada jawaban dari arah belakangnya. Lelaki itu pun perlahan memutar kepalanya, sedikit mengintip apakah istrinya masih ada di belakangnya.
Abizar menghela napasnya, ia yakin jika istrinya sudah kabur ke kamar mandi. Tubuhnya berbalik lalu berjalan dan duduk di tepi ranjang. Sebelumnya ia menghentikan musik yang masih berputar di mp3 player di kamarnya. Hawa panas tiba-tiba menyergap wajahnya yang menjadi kemerahan, sembari menenangkan jantungnya yang berdebar tak beraturan, Abizar menarik dasi yang terasa mencekik lehernya itu. Entah kenapa perasaannya jadi tidak tenang, hingga Kezia keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkapnya.
"Lain kali kalau masuk ke kamar ketuk pintu dulu, dong! Sekarang kamar ini bukan cuma kamu aja penghuninya," omel Kezia pada suaminya.
"Salah sendiri kenapa pintunya nggak dikunci. Aku tadi lupa," celetuk Abizar
Kezia mendengkus kesal, tetapi tidak bisa menyangkal. Ia juga lupa mengunci pintu kamarnya, lantaran sudah terbiasa sendirian tanpa Abizar. Kini, setelah suaminya datang, Kezia jadi kebiasaan.
"Aku mau mandi," ucap Abizar setelah mengambil handuk yang tergantung di tempatnya.
Kezia melengos tidak peduli, lalu berjalan menuju lemari. Ia hendak mengambil sprei dan selimut dari dalam sana. Mau mengganti sprei di tempat tidurnya.
Kehamilan Kezia yang semakin besar membuat perempuan itu kesulitan ketika ingin melakukan sesuatu. Langkah Abizar yang sedikit lagi menjangkau pintu kamar mandi jadi terhenti, saat pandangannya tidak sengaja menangkap kesulitan istrinya tersebut. Abizar yang merasa kasihan memutar tubuhnya dan menghampiri sang istri. Dibantunya istrinya tersebut dengan merebut selimut dan sprei yang dipegang oleh Kezia.
"Mbak mau ngapain? Biar aku aja," sergah Abizar.
"Hah?" Kezia tercengang sambil menatap Abizar. Perempuan itu terkejut ketika Abizar ternyata peka sebagai seorang suami.
"Ini mau diapain?" Abizar mengulangi pertanyaannya dengan nada dingin.
"Oh, iya. Aku mau ganti sprei itu," jawab Kezia sambil menunjuk tempat tidur.
__ADS_1
Abizar pun melangkah pergi, lalu menarik sprei lama dan menggantinya dengan yang baru. Termasuk mengganti selimutnya. Abizar juga membawa sprei dan selimut kotor tersebut ke tempat cucian baju kotor.
"Makasih," ucap Kezia yang sedari tadi melongo takjub melihat tingkah Abizar tersebut.
"Hmmm ...." Hanya gumaman yang terlontar dari mulut Abizar, sebelum lelaki itu kembali melanjutkan niatnya untuk mandi.
Seulas senyuman tipis tanpa sadar terbesit di bibir Kezia. Mendapatkan bantuan kecil seperti itu saja dari suaminya, membuat hati Kezia sedikit bahagia. Untuk pertama kalinya, ia merasa mempunyai sosok seorang suami yang peka.
...******...
Sudah dua hari Abizar di Indonesia. Devan jadi tidak mempunyai celah untuk mendekati Kezia. Namun, lelaki itu masih sering berkunjung ke rumah Angelina. Sekadar berpura-pura meminta makanan, atau bertanya tentang kabar saja.
"Setiap hari lo selalu makan di sini. Memangnya lo nggak punya duit buat beli makanan sendiri?" sindir Abizar saat Devan ikut acara makan malam di rumahnya.
"Abi, nggak boleh gitu, ah! Devan, kan, tinggal sendirian. Dia pasti juga ingin merasakan momen makan bersama dengan keluarga. Kasian dia." Angelina yang menanggapi perkataan Abizar.
"Emang dasar dia pelit, Tante. Padahal aku nggak minta makanan dari dia, kan?"cebik Devan sengaja memanasi Abizar.
Abizar mendelik tajam seperti hendak melahap Devan. Lalu pandangannya beralih pada Kezia yang terlihat santai sambil melahap makanannya. Keningnya mengernyit manakala ia seperti melihat pandangan Kezia yang sesekali tertuju pada Devan, lalu terbesit senyuman di bibir perempuan tersebut. Di mata Abizar, senyuman Kezia terlihat begitu mesra dan penuh cinta untuk Devan.
...******...
Seusai makan malam, keluarga Abizar berkumpul bersama di ruang keluarga Abizar untuk sekadar bercengkerama. Hal itulah yang selalu mereka tanamkan agar keluarga mereka tetap harmonis satu sama lain. Mereka selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama.
Kali ini seperti biasanya, Devan selalu ikut nimbrung di sela keharmonisan keluarga tersebut. Saking seringnya, Devan sudah tidak canggung lagi terhadap keluarga itu. Terutama pada Kezia.
"Zee, besok lusa tanggal pemeriksaan kandungan kamu, kan?" tanya Angelina di sela obrolan mereka.
"Iya, Ma," jawab Kezia sambil tersenyum.
"Gue anterin, ya!" celetuk Devan.
"Oke." Kezia membalas cepat.
"Eh, jangan! Sekarang pawangnya Kezia udah pulang, Van. Tugas kamu buat jagain Kezia udah selesai," kelakar Angelina sambil tersenyum.
__ADS_1
Kezia tersenyum kecut. Ia lupa jika sekarang sudah ada Abizar. Perempuan itu terlalu terbiasa bergantung dengan Devan, sehingga melupakan keberadaan suaminya tersebut.
Hal itu membuat Devan merasa kesal. Misinya hampir saja berhasil untuk mendapatkan hatinya Kezia. Kedatangan Abizar benar-benar merusak rencananya tersebut.
"Oh, iya, Tante. Nggak apa-apa. Aku senang, kok, jagain Kezia dan anaknya." Devan sengaja melayangkan tatapan sinis pada Abizar.
"Gimana, Bi? Kamu ada waktu, kan, buat anterin Kezia checkup kandungan?" Angelina beralih pada anaknya.
Abizar berpikir sejenak. Menatap Kezia dan Devan bergantian. Sebenarnya dia malas mengantarkan istrinya tersebut ke rumah sakit, tetapi dia tidak bisa membantah perintah ibunya. Terlebih ia tidak mau memberikan Devan kesempatan untuk mendekati Kezia.
"Iya, Ma," sahut Abizar.
Sorot keraguan terpancar dari kedua mata Kezia. Ia seperti tidak rela jika diantar oleh suaminya. Kezia sudah terlalu nyaman jika bersama Devan. Mungkin karena sudah terbiasa bersama lelaki itu.
Begitupun dengan Devan, ia merasa kecewa karena tidak bisa lagi menemani Kezia untuk melakukan pemeriksaan kandungannya. Tatapannya terlihat sendu menatap wajah Kezia, hingga tatapan mereka bertemu kemudian Kezia mengalihkan pandangannya lebih dulu.
...*****...
Di gedung perusahaan tempat kerja Abizar. Lelaki itu memasuki lift menuju ruang kerjanya di lantai lima. Abizar terlihat santai seorang diri hendak menekan tombol lima, saat seorang lelaki berlari dan tergesa-gesa memasuki lift yang sama dengannya.
"Hah, untung masih keburu," ucap lelaki tersebut. Tangannya disimpan di dada sambil mengatur napasnya yang tersengal karena sudah lelah berlarian.
Lelaki itu menoleh pada Abizar, dan terkejut setelahnya. Kedua matanya terbelalak sempurna, begitupun dengan Abizar yang juga mengenali lelaki tersebut.
"Lo?"
"Abi?"
Keduanya saling menunjuk wajah satu sama lain. Sorot kebencian kemudian terpancar dari tatapan Abizar. Urat kemarahan pun tercetak di lehernya, sebelum ia meraih kerah baju lelaki di hadapannya tersebut.
...****************...
...To be continued...
Mohon maaf, readers tersayang. Aku baru bisa update lagi. Kemarin-kemarin masih dalam masa pemulihan. InsyaAllah bakalan rutin up lagi setelah ini sampai tamat, ya. 🙏
__ADS_1