
...Happy Reading...
...****************...
"Oh, iya. Maaf. Aku seneng, kok, lihat kamu," ucap Abizar tanpa sadar. Senyuman Selena pun mengembang.
"Benarkah? Kalau gitu peluk aku lagi!"
Seperti terhipnotis oleh kecantikan artis Jepang itu, Abizar menurut saja dengan apa yang dikatakannya. Ia diam saja saat Selena menghambur memeluk tubuhnya. Tak ayal hal itu membuat jantungnya berdetak kewalahan. Antara tegang dan ketakutan, Abizar seperti orang linglung yang tidak bisa berpikir panjang.
Namun, adegan berpelukan yang bisa membuat orang iri dengan keharmonisannya itu, harus menjadi benalu di mata seorang perempuan yang tengah berdiri kaku. Seorang lelaki di sampingnya pun jadi ikut terpaku.
Dialah Kezia. Di dalam lift yang pintunya terbuka, ia menatap sendu sepasang kekasih yang tidak menyadari kehadiran mereka. Kedua matanya sontak meluruhkan bulir bening yang mendesak di pelupuk mata. Kakinya pun terasa lemas untuk diajak melangkah.
Beberapa meter dari pintu lift berada adalah ruangannya Abizar. Kezia bisa melihat Selena dan Abizar berpelukan dari arah samping mereka, dengan wajah Selena yang menghadap ke arahnya.
"Brengsek si Abi!" Devan langsung naik pitam. Rahangnya mengeras dengan tangan mengepal kencang. Bogem mentah pun siap dilayangkan pada tubuh Abizar. Devan akan memberikan pelajaran berharga untuk laki-laki tukang selingkuh itu.
"Kamu mau ngapain, Van?" Kezia menahan bahu Devan. Membuatnya tak jadi melangkah, lalu berbalik menghadap Kezia. Dengan cepat Kezia menekan tombol panah yang mengarah ke bawah, karena dari tadi kaki mereka belum sempat melangkah. Kebetulan di dalam lift itu hanya ada mereka berdua saja.
"Lo apa-apaan, sih, Zee? Kenapa kita turun lagi? Cowok brengsek itu perlu dikasih pelajaran. Bisa-bisanya dia pelukan kayak gitu sama perempuan lain. Katanya mau setia, bulshit!" berang Devan. Kekesalannya semakin bertambah karena kelakuan Kezia barusan.
Kezia menggeleng lemah. Helaan napasnya pun terdengar pasrah. Walaupun tidak bisa dipungkiri jika dirinya juga ingin marah. Hawa panas seolah mengalir di dalam darah, membuatnya mendidih dan bergejolak ke segala arah.
Namun, Kezia tidak mau ada keributan di kantor sahabatnya—Juno, sehingga perempuan itu lebih memilih kabur untuk mendinginkan otaknya yang sudah mengepul.
__ADS_1
"Aku mau pulang aja," katanya.
"Pulang? Lo mau langsung pulang gitu aja setelah melihat suami lo selingkuh sama perempuan lain, Zee? Gue nggak percaya lo sesabar itu." Devan mencibir diiringi dengan seringai tipis di bibir.
Kezia tercekat mendengar kalimat Devan. Kepalanya sontak menoleh dan menatap Devan dengan tatapan yang sulit diartikan. Iya, dia memang bukan istri Nabi yang rela berbagi hati. Namun, Kezia cukup tahu diri. Dia tahu siapa perempuan yang tadi dipeluk Abi, karena secara tidak sengaja ia pernah melihat potret wajah itu di dalam dompet sang suami.
"Ya, aku memang nggak sesabar itu, aku juga marah seperti kamu. Tapi aku hanya nggak mau bikin keributan di kantornya Juno. Apalagi perempuan itu adalah ...." Kezia menghentikan ucapannya. Lidahnya terasa berat untuk menyebut nama Selena.
"Siapa perempuan itu? Lo kenal dia?" desak Devan.
Pertanyaan dari Devan berbarengan dengan pintu lift yang terbuka. Kini mereka sudah berada di lantai dasar.
"Dia kekasihnya Abi yang dari Jepang." Sembari melangkah Kezia menjawabnya. Tegar mulutnya berkata, tetapi perih dirasakan oleh hatinya. Baru sebentar saja ia merasakan indahnya disayang dan dimanja, langsung dihujam oleh runcingnya rasa kecewa. Disanjung tinggi melayang, lalu dihempaskan jauh ke dasar jurang. Abizar benar-benar kejam.
"Zee, tungguin gue!" teriak Devan.
Rasa sakit yang mendera hati Kezia membuatnya seakan tuli. Telinganya berdengung dengan detak jantung tak terhitung. Rasa marah, sedih, dan kecewa mengumpul dalam benaknya. Haruskah Kezia percaya lagi dengan suaminya? Bahkan baru kemarin dia mengatakan sudah putus dengan pacarnya.
Penipu. Itulah label yang pantas digantungkan di leher Abizar. Kezia merasa dipermainkan.
"Ah ...." Kezia yang tengah berjalan tiba-tiba merasakan sakit yang teramat di bagian perutnya. Mungkin karena melihat ibunya terluka, si jabang bayi di dalam sana juga merasakan hal yang sama.
"Zee, lo kenapa?" Dengan sigap Devan langsung menopang tubuh Kezia yang hendak tumbang.
"Bawa aku ke rumah sakit, Van!" titah Kezia sambil meringis kesakitan.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Devan langsung membopong tubuh Kezia, lalu bergegas menuju mobilnya.
"Lo mau lahiran, Zee?"
Devan bertanya saat sedang menyetir mobilnya, sedangkan Kezia masih meringis kesakitan sambil duduk di kursi penumpang.
"Aku nggak tahu, tapi ... sepertinya iya," ujar Kezia sambil menahan sakitnya.
"Haduh, gue mesti hubungin tante Angelina."
"Jangan!" sergah Kezia cepat.
"Kenapa? Dia mertua lo."
"Tapi dia mamanya Abi," timpal Kezia.
Devan melirik wajah Kezia dari spion dalam mobilnya. Kedua alisnya bertaut, tatapannya sendu merasa kasihan dengan kesakitan perempuan yang masih menguasai hatinya itu.
...****************...
...To be continued...
Sambil nunggu update, baca novel bestie aku dulu, yuk.
__ADS_1