
...Happy Reading...
...****************...
Tangis kesakitan pun pecah seketika. Aruna langsung memeluk adik angkatnya—Putri, sedangkan Surya langsung mendekap sang istri. Sedangkan Devan hanya bisa menatap nanar dengan kubangan air mata di pelupuk matanya.
"Sabar, Ma. Ini semua sudah kehendak Allah. Allah lebih sayang sama cucu kita." Surya memenangkan istrinya yang menangis sesegukan di pelukannya.
"Bagaimana dengan keadaan kakak saya, Dokter?" Pertanyaan Aruna mengalihkan atensi dokter, lalu menoleh ke arah perempuan tersebut.
"Ibunya masih belum sadar, tapi jangan khawatir, karena kondisi pasien masih dalam batas normal. Hanya menunggu beliau sadar. Tapi ingat, tolong bicarakan pelan-pelan tentang anaknya yang meninggal kepada pasien. Takut mentalnya tidak siap untuk menerima, sehingga pasien akan mengalami shok," jelas dokter, lalu dirinya pamit undur diri. Sebelum itu ia berpesan agar pihak keluarga segera mengurus jenazah anaknya Kezia agar segera disemayamkan.
*
*
*
Embusan hawa dingin yang berasal dari pendingin ruangan tak membuat Abizar yang kelelahan merasa nyaman. Sedari tadi lelaki itu hanya telentang di atas tempat tidurnya tanpa mau memejamkan mata. Pikirannya masih berkelana, memikirkan di mana keberadaan istri dan anaknya.
"Abi, keluar kamu!" Teriakan keras yang terdengar dari luar kamar Abizar, membuat atensi lelaki itu teralihkan. Keningnya mengernyit sambil menatap pintu. Daripada penasaran siapa yang berteriak memanggil namanya dengan nada garang, dia pun segera beranjak lalu berjalan ke arah pintu kamar.
Plak!
__ADS_1
Satu tamparan keras menyambar pipi Abizar. Ia yang baru saja membuka pintu kamarnya langsung mendapatkan tamparan pedas dari papa mertuanya.
Surya yang geram karena kehilangan cucunya tidak mau menunggu lama untuk membuat perhitungan dengan Abizar. Setelah prosesi pemakaman cucunya selesai, laki-laki yang sudah membesarkan Kezia itu langsung melabrak menantunya.
Tak tanggung-tanggung Surya menggaung. Baru saja asisten rumah tangga Abizar membuka pintu, Surya langsung menerobos menuju kamar menantunya, sambil berteriak-teriak memangil nama sang menantu.
"Ada apa ini? Kenapa Pak Surya menampar anak saya?" Angelina yang tentunya mendengar keributan tersebut pun bertanya penasaran. Walaupun dia tahu anaknya membuat kesalahan karena Kezia menghilang, tetapi perempuan itu pura-pura biasa saja, karena ia masih menyembunyikan hal tersebut dari besannya. Padahal keluarga Abizarlah yang tidak tahu apa-apa.
"Coba tanya anak Anda! Apa yang dia lakukan terhadap Kezia dan anaknya?" berang Surya sambil menyimpan telunjuknya di depan hidung Abizar. Tatapannya tajam seolah ingin menerkam. Urat kemarahan tergurat jelas di lehernya.
"Apa mereka sudah tahu kalau Kezia hilang?" batin Angelina.
"Kenapa Anda diam saja? Tanya anak Anda! Apa yang dia lakukan sampai Kezia harus kehilangan anaknya!" Dengan nada tinggi Surya menghardik Angelina yang malah terdiam.
"Apa? Apa maksud Papa?" Abizar tersentak dengan kedua mata terbelalak saat mendengar perkataan mertuanya tadi.
"Kezia sudah melahirkan, Pak? Kenapa kami tidak diberitahu?" Jiro ikut menimpali perseteruan itu.
"Untuk apa? Kezia yang meminta kami untuk tidak memberitahu kalian. Itu artinya dia sudah lelah dengan pernikahannya dengan Abizar. Asal pak Jiro tahu, anak Bapak ini adalah laki-laki pecundang dan tidak punya pendirian. Dulu, saya meyakinkan Kezia tentang pernikahan tanpa cinta pun bisa berakhir bahagia. Dia pun mengikuti saran saya, dan berusaha menerima pernikahannya dengan lapang dada. Tapi putra Anda ini ...." Tatapan Surya menghunus tajam ke arah Abizar, "Laki-laki ini malah mempunyai selingkuhan, bahkan sengaja mengundang Kezia ke kantornya hanya untuk melihat mereka bermesraan."
Deg!
Abizar tersentak lagi. Seolah mendapatkan serangan bertubi-tubi, lelaki itu seperti mau mati. Hantaman kenyataan buruk membuat jantungnya seolah lupa untuk berdetak. Abizar menelan ludahnya kelat. Pikirannya kosong seketika. Abizar ternganga tidak percaya. Lelaki itu tidak menyangka jika ternyata Kezia melihat dirinya yang berpelukan dengan Selena. Sungguh, Abizar tidak pernah berpikir ke arah sana. Bodoh sekali dia!
__ADS_1
"Katakan itu nggak benar, Abi!" Sentakan yang disertai guncangan di tubuh Abizar membuat lelaki itu terjaga. Angelina lah pelakunya. Dengan bulir air mata yang masih tertahan di pelupuk mata, Angelina mencecar anaknya.
Tak bisa menjawab, mulut Abizar terkunci rapat. Hal itu membuat Angelina kecewa berat. Kelakuan anaknya benar-benar bejat.
Lelehan air mata pun mengalir sudah. Tubuh Angelina langsung terkulai lemah. Jiro yang berdiri di samping istrinya langsung membawa sang istri pergi dari sana, sedangkan Abizar masih dihakimi mertuanya.
"Dengarkan saya baik-baik, Abi! Mulai detik ini, saya akan ambil putri saya lagi. Ceraikan dia!"
"Nggak akan." Abizar langsung menolak dengan tegas. "Aku nggak akan menceraikan mbak Zee, karena aku sangat mencintai dia," imbuhnya.
Senyuman remeh dilontarkan oleh Surya. Rasa percayanya telah hilang untuk sosok menantunya. "Kamu kira saya akan percaya? Jangan mimpi kamu, Abi! Kalau kamu tidak mau, saya bisa sewa pengacara untuk membawanya ke meja pengadilan. Biar hukum yang memisahkan kalian," sarkas Surya.
Abizar ingin membantah lagi, tetapi urung karena ia sadar itu tidak akan ada gunanya. Mertuanya tengah meradang, tentu saja tidak akan mau mendengar alasan. Bahkan saat mertuanya tersebut pergi meninggalkan, tubuh Abizar masih terdiam.
*
*
*
...----------------...
...To be continued...
__ADS_1
Sambil nunggu up, mampir di novel keren ini, yuk