Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
32. Pulang


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


"Jadi lo maunya gimana? Jangan setengah dari warisan gue, lah. Warisan lo juga banyak, kan? Maruk banget jadi orang! Gimana kalau ... seperempat?" celetuk Abizar menawar permintaan Aludra. Walaupun sebenarnya dia juga merasa sayang jika seperempat harta warisannya menjadi milik Aludra.


Aludra sedikit terkesiap. Ia tidak menyangka kakaknya akan berani tawar menawar masalah harta warisan. Sejurus kemudian gelak tawa pun terdengar menggema di ruangan kerja itu. Suara itu berasal dari Aludra yang menertawakan kelabilan kakaknya. "Oke, aku setuju," ucapnya setelah tawanya reda. Tangannya mengambang di atas meja, mengajak Abizar bersalaman.


Dengan terpaksa Abizar mengulurkan tangannya membalas tangan Aludra. "Sepakat, ya. Awas kalau sampai papa dan mama tahu tentang hubungan gue sama Selena!" seru Abizar sambil sedikit meremat tangan adiknya.


"Siap ... aku jamin rahasia Abang tetap aman." Aludra berucap sambil melepaskan tangannya dari tangan sang kakak. Senyuman seringai terbit di bibir lelaki itu. Seolah ada rencana yang dia sembunyikan untuk kehidupan rumah tangga kakaknya nanti, "satu hal yang aku minta sama Abang. Jangan sekali-kali membuat kesalahan yang sama seperti yang Abang lakukan pada Mbak Kezia! Jika sampai Selena hamil sebelum Abang bercerai dengan Mbak Kezia, aku tidak bisa lagi menutupi kebohongan kalian. Tentu saja bukan seperempat atau setengah harta warisan Abang yang bakalan hilang, melainkan semuanya tidak akan papa berikan buat Abang," tambah Aludra penuh peringatan.


...*****...


Musim berganti sesuai masanya, dengan berjuta jejak kenangan yang tersisa. Kini, kehamilan Kezia sudah memasuki trimester ketiga. Sebentar lagi anak itu akan lounching ke dunia.


Sesuai permintaan Abizar, Aludra tidak memberitahukan perihal perselingkuhan kakaknya dengan Selena kepada orang tua mereka. Namun, lelaki pintar itu mempunyai rencana besar untuk pernikahan sang kakak. Sebenarnya ia tidak benar-benar serius menginginkan harta warisan Abizar. Bagaimanapun hartanya juga sudah sangat melimpah. Jadi, untuk apa ia mengambil bagian kakaknya juga.


Aludra meminta sang mama untuk menyuruh Abizar pulang ke Indonesia. Tugasnya di Jepang memang belum selesai, tetapi Aludra ingin kakaknya jadi lebih banyak waktu bersama Kezia. Dengan begitu, Aludra berharap rasa cinta antara Abizar dan Kezia akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Semakin sering mereka bersama, kemungkinan jatuh cinta akan lebih besar menurut Aludra.


Angelina diwanti-wanti oleh Aludra untuk tidak memberitahukan kepada Abizar, jika hal itu adalah idenya Aludra. Angelina pun beralasan agar Abizar bisa menjadi suami siaga untuk istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan.


"Aku di sini belum setahun, Mam. Masa harus pulang ke Indonesia. Aku bukan Aludra yang saraf otaknya terbentuk dari rumus semua. Aku masih butuh waktu untuk belajar lebih lama di sini, Ma." Abizar memprotes keinginan ibunya melalui panggilan telepon yang tersambung beberapa menit yang lalu. Angelina sengaja menghubungi Abizar untuk memberitahukan hal tersebut.


"Ini sudah menjadi keputusan mama dan papa. Istrimu sudah mau melahirkan, Abi. Sebagai seorang suami, kamu harus jadi suami siaga untuk dia. Mama udah nggak enak selalu minta bantuan sama Devan buat nganterin Kezia ke dokter kandungan."


Mendengar nama Devan, telinga Abizar sontak berdengung. Hatinya sedikit panas karena tahu lelaki itu ternyata tidak mendengarkan peringatannya.

__ADS_1


"Memangnya Bang Devan masih sering menemui Mbak Zee?" tanya Abizar dengan nada dingin.


"Masih. Mereka, kan, teman baik."


"Tapi kenapa harus dia juga yang selalu mengantarkan ke dokter kandungan?" protes Abizar.


"Mau siapa lagi? Kalau mama lagi sibuk sama oma dan papamu juga kerja, cuma Devan yang bisa mama andalkan."


"Kan, ada sopir. Atau suruh adiknya yang perempuan buat nemenin dia!" Abizar masih mencecar ibunya.


"Memangnya kenapa? Devan itu sahabatnya Kezia juga. Kasihan Kezia kalau diperiksa cuma ditemani oleh sopir. Mama juga nggak enak kalau harus menyuruh Aruna, dia udah punya suami sekarang."


"Tapi memangnya mama nggak risih melihat mereka terlalu dekat? Nanti disangkanya mereka pasangan selingkuh," tuding Abizar. Padahal dia sendiri yang melakukannya di belakang Kezia.


"Hush! Kalau ngomong jangan sembarangan gitu! Mama yakin Kezia adalah seorang istri yang baik. Devan juga tidak mungkin merebut istri dari saudaranya sendiri," hardik Angelina.


"Mama nggak tahu aja niat Bang Devan kayak apa," gerutu Abizar pelan.


"Kamu ngomong apa, Bi? Mama nggak dengar." Angelina tidak bisa mendengar dengan jelas gerutuan anaknya, lalu ia menjawab tidak ada apa-apa.


"Ya udah, pokoknya kamu harus pulang besok. Kalau tidak, kamu tahu resikonya apa, Bi." Angelina mengancam lagi.


Abizar mengembuskan napas kasar. Kehamilan Kezia baru menginjak usia ke delapan bulan. Masih sangat lama untuk melahirkan, pikir Abizar. Beberapa hari saja tinggal satu kamar dengan perempuan itu membuatnya selalu kesal, apalagi kalau sampai lebih dari satu bulan. Bisa-bisa tensi darahnya naik setiap jam.


Namun, apa mau dikata. Ancaman Angelina juga tidak bisa dia abaikan begitu saja. Abizar pun akhirnya hanya bisa pasrah saja.


******

__ADS_1


Di satu sisi, Kezia tengah berdiri di cermin dan menatap pantulan tubuhnya yang terlihat lebih berisi. Terutama di bagian perutnya yang sudah tidak rata lagi. Kezia menyimpan kedua tangannya di atas pinggang sambil miring ke kanan lalu ke kiri. Embusan napas pendek pun keluar dari indera penciumannya penuh arti.


"Kakak lagi ngapain, sih?" Aruna yang tengah berkunjung ke rumah Angelina pun bertanya pada sang kakak. Sedari tadi dia memperhatikan kelakuan Kezia sambil duduk di tepi tempat tidurnya.


"Lihat, deh, Run! Tubuh aku udah nggak kayak dulu lagi. Bengkak di mana-mana. Pipi chubby, perut melar, tangan dan kaki juga besar. Kalau nanti abis lahiran, tubuh aku bisa balik lagi ke semula, nggak, ya?"


Aruna tertawa mendengar perkataan kakaknya. "Namanya orang hamil pasti kayak gitu semua, lah," kekehnya.


"Haih, penampilan aku pasti nggak akan menarik lagi seperti dulu," keluh Kezia sambil duduk di samping Aruna.


Aruna duduk menyamping menghadap kakaknya. "Nggak boleh gitu! Masih banyak, kok, perempuan yang udah melahirkan, tapi masih punya body yang aduhai," seloroh Aruna membuat Kezia tercenung sejenak lalu membenarkannya.


"Iya juga, sih," ucap Kezia.


"Eh, Kak. Katanya besok Abi mau pulang ke Indonesia, ya?" celetuk Aruna.


"Kata siapa?" Kerutan di kening menyertai pertanyaan Kezia. Sebagai istrinya Abizar, perempuan itu pun tidak tahu jika suaminya akan pulang esok hari.


"Juno yang bilang. Besok Om Jiro memintanya untuk menjemput Abizar di bandara. Juga meminta Juno agar mempekerjakan Abizar di perusahaan miliknya, sebelum mengurusi perusahaan cabang papanya yang ada di Indonesia."


"Abi mau kerja di Indonesia? Bukannya dia mau meneruskan perusahaan Oma yang di Jepang?" tukas Kezia tidak percaya.


"Nggak tahu juga, tapi kata Juno memang kayak gitu adanya."


Kezia berpikir sejenak, embusan napasnya pun terdengar berat. Kedatangan Abizar akan membuat hidupnya tidak tenang seperti sebelumnya. Dia sudah membayangkan, keseharian mereka pasti akan dipenuhi oleh pertengkaran.


...****************...

__ADS_1


...To be continued...


__ADS_2