
...Happy Reading...
...****************...
Sepulang dari rumah sakit, Kezia lebih banyak melamun. Hal itu membuat Abizar bertanya-tanya. Apakah perbuatannya semalam sangatlah keterlaluan? Ataukah Kezia merasa menyesal?
"Mbak, makan dulu, ya. Abis itu minum vitaminnya!" titah Abizar membuat Kezia yang tengah melamun seketika terperanjat. "Lagi ngelamunin apa, sih?" tanya Abizar sambil membawa nampan yang berisi makanan dari luar kamarnya.
"Nggak ngelamun, kok. Aku cuma kaget kamu tiba-tiba masuk kamar tanpa ngetuk pintu dulu," kilah Kezia sambil tersenyum kikuk.
Abizar duduk di samping Kezia yang tengah duduk bersandar di kepala ranjangnya, lalu menyendokkan bubur ayam yang dia bawa dan menyodorkannya pada mulut Kezia. Abizar hendak menyuapi istrinya.
"Ayo, buka mulutnya!" pinta Abizar.
"Aku bisa sendiri, kok." Kezia menarik mundur kepalanya, lalu berusaha merebut mangkok yang dipegang oleh Abizar. Namun, dengan cepat lelaki itu menghindar. Menjauhkan mangkok tersebut dari jangkauan Kezia.
"Aku aja yang suapin. Tinggal mangap aja susah banget!" celetuk Abizar.
Kezia mendengkus. Lagi-lagi ia tidak bisa menolak perintah suaminya yang pemaksa.
"Maaf, ya, Mbak. Aku udah maksa Mbak semalam. Perut Mbak jadi keram." Dalam suapan pertama, Abizar berkata demikian.
Kezia tertegun beberapa saat sebelum dirinya mengunyah makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Kedua matanya menatap wajah tampan Abizar dengan seksama.
"Semuanya udah terjadi. Nggak perlu disesali," ucap Kezia kemudian.
"Iya." Abizar tersenyum sambil menyodorkan kembali sendok yang kedua untuk menyuapi Kezia.
Hati Kezia menghangat seketika. Terdapat gurat penyesalan yang teramat dalam sorot mata Abizar. Itu artinya, lelaki itu benar-benar mengkhawatirkan dirinya. Hati Kezia sedikit terenyuh dengan sikap suaminya.
__ADS_1
"Oh, iya. Mulai sekarang Mbak harus lebih memperhatikan kondisi Mbak dan anak yang ada dalam perut ini." Abizar memberikan usapan lembut di perut Kezia, "maafkan papa, ya. Selama ini papa nggak pernah mengikuti perkembangan kamu," ucap Abizar seolah mengajak anaknya berbicara.
Kezia hanya diam saja, merasakan debar yang berbeda dalam denyut jantungnya. Sentuhan Abizar seolah melunakkan gumpalan daging yang sempat membeku di dalam dadanya. Membuka pintu hati Kezia yang terkunci akan cinta. Apakah Kezia telah menerima Abizar untuk mengisi tahtanya? Pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiran Kezia.
"Mulai sekarang aku akan menjaga Mbak dan anak kita. Aku janji," ucap Abizar terlihat tulus.
"Jangan asal mengucap janji, kalau sekiranya kamu nggak bisa menepati."
"Kapan aku nggak menepati janji? Sebagai lelaki sejati, aku nggak pernah mengingkari janji," timpal Abizar menyombongkan diri.
"Tapi setelah aku melahirkan, kita akan bercerai. Anak ini akan ikut denganku."
Mendengar itu Abizar terdiam. Dia lupa dengan perjanjiannya dengan Kezia. "Ya ... setidaknya sampai kita bercerai. Aku akan berusaha menjaga kalian," ucap Abizar sedikit terpaksa. Entah kenapa hatinya begitu sakit saat mengucapkannya. Seolah tidak rela jika Kezia akan pergi dalam kehidupannya.
...****...
Langit berwarna jingga terlukis di ufuk barat. Senja terlihat cantik dengan sisa pendar cahaya mentari yang perlahan bersembunyi. Kezia tengah menikmati pemandangan itu di atas balkon kamarnya yang menghadap ke arah barat. Kedua matanya terpejam sesaat, merasai sepoi angin yang menyapu wajahnya dengan lembut. Sampai seseorang melemparkan sebuah kerikil kecil kepadanya, membuat kedua mata Kezia terbuka seketika. Pandangan Kezia langsung tertuju ke arah bawah. Di sana berada seorang Devan sebagai pelakunya.
"Hai, Van. Aku lagi menikmati angin sore, nih. Adem banget," jawab Kezia. Kedua matanya berbinar saat bertemu lagi dengan Devan. Sudah beberapa hari dia tidak bertemu dengan lelaki itu. Keberadaan Abizar di sisinya, membuat Kezia kesulitan menemui sahabatnya tersebut.
"Jalan-jalan sore, yuk! Bagus, tuh, buat ibu hamil," ajak Devan.
"Ayo! Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu." Tanpa pikir panjang, Kezia langsung menerima ajakan Devan. Dengan semangat ia berbalik badan. Namun, tubuhnya sontak membatu kala melihat sosok Abizar sudah berdiri sambil bersandar di pintu balkon. Kedua tangannya dilipat di depan dada, dengan tatapan penuh intimidasi, seolah ingin menghakimi sang istri.
"Mau ke mana, Mbak?" tanya Abizar.
"Abi ... sejak kapan kamu di situ?" Kezia malah balik bertanya.
"Jawab dulu pertanyaan aku, Mbak! Mbak mau ke mana sama Bang Devan?" cecar Abizar.
__ADS_1
Kezia menelan ludahnya susah payah. Ternyata sang suami mendengar semuanya.
"Ehm ... itu. Devan ngajakin aku jalan-jalan sore. Udah lama kami nggak melakukan itu. Biasanya dia selalu nemenin aku," terang Kezia sedikit ragu. Tatapan suaminya benar-benar membuat lidahnya kaku.
"Mulai sekarang jalan-jalannya sama aku aja. Aku akan menemani Mbak ke mana pun Mbak mau. Termasuk olahraga jalan kaki pagi dan sore, juga senam kehamilan yang sering Mbak ikuti. Aku juga akan mengantarkan Mbak belanja keperluan anak kita. Asal Mbak tahu, aku udah searching banyak hal tentang kehamilan dan proses lahiran seperti apa. Jadi, mulai sekarang aku yang akan menjadi suami siaga buat Mbak, bukan Bang Devan," tutur Abizar panjang lebar. Nada bicaranya tersirat sebuah kecemburuan besar.
Kezia pun melongo takjub mendengarnya. Suaminya itu kesambet setan apa?
Abizar benar-benar mendengarkan penuturan dokter tentang kehamilan. Ia tiba-tiba menjadi suami siaga yang begitu peduli dengan kesehatan Kezia dan anaknya.
"Tapi Devan udah nungguin aku di bawah," lirih Kezia.
"Bilang aja nggak jadi!"
Kezia menghela napas kasar. Ia pun terpaksa menuruti perkataan Abizar. Ia berbalik ke balkon hendak berbicara pada Devan, tetapi lelaki itu sudah pergi dari sana. Sepertinya Devan sudah menunggu Kezia di depan rumahnya. Kezia pun berinisiatif untuk meneleponnya saja.
"Maaf, ya, Van. Lain kali, deh, kita jalan bareng lagi," ucap Kezia setelah mendengar tanggapan Devan tentang penolakannya lewat sambungan telepon. Walaupun sedikit kecewa, Devan tidak bisa memaksa Kezia. Ia sadar dengan posisinya. Kezia pun mengakhiri obrolan tersebut dengan raut menyesal. Ia merasa tidak enak hati dengan Devan.
"Udah?" Abizar bertanya setelah Kezia selesai menelpon Devan. Perempuan itu menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan, "kalau gitu kita pergi sekarang!" ajak Abizar dengan senyum yang mengembang. Tangannya pun memeluk bahu Kezia dari samping, lalu menggiring tubuh perempuan tersebut untuk keluar kamar.
Namun, baru beberapa langkah kaki mereka berjalan. Suara dering ponsel milik Abizar terdengar berisik di saku celana Abizar.
"Sebentar!" Abizar langsung melepaskan dekapannya di bahu Kezia, lalu merogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih di sana. Setelah Abizar melihat layar ponselnya, ternyata itu adalah panggilan video dari Selena, membuat kedua mata Abizar terbelalak seketika.
Kezia merasa penasaran siapa yang menelepon Abizar. Ia pun mengintip ke layar telepon yang masih terpampang di hadapan Abizar. Keningnya berkerut saat melihat si penelepon dengan nama 'My Lovely' di layar tersebut. Gurat kekecewaan langsung tercetak di wajah Kezia. Dia yakin jika yang menghubungi suaminya tersebut adalah kekasih Abizar yang pernah diceritakan sebelumnya oleh lelaki tersebut.
Kezia merasa sakit hati. Perasaannya seperti dilambungkan tinggi-tinggi, lalu dihempaskan lagi.
...To be continued...
__ADS_1
...****************...