Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
Bab 49. Merelakan


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


"Sialan, tuh, si Abi. Main perintah seenaknya aja. Nggak tahu gue lagi banyak kerjaan, apa? Kalau aja dia bukan sepupunya si bos, ogah banget gue disuruh jemput bininya dia. Terus sama perjanjian terkutuk itu ... ah, bikin jantung gue lupa berdetak kalau ingat itu." Di dalam lift seorang lelaki tengah menggerutu sendirian. Dia adalah Agung yang disuruh Abizar untuk menjemput Kezia di lobby kantor mereka. Kalau bukan karena perjanjian mereka waktu itu, Agung tidak akan mau menjalankan tugas yang diberikan oleh sahabatnya tersebut.


Beberapa detik kemudian pintu lift pun terbuka, membawa lelaki itu ke lantai dasar tempat lobby berada. Namun, saat ia baru saja melangkahkan kakinya keluar lift, tiba-tiba saja perutnya melilit. Panggilan alam itu membuatnya harus segera ke toilet.


"Aduh, ini kenapa tiba-tiba sakit perut. Bininya si Abi masih lama nggak, ya?" cetusnya sambil melongok ke arah pintu kantor yang terbuat dari kaca. "Belum ada kayaknya. Gue ke toilet dulu, deh," ujarnya lagi.


Agung bergegas menuju toilet kantor yang berada di lantai dasar tersebut. Berbarengan dengan turunnya Kezia dari mobil mertuanya.


"Zee pulang bareng Abi aja, Ma. Mama nggak usah jemput Zee dulu. Oma butuh istirahat, kasihan kalau harus bolak-balik ke sini." Kezia berkata sembari sedikit membungkukkan punggungnya.


Di balik pintu mobil yang jendelanya terbuka, Angelina pun menanggapinya, "Beneran, nih. Nanti kamu bosan, loh, nungguin Abi kerja."


"Nggak apa-apa. Zee pengen lihat Abi kerjanya kayak gimana. Lagipula Zee udah lama nggak ke kantornya Juno. Jadi sekalian ketemu sama temen-temen lama," ujar Kezia. Salah satu alasan Kezia ingin pergi ke kantornya Abizar adalah bertemu dengan teman-teman lamanya. Waktu itu Kezia resmi melepaskan jabatannya sebagai sekretaris Juno semenjak menikah dengan Abizar. Hari ini dia rindu dengan suasana kerja, juga dengan teman-temannya.


"Ya udah, kalau gitu. Mama pergi dulu, ya. Selamat bersenang-senang, Sayang," ucap Angelina sambil melambaikan tangan.


Senyuman Kezia mengiringi lambaian tangannya atas kepergian Angelina. Setelah mobil Angelina hilang dari pandangannya, ia pun bergegas menuju meja resepsionis untuk melakukan registrasi kunjungan. Sekarang perempuan itu bukan lagi karyawan di sana, sehingga harus ada izin masuk sebagai tamu, jika mau masuk ke kantor tersebut.


"Eh, Mbak Kezia apa kabar?" Resepsionis itu masih mengenal Kezia. Ekor matanya melirik ke arah perut Kezia yang sudah besar. Senyuman kikuk terbesit di bibirnya. Seliweran gosip tentang pernikahan Kezia yang hamil di luar nikah, memang sempat jadi perbincangan hangat dan bahan ghibah semua karyawan di sana. Namun, sampai saat ini hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui, jika sepupu dari pemilik perusahaan tersebut yang Kezia nikahi.

__ADS_1


"Alhamdulilah, kabar baik, Ran." Melihat tatapan remeh dari resepsionis yang bername tag 'Rani' itu, hati Kezia mencelos sakit. Ia merasa seperti dicap sebagai perempuan nakal yang terjerumus dalam pergaulan bebas. Tatapan nyalang itu seolah menghakiminya, walaupun si empunya mata tidak mengatakan apa-apa.


Namun, Kezia sadar semua itu sudah berlalu. Ia tidak mau menambah timbangan dosanya dengan tidak mensyukuri takdir dari Allah, Yang Maha Tahu. Kezia sudah menyadari, sesuatu yang diinginkan belum tentu baik jika tidak kesampaian. Sejatinya, akan ada hikmah tersembunyi di balik takdir buruk yang dihadapi.


"Mau ketemu pak Juno, ya?"


Kezia sempat ragu untuk menjawab pertanyaan Rani. Ia yakin jika Rani belum mengetahui hubungan pernikahannya dengan Abizar. Jika begitu, lebih Kezia mengiyakan saja pertanyaan resepsionis tersebut.


"Pak Junonya lagi sama tamu penting, Mbak," terang Rani memberitahu.


"Aku tahu, tapi—"


"Zee, lo ngapain di sini?" Suara bariton seorang laki-laki memotong ucapan Kezia. Perempuan itu pun berbalik ke arah sumber suara.


"Devan," lirih Kezia.


"Buat suami lo, ya?" tanyanya dengan senyuman pahit. Sorot matanya seolah menunjuk rantang tersebut.


Kezia yang tahu arah pandangan Devan pun mengangguk ragu. Setelah ia mengatakan akan meneruskan hubungannya dengan Abizar, sikap mereka jadi saling sungkan. Devan dengan terpaksa merelakan perasaannya hancur berantakan, karena ia sadar jika cinta tidak bisa dipaksakan.


"Gue anter ke ruangan dia." Devan pun menawarkan bantuan.


Selain menerima, Kezia tidak punya pilihan. Dia pun memilih untuk mengikuti Devan.

__ADS_1


****


"Selena? Kamu ...."


"Kak Abi, aku kangen banget sama kamu." Kalimat terkejut Abizar terpotong oleh ulah Selena yang langsung menghambur memeluk tubuhnya. Abizar mendadak tidak bisa bergerak. Pikirannya kosong tanpa ada jejak. Napasnya pun kian sesak, lantaran Selena memeluknya begitu erat.


"Uhuk! Uhuk!"


"Ah, maaf, maafkan aku, Kak. Aku terlalu semangat meluk kamu. Sesak, ya?" kekeh Selena sembari mengurai pelukannya, lalu mengusap lembut dadanya Abizar.


Hal itu membuat otak Abizar kembali berpikir jernih. Dia ingat jika Kezia akan ke datang ke kantornya hari ini.


"Kenapa ... kamu bisa ke sini?" tanya Abizar gugup.


"Surprise ...." Selena menjawab dengan gaya cheerleader. Bukannya terkejut, Abizar malah melongo takjub. Tentu saja membuka pandangan Selena sontak meredup.


"Kak Abi nggak seneng lihat aku di sini? Padahal aku udah susah payah bohongin mami papi biar bisa terbang ke Indonesia nemuin kamu. Tapi reaksi kamu malah kayak gini," cicit Selena dengan raut kecewa. Butiran-butiran air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


Abizar tersadar jika reaksinya memang berlebihan menurut versi perempuan itu. Jika saja Selena tahu kemelut yang berputar di otak kekasihnya sekarang, mungkin perempuan itu tidak akan sanggup untuk mendengarkan.


...****************...


...To be continued...

__ADS_1


Sambil nunggu up, mampir di novel othor hebat ini, yuk



__ADS_2