
...Happy Reading...
...****************...
Esok paginya, Kezia kembali merasakan hal yang aneh pada bagian perutnya. Namun, kali ini ia tidak mau memberitahu suaminya, karena ia pikir itu adalah hal yang biasa. Seperti kejadian sebelumnya, rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Sehingga saat suaminya itu bangun tidur, Kezia pura-pura masih mendengkur.
"Tumben belum bangun."
Abizar tersenyum menatap wajah istrinya yang terlihat manis saat memejamkan mata. Satu kecupan pun mendarat di kening perempuan itu. Setelah itu, kepala Abizar beralih pada bagian perut Kezia kemudian berbisik di sana. "Selamat pagi, Jagoan papa. Kamu baik-baik aja, kan, di dalam sana?" tanyanya pada jabang bayi di dalam kandungan Kezia. Ia takut terjadi sesuatu seperti saat dia menengok anaknya untuk kali pertama.
Namun, melihat sang istri yang terlihat baik-baik saja, Abizar pun merasa lega. Mungkin rasa sakit yang dirasakan oleh istrinya waktu itu, karena si jabang bayi merasa kaget saat ditengok bapaknya, karena itu adalah pertemuan pertama mereka.
Kezia yang sebenarnya sudah bangun ingin sekali tertawa melihat tingkah Abizar. Benar-benar menggemaskan di mata Kezia. Sungguh manis dan romantis. Namun, hal itu tidak bisa menghilangkan rasa sakit yang menyerang perutnya, tetapi Kezia tetap diam dan menahannya.
Abizar beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri. Beberapa menit melakukan ritual di kamar mandi, lelaki itu pun keluar dengan wajah yang berseri.
"Kirain masih tidur. Tidur lagi aja kalau masih ngantuk, Mbak. Biar aku yang siapin pakaian kerjaku sendiri."
Abizar tersenyum pada istrinya yang tengah berdiri di depan lemari. Perempuan itu sedang menyiapkan baju kerja milik sang suami.
"Nggak apa-apa. Tadi pas bangun, aku denger kamu lagi mandi," ujar Kezia. Lantas menutup pintu lemari setelah mendapatkan sepasang pakaian kantor yang akan dikenakan suaminya hari ini. Semenjak mereka sepakat untuk menjadi melanjutkan pernikahan mereka, Kezia memang bersikap seperti istri soleha.
"Makasih, ya," ucap Abizar sambil menerima bajunya.
Kezia mengangguk tersenyum, lalu mendaratkan bokongnya di tepi tempat tidur. Ia memperhatikan gaya Abizar yang memakai lotion bayi pada tangannya sendiri.
__ADS_1
"Kok, pake itu? Itu, kan, lotion bayi yang kita beli kemarin?" tanya Kezia dengan kening mengernyit bingung.
"Iya, nggak tahu kenapa aku suka aja sama wanginya."
Kezia tersenyum lalu berdiri, lalu melangkahkan kaki menghampiri sang suami. Ia hendak memasangkan dasi.
"Mungkin kamu lagi ngidam," kekeh Kezia di sela kegiatannya memasang dasi. "Ehm ... kamu pulang jam berapa hari ini?" lanjut Kezia lagi.
"Seperti biasa, jam lima. Kenapa? Kamu kangen sama aku, ya? Ketampanan aku ini memang ngangenin," seloroh Abizar dengan bangga.
"Mati, aku!" Abizar memekik saat Kezia menarik dasinya begitu kencang. Kezia pun tertawa pelan.
"Makanya jangan narsis!" cibir perempuan hamil itu.
"Tadinya mau ngajak makan siang bareng," cicit Kezia. "Kamu bisa pulang dulu buat makan siang, nggak?" lanjutnya dengan tatapan penuh harap.
Namun, tatapan itu sontak redup karena Abizar menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku nggak bisa pulang dulu karena nanti siang ada rapat sama klien penting, sama bang Juno juga. Kalaupun kepotong istirahat, paling cuma bentaran doang," sesal Abizar.
"Yaaah, padahal anak kamu mau makan siang sama ayahnya," cicit Kezia dengan wajah memberenggut.
"Jangan marah, dong. Besok aja, ya. Ini klien penting soalnya. Bang Juno bisa ngamuk kalau aku gagal mendapatkan projek mereka." Abizar mencoba merayu dengan mengusap kedua pipi Kezia dengan lembut.
Kezia bergeming sejenak. Otaknya berpikir sesuatu. "Hmm ... kalau gitu gimana kalau aku aja yang ke kantor kamu. Gimana?" usul Kezia.
__ADS_1
"Nanti kamu capek?"
"Kalau perginya jalan kaki pasti capek. Aku, kan, naik mobil," cetus Kezia.
Abizar menghela napasnya. "Ya udah, kalau memang itu yang kamu mau, tapi minta izin dulu sama mama. Takutnya mama nggak ngasih izin, nanti aku yang diomelin."
Kezia tersenyum. "Siap," serunya dengan semangat.
*****
Kala sang mentari merangkak naik ke atas kepala, Kezia sudah selesai memasak makanan kesukaan Abizar. Ia pun bersiap untuk menemui suaminya. Saat perempuan itu meminta izin kepada mertuanya untuk pergi, ternyata Angelina juga hendak pergi membawa oma Yura untuk terapi. Sehingga Angelina mengusulkan untuk mengantarkan menantunya tersebut lebih dulu, kemudian lanjut ke tempat terapi ibunya.
"Kezia naik taxi aja, Ma. Nanti Mama repot mesti anterin Kezia dulu ke kantornya Abi," tolak Kezia saat hendak naik mobil bersama mama mertuanya. Ia merasa tidak enak lantaran harus diantar oleh sang mertua, padahal tujuan mereka tidak searah.
"Nggak apa-apa, Zee. Biar sekalian jalan. Mama khawatir sama kamu dan cucu mama kalau naik taxi. Nanti pulangnya mama jemput lagi. Ayo, naik!"
Kezia tidak bisa menolak dengan perintah Angelina yang tidak ingin dibantah. Ia pun terpaksa mengikuti keinginan mama mertuanya tersebut.
...*****...
...To be continued...
Sekalian nunggu up, mampir di novel temenku, yuk!
__ADS_1