Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
35. Membeku


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


Hawa panas menyelimuti kamar yang memiliki pendingin ruangan yang cukup nyaman. Hal itulah yang dirasakan oleh Abizar. Dadanya terasa sesak ketika berdua dengan Kezia di dalam kamarnya. Semenjak Abizar sampai di rumahnya, pasangan suami istri itu bersikap layaknya musuh saja.


"Pasti Mbak, kan, yang minta mama buat nyuruh aku pulang ke Indonesia?" tuding Abizar meminta penjelasan kepada Kezia.


"Enak aja. Aku aja baru tahu kemarin dari Aruna, kalau kamu mau pulang ke Indonesia," sanggah Kezia.


"Bohong!" Abizar mencebikkan bibirnya tidak percaya.


"Ya udah, kalau nggak percaya." Kezia mengedikkan bahunya, lalu melengos hendak pergi.


Abizar yang tengah duduk di tepi ranjang pun sontak bangkit, menahan tangan istrinya yang hendak pergi ke luar kamar mereka.


"Mbak mau ke mana? Jangan bilang mau kabur lagi ke rumah Mbak, ya!" sergah Abizar dengan cepat.


"Nggak, orang aku mau ke dapur, ambil minum."


Abizar mendengkus, lalu melepaskan tangan Kezia sedikit kasar. "Ya udah, sana! Sekalian ambilin aku juga, ya. Haus, nih. Baru sampe rumah langsung dijejali nasihat panjang sama mama, terus berdebat sama Mbak bikin tenggorokan aku semakin kering aja."


Kezia mengernyitkan kening mendengar perintah yang terlontar dari suaminya tersebut. Terkesan tidak sopan dan seenak jidatnya.


"Ambil sendiri! Kamu, kan, punya kaki," tolak Kezia sambil menyimpan kedua tangannya di atas pinggang.


"Eh, jadi istri itu harus—"


"Apa? Berbakti? Sama suami macam kamu itu nggak perlu berbakti. Rugi, tahu nggak!" tukas Kezia dengan gaya menantang.


Hal itu membuat Abizar sedikit geram. Kedua matanya memicing tajam. Keduanya pun terlibat adu pandangan. Sama-sama mengusung tatapan kebencian.


Namun, mereka tidak sadar jika jarak mereka terlalu dekat. Beberapa detik tatapan mereka pun terkunci. Melihat pipi Kezia yang terlihat lebih chubby, entah kenapa membuat Abizar merasa gemas sendiri. Lelaki itu dengan lancang malah mendaratkan sebuah kecupan di pipi sang istri.


Tentu saja Kezia begitu terkesiap mendapatkan serangan seperti itu. Tangannya sontak mendorong tubuh Abizar, lalu mengusap pipinya yang sedikit basah bekas kecupan suaminya tersebut.

__ADS_1


"Dasar messum! Sempat-sempatnya cari kesempatan," geram Kezia.


Abizar bergeming. Dia pun tidak tahu kenapa dirinya tiba-tiba bersikap seperti itu.


Melihat suaminya diam saja seperti orang linglung, Kezia pun pergi meninggalkan Abizar begitu saja. Hingga terdengar suara dentuman dari pintu yang ditutup dengan kasar, Abizar baru tersadar.


"Kenapa gue malah nyium Mbak Zee?" gumam Abizar tidak mengerti. Ia pun menggaruk kepalanya bingung sendiri.


...****************...


Seperti yang sudah direncanakan. Abizar kembali ke Indonesia untuk bekerja di kantornya Juno. Lelaki itu menjabat sebagai staff finance sesuai job desc dari perusahaan sang papa yang bergerak di bidang pengadaan financial nanti. Abizar harus belajar dari awal lagi.


"Pak Sandi akan memberikan semua data yang lo perlukan untuk dipelajari, Bi. Untuk sementara dia yang akan membantu lo mengatur manajemen keuangan di perusahaan ini. Beliau adalah manajer finance di perusahaan cabang. Gue sengaja minta dia untuk sementara bekerja di sini. Pak Sandi adalah orang yang berkompeten di bidangnya. Lo bisa banyak belajar dari dia."


Juno mengenalkan Abizar pada salah seorang pegawainya yang cukup profesional yang bernama Sandi. Abizar dan laki-laki berusia 40 tahun itu pun bersalaman dan saling melemparkan senyuman.


"Senang bertemu dengan Anda. Saya mohon bimbingannya," ucap Abizar sopan.


"Dengan senang hati Pak Abi," balas Pak Sandi.


Setelah berkenalan, Pak Sandi pamit ke ruangannya kembali, sedangkan Abizar masih tinggal di ruangan kerja Juno. Ia ingin membujuk Juno lagi. Pasalnya, permohonannya kemarin sudah ditolak mentah-mentah oleh sepupunya tersebut. Juno bilang saat di bandara, "Gue nggak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga lo. Terlebih, sekarang Kezia bukan hanya sahabat gue, tapi dia juga kakak ipar gue. Jadi, sebaiknya lo harus belajar jadi suami yang baik buat dia, bukannya selingkuh dengan perempuan lain di luar negeri sana."


"Lo beneran nggak mau bantuin gue, Bang?" tanya Abizar sekali lagi.


Juno hanya mendongak sebentar dari berkas yang dia baca di atas mejanya, menatap wajah Abizar tengah duduk di kursi yang berhadapan dengannya, yang hanya terhalang meja saja.


"Kita lagi kerja, jangan bahas itu!" cetus Juno tidak peduli.


"Tega lo, Bang." Abizar mengerucutkan bibirnya kesal.


"Bodo! Kalau nggak ada pertanyaan mengenai pekerjaan lagi, keluar sana!" usir Juno.


"Tapi, Bang—"


Juno mendongakkan pandangan. Kali ini tatapannya menghunus tajam. Sebagai atasan, lelaki itu tidak mau dibantah, walaupun oleh sepupunya.

__ADS_1


Nyali Abizar menciut melihat tatapan Juno. Selama ini lelaki itu memang terkenal tegas jika sedang bekerja. Abizar pun bangkit dari duduknya, hendak pergi meninggalkan ruangan Juno.


Namun, saat tubuhnya baru berbalik, pintu ruangan Juno terbuka karena kedatangan seseorang yang membuat mood Abizar semakin berantakan. Dialah Devan.


"Apa gue ganggu?" tanya Devan saat tubuhnya sudah melewati pintu.


"Nggak, kok. Masuk, Van!" jawab Juno setelah mengalihkan pandangannya pada lelaki itu.


Abizar yang hendak pergi pun urung melakukannya. Tubuhnya kembali duduk di kursinya tadi.


"Kenapa lo duduk lagi? Bukannya tadi mau pergi?" tanya Juno pada Abizar.


"Nggak jadi. Gue masih ada perlu sama Bang Juno," ketus Abizar. Tatapannya tertuju pada Devan yang duduk di kursi kosong di sampingnya.


"Kenapa lo lihatin gue kayak gitu?" Dilihat sedemikian sinisnya, Devan pun bertanya.


"Nggak pa-pa. Terserah mata gue mau lihat siapa."


"Dih, dasar aneh!" celetuk Devan, lalu beralih pada Juno dan mengabaikan Abizar.


Abizar mendengus. Menatap rivalnya itu dengan tatapan mengunus. Entah kenapa hatinya selalu panas jika bertemu dengan Devan. Padahal, sebenarnya lelaki itu bisa lebih mudah jika meminta bantuan Devan untuk berpisah dengan Kezia. Namun, Abizar tidak ingin perpisahan mereka menyisakan sebuah skandal yang akan membuat keluarganya malu.


Devan akan dengan senang hati membawa Kezia pergi dari kehidupan Abizar, jika saja suami dari perempuan yang dia cintai itu memberikan jalan. Karena selama ini itulah yang Devan inginkan.


...******...


Sore itu, Abizar pulang ke rumahnya dengan raut malas. Hari pertamanya bekerja di perusahaan Juno membuat otaknya sedikit terkuras. Banyak sekali materi yang harus dia pelajari dan pahami dengan lekas.


Dengan langkah terseok-seok, Abizar menuju kamar. Sesampainya di depan pintu, ia langsung mendorong pintu kamarnya tanpa permisi, seolah lupa jika dirinya sudah punya istri.


Pintu itu pun terbuka mengajak masuk tubuhnya. Namun, kakinya tidak bisa melangkah saat pandangannya tertuju pada sesuatu yang menarik di indera penglihatannya.


Terlihat sosok Kezia yang sedang berdirinya di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya selepas mandi menggunakan handuk kecil. Tubuh perempuan itu hanya berbalut handuk yang menutupi sebagian tubuhnya saja. Membuat Abizar tiba-tiba lupa cara mengedipkan mata.


Saking asyiknya mengeringkan rambut sambil mendengarkan musik kesukaannya, Kezia tidak sadar dengan kedatangan suaminya. Perempuan itu malah dengan sengaja mengikuti bait lagu dengan suaranya yang merdu. Tubuhnya pun bergerak dengan gemulai mengikuti alunan musik yang mendayu-dayu. Hingga tubuhnya berbalik saat berputar, tubuh Kezia sontak membeku. Tatapannya pun bertemu dengan netra pekat suaminya itu.

__ADS_1


...****************...


...To be continued...


__ADS_2