
...Happy Reading...
...****************...
Pulang dari mengantarkan Selena, Abizar langsung menemui Angelina di kamarnya. Sebelum ia mencapai ke sana, tiba-tiba bayangan Kezia melintas di pikirannya. Perempuan itu tadi pagi datang ke rumah itu untuk menjenguk sang mama, tetapi dirinya malah pergi seolah tidak mau bertemu Kezia.
Menyesal? Tentu saja.
Sebenarnya Abizar ingin sekali memeluk tubuh perempuan yang sangat dia rindukan itu. Jika ia tidak takut akan ada masalah lagi ke depannya, mungkin Abizar akan mengurung Kezia, dan tidak mengizinkan perempuan yang masih menjadi istrinya itu pergi lagi.
"Ma?" Setelah membuka pintu kamar, Abizar memanggil mamanya yang hanya bisa berbaring lemah di atas ranjang. Sang mama pun menolehkan kepalanya. Ternyata dia masih terjaga.
"Kamu baru pulang, Nak?" tanya Angelina sambil mengulas senyuman. Stroke itu hanya menyerang kaki dan tangan Angelina. Alhasil perempuan itu tidak bisa melakukan apa-apa, selain menggerakkan kepalanya. Awalnya cara bicaranya juga masih terbata-bata, tetapi setelah melakukan operasi dan beberapa kali terapi, kondisinya pun mulai membaik. Kini, Angelina sudah lancar berbicara lagi.
"Iya, Ma. Aku tadi ke rumahnya tante Ara dulu sekalian jenguk oma," jawab Abizar.
Semenjak Angelina sakit, oma Yura yang masih butuh perawatan pun harus dititipkan pada Ara—mamanya Juno. Bukan berarti Angelina tidak sanggup untuk membayar perawat, melainkan perempuan itu lebih percaya jika mamanya dirawat oleh pihak keluarga saja. Ara adalah kakak iparnya, tentu saja dengan senang hati perempuan itu merawat mertuanya.
"Bagaimana keadaan oma?" tanya Angelina.
"Ya, begitulah. Masih sama seperti terakhir kali dititipkan di rumah tante Ara." Karena faktor usia, kondisi oma Yura tidak mengalami perubahan yang signifikan walaupun sering kali melakukan terapi dan berobat jalan.
__ADS_1
Abizar memang sengaja pulang terlambat. Ia sampai harus menelepon asisten rumah tangganya untuk memastikan jika Kezia sudah pulang dari rumahnya.
Angelina menatap langit-langit kamar sambil menghela napas kasar. Ia merasa bersalah karena tidak bisa lagi merawat mamanya di usianya yang sudah semakin renta. Sebagai seorang anak, Angelina ingin berbakti kepada sang mama.
"Maafkan mama, Bi! Mama jadi ngrepotin kamu dan nggak bisa jagain oma. Andai saja waktu itu mama bisa mengontrol emosi mama, mungkin nggak akan kayak gini kejadiannya," sesal Angelina sambil menitikkan air mata.
Abizar mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang di samping Angelina. "Mama ini ngomong apa? Ini bukan salah mama, tapi salah Abi," sergah Abizar sambil mengusap cairan bening yang mengalir di pipi Angelina. "Abi terlalu keras kepala," lanjutnya dengan menyesal.
"Mama juga salah, Nak. Mama udah ngelarang kamu untuk mengejar cinta Kezia. Tadi pagi kamu ketemu saja Kezia, kan?" tanya Angelina. Abizar hanya menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan sang mama.
"Apa kalian sempat berbincang?" tanya Angelina lagi. Sorot matanya terlihat penasaran.
"Kami nggak sempat bicara apa-apa, Ma. Abi langsung pergi nganterin Selena pulang."
"Mama kenapa minta maaf terus? Abi nggak apa-apa, kok. Memang nggak ada yang perlu kami bicarakan lagi, karena besok adalah hari persidangan kami."
Sekuat tenaga Abizar menahan gumpalan kesedihan yang mendesak ingin keluar dari sudut matanya. Ia tidak ingin mamanya menjadi lebih merasa bersalah.
"Apa tadi mbak Zee mengatakan sesuatu?" Pada akhirnya Abizar penasaran juga. Perubahan sikap sang mama pasti ada hubungannya dengan kedatangan Kezia.
Angelina menganggukkan kepalanya lemah, membiarkan Abizar menghapus air matanya yang mengalir deras di pipi.
__ADS_1
"Dia bilang apa?" tanya Abizar antusias.
"Dia minta maaf sama mama atas nama papanya. Katanya dia nggak tahu kalau papanya sudah menyewa pengawal untuk menjaga dia."
"Hanya itu?" Abizar mengira Kezia mengatakan hal lain yang bisa menyelamatkan pernikahan mereka. Namun, gelengan kepala dari sang mama membuat Abizar harus menelan kecewa.
Lain di hati lain di bibir, Abizar masih menerbitkan senyuman manis di depan sang mama. Memberikan kesaksiannya baik-baik saja. "Lalu apa mama memaafkan papanya mbak Zee?" tanyanya.
"Bagaimana dengan kamu? Apa kamu memaafkannya juga?" Angelina balik bertanya.
"Abi nggak pernah marah sama papanya mbak Zee, karena memang Abi yang salah sama papa Surya, terutama pada anaknya. Wajarlah jika papa menjaga mbak Zee dengan begitu ketat," tutur Abizar sambil menggenggam tangan mamanya.
"Apa kamu masih mencintai Kezia?"
Abizar terdiam beberapa detik, sekadar untuk menyiapkan kata-kata terbaik sebelum menjawabnya. Ia ingin berkata 'iya', tetapi hal itu hanya akan membuat mamanya merasa resah.
"Itu udah nggak penting lagi, Ma. Yang penting sekarang mama sembuh dulu, ya," ucap Abizar dengan bibir sedikit bergetar menahan kepedihan yang mencokol di hatinya.
...****************...
...To be continued...
__ADS_1