Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
16. Mulai Terbiasa


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


"Selamat pagi," sapa Devan menampilkan senyuman termanis yang dia punya.


"Pagi juga."


Kezia dan Angelina yang mengiringi kepergian suami-suami mereka pun membalas sapaan Devan. Kedua perempuan itu memang tidak ikut ke Jepang. Alasannya karena Kezia tengah hamil, juga kondisi neneknya Abizar yang tidak bisa naik pesawat lagi, membuat Angelina tidak bisa ikut pergi. Anggelina berencana untuk melanjutkan pengobatan sang mama di Indonesia saja. Jadi, cuma kaum pria saja yang kembali ke Jepang untuk bekerja. Yakni, Jiro, Abizar, dan Aludra.


Abizar masih bergeming di tempatnya. Lelaki itu menatap Devan dengan tatapan tidak bisa diartikan.


"Hai, Van. Baru keliatan kamu. Ke mana saja?" Jiro yang sudah duduk di samping kemudi mobil menyapa Devan. Rumah Devan dan Abizar bertetangga. Jika keluarga Jiro sedang berada di Indonesia, seringkali pemuda itu berkunjung ke rumah Abizar untuk sekadar bersilaturahmi saja. Namun, semenjak Abizar menikah, Devan tidak terlihat walaupun sekadar menyapa. Bahkan lelaki itu tidak pulang ke rumahnya.


"Aku lagi ada kerjaan sampingan, Om. Jadi agak sibuk di luar," jawab Devan. Jiro menanggapi dengan anggukan paham. Pandangan Devan pun beralih pada Abizar yang berada di dekat pintu mobil bagian belakang.


"Lo mau berangkat ke Jepang sekarang, Bi?" tanya Devan.


"Iya, Abang mau nganterin ke bandara?"


"Nggak, gue mau jagain Kezia aja ..., eh, maksud gue masih ada kerjaan penting yang mesti gue lakuin. Gue ke sini cuma mau bilang hati-hati!" ucap Devan, meralat kalimatnya yang tidak sengaja keceplosan.


Kening Abizar berkerut mendengar hal tersebut. Ia sudah tahu jika Devan pasti senang dirinya pergi. Abizar jadi ingat niat Devan untuk mendekati sang istri. Namun, untuk saat ini Abizar tidak peduli. Jika memang Devan berhasil mendapatkan hati Kezia, itu malah lebih bagus baginya. Dengan begitu, ada alasan bagi Abizar untuk menceraikan perempuan itu.


"Ayo, Bi. Nanti kita ketinggalan pesawat!" seru Jiro sambil melongokkan kepalanya ke luar jendela mobil.


"Iya, Pa." Abizar membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya. Mobil pun melaju beberapa saat setelahnya. Lambaian tangan Angelina dan Kezia mengiringi kepergian mereka.

__ADS_1


Seulas senyuman tebersit di bibir Devan. Seolah peluang bagi Devan untuk mendekati Kezia kembali, lelaki itu berusaha untuk bisa lebih dekat dengan perempuan pujaan hatinya tersebut. Ia akan berusaha menjadi lelaki siaga bak seorang suami yang menggantikan posisi Abizar. Dengan jarak rumah yang berdekatan, dan masih adanya hubungan kekerabatan antara keluarga mereka, Devan bisa bebas melenggang ke rumah tersebut tanpa ada kecurigaan.


"Masuk, Van!" ajak Angelina setelah mobil yang dikendarai oleh suaminya menghilang dari pandangan.


Devan hanya mengangguk setuju. Ia pun melangkahkan kakinya mengikuti Angelina dan Kezia.


"Eh, kalian ini tadinya sahabat baik, ya?" tanya Angelina di sela langkahnya.


"Iya, Tante. Kami sudah saling mengenal semenjak SMA. Aku, Juno, dan Kezia sempat satu sekolah yang sama, dan kami pernah satu kantor juga. Sebelumnya Kezia pernah bekerja sebagai sekretarisnya Juno," jawab Devan menjelaskan.


"Ooh, bagus kalau begitu. Kamu bisa sering main ke sini buat menemani Kezia. Ajak Kezia jalan-jalan kalau dia bosan di rumah. Tante takut nggak bisa sering nemenin Kezia, soalnya harus ngurusin oma juga."


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Itulah diharapkan oleh Devan. Hatinya sangat senang, karena seolah mendapatkan jalan untuk mendapatkan Kezia tanpa hambatan.


"Tante tenang aja. Pokoknya selama Abizar pergi, Devan akan menggantikan dia menjaga Kezia. Termasuk untuk menemani Kezia untuk periksa kandungan, Devan bersedia mengantarkan".


Devan mengulas senyuman samar, dalam hatinya dia berkata, "tapi sebelum Abi pulang, aku akan merebut hati Kezia lebih dulu, Tante. Lagian percuma saja jika Abi pulang. Dia tidak akan mau menjaga Kezia dan anaknya, karena Abi tidak pernah mencintai Kezia."


Kezia menatap wajah Devan dengan tatapan yang berbeda. Seolah perempuan itu bisa membaca isi pikiran Devan, raut wajahnya terlihat resah dan khawatir. Terlebih setelah mendengar pengakuan Devan tentang perasaannya terhadap Kezia.


"Tante ke kamar oma dulu, ya. Kalau kamu mau makan, minta bibi aja yang siapkan," pamit Angelina.


Memang sudah kebiasaan Devan jika sering meminta makanan di rumah Angelina, karena lelaki itu tinggal sendiri di rumahnya.


Sejenak hening dan canggung menyelimuti atmosfer yang ada. Setelah sosok mertuanya tidak lagi terlihat mata, Kezia merasa salah tingkah. Ia bingung mau bersikap bagaimana terhadap Devan. Rasanya seperti orang asing saja.


"Lo nggak usah canggung kayak gitu sama gue," celetuk Devan menghempaskan keheningan di antara mereka.

__ADS_1


"Kok, pake gue–lo lagi? Perasaan kemarin ada yang udah pake kata 'aku–kamu'," sindir Kezia, sembari mengernyit bingung. Devan malah tersenyum.


"Kemarin gue lagi galau. Jadinya lidah gue sedikit keseleo bilang kayak gitu. Sorry, ya. Lo nggak usah mikirin perkataan gue kemarin. Anggap aja gue lagi mabok," kekeh Devan.


"Jadi, lo nggak serius sama pernyataan lo sama gue kemarin?"


"Gue, kan, udah bilang nggak usah dipikirin lagi! Lagian serius atau nggak, sekarang lo udah jadi istrinya si Abi. Gue bisa apa? Gue cuma mau lihat lo bahagia, Zee. Itu aja." Devan berkata dengan raut serius. Ucapannya pun terdengar tulus.


"Makasih, ya. Kamu emang sahabat terbaik aku." Kezia bisa menghela napas lega mendengar penuturan Devan. Menurutnya, Devan adalah lelaki yang berhati lapang. Padahal di dalam hatinya Devan masih sangat mengharapkan.


******


Deretan kisah kehidupan berputar seperti roda. Silih berganti tanpa ada jeda. Ada kisah sedih atau bahagia, tetapi tak satu pun manusia yang bisa menerka-nerka. Kehidupan masih terus berjalan, dan ending-nya hanya Tuhan yang menentukan.


Sudah dua pekan Kezia ditinggalkan oleh Abizar. Selama itu pula Devan tidak pernah absen berkunjung ke rumah Angelina. Lelaki itu bahkan tidak merasa sungkan menawarkan bantuan ketika Kezia merasakan proses mengidam. Seperti sekarang, Devan tidak keberatan untuk mencari makanan yang diinginkan perempuan hamil tersebut. Walaupun sedikit susah mencarinya, Devan ikhlas melakukan itu semua.


"Gimana? Enak?" tanya Devan sambil menopang dagu. Ia tengah menemani Kezia memakan kudapan manis yang terbuat dari peyeum singkong yang dibakar. Colenak asli Pasundan. Devan bahkan rela pergi ke kota tempat asal makanan tersebut untuk mendapatkannya.


"Enak banget! Kamu mau?" Kezia mendorong piring yang masih menyisakan makanan tersebut ke hadapan Devan. Namun, Devan menahan piring tersebut dan mendorongnya balik.


"Buat kamu aja. Biar anak kamu nggak ileran," kekeh Devan.


Kezia tertawa kecil, ia merasa senang mendapatkan perhatian seperti itu. Tanpa dia sadari, hatinya sudah mulai terbiasa dengan adanya Devan di sisinya. Jika seperti itu terus, lambat laun ia akan melupakan Abizar.


...****************...


...To be continued...

__ADS_1


__ADS_2