Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
24. Menginap


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


Petang menyapa ditandai warna jingga di ufuk barat sana. Abizar yang katanya akan menginap di kafe miliknya, nyatanya masih betah saja di rumah Kezia. Pasalnya, sang mama selalu mengirimkan pesan yang berisi peringatan, jika Abizar harus pulang membawa sang menantu kesayangan. Seharian itu pun Abizar membujuk istrinya yang keras kepala untuk pulang, tetapi tak pernah dihiraukan. Bahkan bujukan sang papa pun tidaklah mempan.


Ya, beberapa saat yang lalu Surya sudah pulang dari kantornya. Seperti yang dikatakan Erna, lelaki itu ingin berbicara dengan Abizar perihal masalah mereka semalam. Di luar prediksi Abizar, Surya bukan mau memarahinya, melainkan hanya menyuruh Abizar untuk lebih bersabar. Pernikahan mereka belum seumur jagung. Surya ingin mereka saling memahami satu sama lain, dan saling mengenal sikap masing-masing.


"Menikah bukan perkara mudah. Kamu akan dihadapkan dengan banyak perbedaan. Walaupun tadinya saling cinta saat berpacaran, belum tentu saat menikah cinta itu tidak akan tetap bertahan. Semua yang terlihat sempurna, akan berbanding terbalik setelah menikah. Semua yang ditutupi akan terbuka, dan semua keburukan akan diperlihatkan oleh pasangannya. Disitulah cinta setiap pasangan akan diuji, apakah mereka akan menerima sifat asli pasangannya sendiri."


Itulah wejangan panjang yang masih terngiang di telinga Abizar. Menancap dalam pikiran, dan membekas dalam ingatan. Abizar banyak belajar dari ayah mertuanya tersebut tentang arti pernikahan. Sedikitnya membuat lelaki itu paham, dan berpikir ulang tentang masalah perceraian. Akankah Abizar mempertahankan pernikahannya bersama Kezia? Untuk itu, ia masih gamang.


Diberikan wejangan oleh mertuanya, Abizar tidak memberikan komentar apa-apa. Ia hanya manggut-manggut saja.


Kini, Abizar mendapatkan masalah baru saat dipaksa untuk menginap oleh mertuanya. Dikarenakan Kezia terus menolak, sang mertua pun menyuruh Abizar untuk menginap. Mungkin besok Kezia akan berubah pikiran, dan Abizar bisa membawanya pulang.


Abizar tidak bisa menolak permintaan mertuanya tersebut. Ia pun menginap di rumah Kezia. Hal itu membuat Abizar merasa dejavu dengan kejadian malam pertama mereka. Tidur di lantai membuat lelaki itu trauma. Ia tidak mau tersiksa dan tidak bisa tidur karena merasa tubuhnya sakit semua.


...*****...


Tidak ada kabar dari Kezia semenjak semalam, membuat Devan merasa khawatir. Ia takut jika Kezia mendapatkan masalah baru dari Abizar. Ia pun berinisiatif untuk pergi ke rumah tetangganya, yang tidak lain adalah rumah Abizar.


"Abi lagi jemput Kezia dari rumahnya, Van."


Itulah jawaban Angelina saat Devan bertanya tentang keberadaan Abizar.


Devan pun kembali ke rumahnya sembari berpikir. Bukannya semalam Abizar sudah membawa Kezia pulang ke rumahnya. Lalu kenapa Abizar harus menjemput lagi istrinya tersebut? Ia tak ingin bertanya kepada Angelina lebih lanjut, lantaran tidak ingin dicurigai tentang perasaannya terhadap Kezia, Devan pun memutuskan untuk menghubungi Kezia setelah sampai di rumahnya.


"Iya, Van." Terdengar suara Kezia di seberang telepon Devan setelah panggilannya terhubung.


"Lo baik-baik aja, kan?" tanya Devan langsung pada intinya.


"Aku baik-baik aja. Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Semalam di pesta Juno, gue lihat lo dibawa pulang oleh keluarga Abizar, tapi barusan gue dengar dari Tante Angel lo pulang lagi ke rumah lo. Kenapa?" tanya Devan penasaran, "Abizar nggak ngapa-ngapain lo, kan?" tambahnya khawatir.


Terdengar suara kekehan pelan dari seberang telepon. Kezia tertawa kecil.


"Gue khawatir sama lo, Zee. Kenapa lo malah ketawa?" protes Devan.


"Aku beneran nggak apa-apa, kok. Selama aku masih dalam keadaan sadar, Abizar nggak akan berani ngapa-ngapain aku. Tenang aja!" kekeh Kezia.


Devan menghela napasnya. Ia tahu Kezia bukan perempuan yang mudah ditindas begitu saja. "Jadi sebenarnya lo sekarang di mana?" tanya Devan lagi.


"Aku di rumah orang tuaku."


"Abizar juga?" tukas Devan.


"Iya. Tadi pagi dia datang, katanya mau jemput aku pulang."


"Lo mau?"


"Kalau gitu gue ke rumah lo sekarang."


Hening.


Kezia tidak menimpali lagi perkataan Devan. Hal itu membuat Devan berpikir jika sambungan telepon mereka berakhir. Ia pun melihat layar teleponnya, memastikan panggilan tersebut masih terhubung.


"Halo, Ze. Lo masih di sana, kan?"


"Masih," jawab Kezia dengan nada datar.


"Kenapa tadi lo diem aja? Gue ke rumah lo sekarang, ya."


"Jangan, Van! Abi masih di sini. Katanya ... dia mau nginep, sampai aku mau pulang ke rumahnya."


Kali ini Devan yang terdiam. Relung hatinya seperti tersentil oleh butiran kerikil. Ia berpikir seharusnya Abizar langsung pulang lagi, ketika dia tidak berhasil membawa istrinya kembali. Bukan malah membujuk Kezia dengan bersedia menginap segala. Ia jadi curiga jika Abizar sudah ada rasa terhadap perempuan yang menjadi belahan jiwanya.

__ADS_1


Namun, hati Devan masih percaya jika Kezia tidak akan berubah pikiran. Perempuan itu tidak akan kepincut oleh Abizar, karena bagi Kezia, Abizar sangat menyebalkan.


Setelah cukup lama berbincang, Kezia pamit lebih dulu untuk mengakhiri panggilan mereka. Kedua matanya sudah mengantuk, dan ingin istirahat lebih awal. Mumpung suaminya masih berada di luar dan mengobrol dengan Surya. Sambungan telepon pun berakhir. Devan hanya bisa menghela napas kasar. Pikirannya bercabang, memikirkan bagaimana caranya agar Kezia tidak sampai jatuh cinta kepada Abizar.


...*******...


"Mbak ... Mbak ... aku boleh tidur di situ, ya?" rengek Abizar beberapa kali dengan nada memelas. Ia terduduk di lantai yang beralaskan selimut. Mendongak menghadap istrinya yang sudah memejamkan mata. Baru beberapa saat yang lalu ia masuk ke dalam kamar Kezia, dan mendapati selimut tebal yang membentang di lantai yang sudah disediakan oleh Kezia untuk tidurnya, tetapi Abizar merasa enggan untuk tidur di sana.


Kezia yang belum sepenuhnya terlelap merasa terganggu dengan suara Abizar. Ia pun kembali terjaga. Tatapannya tertuju pada Abizar yang duduk di bawah sana. Lelaki itu tampak menyedihkan sambil menatap Kezia dengan tatapan penuh permohonan.


"Tempat tidurku kecil. Nggak muat kalau untuk berdua," tolak Kezia, membuat Abizar mengerucutkan bibirnya.


"Muat, kok. Tubuhku kecil dan Mbak juga kecil. Mbak juga bisa membuat batas dengan guling. Aku janji nggak akan melewati batas itu saat tidur nanti."


Embusan napas Kezia terlontar dengan kasar. Ia sebenarnya tidak tega melihat Abizar tertidur di lantai. Namun, jika mereka tidur berdua di tempat tidurnya, siapa yang tahu jika tangan Abizar akan menjalar ke mana-mana. Tempat tidur Kezia tidak seluas milik Abizar. Jarak yang membentang hanya sebatas guling yang akan jadi dinding pembatas mereka. Sungguh, itu terlalu riskan bagi Kezia. Abizar adalah pemuda yang mudah terpancing sisi kelelakiannya. Setelah beberapa kali tinggal satu kamar dengan Abizar, itulah sifat dasar Abizar yang berhasil Kezia temukan.


"Aku bilang nggak, ya, nggak!" Suara Kezia terdengar tegas. Lantas membalikkan tubuhnya membelakangi Abizar. Membekukan hatinya agar tidak peduli dengan nasib lelaki itu.


"Dasar Mbak-Mbak pelit! Cuma tempat tidur aja nggak mau berbagi. Nanti kalau mati kuburannya pasti sempit," rutuk Abizar dalam hatinya. Tatapannya memicing menatap punggung Kezia.


Ia pun berbaring dan mencoba untuk memejamkan mata. Mengusir rasa dingin yang mendera sampai menusuk tulangnya. Cukup lama dia mencoba, sampai harus menghitung domba-domba dalam imajinasinya. Miring ke kiri, miring ke kanan, bahkan terlentang pun sudah ia lakukan. Namun, tetap saja pikirannya masih berada di alam sadar. Telinganya pun masih bisa mendengar denting jarum jam yang berputar.


Abizar terduduk lagi lalu mengacak rambutnya kasar. Ia benar-benar tidak tahan, lalu menengok jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. Ingin rasanya dia pergi keluar lalu tidur di sofa ruang tamu saja. Namun, niat itu urung lantaran tidak ingin ada pertanyaan dari sang mertua. Pandangannya pun beralih pada Kezia. Terlihat perempuan itu sudah tertidur pulas di atas kasur tanpa dosa.


"Enak banget dia tidur pulas gitu!" Abizar menggerutu.


Namun, tiba-tiba otaknya berpikir satu hal agar dirinya bisa tidur di kasur yang nyaman. Abizar pun tersenyum smirk, ia lantas bangkit dan berjalan mendekati tempat tidur Kezia. Lelaki itu mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Kezia, memastikan jika perempuan itu sudah terlelap dalam tidurnya. Setelah memastikan Kezia tidak akan bangun, Abizar mengitari tempat tidur menuju sisi kosong di samping Kezia.


"Aku tidur di sini aja, ah. Bodo amat sama reaksi dia saat bangun nanti. Yang penting aku bisa tidur nyenyak malam ini," ucap Abizar sambil terkekeh pelan. Ia pun melesakkan tubuhnya di balik selimut yang sama dengan Kezia. Tak lupa menyimpan guling sebagai pembatas di tengah ranjang mereka.


...****************...


...To be continued...

__ADS_1


__ADS_2