
...Happy Reading...
...****************...
Beberapa menit berkendara, akhirnya mobil Devan sampai di parkiran sebuah rumah besar di tengah kota. Devan begitu telaten menggandeng tangan Kezia, walaupun perempuan itu selalu menepisnya dengan halus.
"Aku bisa jalan sendiri, Van," tukas Kezia, sedikit risih.
"Gue takut lo jatuh."
Kezia mendengkus. Ia tidak menolak lagi saat tangan Devan kembali meraih lengannya.
"Anggap aja gue kakak lo. Susah banget!" celetuk Devan. Dianggap seperti itu saja dia sudah senang.
Sampai di tempat pendaftaran, Kezia melakukan daftar ulang, karena sebelumnya dia sudah daftar via online. Ia pun mendapatkan nomor antrian baru dan menunggu di depan ruangan dokter Obgyn. Tak lama nama Kezia pun dipanggil oleh asisten dokter.
"Bu Kezia," panggil asisten dokter tersebut.
Kezia pun menyahut, lalu bangkit dari duduk.
"Suaminya boleh ikut juga," seru perawat yang melihat Devan hanya diam saja tidak mengikuti Kezia.
"Dia bukanโ"
"Baik, Suster. Saya ikut ke dalam." Devan langsung memotong sanggahan Kezia yang ingin menjelaskan hubungan mereka yang bukan suami istri.
"Kali ini aja. Oke!" pinta Devan berbisik di telinga Kezia.
Kezia tidak berdaya. Ia pun membiarkan Devan untuk masuk ke ruangan pemeriksaan mendampingi dirinya.
*****
Beberapa saat mengikuti pemeriksaan, Devan tidak bisa berkedip saat melihat layar ultrasonografi yang memperlihatkan janin milik Kezia yang bergerak-gerak. Telinganya dengan seksama mendengarkan dokter menerangkan gambar tersebut. Hingga pemeriksaan berakhir, Devan begitu aktif bertanya tentang apa saja yang diperlukan oleh Kezia pada masa kehamilannya di semester kedua ini.
Kezia sedikit terenyuh melihat Devan yang begitu peduli dengan anaknya. Padahal lelaki itu bukan ayah dari bayi yang dikandung Kezia. Bahkan Abizar yang notabene adalah ayah kandungnya saja, tidak pernah bertanya tentang keadaan anaknya tersebut. Dalam hati kecil Kezia sempat berucap, "andai Devan adalah ayah kandung dari anak ini, mungkin dia akan lahir menjadi anak yang paling beruntung mendapatkan ayah yang begitu perhatian seperti Devan."
__ADS_1
Namun, pikiran itu langsung ditepis oleh akal sehat Kezia. Tidak mungkin dia harus mengorbankan kebahagian seseorang hanya demi keuntungannya sendiri. Devan berhak bahagia dengan perempuan lain yang mencintainya dengan tulus, bukan terpaksa merawat anak orang lain karena alasan cinta pada ibunya saja.
"Makasih, ya. Udah ngizinin gue lihat perkembangan anak lo tadi," kata Devan setelah Kezia selesai melakukan pemeriksaan. Kini mereka tengah berada di parkiran. Devan membukakan pintu mobil untuk Kezia, lalu berputar menuju pintu kemudi. Kezia hanya diam saja. Pandangannya mengikuti gerakan Devan sampai lelaki itu duduk di samping dirinya.
"Lo mau ke mana dulu, Zee?" tanya Devan sebelum menyalakan mesin mobilnya.
"Pulang aja," jawab Kezia.
Devan menatap Kezia sambil berpikir. Ia tidak mau momen kebersamaannya bersama Kezia hanya sebentar saja.
"Tapi gue laper. Lo mau nemenin gue makan dulu, nggak? Sekalian lo makan juga," pinta Devan. Ia sengaja membuat alasan agar bisa berlama-lama dengan Kezia.
"Iya, boleh. Mau makan di mana?"
Senyuman Devan mengembang sempurna. Ia sangat senang Kezia tidak lagi menolaknya. "Restoran favorit kita. Gue udah lama nggak ke sana," jawab Devan.
"Oke."
Devan pun menyalakan mesin mobilnya. Perlahan mobil tersebut keluar dari area parkiran rumah sakit, lalu melesat di jalan raya menuju restoran favorit yang sering dikunjungi oleh Devan, Juno, dan Kezia saat mereka masih kuliah bersama.
Di negeri asal Sakura.
Abizar sudah memulai aktivitasnya di awal minggu ini. Hari Senin yang menurut sebagian orang adalah hari yang paling berat, harus dilewati Abizar dengan berbagai pekerjaan yang membuatnya penat. Banyak berkas yang harus dia pelajari dan tandatangani. Membuat lelaki itu terus mengeluh seorang diri.
"Huh, banyak banget, sih, kerjaan hari ini," keluh Abizar sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran. Jemarinya dengan cekatan memijat pelipisnya pelan dengan kedua mata terpejam. Berharap rasa pusingnya bisa sedikit berkurang.
Kegiatannya tersebut tiba-tiba terganggu oleh suara dering ponsel miliknya. Abizar segera membuka mata, lalu meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Tertera nama Selena di layar utama. Abizar segera menekan tombol terima.
"Halo, Sayang. Ada apa?" tanya Abizar dengan nada mesra. Seolah rasa lelahnya langsung sirna ketika mendapatkan panggilan telepon dari kekasihnya tersebut.
"Kak, kamu ada di kantor?"
"Ya, kenapa?" jawab Abizar.
"Kebetulan aku lagi ada pemotretan di dekat gedung kantor kamu, Kak. Mumpung sekarang lagi break, Kak Abi mau nemenin aku makan, nggak?"
__ADS_1
Abizar menegakkan tubuhnya seketika, lalu melirik penunjuk waktu yang terpampang di dinding kantornya. Waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Abizar menghela napasnya karena tidak menyadari hal itu. Pantas saja tubuhnya begitu lelah, karena memang sudah waktunya ia beristirahat.
"Oke, Sayang. Kamu tunggu aku di restoran depan kantor aku, ya. Nanti aku ke sana," tutur Abizar.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Selena, panggilan itu pun berakhir. Abizar segera beranjak dari tempat duduknya, dan bergegas keluar menemui Selena.
Hanya berjalan sekitar sepuluh menit, Abizar sudah sampai di restoran yang dikatakannya tadi. Ia lantas menemui Selena yang sudah melambaikan tangannya di meja paling pojok restoran tersebut.
Selena menyambut Abizar dengan pelukan hangat, lalu keduanya duduk dan menunggu pesanan yang sudah dipesan duluan oleh Selena.
"Kayaknya mood-nya lagi jelek, ya. Mukanya kusut banget," celetuk Selena memperhatikan wajah Abizar dengan lekat.
Abizar tersenyum pelik. "Iya, kerjaan hari ini membuatku sangat lelah. Rasanya ingin sekali menyerah mempelajari bisnis papa. Mumet banget!"
Selena mengenyitkan keningnya, lalu menggenggam tangan Abizar, dan memberikan usapan lembut di punggung tangan tersebut.
"Kamu harus sabar, Kak. Namanya juga belajar. Itu, kan, demi masa depan kita juga. Memangnya Kak Abi mau mengajak aku hidup susah setelah kita menikah? Tidak, kan?" tutur Selena memberikan semangat kepada kekasihnya.
"Ya, nggak, lah. Aku akan bekerja keras untuk membahagiakan kamu." Abizar membalas mengusap tangan Selena. Tatapannya pun tersirat penuh cinta.
Seulas senyuman terbit di bibir Selena. Dia tahu jika Abizar sangatlah kaya. Walaupun pada akhirnya lelaki itu tidak bekerja, aset kekayaannya tidak akan habis sampai tujuh turunan keluarganya. Kehidupan Selena akan terjamin jika menikah dengan lelaki konglomerat tersebut.
"Itu baru sayangnya aku. Harus tetap semangat kerja demi masa depan kita, tapi kamu jangan lupa jaga kesehatan juga. Aku tidak mau sakit, Kak," ucap Selena.
"Iya, Sayang. Makasih, ya, atas semangatnya." Keduanya saling melemparkan senyum penuh cinta. Hingga suara seseorang mengejutkan mereka.
"Bang Abi, siapa perempuan ini?"
Kemesraan Abizar dan Selena tiba-tiba terganggu oleh pertanyaan itu. Kepala Abizar sontak mendongak. Kedua matanya terbelalak ketika melihat Aludra yang berdiri di samping mejanya dengan mengusung tatapan curiga.
"Al, lo ... ngapain di sini?" Abizar malah balik bertanya dengan raut gugup. Lelaki itu lupa jika restoran itu adalah langganan adik kandungnya tersebut saat jam makan siangnya, sehingga dia lalai dan tercyduk di sana.
...****************...
...To be continued...
__ADS_1
Nah, ketahuan kan si Abi ๐๐