
...Happy Reading...
...****************...
Kekecewaan Kezia berdampak baik bagi Devan. Akhirnya lelaki itulah yang menemani Kezia jalan-jalan. Kezia yang tidak mau mengganggu kesenangan suaminya untuk bermesraan, memilih ditemani oleh Devan.
"Jadi suami lo sedang video call dengan pacarnya?" ledek Devan kemudian tertawa.
Kezia mendelik tajam ke arah Devan, lalu beralih lagi ke arah depan. Raut wajahnya terlihat kesal. Bahkan sebuah batu kerikil yang tidak bersalah pun ia tendang sebagai pelampiasan. Mereka tengah berjalan-jalan di sekitar taman.
"Aku nggak peduli dia mau ngapain," ujar Kezia berusaha menenangkan hatinya.
Devan mencibir, tetapi tidak bisa dipungkiri hatinya merasa bahagia. Kelakuan Abizar bisa menjadi penolong baginya untuk mendapatkan Kezia.
"Bagaimana dengan kondisi anak lo? Kemarin gue melewati pemeriksaan dia." Devan mengalihkan pembicaraan. Ia tahu Kezia tidak mau membahas Abizar. Senyuman Kezia pun sontak mengembang. Ia senang mendapat perhatian dari Devan.
"Dia baik, tapi kemarin perutku sempat keram."
"Kenapa?" Langkah Devan langsung terhenti. Kezia pun berhenti. Sejenak keduanya saling pandang. Terlihat tatapan kekhawatiran dari sorot mata Devan terhadap kondisi Kezia dan kandungannya.
"Nggak apa-apa. Kata dokter itu cuma keram perut biasa." Kezia tidak mungkin mengatakan apa yang terjadi pada malam sebelum perutnya mengalami keram, sehingga dia pun beralasan demikian.
"Syukurlah kalau begitu. Gue khawatir sama kondisi kehamilan lo. Gimana dengan kondisi jantungnya? Apa sudah ada perubahan?" Devan bertanya tentang kondisi kesehatan bayi yang dikandung Kezia.
__ADS_1
Ya, selama ini ada satu hal yang mengganggu pikiran Kezia, yakni tentang kondisi detak jantung anaknya yang terdengar lemah. Kondisi itu sudah diketahui Kezia sejak lama, dan hanya pada Devan saja dia berani bercerita. Dokter berkata, itu mungkin bisa disebabkan karena pengaruh dari salah mengonsumsi obat-obatan tanpa resep dokter sebelumnya. Kezia jadi teringat akan kelakuannya dulu pernah meminum jamu-jamuan untuk menggugurkan kandungannya, sehingga kini berpengaruh pada kesehatan organ tubuh anaknya.
"Belum ada, Van," jawab Kezia tertunduk lesu.
Devan merangkul bahu Kezia, lalu memberikan usapan kecil di sana. Seolah memberikan kekuatan kepada pujaan hatinya tersebut.
"Lo tenang aja. Masih banyak waktu sebelum anak lo lahir. Fasilitas kesehatan sekarang udah canggih, gue yakin dokter akan melakukan yang terbaik."
Kezia mengangguk sambil tersenyum pahit mendengar untaian kata penyemangat yang terlontar dari mulut Devan. Sedikitnya hal itu bisa membuat hatinya lebih tenang. Devan memang paling mengerti dirinya, tetapi entah kenapa Kezia tidak pernah bisa merasakan cinta untuk lelaki itu. Ia hanya bisa menganggap Devan sebatas sahabat saja.
"Mbak Zee!" Suara Abizar yang memanggil dari arah belakang menyita perhatian Kezia dan Devan. Keduanya sontak menoleh ke arah asal suara.
"Abi? Ngapain lo ke sini?" Devan yang pertama melontarkan pertanyaan.
"Bukannya lo lagi sibuk sama selingkuhan lo, ya?" Devan mencibir.
"Bukan urusan lo." Abizar memutar kedua bola matanya malas, lalu mengalihkan pandangannya pada Kezia dengan tatapan yang berbeda. Seperti ada rasa bersalah yang tersirat dalam tatapan itu.
Kezia merasa malas melihat Abizar, dia pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Kita lanjut jalan, Van!" ajak Kezia pada Devan dengan menarik tangan lelaki tersebut. Hal itu sukses membuat Abizar meradang. Ia pun bergegas menghadang.
"Mbak nggak bisa jalan-jalan sama Bang Devan sementara ada gue di sini. Mbak lupa kalau status kita masih suami istri," sergah Abizar sambil merentangkan kedua tangannya.
"Cih, masih merasa jadi suami. Selama ini ke mana aja lo, Bi?" celetuk Devan lagi.
__ADS_1
"Gue lagi ngomong sama istri gue, ya. Abang jangan ikut campur!" tegas Abizar. Devan hendak melayangkan kalimatnya lagi, tetapi dicegah oleh Kezia yang menahan bahu Devan. Kezia tidak mau ada keributan.
"Aku ke sini dengan Devan. Kalau kamu mau nemenin aku jalan santai, kita jalan bertiga aja. Apa susahnya?" usul Kezia.
"Oke, kalau itu yang Mbak mau." Abizar langsung memosisikan tubuhnya berdiri di samping Kezia. Ia bahkan dengan sengaja menggeser posisi Devan dan menjadikan tubuhnya sebagai penghalang di antara mereka berdua.
"Lo apa-apaan, sih?" decak Devan dengan kesal.
"Bukan muhrim," celetuk Abizar ketus.
"Lo jangan kayak anak kecil, ya!" Emosi Devan tersulut dengan kelakuan Abizar.
Abizar menghentikan langkahnya, karena dicekal tangannya oleh Devan. Tatapan penuh kebencian jadi pemandangan menakutkan yang tersirat di kedua mata yang kini saling pandang. Aura permusuhan pun menghunus tajam.
Kezia mendengkus sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Abizar dan Devan. Ia tidak mau mendengar perdebatan dua lelaki itu, sehingga memilih untuk mempercepat langkahnya, dan pergi tanpa sepengetahuan mereka berdua.
"Eh, Mbak tungguin, dong!" Setelah beberapa saat berdebat dengan Devan, Abizar baru sadar jika Kezia telah menjauh darinya. Ia pun mempercepat langkahnya dan menyusul sang istri yang sudah membentang jarak agak jauh dari tempatnya berada.
Devan pun melakukan hal yang sama mengejar Kezia. Kedua lelaki itu benar-benar seperti anak kecil yang tengah memerebutkan mainannya. Kezia dibuat pusing oleh sikap keduanya.
...****************...
...Next 👉...
__ADS_1