
...Happy Reading...
...****************...
"Kenapa kamu berkata seperti ini? Bukannya kamu selalu mau aku berpisahnya dengan Abi?" tanya Kezia sambil berkerut kening.
Devan menghela napas kasar. Tatapan Kezia membuat cinta yang dia pendam berontak keluar, tetapi sebisa mungkin harus dia tahan. Devan sudah sadar jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Cinta Kezia hanya untuk Abizar.
"Karena gue sadar kalian memang saling cinta mencintai. Terutama Abi, dia membuka mata hati gue saat dia terluka karena dipukuli. Waktu itu dia terluka parah dan dua tak sadarkan diri, tapi saat dia sadar, yang dia malah mau pergi nemuin lo lagi," jawab Devan menceritakan apa yang dia ketahui selama ini.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang? Kenapa Aruna juga nggak bilang apa-apa? Nggak mungkin dia nggak tahu apa-apa, karena suaminya adalah sepupu Abi juga," cecar Kezia dengan nada kesal.
"Tante Angel yang melarang kami buat cerita sama kamu dan keluarga kamu, Zee. Gue dan Juno nggak bisa menolak karena tante Angel begitu terluka saat itu."
"Lalu kenapa sekarang kamu ceritain sama aku? Mau sekarang ataupun waktu itu sama saja, kan? Kamu tetap berkhianat sama mamanya Abi. Kamu jahat, Van! Seharusnya kamu bilang dari dulu sama aku. Biar masalah ini nggak jadi kacau kayak gini." Kezia semakin menuntut jawaban Devan. Dia merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.
"Maaf, Zee." Devan tertunduk malu membiarkan Kezia meluapkan rasa kesalnya dengan menangis sesegukan. "Sebenarnya dari kemarin gue mau bilang ini, tapi gue ragu ...," lanjut Devan lirih.
Kezia masih tergugu. Hatinya diliputi rasa bersalah. Ia memang marah kepada Abizar, tetapi jika lelaki itu harus terluka gara-gara sang papa, tentu dia harus mempertanggungjawabkannya.
*****
__ADS_1
Pagi yang cerah dihiasi oleh kilauan embun di dedaunan yang disentuh oleh sinar kehidupan. Laksana berlian, kilaunya terlihat begitu menawan.
Begitupula dengan kecantikan seorang Kezia yang hendak pergi ke rumah Abizar, terlihat begitu cantik dan menawan. Ia sengaja merias dirinya sedemikian rupa. Entah kenapa ia ingin terlihat cantik di depan suaminya. Walaupun mungkin sebentar lagi lelaki itu akan berstatus mantan suami.
Kezia bertandang ke rumah Abizar ditemani oleh Aruna. Niatnya ingin menjenguk Angelina. Di perjalanan hatinya merasa tidak tenang. Jantungnya berdebar kencang seperti hendak dilamar seseorang.
Hingga di depan rumahnya Abizar, Aruna memarkirkan mobilnya. "Ayo, Kak!" ajak Aruna pada kakaknya yang diam saja. Perempuan itu malah melamun dengan tatapan menerawang ke depan sana.
"Kak?" Aruna menepuk bahu kakaknya. Kezia menoleh ke arah Aruna.
"Hm ... apa?" tanyanya seperti orang linglung.
"Ayo, turun! Kita udah sampai rumahnya Abi," ucap Aruna lagi.
Menarik napas panjang lantas melontarkannya dengan perlahan, Kezia lakukan secara berulang seolah mengumpulkan keberanian. Setelah itu perempuan itu membuka pintu mobil, lalu keluar di sana. Kakinya teranyun mendekati adiknya yang menunggu di depan mobil. Kemudian mereka berjalan berdampingan.
Sampai di teras depan. Aruna yang hendak memencet bel pintu, tetapi urung lantaran ada yang membukakan pintu dari dalam. Abizarlah pelakunya.
Deg!
Kezia dan Abizar sama-sama tercekat. Keduanya terlibat adu tatap. Kezia bisa melihat lebam dan bekas luka di wajah Abizar yang belum hilang sempurna. Sempat kedua matanya berkaca-kaca. Hampir saja cairan bening itu tumpah di sana, jika saja Kezia tidak bisa menahannya.
__ADS_1
Namun, hadirnya sosok perempuan yang berdiri di belakang Abizar membuat Kezia kembali tersadar dan memalingkan pandangannya. Perempuan itu adalah Selena. Hatinya mendadak sakit ketika prediksinya tidak sesuai realita. Kezia yang mengira kedatangannya ke rumah Abizar akan menjadi jembatan penghubung untuk menyelamatkan rumah tangga mereka. Namun, kenyataannya semua itu hanyalah sebatas asa.
Selena tersenyum kikuk sambil sedikit membungkukkan tubuhnya pada dua tamu Abizar. Ciri khas perempuan itu sebagai bentuk tatakrama kepada orang lain. Dan dibalas senyum yang sama oleh Kezia dan Aruna. Bedanya mereka hanya menganggukkan kepalanya saja. Sekejap atmosfer sekitar pun terasa senyap.
"Kami ke sini mau menjenguk tante Angel." Aruna yang merasa situasinya begitu mencekam pun berkata lebih dulu. Itu hanyalah alasan untuk mencairkan kecanggungan di tempat itu.
Abizar hanya mengangguk, lalu mengatakan jika mamanya ada di kamar. Tatapannya tidak lepas dari sosok Kezia, sedangkan Kezia selalu berusaha menghindarinya. Ia tidak suka keberadaan Selena di sana.
"Dasar Devan pembohong!" umpat Kezia dalam hati. Ia merutuki sahabatnya itu karena telah berbohong tentang perasaan Abizar. Melihat Selena di sana, Kezia berpikir jika perkataan Devan tidaklah benar.
"Kamu mau ke mana, Bi?" Aruna bertanya lagi, lantaran melihat Abizar seperti mau pergi.
"Aku mau mengantarkan Selena pulang. Kalau mau ketemu mama, kalian langsung masuk ke kamar aja. Sudah tahu, kan, kamarnya?" Abizar menekankan pertanyaannya itu sambil menatap Kezia. Seolah pertanyaan itu ditujukan terhadapnya.
Abizar menghela napas kasar, karena yang dia tatap pura-pura tidak dengar. Kezia malah menyibukkan matanya dengan mengedarkan pandangan ke sekitar. Abizar pun semakin sadar, jika hubungan mereka sudah tidak bisa diselamatkan.
...****************...
...To be continued...
Sambil nunggu up, mampir ke novel ini, yuk
__ADS_1
🙏