
...Happy Reading...
...****************...
Denting suara jam mendominasi suatu ruangan. Di dalam ruangan itu, seorang Abizar tengah duduk termenung di tepi ranjang. Hari ini ia akan bertemu dengan Kezia di pengadilan, membuat hatinya menjadi sangat bimbang.
Abizar menarik napas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Hal itu dilakukannya berulang-ulang, tetapi tetap tidak membuat hatinya menjadi tenang. Hingga suara ketukan pintu membuat pikirannya kembali tersadar. Ia pun segera membuka pintu tersebut dengan langkah panjang.
"Halo, Bro."
Abizar berdecak melihat sosok Devan yang menjadi pengganggunya. "Ngapain lo ke sini?" tanyanya kesal. Lalu berbalik badan kembali masuk ke dalam kamar.
Devan pun menyengir, lalu membuntuti Abizar dari belakang. "Gue ke sini mau nganterin lo ke pengadilan. Katanya hari ini sidang mediasi kalian?"
Abizar duduk lagi di tepi ranjangnya, tatapannya menghunus tajam seolah ingin menerkam Devan. "Segitunya lo nungguin Kezia jadi janda. Nggak sabar lo mau nikahin dia?" ketus Abizar.
Devan pun tergelak tawa. "Emangnya lo rela?"
"Nggak, lah," tukas Abizar cepat. "Tapi kalau lo bisa bahagiain dia, gue harus rela," tambah Abizar berlagak berlapang dada.
Devan mencebikkan bibirnya, lantas menarik tangan Abizar agar lelaki bangun dari duduknya. "Udahlah, jangan banyak omong. Nanti Kezia kelamaan nungguin lo."
"Gue bisa sendiri pergi ke sana." Abizar menepis tangan Devan. Ia menolak diantarkan oleh Devan yang jelas-jelas sedang mengincar istrinya yang sebentar lagi akan menjadi jandanya.
"Nggak bisa, gue udah disuruh tante Angel buat nganterin lo sekarang?" Devan berdalih. Alasan tersebut tidak bisa membuat Abizar menolak lagi.
"Brengsek lo! Pinter banget nyari kesempatan."
__ADS_1
"Iya, dong. Devan gitu, loh," seru Devan dengan angkuhnya.
Abizar berdecak, mau tidak mau Abizar harus memenuhi keinginan Devan, walaupun hatinya begitu enggan.
...******...
Awan kelabu menaungi alam raya, seolah tahu jika Abizar sedang dirundung duka. Langit pun ikut menangis dengan rinai yang diturunkannya.
Tak ada perbincangan antara Abizar dan Devan di dalam mobil yang mereka tumpangi. Keduanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga setelah tiga puluh menit melesat di jalan raya, mobil itu pun sampai di pengadilan agama.
Di sana sudah ada Kezia yang menunggu. Ia ditemani oleh mama dan papanya. Aruna tidak bisa ikut, karena dia tengah hamil muda. Baru tadi pagi Aruna mengetahuinya, dan tentu saja Juno langsung melarang istrinya untuk pergi ke mana-mana.
Udara terasa sangat dingin ketika Abizar dan Kezia bertatap muka. Tatapan kerinduan terpancar dari sorot mata keduanya. Abizar ingin sekali lari dan memeluk Kezia, tetapi keinginan itu harus dia kubur lantaran di sana ada Surya.
"Kalian sudah ditunggu di dalam." Perkataan Erna memecah kesunyian yang ada. Abizar dan Kezia pun berjalan beriringan untuk masuk ke ruangan yang berpenghuni seorang hakim mediator mereka.
"Saya yakin, Pak," jawab Abizar dengan tatapan tegas ke depan.
Hal itu membuat Kezia sontak menoleh dan menatap Abizar. Hatinya sakit melihat kepura-puraan dalam sosok suaminya tersebut. Jika saja dia tidak malu, mungkin ia akan memeluk suaminya itu.
"Tapi saya tidak yakin, Pak. Saya tidak mau bercerai dengan suaminya saya."
Bagaikan mendengar nyanyian Surga. Suara Kezia begitu menyesap di telinga. Apalagi kalimat yang dilontarkannya adalah hal yang membuat hati Abizar langsung berbunga-bunga. Lelaki itu pun menolehkan kepala, lalu menatap istrinya yang juga sedang menatapnya dengan derai air mata.
"Sepertinya kalian butuh bicara empat mata." Hakim itu memberikan saran kepada sepasang suami istri yang masih ragu tersebut.
"Iya, Pak. Saya ingin berbicara sebentar dengan suami saya," ucap Kezia tanpa berpaling dari wajah suaminya.
__ADS_1
Abizar terkejut mendengar Kezia selalu menekankan kata "suami" pada namanya. Jujur, ia sangat senang mendengarnya.
"Silakan, kalian memang perlu bicara," ucap hakim mediator.
"Kamu yakin dengan keputusanmu tadi, Mbak?" Abizar bertanya setelah ditinggalkan berdua di sebuah ruangan tertutup lainnya.
Kezia mengangguk yakin sambil menatap Abizar. Seulas senyuman pun mengiringi derai air mata kebahagiaan, saat Abizar langsung merengkuhnya ke dalam pelukan.
"Tapi bagaimana dengan papa? Apa beliau tidak akan marah?" Abizar bertanya sambil mendorong tubuh Kezia sekadar untuk melihat wajahnya saja, sekaligus menyeka air mata perempuan itu dengan jarinya.
"Papa juga setuju. Dia bilang terserah aku, yang penting aku bisa bahagia bersama dengan kamu."
"Kamu udah memaafkan aku?" tanya Abizar, Kezia mengangguk lagi untuk menanggapinya. Abizar pun kembali memeluk Kezia.
"Terima kasih, Mbak. Aku janji nggak akan membuatmu kecewa lagi. Aku juga akan pelan-pelan bicara sama mama. Dia pasti ikut bahagia kalau menantu kesayangannya tidak jadi berstatus janda," seloroh Abizar yang sukses mendapatkan cubitan di pinggangnya. Abizar pun tertawa.
"Kalau aku jadi janda, kamu pun jadi duda," cibir Kezia pura-pura kesal, tetapi tanpa menghilangkan seulas senyuman di bibirnya.
"Iya, aku nggak mau jadi duda."
Abizar pun semakin mengeratkan pelukannya. Kebahagiaannya tidak bisa digambarkan oleh kata-kata. Ia tidak jadi menyandang status duda.
...****************...
...To be continued...
__ADS_1