Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
Bab 56. Rencana Perceraian


__ADS_3

...Happy Reading...


...----------------...


Abizar mendadak gagu. Kalimat yang dilontarkan oleh Kezia memang benar adanya. Prediksi perempuan itu terlalu peka. Abizar bahkan tidak berpikir ke arah sana.


"Sekarang aku mau tanya sekali lagi. Apa kamu sudah memutuskan hubunganmu dengan Selena?"


Melihat suaminya diam saja, Kezia kembali melemparkan pertanyaan. Tatapan Kezia begitu tajam penuh rasa penasaran.


"Su—sudah, Mbak," jawab Abizar gugup.


"Lalu kenapa dia bisa memberikan kejutan seperti itu sama kamu, hah? Kamu pikir aku bodoh." Amarah Kezia meluap seketika, membuat Abizar kalang kabut seketika.


"Aku ... aku minta maaf, Mbak. Waktu Mbak bertanya, aku memang belum memutuskan dia. Tapi kemarin aku sudah memutuskannya. Sekarang kami benar-benar sudah nggak punya hubungan apa-apa," terang Abizar mencoba menenangkan gejolak amarah istrinya.


"Oh ... jadi kalau Selena tidak menemuimu ke Indonesia, selamanya kamu tidak akan memutuskan dia. Begitu?" Kezia tersenyum miring. Memasang wajah dingin.


Pertanyaan itu menyudutkan Abizar, dan membuatnya terdiam sambil menundukkan pandangan.


"Aku mau kita cerai."


"Mbak." Abizar mendongak tidak percaya. "Aku nggak mau cerai," tolaknya kemudian.


"Kenapa? Sudah nggak ada lagi alasan untuk kita bersama, karena anak kita juga sudah tiada. Jadi ... kamu bisa bebas menikahi Selena."

__ADS_1


Bibir Kezia seperti tersengat listrik saat mengatakan itu. Gemetar tubuhnya saat mengingat anaknya yang telah meninggal dunia, bahkan sebelum ia sempat melihat wajahnya. Kehadiran Abizar seolah menabur garam di atas lukanya itu. Rasanya lebih sakit dari disayat ratusan sembilu.


"Mbak ...." Abizar memberanikan diri untuk mendekat pada Kezia, lalu menggenggam kedua tangannya. Ia bisa melihat luka dari sorot netra sayu berlumur banyu itu. Terasa menyayat kalbu.


"Aku ngerti perasaan Mbak, karena aku juga sangat kehilangan anak kita. Tapi tolong, Mbak. Jangan sangkut pautkan kepergian dia dengan hubungan pernikahan kita. Ada atau tidak adanya seorang anak, kita akan tetap bersama," tutur Abizar.


Sejenak hati Kezia hampir luluh dengan kata-kata Abizar, tetapi sekelebat bayangan Abizar dan Selena berpelukan membuat nalarnya kembali tersadar.


"Maaf, Bi. Kamu nggak ngerti perasaan aku. Kita berbeda. Jalan pikir kita pun nggak sama, karena memang usia kita jauh berbeda. Mungkin kamu lebih cocok dengan Selena, karena kalian banyak persamaannya."


"Nggak, Mbak. Aku mencintaimu. Walaupun kita terpaut usia, bentuk hati kita tetaplah sama. Dan aku juga yakin jika perasaan yang tersimpan di dalamnya juga sama. Kita sama-sama saling cinta. Iya, kan?" tukas Abizar sambil meraih lagi tangan Kezia yang sempat ditarik pemiliknya.


Kezia menggelengkan kepalanya. Dengan perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Abizar, lalu mundur beberapa langkah untuk memberikan jarak di antara mereka.


Hal itu membuat Abizar baru tersadar, jika secara tidak langsung dirinya-lah yang menyebabkan anaknya meninggal. Kezia pasti sangat kesakitan saat itu. Jiwanya terguncang karena melihat adegan kemesraannya dengan Selena. Mulutnya mun tak bisa membantahnya. Kedua matanya ikut menumpahkan air mata.


"Maaf, Mbak. Aku memang salah," aku Abizar pada akhirnya. Entah kenapa membuat hati Kezia lebih sakit dari sebelumnya. Dengan mengaku salah, artinya Abizar sudah menyerah.


"Jika nggak ada yang mau kamu bicarakan lagi, aku mohon pergilah, Abi!"


Setelah beberapa saat keheningan menguasai mereka, Kezia pun mengusir suaminya. Ia melihat keputus asaan dalam diamnya Abizar, membuat kepercayaan diri lelaki itu seakan hilang.


Abizar menghela napasnya. Ia raup wajahnya dalam satu tarikan napas. Dadanya terasa sesak saat melihat Kezia berbalik badan dan memunggunginya. Seolah tidak ingin melihat dirinya lagi. Ingin rasanya memeluk punggung Kezia, memohon pengampunan dan sedikit keras kepala. Namun, Abizar sadar hal itu hanya akan menambah luka istrinya saja.


"Baiklah, Mbak. Aku pulang dulu."

__ADS_1


Abizar menyeret langkahnya dengan berat saat meninggalkan Kezia. Begitupun dengan hati Kezia yang seperti kehilangan penghuninya. Kepala Kezia menoleh ke belakang saat Abizar melewati batas pintu. Di saat yang sama Abizar membalikkan tubuhnya, tetapi Kezia buru-buru memalingkan wajahnya. Ditatapnya lagi tubuh istrinya dengan lekat. Sungguh ... meninggalkan sang istri rasanya begitu berat.


...****************...


Dua minggu kemudian, pikiran Kezia sudah mulai sedikit tenang. Perempuan itu sudah bertekad ingin berdamai dengan kenyataan pahit yang menimpanya, karena ia yakin akan ada hikmah di balik kedukaannya.


"Zee, hari ini pengacara yang papa sewa akan menemui kamu," ucap Surya saat mereka tengah melakukan ritual sarapan di pagi itu.


"Pengacara buat apa, Pa?" Kezia mengernyit bingung. Ia lupa akan rencananya untuk bercerai dengan Abizar.


Surya sejenak menghentikan kegiatan makannya, dengan menyimpan sendok dan garpunya di atas piring. Pandangannya terlihat serius menatap Kezia.


"Apa kamu lupa dengan perceraianmu dengan Abi? Papa harap kamu tidak terpengaruh oleh laki-laki itu lagi. Dia bukan laki-laki yang pantas untuk dijadikan sebagai suami yang baik."


Kezia tertegun sejenak, dan menelan ludahnya dengan kelat. Hampiri saja ia tersedak jika tak buru-buru mengambil air minum untuk melegakan tenggorokannya. Kenapa ia bisa lupa dengan rencana perceraiannya tersebut?


"I—iya, Pa. Kezia bakalan nurut apa kata Papa," ucap Kezia sedikit terpaksa.


...To be continued...


...****************...


Sambil nunggu up, bisa mampir ke novel temenku, ya


__ADS_1


__ADS_2