
Brian sudah sampai di lokasi tempat dimana Pria bernama Max berada.
Pria yang menjadi akar tunggal dari semua kejadian yang sudah terjadi saat kemarin dan saat dulu.
Dia akan menutup semua nya dengan ******* !
Menutup semua nya dengan amarah dan mengubur nya dalam dalam.
" Brian ? Kenapa kau disini Son ?" Tanya Fed saat melihat Brian sudah disana.
" Aku harus menutup nya dengan baik Uncle. Aku akan memastikan semua nya terkubur dengan baik !"
" Brian, Jaga emosi mu !"
" Aku tau Uncle. Aku tau. " Mereka sudah bersiap di tempat nya fan dalam hitungan ketiga, Bom rakitan Anak buah nya Fed pun di ledakan.
Duarrr ...
Pintu Gerbang terbuka karena sensor nya rusak, Bom ini memang tidak dapat menghancur kan hingga berpuing puing.
Tari, Radiasi nya bisa merusak sistem pertahanan.
" Pergi lah, Cari apa yang ingin kau cari !" Ucap Fed membuka jalan untuk Brian.
Disana, Air muka nya sudah berbeda, Jika Viona Mama nya melihat, Tidak ada lagi anak yang manis dan penuh cinta.
Kini, Yang ada hanya sorot mata tajam dan emosi mendalam.
Di tangan kanan nya, Brian membawa Cambuk nya, Di tangan kiri nya, King Dominique sudah siap meluncur kan timah panas nya.
Suara tembakan sudah menggema di rumah besar ini.
Semua bersiap di posisi nya dan saling menyerang.
Brian sendiri, Dia terus berjalan sambil mengayunkan Cambuk nya.
Mencambuk setiap mereka yang menghalangi jalan nya.
Ctar...
Cambuk Brian sudah berlumuran darah, Pistol di tangan nya juga tak kalah ganas nya.
Sret...
Lengan Brian Terluka oleh sebuah pisau yang di ayun kan seseorang dari belakang .
Brian berbalik arah dan menatap seseorang yang kini tengah menatap nya.
" Welcome My Home Brian Dominique Jade..." Sapa nya ramah dengan seringai jahat di bibir nya.
Brian menatap sinis ke arah nya.
" Woho, Sorot mata itu, " Tersenyum miring disana.
" Sorot mata Pria paling menjijikan di muka bumi ini. " Lanjut nya lagi .
Dia mengingat bagaimana dulu pemilik sorot mata tajam itu menatap nya dengan jengah.
Brian masih diam di tempat nya. Tangan nya sudah terkepal kuat disana. Emosi menguasai diri nya.
" Pulang lah, Kulit mu terlalu bagus untuk merasakan panas nya sebuah peluru. " Brian hanya menyeringai disana.
" Sudah selesai ? Kau tau ? Bahwa orang yang banyak bicara akan lebih cepat mati ? " Max bungkam.
Aura Dari Brian adalah Aura yang di miliki Gale.
" Ingin mencoba nya ? Aku memberi mu kehormatan ingin bertarung secara apa ? " Brian masih menatap dengan sorot mata tajam nya.
__ADS_1
Ini adalah kali pertama nya aura dari dalam diri nya begitu kuat dan mendominasi.
" Kau menantang ku ?"
" Ya ! Jika aku harus berdosa untuk membunuh mu, aku akan melakukan dosa itu. Kau tau ? Manusia menjijikam seperti mu tidak pantas hidup di Dunia ini. " Brian berlari mendekat dan dia mulai menyerang, Pukulan dan hantaman mulai di layang kan kedua nya.
Max masih berusaha membaca serangan Brian namun siap nya tidak ada satu pun yang bisa di baca nya
Setiap gerakan dan serangan nya selalu berbeda setiap nya.
Sret...
Lagi lagi Brian terluka, Kini lengan kiri nya yang terkena pisau.
" Kau harus berlatih lagi anak muda..." Brian tidak menjawab, Dia terus melihat seberapa deras aliran darah yang keluar dari lengan nya.
" Kau salah ! Luka ini ? Akan ku balas berkali kali lipat nya. Bahkan akan ku buat kau hancur untuk yang kedua kali nya. Jika dulu wajah mu yang hancur oleh papa ku, Maka saat ini dan kali ini, Seluruh tubuh mu akan hancur !" Brian kembali menyerang dan dengan serangan serangan Brutal nya.
Ctar ..
" Aaahhhkkk..." Jerit Max merasakan perih di lengan kanan nya.
" First time ?" Tanya Brian sinis.
Max hanya menatap nya jengah.
Ctar...
" Aahhhkkk..."..
" Itu untuk Mama Viona. ku !"
Ctar..
" Aaahhkkk..."
Kretak...
" Aaahhhkkk...." Jerit Max lagi saat tangan nya di pijak oleh Brian.
" Kau salah telah bermain dengan ku !"
Dor...
Brian ambruk...
Sebuah tembakan mengenai bahu Brian, Dan pelaku nya adalah Anak buah Max.
" Sial !" Umpat Brian merasakan panas yang menjalar di bahu nya dan tiba tiba kebas.
Kali ini berbalik, Max yang memimpin Brian di bawah nya.
" Kau terlalu percaya diri anak muda...Kau belum tau siapa aku !" Ucap Max dengan santai.
Dia tidak tau bahwa Brian sudah menyiapkan segala antisipasi nya.
Dor...
Brian menembakan pistol nya tepat di dada Max.
" Itu untuk Aliya...!"
Dor...
" Itu untuk Peluru di bahu ku !"
Dor...Dor...Dor...
__ADS_1
Brian terus menembaki Max yang sudah terkapar tak berdaya lagi.
Brian mengatur nafas nya saat ini yang masih memburu menahan sakit dan berdenyut di bahu nya.
Semakin lama semakin kebas bahu nya.
" Brian..." Steff datang melihat Bahu Brian di tembus peluru.
" Diam !" Bentak Steff.
Dia mencari alkohol disana. Dia langsung mencongkel peluru tadi yang bersarang di bahu Brian.
Brian menahan nya sekuat tenaga. Dia benar benar merasakan sakit yang luar biasa kali ini.
" Kita kerumah sakit..." Ucap Steff setelah berhasil mengeluarkan peluru itu dan merobek baju Brian untuk membungkus luka nya.
Brian tidak menolak, Tapi dia juga tidak menerima nya. Denyutan itu semakin terasa. Bahkan kini dia mulai merasakan kepala nya sedikit pusing dan seperti akan hilang kesadaran nya.
Steff tau itu, " Tetap sadar dan buka mata mu Brian ! Jangan kalah dengan sakit nya !" Ucap Steff lagi.
Brian masih bertahan ,Setelah sekitar sepuluh menit, akhir nya Brian sampai dirumah sakit dan segera di tangani. Dokter langsung menangani bekas luka nya dan mensterilkan kan nya. agar tidak menjadi luka inveksi.
Selama penanganan nya, Brian tidak bergerak sedikit pun, Dia merasakan apa Aliya juga merasakan seperti yang dia rasakan ?
Aliya merasakan sakit nya ? seperti diri nya saat ini ?
" Sudah selesai Tuan..."
Brak...
Pintu ruangan Tempat Brian di tangani terbuka. Brian melihat siapa yang disana.
Lila, Istri nya kini sedang menatap ke arah nya dengan tatapan sendu nya.
Hati Lila sakit melihat Brian seperti itu, Tubuh putih kekar itu sekarang banyak berbalut perban.
" Dokter Lila ?" Kaget Salah satu suster yang menangani Brian.
" Tinggalkan kami Sus !" Pinta Lila.
Suster dan dokter tadi langsung meninggalkan Brian dan Lila. Sepasang suami istri baru itu.
Ya, Pengantin baru !.
Mereka sama sama diam, Tidak ada yang membuka suara terlebih dulu.
Sampai akhir nya suara Lila menyakiti Brian.
" Apa sebegitu mencintai kak Aliya ? Sampai rela terluka seperti ini ? Agar kalian sama sama merasakan nya ?" Brian menatap Lila.
Dia masih menantikan kata kata selanjut nya dari Lila.
" Tidak pantas kah aku mendapat kan nya ? Seperti yang di dapatkan kak Aliya ?" Tanya Lila lagi. Brian masih diam.
" Berapa lama waktu yang kakak butuh kan untuk mencintai ku ? Setahun ? Dua tahun ? Lima tahun ? " Tanya Lila lagi .
" Apa jika aku memberi kakak waktu aku bisa mendapat kan seluruh nya ? Tanpa harus membagi nya, Aku akan menunggu nya. Asal jangan membuat aku membagi nya lagi. Aku tidak ingin membagi apapun yang menjadi milik ku pada wanita lain. Karena itu pasti akan sangat sakit rasa nya !"
Tes...
Air mata Lila jatuh, Brian merasa menjadi Pria paling jahat saat ini. Hati nya terbagi dua, Di antara Lila istri sah nya, Dan Aliya ??
" Tunggu aku. Aku berjanji tidak akan membagi nya. Kau akan tetap dan terus menjadi satu satu nya bagi ku. Sah atau tidak sah nya !"
...ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜...
Mengsedih lagi Lila nya ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1