
"Delloooong." Teriakan khas milik sahabatku itu seakan mengganggu fokusku. Aku sedang mengerjakan soal matematika yang guruku berikan tadi di waktu jam istirahat ini. Aku begitu malas jika harus mengerjakannya di rumah, karena bagi seorang Pricilia Adel, di rumah hanyalah tempat untuk beristirahat dan juga bermain dari penatnya pembelajaran di sekolah.
Suara pukulan di mejaku membuatku tersentak kaget. "Ngapain sih lo?" ucapku menatapnya seraya memutar bola mataku malas lalu kembali memerhatikan buku di hadapanku
"Aku nungguin kamu di kantin, tau nggak sih? katanya mau ngebayarin makanan aku?"
"gw sibuk." Singkat, padat dan jelas.
Pria itu menarik kursi di hadapanku, duduk sambil menghadapku, menatapku yang justru malah mengabaikannya. "Gw nggak mau tau. Tadi malam nelpon aku, curhat tentang ini itu, di kasih solusi, masalahnya kelar kemudian bilang 'besok aku traktir kamu Devannn' dengan senangnya," ucap pria itu sambil memasang mimik wajah yang begitu sesuai, seakan dia sedang bermonolog. "Ayo, sekarang bayarin makanan aku di kantin." Pria itu menarik tanganku paksa menuju kantin, membiarkan bukuku tetap terbuka di atas meja. Genggaman tangannya begitu kuat, sekuat apapun aku melawan, aku pasti akan tetap ditariknya sampai ke kantin.
Pria itu, namanya Devandra Albert. Dia sahabatku sejak kecil, kenal waktu masih sekolah dasar dan entah kenapa masih bersama sampai detik ini. Wajahnya tampan-aku akui itu. Dia keturunan Asia-Amerika. Ayahnya orang amerika, dan ibunya asli Indonesia. Dia lahir dan dibesarkan di Jakarta. Walaupun campuran, dia nggak begitu pandai berbahasa inggris tidak seperti fasihnya orang-orang yang disebut dengan kata bule.
"Bu, ini dia yang akan bayar makananku." Devan melepas cengkramannya dan menghadapkanku pada ibu kantin yang sudah berusia paruh baya itu. Wajahnya sudah keriput tetapi senyumnya masih tetap manis.
"Totalnya berapa, bu?" ucapku pasrah
"Soto ayam 7 ribu, nasi campur 8 ribu, bakso 10 ribu, es tehnya 5 ribu. apa lagi ya? tadi ambil gorengan nggak?" tanya ibu kantin sama Devan yang sedang asyik menggigiti kuku-kukunya.
"Ambil, 7 ribu, bu," jawab Devan.
Apa-apaan ini? Kenapa harus sebanyak ini? Dalam perut Devan ada cacing besar yang membantu dia makan apa gimana? Ingin sekali diriku mengumpat sekarang ini juga, tapi sebagai cewek yang berada di tempat umum yah harus aku tahan.
"Totalnya semua 37 ribu."
"Seriusan, bu?" mataku membelalak, kaget.
Ibu kantin mengangguk tenang kemudian menerima uang biru yang aku sodorkan, padahal uang itu ingin aku pakai untuk membeli buku terbitan terbaru sepulang sekolah nanti.
Setelah menerima uang kembaliannya, aku berjalan meninggalkan Devan. Devan yang sadar --dari kesibukannya menggigiti kukunya-- aku pergi lantas menyusulku dengan langkah besarnya.
"Makanannya enak banget, dellong. Lain kali traktir aku lagi yah."
__ADS_1
Lihatlah dia, nggak ada perasaan bersalah sama sekali, nggak minta maaf, nggak berterima kasih, malah minta di traktir lagi. Dia bahkan nggak peduli dengan kemarahanku. "Sampai ketemu nanti, Del," ucapnya pamit tetapi tak aku hiraukan.
Dulu waktu kelas X, kami sekelas tetapi karena dia berhasil menjadi juara kelas, dia di pindahkan ke kelas unggulan. Berbeda denganku yang mendapat peringkat ke 4 dan masih stay di kelas ini. Walaupun begitu, dia sering mengunjungi kelasku di jam istirahat. Devan itu orangnya humble dan juga begitu ramah.
Jujur saja, aku heran dengan Devan, dia pintar, jenius, tapi sikapnya selalu saja bikin emosi dan juga sedikit childish. Aku bahkan belum pernah melihat sikapnya yang agak dewasa.
Bel masuk berbunyi, aku sudah berada di kelasku, duduk di kursiku dengan wajah yang di tekuk. "Akhh, Devan, selalu saja bikin emosi," gerutuku kesal sambil mencoret halaman terakhir bukuku, membayangkan kalau itu adalah wajahnya Devan.
Walaupun begitu, aku bahagia bersahabat dengannya. Kami bisa saling bertukar pikiran dan juga dia selalu jujur dan apa adanya terhadapku. Terkadang, dia ada di saat aku butuh. Dia peduli padaku dan di kesulitanku, dia selalu datang menawarkan bantuan kepadaku dengan senyumannya yang begitu tulus.
"Ibu datang," teriak Alfi sambil berlari menuju ke kursinya. Kalau dilihat-lihat, Alfi ini mirip dengan Mail, Ismail bin Mail, yang pemain upin-ipin itu. Dari sifat, lekukan wajah dan juga kebiasaannya. Walaupun begitu, rambut mereka berbeda.
Lupakan soal Alfi, aku sibuk memerhatikan penjelasan Ibu Devi dengan cermat, menjawab beberapa pertanyaan yang diajukannya. Di kelas ini, aku terbilang aktif dan juga rajin. ok, ini pamer.
Bel yang ditunggu-tunggu oleh para siswa sudah berbunyi, bel yang katanya mampu mengembalikan mood siswa atau bahkan menghilangkan rasa kantuk para siswa lantas membuat mereka mulai berlarian keluar melewati gerbang.
"Vann," panggilku kepadanya yang sedang menungguku. Kami selalu pulang bersama. Lagi pula, rumah kami satu arah.
"Aku ambil motor dulu." Devan berlari menuju ke parkiran sedangkan aku menunggunya di gerbang sekolah. Dalam beberapa menit dia sudah ada di hadapanku dengan motor honda gelatik yang katanya peninggalan kakeknya, motor yang sudah tua, walau begitu motor ini masih berfungsi dengan baik.
"Duit gw udah lu abisin, mau ngapain ke toko buku? cuma liat liat doang? kan nggak seru, nanti tangan gw gatal karena mau beli buku padahal duinya nggak cukup," ucapku dengan sindiran panjang lebar. "Mending ke perpustakaan aja."
"Jadi mau ke perpustakaan?"
"Nggak, dah malas karena kamu."
"Serah kamu saja deh, ayo naik."
Devan mengendarai motornya, membela padatnya kota ini, melewati jalur yang sudah tidak asing lagi. Rumahku jaraknya hanya 1 km dari sekolah, tapi karena macet, kami menempuh perjalanan 30 menit. Sebenarnya ada jalan jauh yang tidak macet tetapi hari ini sedang ada pengantin, jadi jalan itu di tutup.
"Bunda ada nggak?" tanyanya saat kami baru saja tiba di depan rumahku.
__ADS_1
"Nggak ada, pulang aja sana," usirku.
"Assalamualaikum, Bunda," teriaknya nyaring, tak menghiraukanku.
"Waalaikum salam," samar-samar suara itu terdengar dari dalam rumah. Bunda membuka pintu dan melambaikan tangannya. "Ayo masuk, Devan."
"Tuhkan Bunda ada," bisiknya kepadaku dengan bisikan menyindir. Devan segera memarkirkan motornya, kemudian menyalami tangan Bunda. Aku mendengus kesal, berbeda dengan Devan yang menampilkan wajah cerianya itu.
Sebenarnya aku senang-senang saja dengan kunjungan Devan tetapi Devan singgah ke rumahku dengan satu tujuan utama, numpan makan.
"Bunda masak apa hari ini?" tanya Devan to the point tanpa basa-basi lebih dulu.
"Ikan rica-rica sama sayur kangkung."
"Wah enak tuh, Bunda." Devan menggosok-gosokkan tangannya seakan siap menyantap. "Bun, liat tuh anak Bunda, wajahnya di tekuk terus dari tadi." Devan beralih menatapku.
"Biarin aja," balas Bunda. Bunda bukannya ngedukung anaknya sendiri malah ngedukung anak orang lain. Au ah kesal, aku makin menekuk wajahku.
Devan mengambil remot TV, menganggap seakan ini rumahnya sendiri lantas mencomot kue di toples buatan Bunda. Kami belum makan karena menunggu ayah pulang. Ayahku bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan besar di kota ini.
"Ayah..." teriakku pada pria paruh baya yang masih tampan itu. Aku berdiri dan berlari memeluknya dari samping. Dia kemudian merangkulku dengan erat. "Ayah, Devan sama Bunda nggak ngedukung aku. Hiks." Aku tidak menangis, hanya membuat suara-suara itu.
"Sudah-sudah. Kalian pasti sudah lapar, ayo makan." Ayah meletakkan tasnya di kursi sambil tetap merangkul satu-satunya putri kesayangannya ini.
Aku bahagia lahir di keluarga kecil ini, belum lagi kehadiran Devan di tengah-tengah kami. Ini benar-benar menyenangkan. Kami selalu tertawa bahagia sampai makanan ini habis. Ikan rica-rica bikinan Bunda benar-benar enak menemani pembicaraan kami di tengah hari ini.
"Aku pamit pulang dulu, Ayah, Bunda." Devan bersiap untuk pulang. Baru saja dia akan menyalami tangan Bunda tetapi aku malah menghentikannya, menyuruhnya mencuci piring kotor yang menumpuk di dapur.
"Bunda?" Devan menatap manik mata Bunda, meminta belas kasihan
"Bunda sebenarnya suka kalau kamu bantu-bantu dulu." Bunda tertawa kecil.
__ADS_1
Skakmat, Aku dan ayah tertawa, rasain Devan. Devan kemudian dengan pasrahnya menuju dapur untuk mencuci piring bekas tadi.
Devan yang malang.