Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Dia Sahabatku


__ADS_3

Setelah membayar tagihan taksi, aku menginjakkan kakiku di Jalan Salo ini. Aku tidak tahu kenapa namanya Jalan Salo. Tetapi di sini ada sebuah sungai besar yang membela daerah ini menjadi dua. Jalan Salo 1 dan jalan Salo 2. Di jalan Salo 1, rumah-rumah di sana sederhana, tempatnya masih bersih dan terawat, berbeda dengan Jalan Salo 2 yang benar-benar berbanding terbalik.


Taksi tidak bisa masuk karena jalan ini hanya di khusukan untuk motor. Jadi mau tidak mau aku harus berjalan sejauh 500 meter ke dalam di jalan Salo 1 untuk pergi ke rumah Devan.


"Permisi," teriakku sambil mengetuk pintu rumah Devan.


Seorang wanita paruh baya yang berparas cantik membukankan pintu rumah itu untukku. "Eh? Adel? Sudah lama kau tidak ke sini lagi," sambutnya dengan senyuman hangat dan juga bersahabat. Dia mempersilahkanku untuk masuk dan duduk, lalu menawarkanku segelas minuman.


"Tidak usah, mak. Aku hanya mau bertemu dengan Devan," tolakku halus.


"Devan ada di kamarnya. Mau emak panggilkan atau kamu yang menghampirinya?"


Aku tampak berpikir sejenak. "Biar aku saja, emak."


Wanita yang aku panggil dengan sebutan emak itu mempersilahkanku masuk. Dia kemudian pamit untuk melanjutkan masakannya yang tadi sempat tertunda.


Aku membuka pintu kamar Devan yang tidak terkunci itu. Dia sedang berbaring di atas sofa yang sudah mulai memperlihatkan gabus berwarna kuning itu, dia tampak sedang bermain game.


"Ada apa, emak?" Devan tiba-tiba saja duduk saat mendengar suara engsel pintu kamarnya berbunyi. "Eh? Dellong." Dia tampak kaget saat melihatku.


"Boleh aku masuk?" tanyaku.


"Kamu ini, biasanya langsung nyelonong aja tanpa minta izin dulu," ucapnya lalu melanjutkan baringnya dan gamenya itu.


Aku berjalan, duduk di pinggir kasurnya lalu melihat ke sekeliling kamar. Aku lupa kapan terakhir kali berkunjung ke sini. Tetapi tidak ada yang berubah dari kamar ini. Poster dinding Ebiet G. Ade masih berada di sana. Yap, aku dan Devan sama-sama mengidolakan Ebiet G. Ade.


"Ada apa? Tumben-tumbennya kau datang ke sini lagi." tanya Devan tanpa mengalihkan penglihatan dari gamenya itu.


"Emang tidak boleh main ke rumah sahabat sendiri?" Aku memutar bola mataku malas.


"Ini sudah mau malam loh, nanti Ayah cariin kamu. Btw, bukannya tadi kamu mau pergi sama Kak Rega?" tanyanya.


"Tadi sudah."


"Kau pasti lagi punya masalah kan?" Devan memperbaiki posisi duduknya, melepas earphone yang tadi di gunakannya dan bersiap untuk mendengar curhatanku.


"Well, hanya masalah kecil. Tidak usah di permasalahkan lebih besar," lirihku pelan.

__ADS_1


"Yaudah kalau tak mau cerita." Dia menghela nafas kasar. "Main ps yuk," ajaknya.


"Lagi nggak mood," jawabku singkat.


"Yah, itu terlihat jelas dari wajahmu." Devan terkekeh padahal tidak ada yang lucu saat ini.


Aku menghempaskan tubuhku di kasur, menatap langit-langit kamar Devan yang berwarna putih itu. Aku ingin mengadu kepadanya tentang Kak Rega, tetapi aku sudah tahu jawabannya. Aku menutup mataku, mencoba berdamai dengan hati dan juga pikiranku.


***


"Delloooong." Suara teriakan itu membuatku bangun dengan kaget. Aku menatap platform rumah ini sambil mengumpulkan kembali nyawaku.


"Akh, kau mengagetkanku." Aku bangun dan duduk bersila di atas kasur, nyawaku masih setengah terkumpul.


"Kau mau bermalam di sini?" tanyanya judes. "Gw bosan nungguin lu yang tidur udah kayak kebo. Gw rindu sama kamar gw. Gara gara lu, gw harus mengunsi ke depan TV," omel Devan.


Aku baru sadar, ternyata aku ketiduran di rumahnya. "Lu nggak ngapa-ngapain gw kan?" tanyaku sambil memicingkan mata, menatapnya dengan penuh kewaspadaan.


"Dellong, dellong. Apa Devan yang masih polos dan imut ini akan melakukan itu? Kalau kau tak percaya, tanya saja sama emak. Sejak sadar kau tidur, aku keluar dari kamar, memberitahu emak kalau kau tidur, lalu emak kasih kau selimut itu. Aku nggak pernah masuk kamarku sejak 3 jam yang lalu," celoteh Devan panjang lebar lalu mengakhirinya dengan memutar bola matanya dan melipat tangannya di depan dada.


Aku beranjak dari kasur dan merapikannya sedikit. "Aku akan pulang. Aku menunggumu di luar. Antar aku," ucapku.


Aku kemudian berjalan menuju ke meja makan, mengambil sedikit nasi di piringku. Makanan yang begitu sederhana tersaji di hadapanku : sayur asam, ikan kering dan sambal pete. Aku mulai mencicipinya, satu suap, dua suap, tiga suap, aku sepertinya ketagihan. Dan tentu saja membuatku menambah porsi makanku 2 kali lipat dari biasanya malam ini.


"Dellloooong." Lagi-lagi suara itu mengagetkanku. "Aku sudah menunggumu di luar, ternyata kau asik makan di sini."


Aku mengabaikannya lalu menghabiskan sisa makananku. Air putih yang segar ini menjadi penutup makan malamku.


"Kenyang." Aku bersandar di kursi sambil memegang perutku.


"De-llong." Devan kembali mengusik ketenanganku. Aku kemudian berdiri, mengangkat piringku ke tempat cuci piring lalu mencucinya. Sepertinya emak baru saja selesai cuci piring, karena tak ada satupun piring kotor di sini.


"Ayo pulang, Devan," ajakku.


"Ada gula-gula di lemari. Ambil dua dan makan itu. Mulutmu bau," jujurnya.


Aku menuruti Devan. Aku kembali menemui emak, berterima kasih dan pamit untuk kedua kalinya hari ini.

__ADS_1


***


Aku mengetuk pintu rumahku. Jam menujukkan pukul 9 malam pas saat ayah membuka pintu untukku. Ayah menatap wajahku dengan begitu datar dan membiarkanku masuk. Setelah aku masuk, dia kembali mengunci pintunya.


"Ayah pikir kau lupa pulang," ucap ayah dengan nada sinis.


"Maaf ayah, aku lupa mengabari ayah." Aku tertunduk, takut menatap wajah ayah yang mungkin saat ini sedang marah.


"Ayah tadi sangat marah tapi tiba-tiba kamu menelpon ayah. Ayah menjawabnya dan ternyata itu Devan. Devan bilang putri ayah ketiduran dan dia tidak tega untuk membangunkanmu," jelas ayah. Aku mendongak, menatap wajah ayah yang saat ini sedang tersenyum tipis. " Kau sudah makan?"


"Masakan emak enak banget, yah," ucapku bersemangat. "Apalagi sambal pete itu. Rasanya benar-benar enak, Ayah."


"Sambal pete? Sudah lama ayah tak memakannya. Besok kita minta ke bunda buat masakin itu. Sekarang kamu pergilah ke kamarmu. Tidur nyenyak yah, Cil." Ayah mencium keningku sebelum aku pergi ke kamarku.


"Oh ya, Cil." Ayah menghentikan langkahku. "Tadi Rega nyariin kamu. Dia datang pas jam 7. Katanya dia sudah mengirim pesan kepadamu, tetapi kau belum membalasnya."


"Aku akan segera membalasnya, Ayah." jawabku lalu masuk ke dalam kamar.


Aku duduk di sofa kamarku, mencari pesan Kak Rega. Pesannya telah di baca? Aku rasa aku belum pernah membacanya. Jadi siapa yang membaca pesan Kak Rega sebelum aku? Devan? Bukankah tadi ayah bilang kalau Devan menelponnya. Apa jangan-jangan Devan yang membacanya? Aku lalu membuka isi pesan itu.


Adel, kau salah paham


Ini tidak seperti yang kamu bayangkan


Aku hanya menangkap Yolanda


Dia tersandung dan hampir jatuh


Kami nggak berpelukan, Del


Adel


Sayang


Huft


Aku benar-benar minta maaf karena telah menciptakan kesalahpahaman ini.

__ADS_1


Aku meletakkan kembali ponselku. Mungkin memang benar apa yang di katakan Kak Rega. Tetapi yang aku lihat tadi, Yolanda memeluk Kak Rega. Aku tidak tahu harus percaya dengan apa yang aku baca atau apa yang aku lihat.


Semoga besok baik-baik saja.


__ADS_2