Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Jatuh cinta?


__ADS_3

Setelah mengemas buku-bukuku, aku menuju ke meja makan untuk sarapan. Wajah menyejukkan Bunda dan juga wajah penuh kehangatan milik Ayah sudah menungguku di sana.


"Wow, hari ini kita makan nasgor," ucapku bersemangat. "Ayah, anterin aku ke sekolah ya, Yah. Devan kayaknya telat bangun deh, Yah. Biasanya kalau jam segini, dia sudah ada di depan rumah manggil-manggil nggak jelas."


"Iya-iya ayah anterin."


Seusai makan, aku menyalami tangan Bunda, pamit untuk berjuang mencari ilmu yang sangat sulit di gapai. ok, aku mulai alay.


***


"Sampai nanti, Ayah," ucapku setelah menyalami tangan Ayah kemudian bergegas turun dari mobil.


Aku berjalan menuju kelas dengan semangat pagiku yang sudah tidak sabar untuk mengikuti mata pelajaran fisika, mata pelajaran favoritku. Lagi pula, gurunya juga asik kalau ngejelasin, masih muda pula tuh, ganteng juga. Aku nggak suka sama guruku yah, cuma kagum aja.


Bel berbunyi menandakan pelajaran telah di mulai, beberapa jam kemudian bel kedua berbunyi yang menandakan jam istirahat.


Aku akan ke kelas Devan, mencari tahu apakah Devan ke sekolah hari ini atau tidak. Aku mulai berjalan keluar kelas sampai aku mendapati sosoknya berdiri di depan pintu kelasku.


"Mau kemana?" tanyanya.


"Tadi mau ke kelas kamu, soalnya pagi tadi kamu nggak jemput aku. Aku khawatir aja kalau kamu nggak masuk hari ini."


"Ya maaf," dia menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal itu. "Ban motorku tiba-tiba bocor, jadi nggak sempat jemput kamu."


"No problem. Oh ya, bantuin aku kerjain tugas gih, malas banget aku menghitung."


"Oke, oke." Devan berjalan menuju ke bangkuku kemudian mengambil tasku, mencari sesuatu tanpa izinku.


"Cari apa?"


"Penghapus."


"Ada di bagian bawah, lagi pun kau belum mulai nulis. Untuk apa penghapus itu?" tanyaku sambil memperhatikan apa yang dilakukannya


"Aku nggak mau pake ngehapus sih, cuma mau aku mainin doang," balasnya. "Wait? ini buku apa?" tanyanya mengambil buku dari tasku kemudian memperlihatkannya padaku.


"Buku itu hadiah dari ayahku."


"Aku pinjam yah, terima kasih, aku ke kelas dulu." Devan mengambil buku itu bahkan sebelum mendengar jawabanku, tetapi bagaimana bisa buku itu masuk ke dalam tasku? mungkin tanpa sengaja aku memasukkannya pagi tadi. Eh, aku belum membaca buku itu, malah di ambil sama Devan. Huft.


"Devan, balikin buku gw," teriakku, aku begitu malas untuk mengejarnya.


Lupakan soal itu, bel pulang telah berbunyi empat jam setelahnya. Devan pasti sudah menungguku di gerbang seperti biasa.


Tunggu, yang berdiri di sana Devan kan? Apa ada yang salah dengan hatiku saat ini? jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Pandanganku terarah pada Devan yang duduk di atas motornya itu dengan gaya seperti nak-nak motor, tetapi masalahnya bukan di situ, masalahnya ada di jantungku yang berdetak lebih kencang tanpa sebab. Hai jantung, apa kau baik-baik saja?


"Bukuku mana?" tanyaku sekalem mungkin di depannya.

__ADS_1


"Pinjamin aku satu hari doang, besok aku balikin. Oke? soalnya bacaannya seru."


"Baiklah-baiklah." Aku mengangguk pasrah.


"Devaaaan." teriakan cempreng milik Rasti membuat kami berdua menoleh.


"Cepat naik, Dellong."


Begitu aku naik, Devan lansung melajukan motornya, mengabaikan Rasti yang memanggilnya terus menerus.


Devan menghentikan motornya di depan penjual es kelapa di pinggir jalan. Enak nih, minum kelapa di siang hari yang panas gini. Cuacanya benar-benar mendukung.


"Lelah banget," keluhku.


"Lelah apanya? bukannya kau gila belajar?"


"Ck, aku pengen banget liburan, ke gunung atau nggak ke pantai."


"Boleh tuh, lagi pula aku belum pernah ke gunung. Kapan kamu mau pergi?"


"Besok lusa, gimana?"


Belum sempat Devan menjawab pertanyaanku, penglihatan kami terahlihkan pada anak kecil yang dikejar oleh wanita paruh baya yang menggunkan daster sambil membawa sapu lidi, mulut wanita itu terus saja mengoceh, sedangkan anak itu, bukannya takut dia malah justru balik ngelawan.


Aku kemudian menatap mata Devan, tanpa kata kami berdua langsung tertawa terbahak-bahak. Well, itu sangat lucu, astaga. "Kamu lihat ekspresi anak itu?" tanya Devan walau tawanya belum berhenti.


"wkwk, aku malah lebih fokus ke wajah emaknya." balasku. Aduh, perutku mulai sakit karena tertawa.


"Humorku receh banget, huahahaha."


"Mas? mbak?" panggil penjual es kelapa itu sehingga membuatku menghentikan tawa. "Ini kelapanya."


"Iya, iya, makasih ya."


"Minum gini siang-siang seger banget."


Setelah es kelapa itu habis, Devan beranjak untuk membayarnya, sedangkan aku menunggu di motor.


"Beli lima untuk siapa?" tanyaku saat aku melihatnya membawa tiga kantong berisi es kelapa.


"Untuk mama, papa, ayah, bunda, dan juga Mesya."


Devan kembali melajukan motornya, membela padatnya kota tanah kelahiranku. Jalan ini tak pernah sepi dari kendaraan yang entah mau kemana. Walau banyak kendaraan, udara di sini masih cukup bersih dari polusi.


"Nggak mau singgah nih?" tanyaku saat kami telah tiba di depan rumahku.


"Nggak dulu deh, salamin aja sama Bunda dengan Ayah."

__ADS_1


Aku mengangguk, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah, "Assalamualaykum, Ayah, Bunda," ucapku saat melihat mereka berdua sedang menonton TV bak pasangan anak remaja di bioskop.


"Waalaykumsalam, tumben pulangnya lama?" Ayah menoleh kepadaku.


"Tadi singgah makan es kelapa. Oh ya, ini dari Devan, dia juga titip salam karena nggak bisa singgah. Aku ke kamar dulu ya, Ayah, Bunda. Lelah," ucapku sambil memberikan titipin dari Devan.


Aku membuka pintu kamarku, langsung merebahkan diriku di kasur. Kalau di ingat-ingat, hari ini Devan manis juga, tumben-tumbennya dia traktir, belum lagi saat dia begitu tampannya di depan gerbang tadi.


"Kenapa aku terlalu sering memikirkannya? Akh lupakan itu."


Aku bangun dan mengganti pakaian sekolahku, lalu bergegas untuk menemui Bunda yang memanggilku. Aku melihat jam dinding sekilas, rupanya sudah jam lima sore. Nampaknya aku ketiduran tadi.


"Ada apa, Bund?"


"Bantu bunda masak, gih." Bunda kemudian memberikanku cabai, bawang, dan bahan lainnya untuk di iris.


Aku mulai melakukan pekerjaan itu dengan hati-hati, takut jika tanganku terluka. Pernah sekali tanganku terluka karena teriris pisau dan membuatku trauma untuk memegang pisau selama seminggu.


"Kau lagi apa?"


Devan? sejak kapan dia ada di hadapanku? Menatapku dengan tatapan yang penuh perhatian. Devan yang tampan dan senyumnya yang begitu manis.


"Auh," refleksku saat merasakan tanganku pedis, teriris pisau, lagi, untuk kedua kalinya.


"Kau kenapa, Cil?" tanya Bunda.


"Devan mana?"


"Devan?" tanya Bunda penasaran. "Nggak ada Devan di sini. Lupakan itu, pergi obati lukamu, biar bunda yang melanjutkan ini."


Aku mencuci lukaku dengan air untuk menghentikan sementara darahnya, melapisi tissue agar darahnya tidak jatuh ke lantai lalu mengambil kotak p3k di samping televisi.


"Ada apa dengan tanganmu, Cil?" tanya Ayah menghampiriku padahal tadinya dia sedang bekerja di depan laptop. "Sini, Ayah bantu." Ayah meraih tanganku dengan lembutnya.


"Lain kali hati-hati, ya. Fokus sama apa yang kamu lakukan, apalagi kalau berhadapan dengan pisau," nasihat Devan membuatku tersenyum, entah dari mana dia muncul, tapi dia mengobati tanganku.


"Cil?" panggilan itu merubah sosok Devan yang tadinya aku lihat menjadi ayahku. "Kenapa kau tersenyum? sambil melamun juga." Ayah terkekeh.


"Eh? Ayah? sejak kapan ayah di sini?" ucapku refleks.


Tunggu, Devan yang aku lihat itu hanyalah imajinasiku? tetapi ini seperti terlihat nyata. Ini halu, Pricilia, halu. Aku benar-benar berimajinasi bahwa Devan ada di hadapanku.


"Oi? Kau nggak kesurupan, kan?" tanya Ayah, memegang pipiku dan menggoyangkan kepalaku.


"Ayah, kau membuatku pusing," keluhku, "aku nggak apa-apa,yah?"


"Kalau begitu apa yang kau lamunkan?" Ayah menggodaku, lebih tepatnya mengejekku.

__ADS_1


"Bukan, siapa-siapa, Ayah." Aku berdiri, beranjak menuju kamarku sebelum di introgasi lebih mendalam oleh Ayah. Aku bisa menebak bagaimana reaksi Ayah saat aku memberitahunya.


Apa ini rasanya jatuh cinta?


__ADS_2