
Aku menghabiskan waktu istirahatku di bangku taman sekolah, menatap bunga-bunga berwarna ungu, menunggu pucuk yang entah kapan mulai mekar dan menikmati gerakan terbang yang begitu lincah dengan formasi indah para kupu-kupu. Hanya itu. Ini seperti menikmati waktuku yang penuh dengan kesendirian. Aku tidak tahu kenapa aku memilih duduk di bangku taman ini dari pada menghabiskan waktuku di kelas. Tetapi berada di sini membuatku mulai merasa damai. Andai saja detik ini hujan turun.
"Kau di sini, Dellong?" Suara yang tidak asing itu berhasil menciptakan senyuman tipis di wajahku. Aku mendongak, ternyata dia tidak sendiri. Senyuman itu kembali memudar dan malah menjadi lebih murung dari sebelumnya.
Aku berdiri dari bangkuku, beranjak, meninggalkan Devan yang pasti menatapku dengan wajah heran dan juga pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikirannya. "Del." Dia menahan tanganku sehingga membuatku menghentikan langkah.
"Aku lagi badmood," lirihku tanpa menoleh. Aku hanya tertunduk, menatap sepatuku yang ingin rasanya segera berlari menjauh dari sini.
"Hai, ada apa?" tanyanya.
Dengan terpaksa aku menoleh, menatap langsung ke manik matanya dengan tatapan malas dan mengisyaratkan untuk melepas genggaman tangannya. Walau dengan wajah tidak relanya, dia dengan perlahan melepaskan tanganku. Huaaa, aku tidak mengerti dengan diriku sendiri. Bolehkah aku menangis saat ini juga?
Aku berlari ke kelas kemudian duduk di bangkuku dengan menopang dagu. Mataku mulai memanas dan dengan sekuat tenaga aku menahan bulir bening yang hampir jatuh itu. Syukurlah, Pak Pandi sudah datang untuk mengajar. Dia dengan asyiknya mulai bercerita tentang sejarah. Aku tidak memperhatikan materinya, aku hanya ingin pulang ke rumah lebih awal.
Bel pulang berbunyi. Semua teman kelasku mulai berhamburan berlari keluar kelas. Seperti tidak peduli kalau saja mereka saling bertubrukan. Aku menggelengkan kepalaku pelan sembari menatap mereka dari bangkuku. Biasanya, aku berada di antara mereka karena tak ingin membuat Devan menunggu.
"Mau pulang bersamaku?" tanya Devan saat aku sedang berdiri di gerbang sekolah. Ternyata dia masih menungguku.
"Aku sama Kak Rega," ucapku. Padahal aku belum punya janji dengan Kak Rega. Semoga saja Kak Rega akan mengantarku pulang.
Aku menghampiri Kak Rega yang baru saja akan masuk ke dalam mobilnya. Dengan senyum yang bersahabat, Kak Rega mengangguk atas permintaanku. Pacarku yang selalu baik.
"Kak, apa kakak tidak marah denganku?" tanyaku memecah keheningan di dalam mobil itu. Aku hanya menatap ke depan, tanpa menoleh ke arahnya. Menikmati warna langit yang perlahan berubah gelap. Sepertinya hujan akan turun.
"Marah?" tanya Kak Rega balik yang menatap sekilas ke arahku.
"Aku tidak mengerti dengan hatiku sendiri, Kak. Aku tidak suka saat melihat ada seseorang yang dekat dengan sahabatku," lirihku.
"Jadi kamu dari kemarin badmood gara-gara cewek yang dekat dengan Devan?" Kak Rega tertawa kecil. "Del, tenang saja. Itu wajar kalau kau cemburu saat ada yang dekat sama sahabatmu. Itu artinya kau takut kehilangan dia. Kalau kau tanya bagaimana perasaanku, apa aku marah? Tenang saja, aku baik-baik saja. Serius. Seperti Devan merestui aku dekat denganmu, aku juga akan tenang-tenang saja saat kau dekat sama Devan. Dalam pemikiranku, aku menganggap Devan adalah kakakmu," ucap Kak Rega yang masih fokus pada jalanan yang ada di hadapannya. "Aku akan bertanya padamu? Apa seseorang yang baru masuk dalam hidup orang lain punya hak untuk melarang orang itu dekat dengan kakaknya sendiri?" lanjutnya.
Aku menghela nafas pelan, mencerna kata-kata Kak Rega. Tiba-tiba saja bulir bening mengalir di atas pipiku. Aku beruntung punya pacar seperti Kak Rega yang begitu dewasa dibanding dengan Devan.
“Hai, kenapa kau menangis?” ucap Kak Rega yang tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Kak Rega kemudian memegang pipiku, menghapus bulir bening itu dengan kedua tangannya.
“Apa aku menjadikan kakak sebagai pelampiasan?” lirihku pelan, balik memegang tangan Kak Rega yang berada di pipiku.
“Adel, Adel.” Kak Rega lalu menggenggam kedua tanganku dengan erat di depan dadanya. “Bagaimana menurutmu? Apa kau menjadikanku pelampiasan,” kekeh Kak Rega sehingga menampilkan deretan giginya yang rapi itu.
“Aku tidak tahu, Kak. Aku rasa aku belum sepenuhnya mengerti arti kata ‘pelampiasan’ itu.”
“Kau sepertinya benar, Del. Kau belum benar-benar mengerti. Tetapi asal kau tahu, aku bahagia bersamamu dan tidak pernah ada satu pemikiran seperti itu pun yang terbesit dalam pikiranku,” tutur Kak Rega, menatap langsung ke manik mataku. “Baiklah, kita pulang.” Kak Rega melepas tanganku pelan, mengelus lembut rambutku dan kembali mengemudikan mobilnya.
"Sampai ketemu besok di sekolah, Sayang." Kak Rega melambaikan tangannya dari dalam mobil kemudian melajukan mobilnya menjauh dari rumahku.
Aku melangkah masuk ke dalam kamarku lalu mengganti pakaian dengan kaos oblong hitam kebesaran dan celana jeans yang panjangnya hanya sampai di atas lutut.
Aku duduk di samping jendela, menatap langit yang kembali cerah di atas sana. Sepertinya hujan membatalkan niatnya untuk membasahi bumi menit ini. Aku menghela nafas lega, ucapan Kak Rega seperti memberi setitik cahaya di dalam hatiku, membuat keambiguan dalam hatiku mulai berkurang.
__ADS_1
Suara ketukan membuatku menoleh ke arah pintu kamarku yang sedang tertutup itu. Aku berjalan untuk membukanya. Dia, Devan, sedang berdiri di hadapanku dengan senyuman canggungnya dan tangan yang menggaruk kepala belakangnya. Dia bahkan masih mengenakan seragam putih abu-abunya.
"Boleh aku masuk?" tanyanya.
Aku mengangguk pelan dan menyuruhnya duduk di kursi meja belajarku, sedangkan aku hanya berdiri menghadap ke jendela, membelakanginya.
"Kau ingin mengatakan sesuatu?" Dia mulai membuka topik di siang hari yang panas itu. Bukan hanya hatiku yang panas, hawa pun terasa begitu panas di sini.
Aku menghela nafas kasar lalu duduk di pinggir kasur, menghadap ke arahnya. Menatapnya tajam.
"Kamu mengabaikanku," ucapku lalu melipat tanganku di depan dada.
"Kapan?"
"Kemarin di kantin. Kau bahkan tidak menyapaku.”
"Aku tidak melihatmu. Sungguh.”
"Bagaimana mungkin? Jarak kita begitu dekat."
"Aku benar-benar tidak melihatmu, Dellong.”
Aku kembali menghela nafas kasar. Yang aku tahu, Devan tidak pernah berbohong kepadaku di saat aku sedang serius. Hanya serius. Berbeda lagi kalau dia sedang jahil. Aku bisa saja dibohonginya terus-menerus.
"Kenapa kau tidak ke kelasku waktu jam istirahat?"
"Kau kan bisa memanggilku lebih dulu. Kita bisa ke kantin bareng-bareng.”
"Nanti gadis itu tahu bagaimana sikap Dellongku saat di ajak ke kantin. Biasanya, kalau mau ke kantin kau harus di paksa atau enggak, kau harus di traktir. Uangku mana cukup. Bukankah itu sama saja aku percuma saja mengajakmu."
"Jadi kamu lebih memilih untuk mentraktir gadis itu dari pada aku?"
“Wait, sejak kapan kau menjadi posesif begini?”
Aku tidak menjawab pertanyaannya, karena pertanyaan yang aku ajukan tadi keluar begitu saja dari mulutku untuk mengungkapkan emosiku. Pertanyaan itu sudah lebih dulu tersusun di dalam otakku sebelum memilih untuk keluar sendiri.
"Ngga, kita bayar sendiri-sendiri. Tidak sepertimu yang minta traktir saat makan,” sindir Devan.
"Ada cermin di sana. Kenapa kau tidak bercermin,” decakku. Aku memanyungkan bibirku, kesal.
"Lupakan itu."
"Kau meninggalkanku dan pulang sama wanita itu."
"Aku tidak meninggalkanmu. Sebelum ke kantin hari itu, aku ketemu sama Kak Rega dan meminta tolong untuk mengantarmu pulang karena aku harus mengantar gadis itu."
"Paginya, kenapa kau tak menjemputku?"
__ADS_1
"Aku terlambat bangun, Dellong. Belum lagi aku punya janji sama Pak Syarif. Jadi aku ambil jalan pintas dari rumahku supaya cepat sampai ke sekolah. Dan jalan pintas itu tidak lewat ke rumahmu."
“Kenapa kau ti.”
“Kuotaku habis,” jawabnya seperti membaca pikiranku.
"Aku benci gadis itu," jujurku, menatap lekat manik matanya. Dia tidak menjawabku, hanya diam lalu mengecek ponselnya, seperti menghubungi seseorang. Saat mendapat balasan atas pesannya, dia kemudian berdiri, menarik tanganku keluar dari kamar.
"Kita mau ke mana?" tanyaku.
"Ikut saja,"
"Woi, gw mau ganti baju dulu."
Devan mengabaikanku. "Ayah, aku pinjam Dellong bentar," ucapnya kepada ayah yang baru saja pulang dari kantor.
"Ok," jawab ayah dengan singkatnya.
“Astaga, Ayah, anakmu yang satu- satunya ini sedang di culik. Apa ayah akan membiarkannya saja? Bagaimana jika pria ini adalah orang lain yang menyamar sebagai Devan? Huaaa, ayah. Apa aku akan baik-baik saja, Yah?” teriakku, berusaha menyamakan langkahku dengan Devan sembari menoleh ke arah ayah.
“Woi, lebay,” balas Ayah dan Devan bersamaan. Cie mereka sangat kompak.
Devan kemudian menyuruhku naik ke atas motornya, entah kenapa aku menurut begitu saja. Dia membawaku ke sebuah Cafe. Wait, Cafe? Aku dengan baju seperti ini masuk ke Cafe? Tunggu, ini kesalahan. Tetapi Devan tidak peduli, hanya terus menarikku masuk ke dalam. Aku menatap ke sekeliling. Orang-orang dengan baju bagusnya. Sedangkan aku? Huhu.
"Terima kasih sudah menunggu," ucap Devan kepada wanita itu, wanita dengan seragam SMA yang aku temui kemarin dan juga tadi. Wanita yang aku ben-ci itu.
"Hai, Adel," sapanya kepadaku, membuatku mengerutkan kening, bingung. Aku tidak mengenalnya. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Jangan bilang kau melupakanku," ucapnya sembari tertawa kecil.
"Aku tak mengenalmu,” decakku lantas memutar bola mataku.
"Hai, bukankah kita dulu pernah berdamai, kenapa sekarang kau masih marah?" tanyanya lagi. Aku mulai berpikir, mengingat siapa orang yang ada di hadapanku. Jika dia mengatakan itu, berarti kami pernah bertemu sebelumnya dan kami juga pernah marahan?
"Gergia?" tanyaku ragu.
"Syukurlah, aku pikir kau melupakanku." Dia tertawa.
"Ini benaran kau? Kau tambah cantik, aku bahkan tak mengenalmu."
"Iya, aku dulu memang hitam dan dekil banget. Tetapi sekarang aku siap merebut Devan dari kamu," ucapnya terang-terangan di hadapanku dan Devan. Dia mengepal tangannya seperti menggenggam sesuatu. Devan hanya menatap kami dengan posisi menopang dagu.
"Coba saja," tantangku dengan senyuman sinis.
"Dulu, susah banget memisahkan kalian. Hubungan kalian seperti sudah di berikan lem yang sangat kuat. Dan sekarang, sepertinya aku harus menyerah sebelum berperang.” Dia lagi-lagi tertawa, benar-benar anggun. Benar-benar terlihat seperti wanita dewasa.
Lupakan soal kebencian, bertemu teman lama ternyata begitu menyenangkan. Dia Gergia, teman SD-ku dengan Devan. Kelas 3 SD, aku selalu saja bertengkar dengannya. Dia selalu mengatakan akan merebut Devan dariku, dan ucapannya itu selalu saja membuatku menangis. Devan? Dia hanya acuh tak acuh, menikmati masa kecilnya.
Kebencian di batalkan, kasus telah selesai.
__ADS_1