Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Terjadi Lagi


__ADS_3

Hari demi hari telah aku lalui tanpa adanya Devan yang selalu menemaniku. Walau pada awalnya semua terasa berat karena ada kebiasaan yang harus di ubah, tetapi waktu-waktu berikutnya berjalan dengan baik. Kak Rega bahkan menggantikan posisi Devan dan mendengarkan semua ceritaku serta keluh kesahku. Hanya saja, aku tidak bisa menemukan sifat kekanak-kanakan Devan dalam diri Kak Rega. Aku merindukan sifat kekanak-kanakannya itu. Aku merindukan Devan. Sangat. Teramat rindu.


"Bagaimana ujiannya, Kak?" tanyaku kepada Kak Rega.


Hari ini hari terakhir Kak Rega ujian, yang artinya hanya tinggal menunggu kelulusan SMA-nya dan itu juga berarti bahwa hari Senin nanti kami harus kembali bersekolah.


"Baik," jawab Kak Rega. "Bagaimana harimu, Adel?"


Kami berdua sedang berada di ruang tamu di temani dengan minuman dingin yang sudah aku suguhkan di depan Kak Rega. Ini kedua kalinya Kak Rega masuk ke rumah sejak kami pacaran setelah 6 bulan lamanya. Katanya dia hanya singgah setelah pulang sekolah tadi.


"Biasa saja, Kak. Monoton," jujurku.


“Padahal kau punya libur satu minggu. Kau tidak memanfaatkannya dengan baik? Dasar.”


“Rasti sempat mengajakku untuk pergi berkemah tiga hari dengan beberapa teman kelas yang lain. Hanya saja aku lagi malas. Jadi liburku aku habiskan di rumah.”


“Kalau pergi berkemah kamu bisa menghabiskan waktumu dengan teman-temanmu. Lagi pula, jika di pikir-pikir, waktu SMA itu terbilang singkat. Kamu bakal merasakannya nanti kalau sudah tamat SMA,” ujar Kak Rega.


“Kakak merasakannya?”


Kak Rega tampak berpikir, “Iya.”


“Tetapi kakak kan belum tamat SMA,” sindirku.


“Aku akan ubah kalimatku. Kamu bakal merasakannya kalau akan tamat SMA. Nah,” ucap Kak Rega walaupun ekspresinya tampak berpikir. Sepertinya dia masih bingung dengan apa yang di ucapkannya.


Melihat ekspresinya itu membuatku ingin terkekeh. Wajah tampan yang sedang kebingungan. Aku ingin mencubit pipinya karena gemas.


"Orang tuamu mana?" tanya Kak Rega yang tampaknya sudah tidak peduli dengan apa yang membuatnya merasa bingung tadi.


"Tunggu, kak. Aku belum siap di lamar," candaku sembari memperlihatkan wajah terkejut, beberapa detik tertawa.


"Kau ini." Kak Rega ikut tertawa kecil.


"Mereka ada di dalam, Kak. Mau aku panggilkan?"


"Tidak perlu. Sampaikan saja salamku. Aku pulang dulu ya, Sayang." Kak Rega berdiri dan mengelus rambutku. Ayah dan Bunda tidak melihatkannya, kan? Ugh! Semburat merah di pipiku sepertinya muncul.


"Eh? Bukankah Kakak baru saja datang? Kenapa pulang begitu cepat?" Aku mencoba sesantai mungkin.


"Rinduku padamu sudah terbayar kan," ucap Kak Rega terkekeh kemudian melangkah keluar.


Saat Kak Rega menghilang dari pandanganku di balik pintu itu, aku membereskan bekas minuman di atas meja dan membawanya ke dapur. Aku lalu kembali, berjalan ke arah kamarku.


“Cie, ada yang baru di gombal, nih," goda ayah sebelum aku memutar knop pintu kamarku.


"Apa sih, Yah? Oh ya, Kak Rega titip salam," acuhku lalu berjalan masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, bersiap untuk tidur siang yang telah menjadi rutinitas.


×××

__ADS_1


Karena perjuangan Kak Rega dan teman-temannya di SMA telah usai maka mereka di liburkan. Aku kembali seperti sendirian di sekolah ini. Hubunganku dengan teman kelasku baik, hanya saja aku tidak terlalu akrab dengan mereka. Bulan-bulan kesendirianku akan segera tiba. Tetapi aku percaya suatu saat akan punya teman yang akrab denganku sebelum aku tamat.


Aku sedang berdiri di gerbang, menunggu taksi lewat. Ayah tidak mengizinkanku membawa motor sendiri ke sekolah. Katanya dia begitu khawatir kalau terjadi apa-apa denganku.


Suara dering terdengar dari dalam tasku saat sedang asyik-asyiknya menunggu. Dan itu membuatku harus merogohnya untuk mengambil ponselku karena ada telepon yang masuk.


"Kak Rega?" Aku menyeritkan keningku, bingung. Aku lalu menekan tombol hijau itu dan mendekatkan ponselku di dekat telinga.


"Sedang menunggu taksi ya, Sayang?"


"Dari mana Kakak tahu?"


"Aku ada di sini, memandangimu dari kejauhan. "


Ucapan Kak Rega membuatku menoleh ke sana ke mari, mencari keberadaannya, tetapi aku tak menemukannya. Terlalu ramai dengan para pedagang kaki lima yang juga di kerumuni oleh beberapa siswa. Aku tidak bisa menemukan mobilnya itu.


"Awas lehermu pegal karena mencariku."


"Kak Rega di mana?" tanyaku.


"Tunggu, 10 detik aku ada di hadapanmu."


Aku mulai berhitung di dalam hati, 3, 2, 1.


"Selamat siang, sayang," sapanya yang sudah berada di hadapanku dengan motor matic berwarna hitam itu. Pantas saja aku tak bisa menemukannya karena fokusku berada pada mobil-mobil di sekitarku.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Ayo naik."


Setelah aku naik, Kak Rega melajukannya, membela padatnya jalanan di kota ini dan menghentikannya di depan sebuah Kafe.


Aku berjalan, mengekor Kak Rega dan akhirnya duduk di sebuah kursi, lalu memesan es krim. Beberapa menit kemudian, es krim dengan rasa favoritku itu sudah tersaji di hadapanku.


"Ada apa, Kak?" Aku membuka topik pembicaraan di siang hari yang begitu panas itu.


Kak Rega tidak menjawabku, melainkan merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah surat. Di letakkannya surat itu di atas meja dan mendorongnya dengan pelan ke arahku.


"Surat apa itu, Kak?"


"Kau tidak akan tahu sampai kau membacanya, Del," ucapnya dengan senyuman hangat.


Aku meraih surat itu dan membacanya. Itu adalah surat resmi karena ada nomor di sana. Setidaknya aku bisa memahami isinya walau surat itu berbahasa inggris.


"Kenapa kau tiba-tiba cemberut?"


"Ini benar, Kak?" lirihku.


"Ya, siapa yang akan menolak kesempatan itu, Adel. Kesempatan seperti ini tidak boleh di sia-siakan.”


"Selamat kak." Aku memaksakan senyumku.

__ADS_1


"Ada apa, Del? Kau seperti tidak senang akan hal ini."


"Dengan begitu, bukankah Kakak juga akan pergi? Dan kita akan berpisah?"


"Kita tidak putus, kan?" tanya Kak Rega, menatap langsung ke manik mataku dan menuntut jawaban.


Aku menghela nafas pelan. "Akan lebih baik bagiku jika sebaliknya," lirihku sendu, kemudian menunduk untuk menghindari tatapannya itu.


"Tetapi kita bisa LDR, Adel,” ucap Kak Rega yang berusaha meyakinkanku.


Aku terdiam, mencoba merangkai kata dalam pemikiranku. "Aku bukan tipe orang yang bisa bertahan dalam hubungan LDR, Kak. Jika begitu, bukankah putus adalah jalan yang terbaik daripada menaruh harap kapan kita akan bertemu dalam ketidakpastian." Aku balas menatap manik mata Kak Rega lekat.


"Baiklah." Kak Rega tampak menghela nafasnya dengan kasar. Raut wajahnya menggambarkan kekecewaan.


"Jika kita memang di takdirkan untuk bersama. Aku yakin kita akan bertemu lagi, Kak." Aku tersenyum, lantas memegang tangannya yang berada di atas meja itu.


"Adel." Kak Rega mengambil kedua tanganku lalu menggenggamnya erat. Dia juga menatap manik mataku dan membuat tatapan kami saling mengunci. "Terima kasih untuk 8 Bulan kebersamaan kita. Terima kasih telah menjadi alasanku untuk bangkit. Terima kasih karena telah mengajariku arti cinta. Terima kasih karena telah menjadi alasanku begitu semangat ke sekolah. Dan Maaf karena aku tidak tahu cara membahagiakanmu."


"Siapa bilang kakak tidak memberiku kebahagiaan? Aku bahagia dan benar-benar merasa beruntung dengan kehadiran kakak. Terima kasih juga untuk 8 bulan itu, Kak."


"Dan Adel, aku harus memberitahu sesuatu untuk melepas sebuah tanggung jawabku.”


"Tanggung jawab apa, Kak?" Aku menatapnya, meminta jawaban.


Kak Rega terdiam beberapa detik. "Sebelum Devan terbang ke rumah neneknya, di sekolah hari itu. Dia memintaku untuk menjagamu saat dia pergi. Tetapi karena kita terpisah oleh jarak, dengan begitu aku tidak lagi bisa menjagamu. Walau begitu, percayalah, aku akan mendoakan keselamatanmu.”


Aku sedikit tertegun kalau ternyata Kak Rega tahu bahwa Devan akan berangkat. Andai saja Kak Rega memberitahuku. Sudahlah, lagi pula semuanya sudah berlalu.


“Terima kasih lagi karena telah memenuhi tanggung jawab itu, Kak,” ucapku disertai senyuman setulus mungkin.


Kami kemudian terjebak dalam keheningan. Beberapa menit, aku lalu membuka genggaman tangan itu. "Aku harus pulang, Kak. Oh ya, Kak. Sekali lagi selamat ya, Kak. Selamat berjuang untuk masa depan.” Aku berdiri dari kursiku.


"Aku akan mengantarmu pulang.”


"Tidak usah, Kak. Aku mau singgah beli buku." Aku tersenyum lantas berjalan meninggalkan Kafe ini.


Aku kemudian menghentikan taksi, menunjukkan alamat rumahku, naik dan duduk dengan kalemnya.


Aku menatap jalan dari kaca mobil ini. Air mataku kembali menetes, membasahi pipiku. Maafkan aku, Kak. Pricilia Adel yang sudah bisa bersikap sok tegar di hadapan Kak Rega sebenarnya sangat lah lemah. Tetapi aku tidak boleh kembali seperti dulu, aku sekarang punya tujuan hidup yang harus aku kejar. Tetapi izinkan aku menangis sampai taksi ini berhenti di depan rumahku. Setelah itu aku tidak akan menangis lagi untuk hal ini.


"Hai? Kau menangis lagi? Kau tebak ini sudah berapa kalinya," ucap sopir taksi itu.


"Maaf, aku sedang tidak ingin bicara sekarang."


"Aku pikir kau akan mengacuhkanku lagi," kekehnya. “Btw, sudah lama sejak terakhir kali kau naik taksiku.”


Kak Rega, pacarku, maksudku mantan pacarku itu di terima di Institut Teknologi Massachusetts, Cambridge, Amerika. Sangat jauh bukan? Aku turut bahagia dengan di terimanya dia di sana. Hanya saja, aku sedih karena harus berpisah dengannya. Tetapi aku tidak boleh egois. Kak Rega juga punya hidupnya sendiri. Lagi pula, menurutku ini adalah jalan terbaik.


Tetapi percayalah, kak, Aku akan berusaha untuk bisa kuliah di sana agar kita bisa bertemu. Aku akan benar-benar memperjuangkan itu.

__ADS_1


__ADS_2