Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Pulih


__ADS_3

Empat hari terlewati begitu saja tanpa ada kebiasaan yang aku ubah. Aku malah menjadi lebih pendiam dari sebelumnya dan jarang keluar kamar kecuali jika perutku benar-benar butuh makan. Jika di perhatikan, berat badanku juga turun drastis.


Aku menghela nafas pelan. Aku belum tahu bagaimana cara mengikhlaskan Devan, terlebih lagi aku belum mampu berdamai dengan hati dan pikiranku. Kata ayah, jika aku sudah mampu berdamai dengan kedua hal itu, maka semuanya akan menjadi baik-baik saja. Tetapi nyatanya, melakukan itu benar-benar membutuhkan perjuangan dan satu hal lagi, aku tidak tahu cara melakukannya. Ayolah hati dan otak, aku ingin berdamai dengan kalian.


Ponselku berdering dan aku mengabaikannya. Tetapi semakin aku abaikan, ponsel itu malah tidak mau berhenti berdering. Kalau di hitung, mungkin sudah ada kisaran lima panggilan tidak terjawab Huaaa, siapa yang berniat untuk menggangguku saat aku sedang butuh kedamaian.


Aku menekan tombol hijau kemudian mendekatkan ponsel itu tanpa melihat siapa yang memanggil.


"Dellong?" Suara itu terdengar dari dalam ponsel yang aku pegang ini. "Apa kau baik-baik saja?"


Air mataku turun begitu saja, mengalir di atas pipiku sebelum aku membuat benteng pertahanan. Pipiku menjadi basah karenanya untuk ke sekian kalinya. Aku menghembuskan nafasku dengan begitu sendu sembari mengelap pipiku dengan tangan kiri


"Woi, ada apa denganmu? Aku mendapat telepon dari Kak Rega, dia menceritakan tentang keadaanmu di sana. Dari semua yang di katakan Kak Rega, kau terdengar begitu menyedihkan,” gerutunya.


Aku diam, masih enggan untuk berbicara. Lagi pula, aku tidak tahu bagaimana untuk menanggapi ucapannya. Otakku sedang bekerja keras saat ini. Di satu sisi aku bahagia mendengar kembali suaranya, di sisi lain aku marah kepadanya.


"Dellong, kenapa kau diam saja?"


Devan kemudian mengalihkan panggilan itu ke panggilan video, tetapi aku tidak menjawabnya.


"Dellong?"


"Kau jahat, Devan. Kau meninggalkanku. Kenapa kau tidak memberitahu bahwa kau akan pergi sehingga aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak lagi denganmu," bentakku dengan suara keras.


"Maafkan aku." Suara Devan tiba-tiba saja beralih menjadi serak.


"Kenapa kau juga tidak menghubungiku?" Intonasi suaraku mengecil seiring dengan bulir bening yang semakin banyak berjatuhan dari pelupuk mataku.


"Dellong, di sini, aku tinggal di desa, begitu jauh dari kota. Jaringan di sana benar-benar buruk. Aku harus menempuh jalan 70 km untuk sampai ke kota," jelasnya. "Tetapi aku tidak bisa ke kota. Setiap pagi, aku harus membantu kakek mengurus ternaknya, siang hari aku harus merawat nenek, dan saat malam tiba, aku harus memompa air. Belum lagi setiap harinya aku harus sekolah. Ada sekolah kecil di dekat rumahku."


Aku menyimak mendengar perkataan Devan. Dia sepertinya bekerja sangat keras di sana.


"Kau tahu, Del? terkadang aku merindukanmu. Bukan terkadang, tetapi sangat. Benar-benar merindukanmu. Oh ya, aku sedang di kota sekarang. Daddy ada punya keperluan penting. Saat aku melihat ada begitu banyak panggilan masuk dari Kak Rega, aku langsung menghubunginya, kemudian menghubungimu."


Aku kembali diam, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepada Devan tetapi tertahan di dalam mulutku, membiarkan pertanyaan itu tetap tersimpan dalam benakku walau sedang menuntut jawaban.

__ADS_1


"Oh ya, Daddy sudah mau pulang. Tetapi Dellong, kamu kembalilah ke Dellong yang ceria, bawel, dan menyebalkan. Jangan bersikap seperti itu. Nanti kalau aku sukses, aku akan kembali ke Indonesia, memelukmu dengan erat untuk memecahkan tabungan rinduku."


Sambungan telepon itu terputus tanpa memberiku jeda untuk mengucapkan ‘sampai jumpa’. Aku menghempaskan tubuhku di kasur. Menatap kosong ke arah langit-langit kamar lalu terlelap dalam mimpi buruk. Karena sejak hari Devan pergi, semua harapan dan juga mimpiku tidak lagi indah sampai detik ini.


×××


"Cil, ayo bangun, sudah jam 10." Bunda menepuk-nepuk lenganku.


Aku kemudian membuka mata, menatap bunda tanpa bersuara dan dengan ekspresi datarku. Ini hari kelima sejak Pak Romi memutuskan untuk menulis namaku dalam catatan izin untuk pemulihan.


"Ayo sarapan, Cil. Bunda sudah masak makanan favoritmu." Aku bangun dari tidurku, berjalan mengekori bunda ke meja makan. Perutku memang saat ini menuntut untuk meminta makanannya.


Aktivitasku setelah makan hanya memainkan ponsel di kamar seharian sampai perutku kembali meminta makanannya. Hanya itu, benar-benar hari yang membosankan yang berulang-ulang selama 5 hari terakhir ini.


Aku meraih kotak yang dulunya di berikan Devan hari itu. Aku kembali melihat lembar demi lembar foto itu. Potret kami yang sedang bahagia. Tanganku lalu beralih mengambil gantungan kunci pemberian Devan itu. Aku memegang gantungan kunci itu tepat di hadapan wajahku.


“Apa yang harus aku lakukan?” tanyaku walau aku tahu dia tidak akan pernah menjawab pertanyaanku.


Aku meletakkan gantungan kunci itu kembali ke dalam kotak lalu berjalan menatap ke luar jendela. Aku mulai berpikir bahwa dengan diriku seperti ini apa aku bisa mengubah kenyataan kalau Devan tidak ada lagi di sisiku. Walau begitu bukankah Devan masih ada di hati dan pikiranku. Devan sendiri yang menyuruhku untuk tetap semangat, lantas kenapa aku masih dalam keadaan seperti ini?


Malam itu aku sadar. Kenapa aku harus bersedih untuk kepergian Devan sedangkan ayah dan bunda masih ada di sini bersamaku. Apa aku yang terlalu berlebihan menganggapi kepergian Devan. Padahal Devan masih bernafas di atas bumi ini.


Hari ke tujuh, badanku yang sudah kaku ini harus aku obati. Aku harus kembali ke Pricilia Adel yang banyak tingkah saat di rumah, yang seperti tidak punya lelah untuk bergerak.


Dan hari ke delapan telah tiba, saat aku harus kembali ke sekolah. Semua harus di ubah. Teman-temanku dan terutama Kak Rega pasti merindukan Pricilia Adel yang dulu, bukan?


"Selamat pagi, Ayah, Bunda," ucapku bersemangat lalu mencium pipi ayah dan juga Bunda.


"Cil?" ucap ayah dan bunda dengan wajah keheranan dan juga berbinar-binar. Mereka mungkin tidak percaya kalau aku langsung kembali ke diriku, tetapi itulah yang harus aku lakukan.


"Ada apa? Ayo sarapan, abis itu kita berangkat ke sekolah, ayah." Aku tersenyum, senyum tulus yang aku coba sebisa mungkin.


Setelah makan, ayah mengantarku ke sekolah. Aku menyalami tangan ayah, turun dari mobil dan melambaikan tanganku saat ayah melajukan mobilnya menjauh.


Aku berjalan dengan semangatnya. Hari ini mata pelajaran fisika. Aku mulai menyimak, merasakan diriku telah kembali seperti semula. Aku bahkan menjadi lebih aktif di kelas. Aku melirik ke arah teman kelasku, mereka seperti melihatku dengan wajah keheranan. Astaga.

__ADS_1


Bel istirahat berbunyi, aku sibuk mengerjakan tugas fisika yang baru saja di berikan, sama seperti sedia kala.


"Adel?" Panggilan itu membuatku menoleh, melihat Kak Rega yang sedang menyeritkan kening.


"Ada apa, Kak?" jawabku.


Kak Rega kemudian menghampiriku dan duduk menopang dagu di hadapanku lantas menatapku dengan penuh senyuman.


"Kak? Kenapa kakak menatapku seperti itu?" Aku tertawa kecil sambil mengangkat satu alisku.


"Pacar aku cantik."


"Apa sih, Kak? receh banget." Aku tidak tahu, tetapi gombalan itu membuatku tersenyum malu sehingga mengalihkan penglihatanku darinya.


"Lagi ngerjain apa? Mau aku bantu?" tawarnya.


"Terima kasih kak atas tawarannya. Aku akan berusaha mengerjakannya sendiri."


"Sip, Sayang. Mau ke kantin?"


"Ayo, Sayang," ucapku pelan lalu berdiri dari kursiku.


"Tunggu, tunggu. Kau bilang apa tadi?" Kak Rega memegang lenganku, menatapku dengan tatapan interogasi tetapi di sertai senyuman tipis.


"Aku tidak bilang apa-apa, Kak," ucapku polos.


"Ada. Aku rasa aku tidak salah dengar."


"Tidak ada, Kak," elakku. "Ayo ke kantin, Kak. Perutku sudah bunyi dari tadi dan kayaknya bentar lagi masuk," bujukku setelah melihat jam di pergelangan tanganku.


Aku jelas-jelas tahu bahwa Kak Rega mendengar suaraku itu, hanya saja dia ingin menggodaku dan menyuruhku untuk mengulang itu. Untung saja Kak Rega mengangguk dan tidak menuntutku lagi untuk menyebut kata itu.


Aku sadar, tidak selamanya aku harus meratapi kesedihanku karena di tinggal Devan. Tidak seharusnya aku bertingkah seperti ini. Hidup masih terus berjalan tanpa peduli apa yang sedang terjadi pada kita. Tetapi aku akan selalu menyimpan Devan di dalam hatiku sampai Devan datang dan memecah tabungan rindu itu.


Dan aku juga sadar satu hal. Tentang sifat, tindakan, dan mood itu tergantung dari bagaimana cara kita mengendalikannya. Jika kita mau bahagia, maka hati dan pikiran kita akan mencoba untuk melakukannya walau dalam keadaan tersedih sekalipun. Tetapi ini berlaku untuk keadaan tertentu saja.

__ADS_1


Devan, aku akan selalu menunggumu.


__ADS_2