
Setibanya di rumah, aku langsung memeluk ayahku dari samping yang saat itu sedang asyik menonton TV. Aku memeluknya begitu erat dan menangis sekeras-kerasnya.
"Hai, Cil, ada apa?" tanya Ayah dengan nada kaget karena aku tiba-tiba memeluknya.
"Ayaaaah," tangisku bertambah deras. Aku menenggelamkan wajahku di bahu ayah.
Ayah yang tidak tahu apa alasanku menangis malah membiarkanku membasahi bajunya, mengusap kepalaku dan mencoba menenankanku. Aku kemudian menyerahkan surat yang ada di tanganku tanpa merubah posisi kepalaku.
"Surat apa itu, Yah?" tanya Bunda yang berada di samping ayah.
Ayah kemudian membaca surat itu dengan suara pelan agar bunda mendengar isi surat itu. Setelah selesai membacanya, melipat kertas itu dan malah terdiam, sama seperti bunda yang tidak mengeluarkan suara apapun, hanya suara tangisanku dan suara TV yang mendominasi ruangan ini saat ini.
"Sudahlah, Cil. Kau bisa menelponnya, bukan?" lirih ayah sembari mengusap kepalaku.
Aku mendongak, menatap mata ayah yang berkaca-kaca. "Tetapi tetap saja itu berbeda, ayah." lirihku. "Aku akan ke kamar." Aku mengambil surat itu dari tangan ayah dan berjalan menuju ke kamarku. Perasaanku benar-benar tidak enak, aku seperti tidak bisa menahan beban tubuhku sendiri. Beberapa detik kemudian penglihatanku menggelap dan aku merasakan tubuhku menghantam lantai.
***
"Bunda," panggilku kepada seseorang yang aku lihat pertama kali saat aku membuka mata. Aku kemudian beralih menatap dinding di kamarku yang menunjukkan pukul 6. Entah itu sudah pagi atau baru menjelang malam, aku benar-benar tidak mengetahuinya.
"Syukurlah kau sudah sadar, Cil. Bunda masakan bubur dulu, ya," ucap bunda dengan wajahnya yang penuh senyuman. Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya bunda menyembunyikan kesedihannya tetapi yang aku tahu kalau bunda sedih karena bunda sudah menganggap Devan seperti anaknya sendiri. Siapa yang tidak akan sedih saat harus berpisah dengan anaknya?
"Aku tidak ingin makan, Bunda," lirihku.
"Kau harus makan, Cil. Tubuhmu butuh nutrisi."
Aku menggelengkan kepalaku pelan. Saat ini, bagiku berbicara seperti membutuhkan tenaga.
__ADS_1
"Baiklah, selamat malam." Bunda mengusap kepalaku lalu mencium keningku. Berjalan keluar kamar, menutup pintu kamarku, dan membiarkanku sendiri.
Aku menghadapkan tubuhku ke arah kanan. Aku melihat ada fotoku dan Devan yang di bingkai dengan indahnya di atas nakas samping tempat tidurku. Aku kemudian mengambilnya, memeluknya dengan erat, lalu menutup mataku.
Aku membuka mataku, menatap ke arah jendela yang memberi cela agar cahaya matahari bisa masuk. Aku ingat, aku tidur dengan memeluk bingkai foto, mungkin saja bunda atau ayah yang memindahkannya.
"Cil, sudah pagi. Kau tak ingin ke sekolah?" ucap Bunda yang baru saja membuka pintu kamarku.
"Tidak, Bunda. Aku mohon."
"Kau masih sakit?" tanya bunda yang memegang dahiku.
"Entahlah, Bunda."
"Baiklah, beristirahatlah. Bunda akan kembali membawakanmu makanan.Kau harus makan, bunda tidak ingin mendengar penolakan lagi.
***
"Sudah hampir 2 bulan kau kehilangan jati dirimu, Del. Adel yang ceria menjadi pemurung. Adel yang bawel menjadi pendiam. Adel yang selalu antusias menjadi tidak bersemangat. Kemana Adel yang itu?" tanya Kak Rega yang ada di hadapanku, di kursi yang sama di mana biasanya Devan duduk di sana saat jam istirahat tiba.
2 bulan telah berlalu sejak hari di mana aku menerima surat itu. Dalam 2 bulan itu aku tidak pernah mencoba menghubunginya, begitu pula dengannya yang tidak pernah menghubungi. Aku tidak marah dengannya, hanya saja aku seperti hilang kendali dengan tubuhku sendiri. Aku begitu sulit menemukan kembali diriku.
"Adel?"
Aku mengabaikan Kak Rega, masih enggan untuk berbicara ataupun berintraksi dengan orang lain. Aku menyadari bahwa aku benar-benar menjadi pendiam, bahkan di rumahku sekalipun. Aku hanya ingin Devan saat ini.
Bel masuk berbunyi, Kak Rega meninggalkanku dan menuju ke kelasnya. Pak Heri kemudian masuk mengajar ke kelasku.
__ADS_1
"Adel, Kau sakit? Kenapa kau melamun?" tanyanya dengan tegas.
"Aku tidak apa-apa, pak," bohongku. Keadaanku benar-benar sangat buruk dan memperihatinkan sekarang.
Aku menunggu waktu yang berjalan begitu lama sampai bel yang aku tunggu itu berbunyi. Aku di antar Kak Rega pulang ke rumah. Hanya mengucapkan terima kasih kepadanya, aku lalu masuk ke dalam rumah.
"Cil, ayah dapat surat dari sekolahmu untuk pertama kalinya," sambut ayah. Aku menatap wajah ayah, memperlihatkan senyuman tipis yang begitu aku paksakan.
Ayah mengikuti menuju ke kamar, duduk di sampingku, membawaku untuk bersandar di bahunya. Dia kemudian mengusap-usap rambutku perlahan sehingga air mata kembali membasahi pipiku, membuat air mata itu tumpah dalam heningku. Aku lalu memeluk ayah.
"Ayah tahu kau begitu kehilangan Devan, Cil. Sudah 2 bulan kau begini. Ayah sangat sedih melihat perubahanmu. Aku rindu kehangatan rumah ini, Cil. Rindu dengan tingkahmu yang aneh itu." Setetes air membasahi lenganku.
Aku melepas pelukan itu, mendongak menatap wajah ayah. "Ayah menangis?" lirihku.
Ayah buru-buru mengelap air matanya, "Maaf, tetapi ayah seperti tidak sanggup melihat putri ayah dalam kegelapan."
Aku kembali memeluk ayah, menenggelamkan wajahku di bahunya.
***
"Semangat belajar anak anda menurun sangat drastis, Pak," ucap Pak Romi yang saat ini berada di hadapan ayahku. Sedangkan aku sendiri sedang duduk di sofa, menatap kosong ke arah dinding yang ada di hadapanku. Walau berjarak kisaran 2 meter, aku masih bisa mendengar ucapan mereka. Aku tidak tahu kenapa aku di panggil hanya untuk duduk di sini dan menatap dinding di hadapanku itu.
"Kalau begini terus, Pak, nilai anak anda akan ikut turun dan bisa membuatnya berada di kelas terakhir tahun depan. Itu bisa saja menjadi tahun terburuk untuk anak anda yang semenjak masuk ke sekolah ini terkenal pintar," ujar Pak Romi. "Kalau boleh kami tahu, apa yang sedang terjadi sehingga Nak Pricilia menjadi seperti ini?" tanyanya.
Ayah diam, tidak membuka suara. Mungkin sedang menyusun kalimat dalam otaknya. Beberapa menit kemudian, akhirnya ayah bicara. "Kalau begitu, aku mohon, berikan dia waktu satu minggu untuk berada di rumah." Ayah tidak menjawab pertanyaan Pak Romi 'kenapa aku menjadi seperti ini'.
"Bapak tidak bercanda, kan? Nilai anak bapak sedang bermasalah dan Bapak meminta dia di liburkan?" ucap Pak Romi dengan intonasi tegas.
__ADS_1
"Biarkan dia berdamai dengan hatinya selama tujuh hari itu. Aku yakin, minggu depan, saat dia kembali ke sekolah, dia akan kembali seperti sediakala. Dia anak yang pintar, bukan? Aku yakin dia bisa mengejar pelajaran. Aku mohon, Pak," pinta Ayah.
Kali ini Pak Romi yang kembali diam, mungkin sedang berpikir. "Baiklah, aku akan membuat surat izin bahwa Pricilia Adel sedang dalam proses pemulihan."