Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Aneh


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu saat aku berbicara dengan Gergia di Cafe itu. Semua kembali normal. Devan yang setiap jam istirahat selalu pergi ke kelas, Kak Rega yang masih sama seperti biasa, dan Gergia yang telah mendapat teman baru sehingga tidak selalu bersama Devan lagi. Hari-hari monotonku telah kembali. Walau begitu, itu membuatku lebih tenang dibandingkan dengan hari-hari penuh masalah. Hihi.


"Dellong, ponselmu bentar," Devan memajukan tangannya. Tanpa bertanya lebih lanjut, aku memberikan ponselku. Dia mulai mengetik sesuatu selama beberapa detik. "Ayo ke Mal. Aku sudah izin sama ayah,” ucapnya lalu mengembalikan ponselku.


"Eh? Aku enggak bawa uang."


"Tenang saja, aku bawa uang lebih."


"Jadi aku bebas nih pilih apa saja?" candaku.


Dia mengangguk. Tunggu, ada apa ini? Aku ragu Devan yang ada di hadapanku, di tempat parkir sekolah ini, bukan Devan yang sama yang aku lihat kemarin dan beberapa tahun sebelumnya. Dia bukan seseorang yang menyamar menjadi Devan, kan?


"Ayo naik,"


"Ayo," semangatku. Kapan lagi Devan kerasukan iblis baik hati seperti ini. Memang iblis ada yang baik? Sudahlah.


×××


"Mau beli apa?" tanyanya saat kami baru saja menginjakkan kaki di pintu utama Mal itu.


Keramaian mulai menyambut penglihatanku. Mungkin saja ada diskon besar-besaran, makanya ramai. Huaaa, diskon dan ditraktir. Aku ingin membuat hari ini berjalan lambat.


"Beli baju couple-an yuk. Baju ini masih mau di pakai besok," ucapku sambil melihat baju batik sekolah yang aku kenakan.


"Nanti Kak Rega marah kalau beli baju samaan,” kekehnya.


"Ya elah, Kak Rega tidak begitu orangnya kok. Mau aku telepon Kak Rega nih?"


"Tidak usah. Ya sudah, ayo."


Aku menarik tangannya ke tempat yang sering aku kunjungi kalau ingin membeli hoodie. Selain murah, kualitas kainnya di tempat itu juga bagus, belum lagi kalau di pakai, nyaman banget.


"Bagusan warna army atau warna mustard?" tanyaku memegang dua hoodie berbeda warna itu.


"Army sepertinya bagus," jawabnya.


"Ok, ukuran apa?"


"Aku L. Kau XXL," Dia tertawa mengejek.


"Kau pikir tubuhku ini besar sekali? Malahan kau lebih gendut." Aku menatapnya tajam.


"Ayo, ambil celana." Dia mengalihkan pembicaraanku.


Aku kemudian masuk ke ruang ganti baju. Setelah memastikan tidak ada cela untuk mengintai, Aku mulai mengganti pakaianku, rambut yang tadi terikat aku biarkan terurai.


"Lama banget," sambut Devan saat aku baru saja membuka pintu."Widih, couple-an kita."


"Ya maaf. Wait, label harganya belum kau buka?" tanyaku saat melihat kertas putih itu bergantungan di kerah lehernya.


"Biar orang tahu kalau ini baju baru," jawabnya penuh percaya diri.


"Ya sudah," jawabku acuh, berjalan menuju ke kasir.


"Eh, Dellong, bantu buka," teriaknya lalu lari menyusulku.


Setelah melepas label harganya itu, Devan kemudian membayar hoodie-nya dan mengemas baju seragam kami dalam tas kertas yang di berikan sang pemilik toko.


"Mau beli apa lagi," tanyanya.


"Jalan-jalan dulu saja, nanti kalau ada yang menarik, kita beli," ucapku.


Aku dan Devan berjalan mengelilingi Mal itu. Aku tidak melihat sesuatu yang menarik perhatianku sampai saat ini. Penglihatanku lebih tertarik pada tingkah laku pengunjung di sekitarku.


"Dellong, sini bentar." Devan menarik tanganku menuju ke toko aksesoris.


"Mau beli apa?" tanyaku saat kami sudah berada di dalam sana.


"Kalung apa gelang?" tanyanya. "Gelang aja deh," jawabnya tanpa menunggu jawabanku lebih dulu. Dasar. Lantas buat apa bertanya padaku?


"Devan, bagus nih," tunjukku pada gelang berwarna coklat. Gelang dengan perpaduan kayu dan juga kain. Devan melihat sekilas gelang itu lantas mengangguk, dan menyarangkan aku untuk mengambilnya. Itu tentu saja. Aku harus memuaskan diriku berbelanja. Siapa yang peduli pada harga?

__ADS_1


Devan membeli tiga gelang sedangkan aku hanya dua. Aku langsung memakainya di lenganku walau sedikit tertutup dengan baju yang aku kenakan.


Kami kembali berjalan-jalan, mengitari Mal yang ramai pengunjung ini.


"Kamu lapar, enggak?"


"Makan junkfood sama es krim enak nih."


"Kuylah."


Hari ini Devan benar-benar aneh. Dia tidak lagi pelit dan juga begitu penurut. Biasanya dia akan membantahku untuk makan inilah, makan itulah. Sungguh, ini benar-benar aneh. Tetapi apa salahnya menikmati hari ini dulu, anehnya belakangan.


"Makanannya sudah enggak sabar buat disantap nih," ucapku melihat makanan pesanku sudah di sajikan di hadapanku. Ini seperti paket kombo.


"Huaaa, siapa yang peduli sama berat badan saat ini," ucap Devan mulai menyantap makanannya.


×××


"Devan sudah jam 4," ucapku saat melihat jam dinding besar yang terpajang di tembok Mal itu.


"Aku enggak sadar kalau kita sudah keliling tiga jam lebih," ucapnya. Dia kemudian mengecek jam tangannya untuk memastikan bahwa jam besar itu menunjukkan angka yang benar.


"Ayo pulang," ajakku.


"Nanti saja."


Aku menurut, lagi pula Devan sudah minta izin sama ayah, jadi ayah tidak akan marah saat aku pulang terlambat. Hari ini masih panjang sebelum mood Devan berubah atau tidak iblis itu yang keluar dari tubuh Devan.


"Jadi kita ke mana lagi?" tanyaku.


"Aku bosan di Mal terus. Lagi pula sudah tidak ada yang ingin kau beli, bukan? Ke kebun binatang bagaimana?"


"Boleh, tetapi singgah rumah bentar ya, mau taruh belanjaan sebanyak ini,” ucapku sembari mengangkat tas itu. “Lagi pula kita kan lewat depan rumahku."


"Tentu saja," ucapnya.


Kami berdua berjalan menuju ke tempat parkir. Devan kemudian melajukan motor tuanya itu dan menghentikannya depan rumahku.


Aku kemudian berlari, menuju kamarku dan menyimpan barang-barang itu. Ada delapan kantong belanjaan yang aku letakkan di atas kasur begitu saja.


"Ayah, Bunda, Aku pergi lagi," teriakku seraya berlari kembali kepada Devan yang masih duduk dengan santainya di atas motornya itu.


"Ayo berangkat," ucapnya.


×××


"Eh, Cil, kembaranmu tuh," tunjuknya pada kandang yang berada di sebelah kiriku. Aku menoleh dan mendapati seekor gorila yang sedang makan camilan sore ini.


"Bukannya itu malah mirip kau, ya?" tanyaku balik.


"Ayo mendekat," Devan menarik tanganku dan membawaku tepat di depan kandang itu. "Hai gorila, kenalkan, dia Priciliaku. Sangat mirip denganmu, bukan?" teriaknya ke arah gorila itu.


Aku menatap ke arahnya lantas menaboknya pelan dan dia malah balik menatapku tajam sehingga membuat tatapan kami bertemu, beberapa detik kemudian, tertawa.


"Sekarang giliranku." Aku menarik tangannya sambil berlari, menuju ke sebuah kandang yang agak jauh dari sini.


"Kenapa ke kandang harimau?" tanyanya.


"Tunggu bentar," Aku melepas tangannya dan mulai menoleh ke arah harimau yang sedang tertidur itu. "Hai, harimau, kenalkan, dia Devanku. Kalau kau lapar, temui dia saja, tetapi jangan memakannya, karena aku sayang dia," teriakku.


"Kau ini." Devan mengacak rambutku dan beberapa detik setelah aku terbawa suasana, dia langsung menabok kepalaku -membalas kelakuanku tadi- lantas terkekeh pelan.


"Sakit tahu,” keluhku sambil mengusap-usap kepalaku.


"Lebay," acuhnya.


Kami kemudian berkeliling kebun binatang ini sampai ada peringatan untuk pulang karena kebun binatang ini akan di tutup, walau sebentar, aku sudah cukup puas berjalan-jalan di tempat ini.


"Dellong, makan yuk, lapar nih."


“Kita baru saja makan dan kau sudah lapar?”

__ADS_1


“Belum kenyang kalau belum makan nasi.” Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.


"Ada penjual nasi goreng dekat dari sini. Enak kok, aku sering beli di sana."


×××


"Nasi gorengnya benar-benar enak, Del," ucap Devan saat kami berada di atas motor setelah menikmati seporsi nasi goreng.


Malam ini jalanan cukup sepi karena langit baru saja berubah menjadi gelap. Waktu-waktu begini, orang-orang di kota tempatku tinggalku akan lebih memilih untuk tinggal di rumah dan bercengkerama dengan keluarga masing-masing dari pada menghabiskan waktu di luar.


"Kan aku sudah bilang, memang enak. Murah lagi," balasku.


"Kau ini suka banget cari yang murah,"


"Eh? Jangan salah, kalau ada yang murah, kenapa harus yang mahal," kekehku.


Devan kemudian menghentikan motornya di sebuah taman, taman yang sama saat aku menyatakan perasaanku pada Devan, tempat yang sama saat aku merasa sepi di tempat yang ramai waktu itu.


Taman ini mulai ramai, orang-orang mulai berdatangan dengan keluarganya, atau mungkin pacarnya. Walau tidak seramai saat malam minggu, tetap saja tempat ini masih ramai.


Devan berjalan menuju ke sebuah bangku taman yang masih kosong dan duduk dengan santainya, menatap aktivitas yang ada di hadapan kami.


"Kenapa ke sini?" tanyaku.


"Memangnya tidak boleh ke sini?" tanyanya balik.


"Engga apa-apa sih."


Keadaan hening menyelimuti kami. Aku tidak tahu akan memulai topik apa saat melihat Devan yang dengan seriusnya menatap arah di depannya, tidak menoleh sedikit pun. Sepertinya dia sedang melamun.


"Dellong, ayo foto," ucapnya tiba-tiba.


"Tumben banget."


"Coba lu ingat, kapan terakhir kita foto bareng? Yang waktu di pantai itu bukan? Dan kalau di pikir-pikir, kita jarang banget foto bareng."


"Astaga, ya sudah, ayo."


Devan kemudian memegang ponselnya di hadapan kami. Aku mengambil pose dengan memasang wajah yang orang lain sebut 'wajah jelek'. Devan juga melakukan hal yang sama.


"Sekali saja?" tanyaku saat Devan menaruh ponselnya kembali ke sakunya.


"Yang penting sudah. Ayo, aku akan mengantarmu pulang." Devan beranjak dan aku mengikutinya. Tunggu, ke taman cuma buat foto?


Devan kemudian mengantarku pulang. Sesampainya di rumah, Devan juga ikutan masuk ke dalam rumah. Katanya mau ketemu sama ayah dan juga bunda, dia rindu.


Devan menghabiskan waktu kisaran satu jam di rumah ini. Saat dia menyalami tangan ayah dan juga bunda untuk pamit pulang, aku segera ke kamar dan pergi mengambilkan barang belanjaannya tadi. Aku memberikan tas itu sebelum dia keluar dari rumah.


"Antar aku ke depan, Dellong,"


"Eh? Kenapa?" tanyaku.


"Ikut saja," Devan menarik tanganku di hadapan ayah dan bunda. Mereka berdua hanya menatapku acuh. Ayah, Bunda, anakmu ini mau di culik lagi. Ok, ini berlebihan, padahal Devan cuma mau di antar sampai depan rumah.


"Kenapa kau menyuruhku mengantarmu ke sini?" ucapku saat Devan menaruh barang yang tadi aku berikan itu di pinggir motornya.


"Aku boleh minta satu hal?" tanyanya sembari menatap manik mataku.


"Apa?" tanyaku balik.


"Boleh aku memelukmu?”


Aku menatapnya heran, ini benar-benar aneh. Devan sebenarnya sudah sering memelukku, tetapi kali ini rasanya berbeda. Dia biasa memelukku secara spontan, terakhir kali dia memelukku waktu dia lagi bahagianya banget saat di pindahkan ke kelas khusus itu.


"Kau benar-benar aneh hari ini, Devan. Biasanya kau langsung memelukku tanpa meminta izin." Aku memutar bola mataku, malas.


Setelah aku mengucapkan itu, Devan langsung memelukku, membawaku ke dalam dekapannya yang begitu hangat. Aku kemudian membalas pelukan itu, menyandarkan kepalaku di dada bidangnya. Ini membuatku merasa nyaman. Kami berdua terhanyut dalam pelukan yang lama ini.


Beberapa menit kemudian, dilepasnya pelukan itu, lalu memegang bahuku, kembali menatap mataku dengan lekat.


"Terima kasih, Pricilia Adel." Dia tersenyum, lalu naik di atas motornya, melajukannya menjauh dari rumah ini.

__ADS_1


Devanku hari ini benar-benar aneh.


__ADS_2