Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Pertengkaran


__ADS_3

"Dellooooong." Suara khas milik seseorang yang sudah teramat aku kenal itu berteriak di depan rumahku. Aku tidak tahu jika setiap paginya akan ada tetangga yang terbangun dari mimpi indahnya karena teriakan itu. Tetapi untung saja belum ada tetanggaku yang protes sampai detik ini karenanya. Kalau ada, aku tidak akan tahu bagaimana cara mengatasinya.


Aku pamit pada kedua orang yang paling berharga di hidupku dan segera berlari menemui Devan. Aku melihatnya duduk di atas motornya di jalanan depan rumah. Itu berarti dia berteriak dari sana, bukan di halaman rumahku. Kebiasaan.


"Pipimu pasti masih bengkak. Hahaha," tawaku saat melihatnya menggunakan masker hitam polos. "Kalau tambah topi sudah kayak artis yang lagi menyamar," godaku.


"Ngga terlalu tampak kalau enggak di perhatikan, cuma mengantisipasi saja kalau ada yang memperhatikan wajahku yang tampan ini," jawabnya dengan percaya diri. "Tetapi ngomong-ngomong itu ide yang bagus. Kamu punya topi enggak?"


"Ada. Topi cewek, yang warna merah muda. Mau?" tawarku


Dia menggeleng, "Enggak, ah. Ayo naik."


Devan kemudian melajukan motornya menuju ke sekolah lalu memarkirkannya di tempat biasa yang pada akhirnya tetap saja membutuhkan waktu yang sangat-sangat lama hanya untuk memarkirkan satu motor.


"Kau tak rindu padaku?" Lagi-lagi dia merangkulku, berjalan bersama menuju ke kelas yang berbeda.


"Selamat pagi, Hany." Suara Kak Rega yang tiba-tiba saja berada di hadapanku membuat kami menghentikan langkah.


"Hany?" tanya Devan mengerutkan keningnya lantas menatap manik mataku, meminta penjelasan. Ekspresi wajahnya yang datar membuatku takut untuk mengeluarkan suara. Bibir bawahku sudah menjadi sasaran untuk gigiku. Huaaa, aku seperti orang yang tertangkap selingkuh.


"Kami pacaran. Apa salahnya aku memanggilnya dengan kata 'Hany'? Tetapi bukankah Adel sudah memberitahumu?" tanya Kak Rega yang juga balas mengerutkan kening. Bisa kejang-kejang aku berada di situasi mendebarkan ini.


"Pricilia, aku ingin bicara denganmu,” dengus Devan. Aku menatap manik matanya yang malah balik menatapku dengan tatapan seakan aku adalah mangsa yang siap di jadikannya makan malam. Devan lalu melepas rangkulannya kemudian menarik tangan kananku, membawaku ke bangku taman. Dia tidak menanggapi ucapan Kak Rega. Dan lebih parahnya lagi, dia memanggilku dengan sebutan 'Pricilia' yang berarti dia benar-benar serius.


Aku menghela nafas dengan kasar. "Aku sudah mengirimkanmu pesan," ucapku sebelum dia mulai mengoceh panjang lebar.


"Pesan apa?" ketusnya sembari melipat tangannya di depan dada. Oi, apakah aku begitu bersalahnya?


Aku mengambil ponselku dari tas kemudian memperlihatkan pesan yang masih bersimbol jam itu. "Untuk meminta pendapatmu,” gumamku.


"Tapi PESAN ITU NGGAK SAMPAI.”


"KOK LU NGEGASS SIH??" Aku menghembuskan nafas kasar, menghirup udara dengan pelan dan mengumpulkan kesabaran. "Gw enggak punya kuota. Aktifkan hotspot-mu bentar!"


Dia menurut dan mengaktifkan hotspot-nya untukku. Aku segera menyambungkannya dengan ponselku.


"Nah, sudah sampai." Aku memperlihatkan ponselku kembali.


"Sudah basi." Dia memutar bola matanya malas. "Lagi pula, kenapa kau tidak memberitahuku besoknya."


"KEMARIN LU ENGGAK KE SEKOLAH."

__ADS_1


"BISA BESOKNYA LAGII."


"BAKAL BASI." Aku balik menatapnya tajam.


"Apa salahnya menungguku?" Devan menurunkan nada suaranya.


Aku tidak ingin membuat perdebatan ini lebih panjang lagi tanpa hasil. Dan itu membuatku memilih untuk diam. Devan duduk. Mungkin dia sudah lelah berdiri, begitu pula denganku yang juga ikut duduk di sampingnya. Kami berdua kemudian terjebak dalam keheningan sejenak. Aku melirik ke arahnya yang malah berpaling ke arah lain.


"Maaf, aku tanpa sengaja membatasi waktu untuk diriku sendiri." Aku memecah keheningan itu dan menundukkan kepalaku, memperhatikan jemariku yang aku gerakkan asal. "Tetapi apa salahnya aku menjadi pacarnya Kak Rega?" Aku mendongak, menoleh ke arahnya. Ternyata dia juga menoleh ke arahku dan membuat tatapan mata kami saling bertemu.


"Hampir seluruh sekolah ini mengenal Kak Rega. Kau juga pasti sudah tahu itu, bukan? Aku cuma enggak mau terjadi sesuatu yang." Suara bel masuk memotong ucapan Devan sekaligus mengakhiri percakapan pagi itu. Aku menatap punggung Devan yang beranjak meninggalkanku menuju ke kelasnya. Dia bahkan belum menyelesaikan kalimatnya. Dasar, main tinggal saja.


Aku jadi tidak mood mengikuti pelajaran jam ini, tidak peduli jika saat ini adalah mata pelajaran favoritku. Pikiranku malah teringat atas ucapan Devan. Apa dia marah padaku?


Jam istirahat berbunyi. Aku sesegera mungkin untuk ke kelasnya. Aku melihatnya sedang menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya di atas meja. Apa dia sedang tidur?


"Hai, Adel? Kau ingin bertemu Devan," tanya Wildan yang mengagetkanku. Entah dari mana dia datang.


Aku mengangguk. Dia kemudian masuk, membangunkan Devan. Devan mendongak sekilas ke arah Wildan, mengatakan sesuatu, lalu kembali ke posisinya semula.


"Devan bilang dia tidak ingin bertemu denganmu," ujar Wildan di sertai seringai mencurigakan.


Aku langsung masuk ke dalam kelasnya, mengabaikan ucapan Wildan lantas memukul meja -dengan pelan- yang di pakainya tidur. Bahkan kursi yang tak bernyawa pun menjadi sasaranku karena aku tarik begitu saja ke hadapan Devan.


Gigiku kemudian menggigit lengannya sebentar dan menimbulkan bekas di sana. "Apa salahku?"


"Pergilah, Pricilia. Aku sedang tidak ingin bicara.” Dia bangun dan menyandarkan punggungnya di kursi. Aku menatap wajahnya sekilas, dia seperti tidak punya semangat untuk hidup. Wajahnya terlihat begitu sendu, lebih sendu dari orang yang baru saja diputuskan sama pacarnya.


"Aku tidak akan pergi, ck,” decakku keras kepala.


"Kalau begitu tunggu saja sampai bel masuk berbunyi." Dia kembali menenggelamkan wajahnya, berusaha mengabaikanku.


Aku memegang kepala Devan kemudian mengacak-acak rambutnya pelan. "Hai Syaiton, keluarlah engkau dari tubuh sahabatku."


Devan tiba-tiba saja menahan tanganku, menjauhkan dari kepalanya. "Ini enggak lucu, Pricilia."


Aku berdiri, beranjak keluar kelas setelah mengembalikan kursi yang tadinya aku duduki ke tempatnya semula. Aku berjalan dengan malasnya kembali ke kelas. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.


"Adel.” Panggilan Kak Rega membuatku menghentikan langkah. "Kau kenapa?" tanyanya.


"Aku sepertinya juga butuh waktu sendiri, Kak."

__ADS_1


"Tenang saja. Semua akan baik-baik," ucap Kak Rega menyemangatiku kemudian pergi meninggalkanku tanpa ingin tahu lebih lanjut apa masalahku. Aku suka dengan sifat Kak Rega yang satu ini.


×××


"Devan, nanti singgah perpustakaan, ya,” sahutku saat aku melihatnya berjalan di hadapanku, menuju ke tempat parkir.


Dia mengabaikanku, meninggalkanku, seakan-akan aku adalah batu yang tidak bersua. Aku mengamatinya dari jauh saat dia naik ke motornya dan melajukannya melewati gerbang sekolah tanpa menoleh ke arahku sedikit pun. Aku tertunduk, rasanya begitu menyakitkan melihat sikap dinginnya seperti itu.


Aku menunduk lantas menggigit bibir bawahku, mataku memanas. Ingin sekali rasanya menangis sekeras-kerasnya. Tetapi aku tidak bisa melakukan itu di tempat ini. Huaaa, penglihatanku memburam karena air mata yang aku bendung itu. Aku lalu mengelap mataku pelan.


Suara klakson membuatku mendongak, rupanya itu Kak Rega. Dia kemudian menyuruhku naik lalu melajukan mobilnya. Hening, kata itu yang menggambarkan keadaan sekarang di dalam mobil. Aku tidak ingin berbicara dan Kak Rega juga fokus pada jalan di depannya.


"Kau tidak apa-apa?" tanyanya memecah keheningan itu.


"Aku berbohong kalau aku mengatakan tidak apa-apa," lirihku, menatap keluar jendela, enggan menoleh dari mana sumber suara yang tengah memulai pembicaraan itu. Lagi pula, dia pasti fokus pada jalan di depannya.


"Kau mau cerita?" tanyanya.


Aku menghela nafas kasar, menatap langit yang begitu cerah, tetapi tidak secerah hatiku.. "Devan marah, Kak. Mungkin saja karena aku jadian dengan Kakak tanpa memberitahunya." Aku menoleh ke arah Kak Rega, mengamati setiap detail wajahnya dari samping.


“Jadi Devan belum tahu?” Kak Rega tampak terkejut.


“Sebelumnya iya,” lirihku.


"Maafkan aku, Del. Andai aku tahu, aku tidak akan memanggilmu dengan kata ‘hany’ pagi tadi.” Kak Rega menatapku sekilas. “Aku siap putus jika Devan tidak merestui hubungan ini." Ucapan Kak Rega membuatku terkejut.


"Kenapa Kakak begitu mudahnya menyerah? Kenapa Kakak begitu pesimis? Apa Kakak hanya main-main denganku? Akh." Jujur saja, aku masih bocah remaja yang belum bisa mengendalikan emosiku sendiri.


"Eh? Bukan begitu maksudku. Kalau di suruh memilih, kebanyakan wanita akan memilih orang yang lebih berharga baginya, bukan?” Kak Rega menatap sekilas ke arahku dan memperlihatkanku sebuah senyuman. “Tetapi aku akan berusaha untuk meminta persetujuan Devan. Tenang saja, semua akan baik-baik saja besok,” ucapnya dengan penuh keyakinan dan juga mencoba meyakinkanku.


×××


"Beberapa hari terakhir ini Devan kenapa tidak ke rumah?" tanya bunda yang saat ini duduk di depan TV. Sedangkan aku sedang duduk di kursi santai sembari membaca buku.


"Mungkin saja dia sibuk, Bun," jawabku sembari melihat sekilas ke arah bunda.


"Dasar kalian ini. Dikit-dikit bertengkar, dikit-dikit akur," sahut Ayah yang tiba-tiba saja duduk di samping bunda.


"Persahabatan kalian itu bagus banget, Cil. Kalian sering bertengkar karena kalian percaya bahwa kalian akan kembali berbaikan. Lihat saja, kalian tidak bisa marahan lebih dari tiga hari. Palingan besok kalian akur lagi,” kekeh ayah yang menatapku lekat.


Aku menutup bukuku dan mulai memproses ucapan ayah. Aku baru sadar bahwa ternyata apa yang di katakan ayah memang benar. Aku dan Devan tidak pernah saling mendiami lebih dari tiga hari.

__ADS_1


Aku menghela nafas lega. Tunggu saja besok, aku akan mengikuti bagaimana alur akan membawaku untuk kembali berbaikan dengannya.


Hmm, bagaimana cara kerja semesta?


__ADS_2