Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Terjadi lagi.


__ADS_3

Berbulan-bulan telah aku lalui tanpa Devan. Walau pada awalnya terasa berat karena ada kebiasaan yang harus di ubah, tetapi saat aku berhasil mengubah kebiasaan itu, semuanya menjadi baik-baik saja.


"Bagaimana ujiannya, Kak?" tanyaku kepada Kak Rega.


Hari ini hari terakhir Kak Rega ujian, yang artinya hanya tinggal menunggu kelulusan SMA dan itu juga berarti bahwa hari senin kami sudah kembali bersekolah. Saat pulang dari sekolah, Kak Rega langsung singgah di rumahku.


"Baik," jawab Kak Rega. "Bagaimana harimu, Adel?"


Kami berdua sedang berada di ruang tamu di temani dengan minuman dingin yang sudah aku suguhkan di depan Kak Rega. Ini kedua kalinya Kak Rega masuk ke rumah sejak kami pacaran setelah 6 bulan lamanya.


"Biasa aja, Kak," jujurku.


"Orangtuamu mana?" tanya Kak Rega.


"Tunggu, kak, aku belum siap di lamar," candaku.


"Kau ini." Kak Rega terkekeh.


"Mereka ada di dalam, Kak, mau aku panggilkan?"


"Tidak perlu. Sampaikan saja salamku. Aku pulang dulu ya, Sayang."


"Bukankah Kakak baru saja datang? Kenapa pulang begitu cepat?"


"Rinduku padamu sudah terbayarkan," ucap Kak Rega terkekeh kemudian melangkah keluar.


Aku kemudian membereskan bekas minuman di atas meja dan membawanya ke dapur. Aku lalu kembali, berjalan ke arah kamarku.


"Cie, ada yang baru di gombal, nih," goda ayah sebelum aku memutar knop pintuku.


"Apa sih, Yah? Oh ya, Kak Rega nitip salam," acuhku lalu berjalan masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, bersiap untuk tidur siang yang telah menjadi rutinitas.


***


Karena perjuangan Kak Rega di SMA telah usai maka mereka di liburkan. Aku kembali seperti sendiri di sekolah ini. Hubunganku dengan teman kelasku baik, hanya saja aku tidak terlalu akrab dengan mereka. Bulan-bulan kesendirianku akan segera tiba. Tetapi aku percaya akan punya teman yang akrab denganku.


Aku sedang berdiri di gerbang, menunggu mobil taksi lewat. Aku merogoh tasku saat mendengar ponselku berbunyi karena ada telepon yang masuk.


"Kak Rega?" Aku menyeritkan keningku, bingung. Aku lalu menekan tombol hijau itu dan mendekatkan ponselku ke dekat telinga.


"Sedang menunggu taksi ya, sayang?"

__ADS_1


"Dari mana Kakak tahu? "


"Aku ada di sini, memandangimu dari kejauhan. "


Ucapan Kak Rega membuatku menoleh ke sana ke mari, mencari keberadaannya, tetapi aku tak menemukannya.


"Awas lehermu pegal karena mencariku."


"Kak Rega di mana?"


"Tunggu, 10 detik aku ada dihadapanmu."


Aku mulai berhitung di dalam hati, 3, 2, 1.


"Selamat siang, sayang," sapanya yang sudah berada di hadapanku dengan mobilnya yang berwarna putih itu


"Kenapa kakak datang ke sini?" tanyaku.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Ayo naik."


Saat aku telah naik ke dalam mobil, Kak Rega melajukannya, membela padatnya jalanan di kota ini dan menghentikannya di depan sebuah Kafe.


Aku berjalan, mengekor Kak Rega dan akhirnya duduk di sebuah kursi, lalu memesan es krim. 8 menit kemudian, es krim dengan rasa vanila favoritku itu sudah tersaji di hadapanku.


Kak Rega tidak menjawabku, melainkan merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah surat. Di letakkannya surat itu di atas meja dan mendorongnya dengan pelan ke arahku.


"Surat apa itu, Kak?"


"Kau tidak akan tahu sampai kau membacanya, Sayang," ucapnya dengan senyuman hangat.


Aku meraih surat itu dan membacanya. Itu adalah surat resmi karena ada nomor di sana. Setidaknya aku bisa memahami isinya walau surat itu berbahasa inggris.


"Kenapa kau tiba-tiba cemberut?"


"Ini benar, Kak?" lirihku.


"Ya, siapa yang akan menolak kesempatan itu, Adel."


"Selamat kak." Aku memaksakan senyumku.


"Ada apa, Del? Kau seperti tidak senang akan hal ini."

__ADS_1


"Dengan begjtu, bukankah Kakak juga akan pergi? Dan kita akan berpisah?"


"Kita tidak putus, kan?" tanya Kak Rega, menatap langsung ke manik mataku.


"Akan lebih baik bagiku jika sebaliknya," lirihku sendu, kemudian menunduk untuk menghindari tatapannya itu.


"Tetapi kita bisa LDR, Adel."


Aku terdiam, mencoba merangkai kata dalam pemikiranku. "Aku bukan tipe orang yang bisa bertahan dalam hubungan LDR, kak. Jika begitu, bukankah putus adalah jalan yang terbaik daripada menaruh harap kapan kita akan bertemu dalam ketidakpastian." Aku menatap manik mata Kak Rega lekat.


"Baiklah." Kak Rega tampak menghela nafasnya kasar.


"Jika kita memang di takdirkan untuk bersama. Aku yakin kita akan bertemu lagi, Kak." Aku tersenyum, lantas memegang tangannya yang berada di atas meja itu.


"Adel." Kak Rega mengambil kedua tanganku lalu mengenggamnya erat. Dia juga menatap manik manik mataku. "Terima kasih untuk 8 Bulan kebersamaan kita. Terima kasih telah menjadi alasanku untuk bangkit. Terima kasih karena telah mengajariku arti cinta. Dan Maaf karena aku tidak tahu cara membahagiakanmu."


"Siapa bilang kakak tidak memberiku bahagia? Aku bahagia dengan kehadiran, kakak. Terima kasih juga untuk 8 bulan itu, Kak."


"Dan Adel, aku harus memberitahu sesuatu untuk melepas sebuah tanggung jawab."


"Tanggung jawab apa, Kak?" Aku menatapnya, meminta jawaban.


Kak Rega terdiam beberapa detik. "Sebelum Devan terbang ke Amerika, di sekolah hari itu. Dia memintaku untuk menjagamu saat dia pergi dan juha dia tidak ingin aku membuatmu menangis. Maka aku mohon, jangan menangis."


"Tentu saja, Kak. Aku tidak akan menangis."


Kami kemudian terjebak dalam diam, beberapa menit, aku lalu membuka genggaman tangan itu. "Aku harus pulang, Kak." Aku beranjak dari kursiku.


"Aku akan mengantarmu pulang."


"Tidak usah, Kak. Aku mau singgah beli buku." Aku tersenyum lantas berjalan meninggalkan cafe ini.


Aku kemudian menghentikan taksi, menunjukkan alamat rumahku, naik dan uduk dengan kalemnya.


Aku menatap jalan dari kaca mobil ini. Air mataku kembali menetes, membasahi pipiku. Maafkan aku ,kak, Aku rasa aku telah menginkari ucapanku sendiri.Pricilia Adel yang sudah bisa bersikap sok tegar di hadapan Kak Rega melemah sekarang ini. Tetapi aku tidak boleh kembali seperti dulu, aku sekarang punya tujuan hidup yang harus aku kejar.


"Hei? Kau menangis lagi? Kau tebak ini sudah berapa kalinya," ucap supir taksi itu.


"Diamlah, aku sedang tidak mood sekarang."


"Aku pikir kau akan mengacuhkanku lagi," kekehnya

__ADS_1


Kak Rega, pacarku, maksudku mantan pacarku itu di terima di Institut Teknologi Massachusetts, Cambridge, Amerika. Sangat jauh bukan? Aku turut bahagia dengan di terimanya dia di sana. Hanya saja, aku sedih karena harus berpisah dengannya.


Tetapi percayalah, kak, Aku akan berusaha untuk bisa kuliah di sana agar kita bisa bertemu. Aku akan benar-benar memperjuangkan itu.


__ADS_2