Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Kasih Sayang Sepenuhnya


__ADS_3

Sore di hari sabtu, semuanya serba sibuk menyiapkan perlengkapan masing-masing. Ayah mengajak kami untuk pergi camping di bukit yang jaraknya kurang lebih 50 km dari rumah. It's q-time. Hanya kami bertiga : aku, ayah dan bunda.


"Semua sudah siap? tidak ada yang tertinggalkan?" tanya ayah saat selesai mengatur semua barang di dalam bagasi mobil yang terbilang agak kecil.


Perjalanan itu benar-benar jauh bagiku, di jalan kami benyanyi, bercerita dan juga melakukan hal-hal lainnya yang begitu menyenangkan sampai ayah menghentikan mobil di tempat yang begitu indah.


Di atas bukit ini, kita dapat melihat bangunan tinggi di kota dengan samar-samar. Benar-benar jauh dari pusat kota. Udaranya bersih dan juga sejuk, tanahnya lapang dan memang cocok untuk berkemah walau ada beberapa pohon yang tumbuh di tengah-tengahnya. k


"Cil, bantu ayah ngeluarin barang-barang dari mobil," ucap ayah setelah mencari lokasi yang tepat untuk membangun tenda.


"Hua, ini apa yah? Berat sekali," keluhku sambil membawa kardus yang memiliki besar kisaran 40x50 cm. Lupakan soal itu, kardus ini benar-benar berat.


"Mau ayah bantu?"


"I can do it my self, dad."


"Alright."


Aku meletakkan kardus itu di samping Bunda yang sedang sibuk membangun tendanya. Terlihat jelas Bunda sedang berpikir, memegang dagunya kemudian memegang tenda, begitu seterusnya sampai tenda itu benar-benar berdiri dengan kokohnya.


"Yeay, sudah." Aku segera berlari dan membaringkan diriku di tenda, lelah, padahal hanya sedikit barang dan nyatanya aku sudah begitu lelah. "Kita punya agenda apa malam ini, Bunda?"


"Cila, sini." Suara berat ayah membuatku segera bangun dan berlari menyusulnya tanpa menunggu pertanyaanku di jawab oleh Bunda. Di tempat aku berdiri, di belakang ayah, membuatku mematung. Kami menghadap ke arah barat dan menyaksikan indahnya matahari tenggelam yang biasa orang sebut dengan kata senja. Sangat indah, sungguh. Aku dibuat takjub karenanya. Aku berjalan perlahan menuju ke samping ayah dan duduk hanya beralaskan rerumputan.


"Ayah suka sekali dengan senja, rasanya senang saja melihat goresan-goresan merah di langit, belum lagi kalau ada warna ungu di sana. Bahkan lewat perpaduan cahayanya, bisa mengambarkan kasih sayang." Ayah berbicara dengan puitisnya, sedangkan aku malah menyeritkan keningku, bingung. "Matahari sudah tenggelam, ayo masuk tenda, kita shalat dulu." Ayah beranjak dari tempatnya.


***


"Oh, cacing dalam perutku mulai demo meminta makanan," ucapku alay sambil memegang perutku yang dari tadi bersuara itu.


Ayah menatapku kemudian mengacak-acak rambut yang sudah aku tata itu. Aku menatanya seperti gadis kebanyakan, disanggul. Mungkin bagi beberapa orang, gaya itu hanyalah gaya abal-abal tetapi aku suka menata rambutku seperti itu, aku merasa diriku benar-benar gadis yang mulai beranjak dewasa.

__ADS_1


"Ayo, kita bikin ayam bakar BBQ," teriak bunda dengan semangatnya. "Cil, ambilin kardus yang kamu bawa tadi, kita bakar ayamnya di bawah sinar rembulan."


Aku tak pernah menyangka akan melihat ratusan bintang malam ini. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali melihat bintang karena polusi udara di kota menghalangi cahaya bintang-bintang itu.


Bunda mulai membakar ayamnya sedangkan aku dan ayah menyusun kayu bakar untuk di jadikan sebagai api unggun. Setelah apinya menyala, aku dan ayah menyibukkan diri dengan main catur. Lihat, gajah ayah memakan bentengku. "Makanya lain kali teliti dong," ucap ayah dengan nada antara memberi nasehat atau malah mengejekku.


"Skakmat." Aku tertawa. " Sekarang siapa yang harus lebih teliti?" ucapku yang jelas-jelas menyindir ayah tetapi ayah malah mengacuhkanku.


Bau ayam buatan Bunda mulai tercium oleh indra penciumanku, membuat cacing di perutku makin berkobar dalam melakukan demonya untuk meminta makanan.


"Selamat makan." Aku mulai melahap makanan yang ada di depanku seperti belum makan beberapa minggu terakhir ini.


"Cil, kau cewek."


"Yaelah ayah, aku kalem loh di depan teman-temanku," ucapku acuh kemudian melanjutkan makanku.


Aku merapikan piring anyaman rotan bekas makan kami kemudian ikut bergabung dengan mereka di depan api unggun.


"Lagu Ebiet G Ade, Yah. Yang judul lagunya Berita kepada kawan."


"Elleh, kau tidak bosan? Setiap malam lagu itu kau putar di kamarmu, abis itu kau gelar konser yang penontonnya cuma para boneka." Ayah terkekeh.


"Eh? dari mana ayah tau?" Aku memasang wajah terkejut kemudian beralih ke tatapan sinis.


Ayah malah mengabaikanku dan kembali fokus pada gitarnya. Petikan gitar ayah mulai menciptakan nada dengan irama seperti lagu aslinya dan aku mulai mengikuti irama petikan gitar itu, bernyanyi tanpa peduli betapa jeleknya suaraku.


"Astaga, apinya padam," keluhku sambil mencoba kembali untuk menyalakan api itu dengan kipas yang tadi bunda gunakan untuk membakar ayam.


"Lupakan saja itu. Ayo tidur di bawah bintang," ajak Bunda.


Aku membaringkan diriku di tengah-tengah mereka, menatap ke langit malam yang dipenuhi dengan bintang dan pantulan cahaya bulan yang menembus atmosfer bumi.

__ADS_1


"Andai saja Devan ikut," ucap Ayah tiba-tiba. Aku menoleh ke arah ayah yang masih tetap menatap bintang di langit.


"Memangnya kenapa kalau dia ikut, Yah?"


"Ya pasti makin seru aja, ayah sudah anggap Devan seperti anak ayah sendiri. Orangnya baik, pintar, belum lagi ketampanannya hampir melampaui ketampanan ayahmu ini." Ayah terkekeh pelan.


"Cih, baik? Devan itu orangnya nyebelin banget, ayah." Aku berdecak kesal, jelas-jelas Devan selalu saja bisa memancing emosiku.


"Bunda malah setuju sama Ayah," dukung Bunda.


"Lupakan soal Devan, Ayah dan Bunda paling suka sama rasi bintang yang mana?"


"Cassiopedia, ayah suka sama rasi bintang itu karena bentuknya cantik."


"Cantikan mana dibanding Bunda?" tanya Bunda tiba-tiba yang membuat ayah terbatuk.


"Cantikan Bundanya Pricilia lah." Ayah menjawab dengan santainya di sertai nada gombalan.


Aku menatap Bunda yang tersipu malu sehingga membuatnya bangun untuk menyembunyikan semburat merah di pipinya. Bundaku yang begitu manis.


"Kalau kau, Cil? Suka rasi bintang yang mana?" tanya Ayah.


"Yang apa lagi namanya tuh, Yah? Yang awalannya O itu? Ah ya, orion."


"Eleh, suka tapi namanya lupa," ejek Ayah. "Kenapa suka yang itu?"


"Entahlah, ayah, suka aja dengar namanya."


"Kau mau ayah ceritakan tentang kisahnya?"


Tetesan air menerpa pipiku disaat aku mulai bersiap untuk mendengarkan cerita Ayah. "Hujan." Ayah yang tiba-tiba bangun membuatku refleks mengikuti gerakannya, menggulung tikar dan berlari menuju tenda.

__ADS_1


Hujan selalu saja membuatku merasa damai.


__ADS_2