
Aku benar-benar berada di rumah. Aku telah melewati 4 hari yang menurutku hanya sia-sia saja. Aku belum tahu bagaimana cara mengikhlaskan Devan, terlebih lagi aku belum mampu berdamai dengan hati dan pikiranku. Kata ayah, jika aku sudah mampu berdamai dengan kedua hal itu, maka semuanya akan menjadi baik-baik saja. Tetapi nyatanya, melakukan itu benar-benar membutuhkan perjuangan.
Ponselku berdering dan aku mengabaikannya. Tetapi semakin aku abaikan, ponsel itu malah tidak berhenti berdering.
Aku menekan tombol hijau kemudian mendekatkan ponsel itu tanpa melihat siapa yang memanggil.
"Dellong?" Suara itu terdengar dari dalam ponsel yang aku pegang ini. "Apa kau baik-baik saja?"
"Devan." Aku menghembuskan nafasku dengan begitu sendu.
"Woi, ada apa denganmu? Aku mendapat telepon dari Kak Rega, dia menceritakan tentang keadaanmu di sana. Dari semua yang di katakan Kak Rega, kau terdengar begitu menyedihkan."
Aku diam, enggan untuk berbicara.
"Dellong, kenapa kau diam saja?"
Devan kemudian mengalihkan panggilan itu ke panggilan video, tetapi aku tidak mengankatnya.
"Dellong?"
"Kau jahat, Devan. Kau meninggalkanku. Kenapa kau tidak memberitahu bahwa kau akan pergi sehingga aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak lagi denganmu," lirihku
"Maafkan aku." Suara Devan tiba-tiba saja terdengar serak.
"Kenapa kau tidak menghubungiku?"
"Dellong, di negara ini, aku tinggal di desa, jauh dari hiruk piruk kota. Jaringan di sana benar-benar buruk. Aku harus menempuh jalan 70 km untuk sampai ke kota," jelasnya. "Tetapi aku tidak bisa ke kota, setiap pagi, aku harus membantu kakek mengurus ternaknya, siang hari aku harus merawat nenek, dan saat malam tiba, aku harus menimbah air."
"Kau benar-benar susah di sana," lirihku.
"Well. Kau tahu, Del? terkadang aku merindukanmu. Oh ya, aku sedang di kota sekarang. Daddy ada punya keperluan penting. Saat aku melihat ada begitu banyak panggilan masuk dari Kak Rega, aku langsung menghubunginya, kemudian menghubungimu."
Aku kembali diam, ada banyak hal yang ingin aku sampaikan kepada Devan tetapi tertahan di dalam mulutku.
"Oh ya, Daddy sudah mau pulang. Tetapi Dellong, kamu kembalilah ke Dellong yang ceria, bawel, dan nyebelin. Jangan bersikap seperti itu. Nanti kalau aku sukses, aku akan kembali ke Indonesia, memelukmu untuk memecahkan tabungan rindu yang pasti akan menumpuk."
__ADS_1
Sambungan telepon itu terputus. Aku menghempaskan tubuhku di kasur. Menatap kosong ke arah langit-langit kamar lalu terlelep dalam mimpi buruk.
***
"Cil, ayo bangun, sudah jam 10." Bunda menepuk-nepuk lenganku.
Aku kemudian membuka mata, menatap bunda tanpa bersuara. Ini hari kelima sejak Pak Romi memutuskan untuk menulis namaku dalam catatan izin untuk pemulihan.
"Ayo sarapan, Cil. Bunda sudah masak makanan favoritmu." Aku bangun dari tidurku, berjalan mengekori bunda ke meja makan.
Aktifitasku setelah makan hanya nonton TV sampai waktu makan siang, kemudian nonton TV lagi sampai waktu makan malam lalu kembali ke kamar. Hanya itu, benar-benar hari yang membosankan yang berulang-ulang selama 5 hari terakhir ini.
Aku meraih kamera yang berada di atas rak samping meja belajarku. Aku mulai melihat foto-foto yang ada di sana. Beberapa foto ayah yang terlihat begitu beribawah, foto bunda yang selalu meneduhkan, foto Devan yang tertawa bahagia dan juga fotoku yang begitu bahagia.
Aku menemukan video yang aku rekam waktu di dapur bersama ayah. Aku dan ayah terlihat begitu bahagia. Aku mulai merasa bahwa kebahagiaan di rumah ini berkurang karena sifatku inim
Aku meletakkan kamera itu, berjalan menatap ke luar jendela. Aku mulai berpikir bahwa dengan diriku seperti ini apa aku bisa mengubah kenyataan kalau Devan tidak ada lagi di sisiku. Tetapi bukankah Devan masih ada di hati dan pikiranku. Devan sendiri yang menyuruhku untuk tetap semangat, lantas kenapa aku masih dalam keadaan seperti ini?
***
Hari ke enam, aku mulai berbicara kepada ayah dan bunda, mencoba menjadi Pricilia Adel yang cerewet walau dengan nada suaraku yang masih terdengar sendu. Aku melihat wajah ayah yang berbinar-binar dan wajah bunda yang meneteskan air mata bahagai.
***
Hari ke tujuh, rasanya badanku mulai kaku. Aku harus kembali ke Pricilia Adel yang banyak tingkah saat di rumah, yang seperti tidak punya lelah untuk bergerak.
***
Hari ke delapan, saat aku harus kembali bersekolah.
"Selamat pagi, Ayah, Bunda," ucapku bersemangat lalu mencium pipi ayah dan juga Bunda.
"Cil?" ucap ayah dan bunda dengan wajah keheranan.
"Ada apa? Ayo sarapan, abis itu kita berangkat ke sekolah, ayah."
__ADS_1
Setelah makan, ayah mengantarku ke sekolah. Aku menyalami tangan ayah, turun dari mobil dan melambaikan tanganku saat ayah melajukan mobilnya.
Aku berjalan dengan semangatnya. Hari ini mata pelajaran fisika. Aku menyimak, merasakan diriku telah kembali seperti semula. Aku bahkan menjadi lebih aktif di kelas.
Bel istirahat berbunyi, aku sibuk mengerjakan tugas fisika yang baru saja di berikan.
"Adel?" Panggilan itu membuatku menoleh, melihat Kak Rega yang sedang menyeritkan kening.
"Ada apa, Kak?" jawabku.
Kak Rega kemudian menghampiriku dan duduk menopang dagu di hadapanku lantas menatapku dengan penuh senyuman
"Kak? Kenapa kakak menatapku seperti itu?" Aku tertawa kecil sambil mengankat satu alisku.
"Pacar aku cantik."
"Apasih, Kak? receh banget." Aku tidak tahu, tetapi gombalan itu membuatku tersenyum malu sehingga mengalihkan penglihatanku darinya.
"Lagi ngerjain apa? Mau aku bantu?" tawarnya.
"Terima kasih, Kak atas tawarannya. Aku akan berusaha mengerjakannya sendiri."
"Sip, Sayang. Mau ke kantin?"
"Ayo, Sayang," ucapku pelan lalu berdiri dari kursiku.
"Tunggu, tunggu. Kau bilang apa tadi?" Kak Rega memegang lenganku, menatapku dengan tatapan introgasi tetapi di sertai senyuman tipis.
"Aku tidak bilang apa-apa, Kak," ucapku polos.
"Ada. Aku rasa aku tidak salah dengar."
"Tidak ada, Kak," elakku. "Ayo ke kantin, Kak. Perutku sudah bunyi dari tadi dan kayaknya bentar lagi masuk," bujukku setelah melihat jam di pergelangan tangaku.
Aku jelas-jelas tahu bahwa Kak Rega mendengar suaraku itu, hanya saja dia ingin menggodaku dan menyuruhku untuk mengulang itu. Untung saja Kak Rega mengangguk dan tidak menuntutku lagi untuk menyebut kata itu.
__ADS_1
Aku sadar, tidak selamanya aku harus meratapi kesedihanku karena di tinggal Devan. Tidak seharusnya aku bertingkah seperti ini. Hidup masih terus berjalan tanpa peduli apa yang sedang terjadi pada kita. Tetapi aku akan selalu menyimpan Devan di dalam hatiku sampai Devan datang dan memecah tabungan rindu itu.
Aku akan selalu menunggumu, Devan.