Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Protes


__ADS_3

Setelah menghabiskan hari-hari penuh kebahagiaan bersama Devan kemarin, hari ini dia tidak lagi datang ke kelasku di jam istirahat apalagi menjemputku pagi tadi. Apa sakit giginya kambuh lagi. Huft, aku beranjak dari kursiku dan berjalan menuju ke kelasnya demi memuaskan hasrat penasaranku ke mana perginya orang itu. Btw, ponselku mati karena aku lupa men-charger-nya malam tadi.


Aku tidak melihat batang hidung orang yang aku cari itu dari jendela. Setelah mengetuk pintu dan membuat semua perhatian orang dalam kelas itu mengarah kepadaku, aku melangkahkan kakiku ke dalam ruang kelas itu, menghampiri Gergia yang tadinya sedang berbicara dengan temannya.


"Devan mana, Gi?" tanyaku.


"Kenapa kau tidak tanya saja sama pacarmu itu?" ucap Gergia judes.


Apa Gergia juga ikut-ikutan berubah aneh? Apa ada virus yang menyebar dan menginfeksi Devan lebih dulu kemudian Gergia? Apa virus itu mengubah tubuh inangnya menjadi aneh? Ah, entah. Tetapi bagaimana kalau itu benar?


"Mana mungkin Kak Rega tahu Devan di mana," ucapku.


"Lalu kenapa kau menanyakan ini kepadaku? CK." Gergia memutar bola matanya, seperti malas menghadapiku saat ini.


"Kau teman sekelasnya, bukan?" tanyaku lagi.


"Lantas?"


"Wait, kamu bukan seperti Gergia yang aku kenal. Apa kau baik-baik saja?”


"Enggak usah sok asyik lu." Gergia mendorong satu bahuku. "Ya kali gw bersikap seperti ini di depan Devan, dan apa kau pikir aku benar-benar menyerah untuk merebut Devan dari kamu? Begitu? Jangan mimpi, bentar lagi Devan bakal jadi milik gw." Dia tertawa, walau tidak mirip dengan tawa para kartun jahat.


"Berarti yang di Kafe itu cuma sandiwaranya kamu doang?" tanyaku pelan sembari berpikir. Huaaa, kisah ini mulai mengarah ke drama sinetron.


"Nah paham." Gergia melipat kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Tetapi kenapa kamu melakukan ini, Gergia?"


Gergia tidak menjawab, melainkan menarik tanganku ke halaman belakang sekolah, sepertinya dia tidak ingin menarik perhatian banyak orang. Dan benar, hanya kami berdua di sini. Suara daun-daun berjatuhan karena angin pun mulai terdengar mencengkam bagiku saat ini.


"Aku jelaskan baik-baik padamu ya, Pricilia Adel. Jadi, alasan gw pindah ke sekolah ini karena gw baru tahu ternyata Devan sekolah di sini, dan kenyataan buruknya, kalian tetap bersama." Gergia diam sejenak, mungkin otaknya sedang beradu untuk menyusun kalimat. "Yah, well, aku dapat berita baik lagi, Devan sekelas denganku. Semua baik-baik saja saat hari pertama aku dengannya, tetapi Devan mulai mencemaskanmu besoknya,” lanjutnya tetapi berusaha untuk menghindari tatapanku.


"Tetapi bukankah ka."


"Jangan potong pembicaraanku." Dia lagi-lagi memutar bola matanya. Tetapi bukankah dia yang memotong ucapanku? Oke, aku harus diam dan menyimak juga mengalah.


"Maaf," lirihku.


"Dan kau tahu betapa senangnya aku saat menerima pesan dari Devan yang mengajakku ke kafe hari itu lewat chat? Aku baru saja sampai di rumah. Saat melihat chat itu aku langsung otw. Aku pikir aku akan menghabiskan waktu soreku dengan Devan, kencan romantis sambil menikmati cerahnya langit, tetapi nyatanya enggak." Intonasi suara Gergia berubah menjadi lebih kasar dan juga naik. "Aku benar-benar benci kau, Adel,” lanjutnya menatap manik mataku, tajam sehingga membuatku tanpa sengaja melangkah mundur.


"Hai, Kau bertanya dengan polosnya? Salahmu itu karena Devan suka sama lo."


"Wait, wait, wait, apa salahnya jika dia suka sama aku. Dia sahabatku," jawabku.


"Adel, Adel. Kamu sudah besar tetapi pemikiranmu masih sempit. Kau sangat berbeda dengan Adel saat di kelas" Gergia diam, begitu pula denganku yang berusaha mencerna perkataannya.


"Begini ya, Del. Kau memang tidak peka." Dia menghela nafasnya kasar. "Melihat dari cara Devan memandangmu, bagaimana pedulinya dia, dan juga perhatian yang dia terus berikan kepadamu, apa itu tidak cukup menjelaskan semuanya?"


"Menjelaskan apa?" tanyaku. Aku benar-benar tidak paham sama semua ini.


"ADEL" Gergia menyebut namaku dengan penuh penekanan di setiap hurufnya sembari menghela nafasnya kasar, dia sepertinya benar-benar marah padaku. "Devan suka sama lo, suka seperti yang kamu katakan waktu itu kepadanya di taman hari itu. Aku ada di sana, melihat kalian berdua. Menyaksikan bagaimana setetes air mata turun dari matanya saat kau pulang hari itu. Dan jujur saja, itu alasan utamaku pindah ke sini, untuk merebut Devan lagi saat hubungan kalian akan renggang."

__ADS_1


Gergia berjalan dan duduk di atas sebuah papan kayu, mulai untuk bercerita dengan suara sendu. "Saat aku masuk ke sekolah ini, aku heran, kenapa kau dekat dengan pria lain. Apa kalian marahan? Aku sempat berpikir bahwa jarak itu benar-benar tercipta di antara kalian karena hari itu. Aku juga sempat menanyakan pada Devan siapa pria yang bersamamu. Dan kau tahu apa jawabannya? 'Pacarnya' Hanya satu kata itu yang dia ucapkan dengan wajah datar."


"Bukankah aku pernah bilang padamu, Del, waktu kita masih SD dulu." Intonasi Gergia berubah menjadi begitu lembut dari sebelumnya, seperti seorang nenek yang bercerita pada cucunya. "Aku berhenti untuk mengejar Devan. Dan yang aku ucapkan itu benar-benar aku lakukan sampai aku melihatmu di taman. Dan obsesiku malah bertambah saat aku tahu kamu punya pacar. Aku memang masih menyukai Devan dan aku membiarkannya untuk bersamamu waktu itu. Tetapi lihat yang kau lakukan?" Dia menunjukku dan menatapku dengan tatapan tajam, suaranya kembali meninggi.


Bel masuk berbunyi tetapi Gergia masih diam di tempatnya, tidak bergerak dan juga tidak berbicara, begitu pula denganku, berdiri mematung yang masih ingin mendengar semua penjelasan tentang Devan.


"Apa ini salahku? Aku sudah menembaknya lebih dulu," tanyaku memulai membuka kembali keheningan itu.


"Adel, Adel, kesalahan keduamu karena kamu tidak pernah mengerti tentang apa itu perasaan. Aku jadi kasihan sama pacarmu itu. Kau menjadikannya seperti pelampiasan karena kau di tolak Devan." Gergia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan di sampingku. Aku menahan tangannya, membuatnya menghentikan langkah dan menoleh ke arahku.


"Aku punya satu pertanyaan," lirihku. "Kenapa Devan menolakku?"


Gergia menghela nafasnya kasar. "Bukankah Devan sendiri sudah memberitahumu? Dia tidak ingin merusak persahabatan kalian. Dan sejauh yang aku tahu, Devan lebih memilih untuk memendam perasaannya dan tetap menjadi sahabatmu agar dia tidak kehilangan kamu." Gergia melepas tanganku kemudian pergi meninggalkanku.


Aku berlari ke kelas, mengetuk pintu kelasku saat Pak Heri mengajar. "Maaf, pak. Aku terlambat." Pak Heri yang baik itu langsung menyuruhku duduk tanpa bertanya lebih lanjut. Bukannya memerhatikan penjelasan Pak Heri, pikiranku malah masih mencoba untuk benar-benar mencerna ucapan Gergia tadi. Maafkan aku karena tidak menyimak, Pak.


Bel pulang berbunyi. Aku segera berlari menuju ke gerbang sekolah yang mulai sepi ini, menunggu taksi lewat di hadapanku. Aku akan pergi ke rumah Devan, menuntut setiap penjelasan dari apa yang tidak aku paham dari ucapan Gergia.


"Adel, kau belum pulang? Mau pulang bersamaku?" tanya Kak Rega dengan senyuman tipis yang entah tiba-tiba saja berada di hadapanku.


"Aku mau ke rumah Devan, Kak. Kakak pulang saja dulu," jawabku.


"Baiklah, oh ya, tetap semangat, sayang," ucapnya lalu melajukan mobilnya.


Semangat? Untuk apa? Huaaa, aku terlambat untuk bertanya pada pacarku itu. Sudahlah, ada urusanku yang lebih penting untuk saat ini.

__ADS_1


__ADS_2