Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Kacau


__ADS_3

Setibanya di rumah, aku langsung berhambur memeluk ayah yang saat itu sedang asyik menonton TV karena posisi ayah yang lebih dekat dari arahku saat itu. Aku memeluknya begitu erat dan menangis sekeras-kerasnya sembari memperbaiki dudukku, mengambil posisi senyaman mungkin.


"Hai, Cil, ada apa?" tanya Ayah dengan nada kaget dan mungkin juga sedang khawatir.


"Ayaaaah," tangisku bertambah deras. Aku menenggelamkan wajahku di bahu ayah sedangkan tanganku memeluk badannya.


Ayah yang tidak tahu apa alasanku menangis malah membiarkanku membasahi bajunya, mengusap kepalaku dan mencoba menenangkanku. Aku kemudian menyerahkan surat yang ada di tanganku tanpa mengubah posisi kepalaku, membiarkan diriku sendiri untuk mencoba tenang walau rasanya tidak bisa.


"Surat apa itu?” tanya bunda yang berada di samping ayah.


Ayah kemudian membaca surat itu dengan suara pelan agar bunda mendengar isinya. Setelah selesai membacanya, ayah terdiam, sama seperti bunda yang tidak mengeluarkan suara apa pun, hanya suara tangisanku dan suara TV yang mendominasi ruangan saat ini.


"Sudahlah, Cil. Kau bisa meneleponnya, bukan?" lirih ayah sembari kembali mengusap kepalaku. Bahkan suara ayah terdengar begitu sendu.


Aku mendongak, menatap langsung ke manik mata ayah . "Tetapi tetap saja itu berbeda, Ayah." lirihku.


“Apanya yang berbeda? Bukankah saat kalian bertemu pun kalian hanya berbicara. Bahkan kalian juga bisa vc. Lantas?” ucap ayah. Aku tahu, ayah juga tahu bagaimana rasa dan bedanya saat berbicara langsung dibanding dengan menggunakan teknologi.


Aku terdiam mematung, tidak tahu ingin menjawab apa. “Aku akan ke kamar,” ucapku beberapa menit setelahnya. Aku mengambil surat itu dari tangan ayah dan berjalan menuju ke kamarku. Perasaanku benar-benar begitu kacau, aku seperti tidak bisa menahan beban tubuhku sendiri. Beberapa detik kemudian penglihatanku menggelap dan aku merasakan tubuhku menghantam lantai dengan keras.


×××


"Bunda," panggilku kepada seseorang yang aku lihat pertama kali saat aku membuka mata. Dia sedang duduk dengan cemasnya di sampingku. Aku kemudian beralih menatap dinding di kamarku yang menunjukkan pukul 6 tepat.


"Syukurlah kau sudah sadar, Cil. Bunda masak bubur dulu, ya," ucap bunda dengan wajahnya yang penuh senyuman. Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya bunda menyembunyikan kesedihannya tetapi yang aku tahu bahwa bunda juga pasti begitu sedih karena bunda sudah menganggap Devan seperti anaknya sendiri. Siapa yang tidak akan sedih saat harus berpisah dengan anaknya?


"Aku tidak ingin makan, Bunda," lirihku.


"Kau harus makan, Cil. Tubuhmu butuh nutrisi."


Aku menggelengkan kepalaku pelan sebagai jawaban. Aku tidak nafsu makan, lagi pula cacing dalam perutku mengerti kala aku tidak mau makan.


"Baiklah, selamat malam." Bunda mengusap kepalaku lalu mencium keningku. Dia lalu berjalan keluar kamar, menutup pintu kamarku, dan membiarkanku sendiri.


Aku menghadapkan tubuhku ke arah kanan. Aku melihat ada fotoku dan Devan yang di bingkai dengan indahnya di atas nakas samping tempat tidurku. Aku kemudian mengambilnya, memeluknya dengan erat, lalu menutup mataku.

__ADS_1


×××


Aku membuka mataku, menatap ke arah jendela yang memberi cela agar cahaya matahari bisa masuk. Aku ingat, aku tidur dengan memeluk bingkai foto, mungkin saja bunda atau ayah yang memindahkannya.


"Cil, sudah pagi. Kau tak ingin ke sekolah?" ucap bunda yang baru saja membuka pintu kamarku.


"Tidak, Bunda. Aku mohon."


"Kau masih sakit?" tanya bunda yang memegang dahiku.


"Entah, Bunda. Tetapi perasaanku sangat kacau, aku ingin istirahat, aku butuh istirahat” lirihku.


"Baiklah. Bunda akan kembali membawakanmu makanan. Kau belum makan dari kemarin. Kau harus makan, bunda tidak ingin mendengar penolakan lagi.”


×××


Hari-hari yang aku jalani di sekolah benar-benar berubah 180° tanpa adanya Devan di sini. Aku bahkan tidak lagi antusias di pelajaran favoritku dan tidak menyimak di pelajaran lainnya. Devan selalu saja mengisi pikiranku, seperti mengambil alih. Setiap hal yang aku lakukan selalu saja membuatku mengingatnya.


“Happy birthday, Adel. Happy birthday, Adel, Happy birthday, happy birthday, Happy birthday, Adel,” Kak Rega masuk ke kelasku di jam istirahat ini dengan membawa kue. Teman-temanku bahkan ikut merayakan ulang tahunku dengan Kak Rega.


“Selamat ulang tahun, Sayang,” ucap Kak Rega yang mendapat sorakan dari seisi kelas.


“Tiup lilinnya, Del,” teriak salah satu teman kelasku. Walau malas, aku meniupnya tanpa semangat.


“Sekarang potong kuenya, Adel.”


Entah kenapa aku juga begitu malas menggerakkan tanganku. Tetapi demi menghargai teman-temanku dan juga Kak Rega, aku menuruti permintaan mereka.


“Selamat makan, teman-teman,” ucap Kak Rega meletakkan kue itu di atas meja, lalu teman-temanku mulai untuk mencomot kue itu. Mengalihkan fokus mereka dariku ke kue yang kelihatan lezat itu.


"Sudah hampir 2 bulan kau kehilangan jati dirimu, Del. Adel yang ceria menjadi pemurung. Adel yang bawel menjadi pendiam. Adel yang selalu antusias menjadi tidak bersemangat. Ke mana Adel yang dulu?" tanya Kak Rega yang ada di hadapanku, di kursi yang sama di mana biasanya Devan duduk saat jam istirahat tiba.


“Ini juga hari ulang tahun Devan, Kak.” Ucapku datar.


Dua bulan telah berlalu sejak hari di mana aku menerima surat itu. Dalam 2 bulan itu aku tidak pernah mencoba menghubunginya, begitu pula dengannya yang tidak pernah menghubungi. Aku tidak marah dengannya, hanya saja aku seperti hilang kendali dengan tubuhku sendiri. Aku begitu sulit menemukan kembali diriku yang mungkin sudah tenggelam dalam lautan yang paling dalam dari hatiku. Ok, sifat berlebihanku masih ada walau aku sedang sedih.

__ADS_1


“Wah, kalau begitu aku harus mengucapkan selamat ulang tahun juga kepadanya.”


Aku menatap Kak Rega sekilas tanpa membalas ucapannya. Aku menyadari bahwa aku benar-benar menjadi pendiam, bahkan di rumahku sekalipun. Aku hanya ingin Devan saat ini.


Bel masuk berbunyi, Kak Rega meninggalkanku dan menuju ke kelasnya. Pak Heri kemudian masuk mengajar ke kelasku.


"Adel, Kau sakit? Kenapa kau melamun?" tanya Pak Heri dengan tegas.


"Aku tidak apa-apa, Pak," bohongku. Keadaanku benar-benar sangat buruk dan memprihatinkan sekarang.


Aku menunggu waktu yang berjalan begitu lama sampai bel yang aku tunggu itu berbunyi. Aku di antar Kak Rega pulang ke rumah. Hanya mengucapkan terima kasih kepadanya, aku lalu masuk ke dalam rumah.


"Cil, ayah dapat surat dari sekolahmu untuk pertama kalinya," sambut ayah. Aku menatap wajah ayah, memperlihatkan senyuman tipis yang begitu aku paksakan.


Ayah mengikuti menuju ke kamar, duduk di sampingku, membawaku untuk bersandar di bahunya. Dia kemudian mengusap-usap rambutku perlahan sehingga air mata kembali membasahi pipiku, membuat air mata itu tumpah dalam heningku. Aku lalu memeluk ayah.


"Kau tidak benar-benar kehilangan Devan, Cil. Sudah 2 bulan kau begini. Ayah sangat sedih melihat perubahanmu. Aku rindu kehangatan rumah ini, Cil. Rindu dengan tingkahmu yang aneh itu." Setetes air membasahi lenganku.


Aku melepas pelukan itu, mendongak menatap wajah ayah. "Ayah menangis?" lirihku.


Ayah buru-buru mengelap air matanya, "Maaf, tetapi ayah seperti tidak sanggup melihat putri ayah dalam kegelapan."


Aku kembali memeluk ayah, menenggelamkan wajahku di bahunya. Hanya diam, lagi- lagi tidak berbicara sedikit pun padahal hatiku ingin sekali memberontak.


Apa aku seperti mayat hidup?


×××


"Semangat belajar anak Anda menurun sangat drastis, Pak," ucap Pak Romi yang saat ini berada di hadapan ayahku. Sedangkan aku sendiri sedang duduk di sofa, menatap kosong ke arah dinding putih yang ada di hadapanku. Walau berjarak kisaran 2 meter, aku masih bisa mendengar ucapan mereka. Aku tidak tahu kenapa aku di panggil hanya untuk duduk di sini.


"Kalau begini terus, Pak, nilai anak Anda akan ikut turun dan bisa membuatnya berada di kelas terakhir tahun depan. Itu bisa saja menjadi tahun terburuk bagi anak Anda yang semenjak masuk ke sekolah ini terkenal pintar," ujar Pak Romi. "Kalau boleh kami tahu, apa yang sedang terjadi sehingga Pricilia menjadi seperti ini?" tanyanya.


Ayah diam, tidak membuka suara. Mungkin sedang menyusun kalimat dalam otaknya. Beberapa menit kemudian, akhirnya ayah bicara. "Kalau begitu, aku mohon, berikan dia waktu satu minggu untuk berada di rumah." Ayah tidak menjawab pertanyaan Pak Romi melainkan mencari solusi untukku.


"Bapak tidak bercanda, kan? Nilai anak bapak sedang bermasalah dan Bapak meminta dia di liburkan?" ucap Pak Romi dengan intonasi lebih tegas.

__ADS_1


"Biarkan dia berdamai dengan hatinya selama tujuh hari itu. Aku yakin, minggu depan, saat dia kembali ke sekolah, dia akan kembali seperti sediakala. Dia anak yang pintar, bukan? Aku yakin dia bisa mengejar pelajaran. Aku mohon, Pak," pinta ayah.


Kali ini Pak Romi yang kembali diam, mungkin sedang berpikir. "Baiklah, aku akan membuat surat izin bahwa Pricilia Adel sedang dalam proses pemulihan."


__ADS_2