Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Apa itu Cinta?


__ADS_3

"Cil, mau ke toko buku, nggak?" teriak ayah yang membuatku langsung berlari menemuinya, aku begitu suka dengan toko buku dan ayah yang mengajakku kali ini, dengan begitu aku bisa bebas membeli buku tanpa harus mempertimbangkan uangku.


"Ayo,ayah" ucapku berdiri di hadapan ayah dengan senyumku yang paling manis.


"Kau mau pergi dengan pakaian seperti itu? nanti orang malah mengira kau pembantu ayah." Ayah tertawa terbahak-bahak, puas menertawai anaknya yang hanya memakai pakaian daster berwarna ungu.


"5 menit, ayah" Aku kembali berlari menuju kamarku, menganti pakaianku dengan hoodie pink dan juga celana jeans hitam. Aku kembali melihat penampilanku di cermin untuk memastikan tidak ada yang aneh. Rambut panjangku aku biarkan terurai di depan dada.


Aku kembali menemui ayah yang sedang tertidur di sofa dengan nyamannya. "Ayah," panggilku seraya menggoyangkan badannya pelan agar dia bangun.


"hmm"


"Ayah, ayo pergi."


"Ayah ngantuk," balas Ayah dengan suara malas.


"Ayaahhhhh, huaaaaa, ayaaaahhhhhhh, aku sudah siap, ayo kita pergi, hiks." ucapku seakan-akan bahwa aku sedang menangis.


"malas, Cil."


"Ayaaaahhhh." Aku menghela nafas kasar dan berjalan menuju kembali kamarku.


"hei, cil? nggak jadi pergih nih," panggil ayah tiba-tiba dengan suaranya yang membuatku jengkel.


"Nggak ah, aku ngambek."


"Yaudah," balas Ayah Cuek.


"Ayahhh, kalau aku ngambek bujuk dong, ishh," gerutuku sambil berjalan kembali ke arah Ayah.


"Sudah-sudah, jangan marah putri kecil ayah. " Ayah merangkulku sambil menuju mobil. "Bundaa, kami mau ke toko buku," pamit Ayah yang di juga di balas bunda dengan ucapan, " hati-hati, hanyy."


Rasanya perjalanan ini begitu lama, aku sudah tidak sabar lagi mencium harumnya buku-buku yang baru saja tertata dengan rapi di rak buku atau hanya sekedar melihat bagaimana indahnya sebuah ruangan yang dipenuhi oleh buku-buku.


Ayah menghentikan mobilnya, menandakan bahwa kami telah sampai, di depan toko buku favoritku, toko buku yang sudah aku anggap menjadi seperti rumahku, ever.


"Mau cuma liat dari luar saja?" Pertanyaan Ayah membuatku tersadar dan segera berlari menyusul Ayah yang sudah berada di pintu masuk.


"Pricilia?" panggilan itu membuatku menoleh ke meja kasir.


"Eh? Amran? Sejak kapan kau pulang dari Amerika?" tanyaku begitu antusias.

__ADS_1


Amran, dia anak pemilik toko buku ini, kuliah di Australia dengan beasiswa. Sungguh, dia sangat pintar. Pertama kali kenal saat dia membantuku mencari buku yang judulnya Lord of the Ring, 2 tahun silam. Kalau soal parasnya? walau hitam tetapi dia manis. Setiap kali dia tersenyum, kita juga seperti ingin ikut tersenyum dengannya. Tubuhnya tinggi, tidak terlalu kurus, dan juga perawakannya yang tegap.


"Kemarin lusa. Bagaimana sekolahmu?"


"Uhuk." Suara ayah membuatku dan juga Arman menoleh kepadanya.


"Ayah, ini Amran, anak pemilik toko ini dan Amran, ini ayahku yang sangat aku sayangi," ucapku saling memperkenalkan mereka berdua. "Sekolahku baik. Oh ya, aku mau cari buku dulu, sampai jumpa nanti, Ran."


Aku berjalan bersama Ayah menyusuri setiap rak-rak buku, mencari buku apapun yang menarik perhatian. Aku terhenti saat melihat buku bersampul putih karya bang Tere Liye.


"About love?" tanya Ayah yang berdiri di belakangku membuatku tersentak kaget. " Bukunya bagus, beli saja," lanjut Ayah.


"Tentu saja aku akan membelinya, Yah, walau tanpa Ayah suruh sih," Aku terkekeh.


Kami kembali berjalan, menyusuri rak-rak buku itu. "Cil. Buku ini untukmu, hadiah dari Ayah." Ayah memberikanku buku berjudul Option B Facing Adversity Building Resilience and Finding Joy karya Sheryl Sandberg


"Ini buku tentang apa, Yah?"


"Kau akan mengetahuinya kalau sudah membacanya."


Ayah kembali berjalan, menuju dari satu rak ke rak yang lainnya, mencari buku-buku yang dia perlukan. Ayahku juga suka sekali membaca buku, dan karena kebiasaannya itulah yang menurun padaku saat ini.


"Sudah, Cil?"


Sembari menunggu, aku membaca buku About Love yang tadi aku beli, lebih tepatnya ayah yang membelikannya untukku.


"Ayah? Ayah tau cinta itu apa?" tanyaku tiba-tiba memecah keheningan yang tercipta, Ayah juga dari tadi sibuk dengan ponselnya, mungkin karena urusan pekerjaan.


"Cinta?" Ayah tampak berpikir. "Mungkin saat kau bertemu dengan seseorang yang membuatmu bersemangat? kau ingin menghabiskan hari-harimu dengan dia, berbagi banyak hal atau entahlah. Definisi cinta bagi ayah itu sungguh rumit. Bahkan di usia ayah sekarang ini, ayah belum benar benar paham tentang cinta, bagaimana cinta itu bekerja atau bagaimana cinta mampu mengubah perilaku seseorang. Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Aku cuma penasaran saja, Yah. Terkadang teman kelasku, Si Rasti itu yah, masuk di kelas habis jam istirahat tiba-tiba saja bilang 'OMG, aku jatuh cinta sama bebeb Devan'" ucapku seakan mengikuti ekspresi Rasti kala itu.


Ayah tertawa kecil di hadapanku, menertawakan apa? entahlah. Walau Ayahku ini sudah berumur, dia masih saja jaim dengan lingkungan sekitarnya. Andai saja aku menceritakannya di rumah, pasti dia sudah tertawa terbahak-bahak.


"yeay, sudah datang," ucapku senang saat melihat es krim berwarna pink rasa strawbery itu. Aku sudah tidak sabar untuk melahapnya sampai habis.


"Eh, Ayah?" Suara yang sudah sangat akrab di telingaku itu membuat sendok es krim yang baru saja akan masuk ke dalam mulutku berhenti bergerak.


"Devan? Mau ikutan makan juga?"


"Kalau Ayah nawarin, aku nggak bisa nolak," ucapnya sok kalem.

__ADS_1


"Kalau ayah nggak nawarin pun, kau pasti akan tetap ikut makan," ucapku judes tanpa menatapnya, es krimku lebih menarik untuk dipandang dibanding wajahnya itu.


"Kau makan saja, duduk dengan tenang di situ yah, nggak usah nyinyir, nanti rasa es krimnya nggak enak," ucap Devan sambil menarik kursi dan duduk di sampingku.


"Bacot." Aku menatapnya tajam.


"Ayaaaahh, anakmu itu ingin membunuhku dengan tatapannya, ayaaahhh, tolong aku ayaahh." Nah, sifat childish Devan muncul, lihat saja, benar-benar menjengkelkan. Benar-benar seperti anak yang mengadu dengan orang tuanya karena habis di bully.


"Lu bisa diam nggak sih? Liat nih! kuping gw bisa budek." Aku menunjuk telingaku dan memperlihatkannya kepada Devan.


"Ihh, kuping kamu banyak tainya," ucap Devan jijik.


"Gw baru korek kuping kemarin," balasku judes. "Lu mau sekalian gw korek kuping lu biar gendang telinga lu pecah? mau?" ancamku.


"ayaaahh." Lagi-lagi Devan mengadu, dasar.


"Sudah-sudah, kalian berdua kayak anak kecil saja, ayah sudah nggak kuat nahan tawa ayah. Buahuwahuawa." Tawa Ayah meledak, membuatnya tidak lagi terlihat jaim, bahkan pengunjung lainnya menatap ke arah kami. Tetapi siapa peduli? Aku dan Devan juga malah ikut tertawa dengan Ayah karena suara tawa Ayah seperti memancing kami buat mengikutinya.


"Oh ya, Devan. Bagaimana kabarmu dengan Rasti?" ucapan Ayah malah membuat Devan terdiam, tetapi malah membuatku semakin tertawa.


"Devaann, aku sayang sama kamuu," ucapku memperodikan Rasti yang berhasil membuat Devan menciptakan wajah masam.


"Cil." panggilan Ayah membuatku berhenti tertawa dan beralih menatap Ayah. "Kamu mencium aroma aroma gas yang bentar lagi mau meledak, nggak?"


Aku tampak berpikir. Butuh tiga detik bagiku untuk paham bahwa Ayah sedang membicarakan Devan. Tentu saja, itu membuatku semakin tertawa. Wajah Devan mulai memerah, entah karena mau marah atau malah malu.


"Stop it," ucap Devan dengan datarnya.


"Oke, oke, aku berhenti," ucapku sambil mencoba menghentikan tawa ini. "Oke, sudah." Aku melihat ayah yang juga sudah berhenti tertawa.


"Devan, ayah mau bertanya?" Ayah menatap serius wajah Devan.


"Apa, Yah?"


"Kenapa kau tidak menyukai Rasti?" tanya Ayah seakan mengintrogasi Devan.


"Ayah, siapa yang akan menyukai orang yang berlebihan dalam mencintai, dia sangat lebay, ayah. Lagi pula, beberapa orang terkadang membenci orang yang mengejarnya dan juga malah sebaliknya berjuang mati-matian untuk orang yang dia cintai," jelas Devan


"Aku setuju denganmu," ucapku.


"Adel," panggilan itu membuatku menoleh, "Eh? Bebeb Devan juga ada di sini?"

__ADS_1


Ini akan menjadi hari buruk bagi Devan


__ADS_2