
"Dellong."
Aku memutar bola mataku saat mendengar teriakan khas milik sahabatku itu. Kalian pasti berpikir bahwa aku adalah seorang pria, tetapi kenyataannya, aku adalah seorang wanita dengan tinggi 161 cm, berat 53 kg, kulit yang putih, punya gigi gingsul, punya lesung pipit dan juga bulu mata lentik. OK, ini menyombongkan diri sendiri. Tetapi aku tidak akan mengatakan diriku cantik karena cantik itu relatif. Jadi inti dari semua pendeskripsianku hanya untuk menegaskan bahwa tidak ada bagian dalam diriku yang bisa di katakan seorang pria.
“Kenapa kau tidak mendengarku?”
Dia saat ini sudah berada di hadapanku. Aku tetap mengabaikannya dan enggan untuk menoleh. Aku masih sibuk mengerjakan soal matematika dan berpura-pura bahwa dia tidak ada di sana. Tetapi suara pukulan keras di mejaku membuatku tersentak kaget.
"Hm?"
"Aku tunggu kamu di kantin. Katanya mau bayar makanan aku," jelasnya.
"Bukankah kau melihat bahwa aku sedang sibuk?"
Pria itu lalu duduk di kursi hadapanku, menatapku dengan tatapan tajam. “Aku tidak mau tahu,” serunya. ”Tadi malam nelpon aku, curhat tentang ini itu, di kasih solusi, masalahnya kelar, kemudian bilang 'besok aku traktir kamu, Devan' dengan senangnya," ucap pria itu seakan sedang bermonolog. "Ayo, sekarang bayar makananku!" Pria itu menarik tanganku paksa menuju kantin, membiarkan bukuku tetap terbuka di atas meja. Ingin sekali aku melepas genggaman tangannya tetapi sekuat apa pun aku melawan, aku pasti akan tetap ditariknya.
Pria itu, Devanda Arzha, dia sahabatku sejak kecil. Dulu, dia dengan wajah cerianya mengajakku berkenalan waktu masih TK dan entah kenapa masih bersama sampai detik ini. Wajahnya tampan-aku mengakui itu. Dia keturunan Asia-Amerika. Ayahnya orang Amerika, dan ibunya asli Indonesia. Dia lahir dan dibesarkan di Jakarta. Walau campuran, dia tidak begitu pandai berbahasa inggris. Tidak seperti fasihnya orang-orang yang disebut dengan kata ‘bule’.
"Bu, ini orangnya." Devan melepas cengkeramannya dan menghadapkanku pada ibu kantin yang sudah berusia paruh baya itu. Huaaa, Aku seperti pelaku kejahatan saja dibuatnya.
"Totalnya berapa, Bu?" ucapku pasrah, bertanggung jawab atas betapa mengasalnya mulutku tadi malam.
Bu kantin itu tampak berpikir. "Soto ayam tujuh ribu, nasi campur delapan ribu, bakso sepuluh ribu, es tehnya lima ribu. apa lagi ya? tadi ambil gorengan, tidak, Van?" tanya ibu kantin yang bernama lengkap Ana. Ya, hanya Ana.
"Ambil, 7 ribu, Bu," jawab Devan.
Apa-apaan ini? Kenapa harus sebanyak ini? Dalam perut Devan ada cacing besar yang membantu dia makan apa bagaimana? Ingin sekali diriku mengumpat sekarang ini juga, tapi sebagai cewek yang berada di tempat umum ya begitulah.
"Totalnya semua 37 ribu,” lanjut Bu Ana.
"Serius, Bu?" Mataku membelalak, kaget.
Bu Ana mengangguk tenang seraya memperlihatkan nominal yang tertulis dalam kalkulator itu. Aku menatap tajam ke arah Devan, menghela nafas kasar lalu menyerahkan uang berwarna biru dari sakuku.
Setelah menerima uang kembaliannya, aku berjalan meninggalkan Devan. Dia yang sadar -dari kesibukannya menggigiti kukunya- segera menyusulku dengan langkah besarnya.
"Makanannya enak banget, Dellong. Lain kali traktir aku lagi ya,” ujarnya seraya mengelus perutnya itu.
Lihatlah dia, tidak ada perasaan bersalah sama sekali, tidak minta maaf, tidak berterima kasih, malah minta di traktir lagi. Dia bahkan tidak peduli dengan wajah emosiku yang saat ini ingin sekali mencakar wajahnya itu.
"Sampai ketemu nanti, Del," pamitnya.
Dulu waktu kelas X, kami sekelas tetapi karena dia berhasil menjadi juara kelas, dia di pindahkan ke kelas unggulan. Berbeda denganku yang mendapat peringkat ke 4 dan masih stay di kelas ini. Walaupun begitu, dia sering mengunjungi kelasku di jam istirahat.
Jujur saja, aku heran dengan Devan, dia pintar, jenius, humble, ramah tetapi sikapnya selalu saja membuatku emosi dan terlebih lagi sedikit childish. Aku bahkan belum pernah melihat sikapnya yang dewasa.
__ADS_1
Bel masuk berbunyi. Aku duduk di kursiku lalu membuka halaman terakhir bukuku. Aku menulis nama ‘Devan’ di sana lalu mencoretnya dengan penuh emosi. Anggap saja aku sedang melampiaskan emosiku yang dari tadi terpendam kepadanya.
Walaupun begitu, aku bahagia bersahabat dengannya. Kami bisa saling bertukar pikiran -belum lagi kalau tentang aib orang lain. Selain itu, dia selalu jujur dan apa adanya terhadapku. Terkadang, dia ada di saat aku butuh. Dia begitu peduli padaku dan di kesulitanku, dia selalu datang menawarkan bantuan kepadaku dengan senyumannya yang begitu tulus.
"Ibu datang," teriak Alfi sambil berlari menuju ke kursinya. Kalau dilihat-lihat, Alfi ini mirip dengan Mail, Ismail bin Mail, yang pemain Upin dan Ipin itu. Dari sifat, lekukan wajah dan juga kebiasaannya. Walaupun begitu, rambut mereka berbeda.
Lupakan soal Alfi, aku sibuk memerhatikan penjelasan Bu Devi dengan cermat, menjawab beberapa pertanyaan yang diajukannya. Di kelas ini, aku terbilang aktif dan juga rajin. OK, ini pamer.
“Baiklah, sampai di sini pelajaran kali ini. Tetapi sebelum pulang. Ada yang ingin bertanya?”
Aku mengangkat tanganku. Dan dalam sekejap aku merasakan hawa dingin dari tajamnya tatapan semua teman kelasku, seakan-akan aku adalah mangsanya. Niatku tiba-tiba saja ciut dan membuatku dengan cepat menurunkan tanganku sebelum Bu Devi melihat ke arahku
.
“Sepertinya tidak ada, baiklah, sampai jumpa minggu depan,” ucap Bu Devi kemudian melangkah keluar dari kelas, disusul oleh teman-temanku yang sudah tidak sabar lagi untuk pulang.
"Van," panggilku kepadanya yang saat ini sedang menungguku. Kami selalu pulang bersama. Lagi pula, rumah kami satu arah.
"Aku ambil motor dulu." Devan berlari menuju ke tempat parkir sedangkan aku menunggunya di gerbang sekolah. Dalam beberapa menit dia sudah ada di hadapanku dengan motor Honda gelatik yang katanya peninggalan kakeknya. Motor yang sudah tua, walau begitu motor ini masih berfungsi dengan baik.
"Mau ke toko buku, bukan?" tanyanya.
"Uang aku sudah kau habiskan, untuk apa ke toko buku? cuma liat-liat doang? Kagak beli? Nanti tanganku gatal lagi, mau beli buku padahal uangnya enggak cukup," sindirku panjang lebar, "mending ke perpustakaan saja."
"Enggak, sudah malas karena kamu."
Aku naik ke atas motor Devan dan dia melajukan motornya, melewati padatnya kota ini di tengah siang. Jalan yang seharusnya hanya di tempuh lima menit malah harus di tempuh tiga puluh menit. Tetapi mau bagaimana lagi? Kalau ada waktu aku harus melakukan penelusuran lorong-lorong agar lebih cepat sampai ke rumah.
"Bunda ada, tidak?" tanya Devan saat kami baru saja tiba di depan rumahku.
"Tidak ada, pulang saja sana!" usirku.
"Bunda, permisi, Bunda," teriaknya, tak menghiraukan ucapanku.
Aku menatap pintu rumahku, berharap bunda tidak keluar dari sana. “Eh, Devan, ayo singgah.” Um, harapanku tidak terkabul.
"Tuh kan, bunda ada," sindirnya dengan suara kecil tepat di samping telingaku. Apakah salah melempar helm yang aku pegang ini ke wajah Devan?
Devan segera memarkirkan motornya, kemudian menyalami tangan Bunda. Aku mendengus kesal, berbeda dengan Devan yang menampilkan wajah ceria.
Sebenarnya aku senang-senang saja dengan kunjungan Devan ke rumah karena itu membuat ayah dan bunda bahagia, tetapi kunjungan Devan ke rumahku hanya dengan satu tujuan utama, menumpang makan. Dan ujung-ujungnya piring yang aku cuci juga ikut bertambah.
"Bunda masak apa hari ini?" tanya Devan to the point tanpa basa-basi lebih dulu. Bahkan kata-kata Devan yang satu ini sudah begitu akrab di telinga bunda.
"Ikan rica-rica sama sayur kangkung,” ucap bunda sembari tersenyum, ramah.
__ADS_1
"Wah pasti enak, Bunda." Devan duduk di sofa depan TV, begitu pula denganku.
“Masakan bunda tentu saja enak,” judesku.
“Bun, anak bunda kenapa?” tanyanya yang membuat satu bantal dariku mengenai wajahnya yang sok polos itu.
"Biar saja," kekeh bunda. Um, bunda. Bukannya mendukung anaknya sendiri malah mendukung anak orang lain. Au ah kesal, aku menekuk wajahku dan melipat tanganku di depan dada.
Devan mengambil remot TV. Lihatlah dia, begitu santai, seperti menganggap rumah ini seakan rumahnya sendiri. Belum lagi dia mencomot kue yang ada di stoples saat bunda pergi untuk menyiapkan piring di meja makan.
“Ayaaah,” teriakku pada pria paruh baya yang masih tampan itu. Aku berdiri dan berlari memeluknya. Dia kemudian merangkulku dengan erat lalu mencium keningku. “Ayah, Devan sama Bunda tidak mendukung aku,” ucapku cemberut.
Bunda yang tadinya di dapur kini menghampiri ayah. Diraihnya tangan ayah lalu diciumnya dengan lembut. Ayah kemudian melepas rangkulannya kepadaku dan beralih memeluk bunda.
“Devan juga ingin di peluk,” celutuk Devan sambil memayungkan bibirnya.
“Ayo sini,” jawab ayah. Devan kemudian segera berlari memeluk ayah.
“Ayah, aku rindu,” ujar Devan yang masih berada di pelukan ayah dengan nada suara alay yang membuatku muak mendengarnya.
“Baru juga kemarin ketemu,” cibirku.
“Sudah-sudah. Kalian pasti sudah lapar, ayo makan." Ayah lalu berjalan lebih dulu menuju ke meja makan.
Jangan pernah meragukan bagaimana rasanya masakan bunda, selalu saja lezat. Aku tidak tahu bagaimana cara bunda memasaknya karena setiap kali aku mencoba membuat masakan dan resep yang sama, rasanya selalu saja beda
“Ini enak banget, Bunda,” ucap Devan yang begitu menikmati makan siangnya.
“Habiskan dulu makananmu baru bicara,” tegur bunda.
Devan segera mengunyah habis makan itu di mulutnya. “He he, maaf, Bunda.”
Setelah makanan di piringku habis, aku segera membersihkan meja makan lalu berjalan ke arah mereka bertiga yang sedang menonton TV dan ikut duduk di samping ayah.
"Aku pamit pulang dulu, Ayah, Bunda,” sahut Devan yang bersiap untuk pulang. Bahkan tas yang tadinya dia abaikan di kursi kini sudah ada di gendongannya.
Baru saja dia akan menyalami tangan bunda, aku malah menghentikannya, menyuruhnya mencuci piring kotor yang menumpuk di dapur.
"Bunda?" Devan menatap manik mata Bunda, meminta belas kasihan sambil memasang puppy eyes-nya
"Bunda sebenarnya suka kalau kamu bantu-bantu dulu," kekeh bunda.
Sekakmat. Aku dan ayah tertawa keras menatap perubahan wajah Devan. Devan lalu beralih menatapku dengan tajam, seakan mengancam akan membalas perbuatanku nanti. Tetapi aku tidak peduli, tawaku masih saja mengisi ruangan ini. Devan menghela nafas kasar. Dia meletakkan kembali tasnya ke kursi dan dengan pasrahnya dia berjalan ke arah dapur.
Devan yang malang.
__ADS_1