
Aku menatap jendela yang memperlihatkan keadaan langit di malam itu. Aku tidak akan pernah menyangka akan berada di pesawat ini, melakukan perjalanan jauhku seorang diri
Aku masih ingat saat aku menatap lekat-lekat surat yang baru saja aku terima waktu itu. Itu seperti mimpi bagiku, antara percaya atau tidak dengan isi surat itu. Aku membacanya berkali-kali untuk memastikan apa yang aku lihat waktu itu adalah kenyataan.
"Ayah, Bunda," teriakku girang.
"Ada apa, Del?" tanya ayah.
Aku memberikan surat itu, menatap wajah ayah dan bunda yang mulai berbinar-binar lalu menatapku dengan penuh senyuman hangat, bahagia.
"Bunda percaya ini?" tanya ayah tanpa mengalihkan perhatiannya dari surat itu. "Anak kita akan kuliah di harvard. Ayah bangga sama kamu, Cil. Usahamu tidak sia-sia." Ayah mencium keningku lembut, begitu pula bunda yang memelukku dengan erat sambil membisikkan kata 'selamat'.
Ya, itu adalah surat yang aku tunggu-tunggu beberapa hari yang lalu. Surat yang menjadi alasanku berada di pesawat ini. Aku benar-benar bahagia sampai air mata kebahagiaan itu jatuh di atas pipiku. Walau aku tidak akan satu universitas sama Kak Rega, setidaknya aku akan satu kota dengannya.
Suara batuk seorang wanita paruh baya membuatku tersadar dari lamunanku. Aku menatap jam di pergelangan tanganku. Sebentar lagi aku akan mendarat di negara Amerika, menginjakkan kakiku untuk pertama kalinya di sini.
Pesawat yang aku tumpangi ini berhasil mendarat dengan selamat. Aku kemudian turun dari pesawat ini, lalu pergi untuk mengambil barangku.
Aku menatap sekililing, mencari seseorang yang katanya akan mengantarkanku ke tempat tinggalku yang baru. Sulit bagiku mencarinya di antara ratusan orang yang juga menunggu kedatangan orang lain.
"Pricilia Adel?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja mengahampiriku. Aku menjawabnya dengan anggukan kecil. "Namaku Frasiska, aku yang akan membimbingmu sampai kamu terbiasa di sini," jawabnya dengan bahasa Indonesia yang begitu lancar. "Oh." Dia terkekeh. " Aku asli Indonesia, pindah ke sini tiga bulan lalu," lanjutnya yang membuat rasa penasaranku menghilang.
Kami kemudian mengendarai taksi menuju ke apartement yang di sediakan oleh pihak beasiswa itu. Di dalam taksi, Fransiska bercerita banyak hal sampai taksi itu berhenti. Setelah Fransiska membayar taksi itu, dia kemudian menuntunku masuk ke dalam gedung yang begitu besar dan bertingkat itu. Kami menaiki lift menuju ke lantai lima.
"Ini ruanganmu," ucap Fransiska seraya membuka pintu coklat itu.
Aku melangkah masuk ke ruangan itu, lalu menatap ke sekeliling ruangan. Dapur, ruang tengah dan juga kamar berada di dalam ruangan ini. Peralatan di sini benar-benar di susun dengan rapinya.
"Besok lusa, aku akan datang dan mengantarmu untuk ke universitas.Ini kunci ruanganmu," ucapnya lalu pergi dan meninggalkanku sendiri di kota asing ini.
Aku membiarkan koperku, lalu membaringkan tubuhku di kasur yang begitu empuk setelah mengunci pintu. Tubuhku sangat lelah karena perjalanan jauh itu.
Aku mengambil ponsel dari kantongku lalu menelpon seseorang.
__ADS_1
"Halo, Del," jawab suara dari telepon di sebelah sana.
"Kak, aku berhasil. Berhasil kuliah di Amerika."
"Kau serius?" tanyanya setengah tidak percaya itu.
"Iya, Kak."
"Apa kita satu universitas?" tanyanya lagi dengan suaranya yang begitu semangat.
"Tidak, kak. Tetapi aku di Cambridge."
"Aih, tetapi syukurlah. Aku akan mengajakmu jalan-jalan lusa karena besok ada proyek kampus yang harus aku selesaikan."
"Aku akan menunggumu, kak." jawabku lalu memutup panggilan itu.
Aku menatap langit-langit kamarku, aku tidak terbiasa pergi jauh dari ayah dan bunda. Air mataku menetes karena rindu. Aku ingat bagaimana bunda menangis saat aku naik ke atas pesawat dan bagaimana ayah dengan memelukku dengan hangat seraya menyemangatiku. Aku kemudian menelpon ayah.
"Cilaa."
"Baru satu hari kita berpisah, Cil, Cil."
"Hehe, aku baru sampai loh, yah."
"Ayah juga tahu," jawab ayah yang terdengar acuh. "Bagaimana tempat tinggalmu?" lanjutnya
"Sepi tanpa ayah dan bunda."
"Kau pasti sangat lelah, istirahatlah."
***
Sudah satu minggu aku berada di kampus ini, kampus dimana aku di pertemukan dengan para bule yang sangat asyik. Aku berpikir akan sulit bagiku untuk bergaul, tetapi mereka semua begitu ramah, mengajakku untuk berkenalan.
__ADS_1
"Are you hungry?" tanya Alexa.
Alexa orang yang benar-benar cantik. Bodygoals, putih, punya lesung pipit, gigi ginsul, manis, dan juga matanya yang berwarna biru jernih. Idaman pria banget.
Aku mengangguk pelan. Alexa lalu meraih tanganku dan membawaku ke kantin. Kami lalu antri dalam memesan makanan. Saat makanan itu ada di piringku, aku kemudian mencari meja yang kosong, duduk berdua dengan Alexa.
"Hi, Adel, ternyata kamu di sini, aku mencarimu tadi" ucap Farah.
Orang yang juga berasal dari negeri yang sama denganku. Walau tinggal di negeri orang, dia masih menggunakan bahasa Indonesia saat bertemu dengan orang yang mengerti bahasa Indonesia. Dia adalah seorang muslimah yang benar-benar ramah dan juga ceria. Wajahnya juga hampir sama cantiknya dengan Alexa.
"Farah, I think you have class," sahut Alexa.
"Have done," jawab Farah sambil tersenyum ke arah Alexa.
"Ayo makan sama," ajakku.
"Um, maaf, tetapi ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Aku mencarimu untuk meminjam bukumu yang kamu perlihatkan kemarin itu."
"Huft, maybe I must learn Indonesia lenguange." Alexa menghela nafas kasar yang membuatku dengan Farah tertawa.
Aku kemudian mengeluarkan buku itu dari tasku dan memberikannya kepada Farah.
"Terima kasih. Dah, Adel, Bye, Alexa."
"Bye," balasku dengan Alexa bersamaan.
Aku kemudian mulai menyantap makananku. Makanan di sini benar-benar enak.
"Del, del, see the boy." tunjuk Alexa pada seorang pria. "I need a minute." Alexa beranjak dari kursinya dan pergi menghampiri pria itu. Dia kemudian mulai berbicara dengan pria itu. Aku memperhatikan mereka yang sepertinya mulai akrab. Dasar Alexa.
Alexa kemudian pergi dengan pria itu, meninggalkanku sendiri di sini. Tidak apalah, aku juga sudah terbiasa untuk sendiri, tetapi alexa meninggalkan tasnya yang itu berarti aku harus menunggunya, lagi pula aku tidak akan ada kelas sampai satu jam kedepan.
Aku mengehentikan makanku saat samar-samar mendengar seseorang memanggil namaku. Aku menoleh sekeliling. Mungkin aku cuma salah dengar.
__ADS_1
"Delloong."