
"Kau pulang sama siapa, Cil?" tanya ayah saat aku baru saja tiba di rumah setelah menunggu hujan reda di perpustakaan itu.
"Taksi."
"Devan mana?"
"Ayah, aku sangat lelah, ingin isitirahat, nanti kita bicara lagi, Yah." Aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Rasanya benar-benar sakit, kecewa dan mungkin juga stres. Tetapi itu bukan salah Devan, ini adalah salahku.
Aku menghempaskan diriku di kasur, menatap ke langit-langit kamar kemudian menutup mata untuk berpura-pura semua baik-baik saja. Ini mungkin akan sulit, tetapi aku tidak ingin lagi mengingatnya.
"Cil, ayo bangun, kau masih sekolah, kan?" Suara panggilan Bunda membuatku terpaksa untuk membuka mataku. Kepalaku terasa begitu sakit. Aku menatap jam di dinding, rupanya sudah jam 7 pagi.
"Bunda? Apa aku sakit?" lirihku. Bunda kemudian memeriksa suhu tubuhku dengan tangannya.
"Badanmu panas, Cil. Apa kepalamu juga sakit?" Aku menjawab pertanyaan Bunda dengan anggukan kecil. Bahkan menggerakkan kepalaku terasa sangat berat. "Istirahatlah dulu, Bunda akan membuatkanmu bubur."
Aku tersenyum. Saat Bunda beranjak pergi, aku meraih ponselku dan mencari nomor Devan untuk memberitahunya agar dia tidak perlu menjemputku hari ini ke sekolah.
Tunggu, Devan? Apa dia memang akan menjemputku hari ini? Mungkin tanpa aku beritahu pun dia tidak akan melakukannya. Aku bahkan tidak tahu cara untuk memulai bercakap kembali dengannya.
Bunda kemudian kembali masuk ke dalam kamarku, membawa bubur dan juga air putih di atas nampan. Sudahlah, aku tidak berselera untuk memakan bubur itu, padahal aku paling suka dengan bubur ayam. Bunda kemudian dengan telatennya menyuapiku yang terpaksa makan setelah di bujuk berkali-kali.
"Tidurlah, kau akan merasa baikan nanti," ucap Bunda setelah menaruh handuk basah di dahiku. Ini benar-benar membuatku nyaman dan sedikit rileks.
Aku kembali menatap dinding, jam menunjukkan pukul 11.00. Aku tertidur lima jam lamanya. Aku mencoba untuk duduk. Bunda benar, rasa sakit di kepalaku mulai berkurang.
Aku mengecek ponselku, berharap ada pesan yang masuk dari Devan. Ini sungguh aneh, apa dia tidak lagi peduli padaku?
"Huft, jangan menangis, Pricilia. kamu kuat," gumamku pelan pada cermin di hadapanku. Kasurku menghadap lansung pada cermin, jadi saat aku bangun, aku bisa langsung melihat wajahku.
Lupakan itu. Aku berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, aku butuh mandi, badanku terasa begitu lengket.Seusai mandi, aku duduk di dekat jendela kamarku, menatap jalanan depan rumah yang begitu sepi. Tidak ada satupun motor yang lewat.
Sudah genap 2 jam aku menunggu kedatangannya untuk menjenggukku tetapi dia tak kunjung datang. Aku benar-benar benci situasi ini. Ke mana dia?
Suara decitan rem motor membuat mataku kembali menatap jendela. Dia? Dia datang. Aku ingin berlari menemuinya, tetapi kejadian kemarin menahan langkahku. Aku begitu malu untuk menunjukkan wajahku di hadapannya. Apa yang harus aku lakukan, sekarang? Berpikir, Pricilia. Berpikir.
Setelah tidak tahu ingin melakukan apa, aku pada akhirnya memilih untuk pura-pura tidur dari pada salah tingkah nanti di hadapannya.
Aku mendengar langkah menuju kamarku. Aku kemudian membaringkan tubuhku dan menutup mata.
"Kau masih tidur rupanya, Cil? ucap Bunda. Selain suara Bunda, aku juga mendengar suara motor yang melaju, menjauhi rumah." Ada bingkisan dari Devan."
"Bingkisan apa, Bun?" ucapku tiba-tiba membuat Bunda tersentak kaget.
"Bukannya kau tidur?"
__ADS_1
"Aku hanya pura-pura tidur, Bun." Eh? Aku kecoplosan. "Maksud aku, aku sudah bangun dari tadi, cuma nutup mata aja." Aku tertawa kecil. "Tadi Devan datang, Bun?"
Bunda menatap ke arah pintu sebentar, "iya. Dia sudah pulang sekarang."
"Kenapa pulang, Bun?"
"Ada urusan penting katanya."
Urusan penting apa? Huh. Aku rasa dia berbohong. 'Dia tidak ingin menemuiku' bukankah itu alasan yang lebih simpel?
"Kalian punya masalah?" tanya Bunda, menatap lansung ke manik mataku, meminta jawaban.
"Huaaa, putri ayah kenapa?" Ayah tiba-tiba masuk ke kamarku dengan wajah yang dibuat seakan-akan dia panik. Tampaknya dia baru pulang dari kantor. Tasnya masih ada di tangan dan jasnya belum dia lepaskan.
"Aku tidak apa-apa, Yah. Lihatlah, anakmu ini bahkan sudah mandi."
"Baguslah. Kau ingin makan apa? Biar ayah pergi membelikannya," tawar Ayah.
'Aku ingin Devan ada di sini, Ayah' Hatiku mengucapkan itu namun mulutku berkata "Aku tidak ingin makan apa-apa, Yah."
Selepas Ayah dan Bunda keluar dari kamarku. Aku membuka bingkisan buah dari Devan. Bingkisan buah di atas keranjang kecil yang dibungkus rapi dengan plastik wrap.
Di cela buah itu aku menemukan secarik kertas, kertas yang berukuran kecil dan di dalamnya terdapat sebuah tulisan yang ditulis dengan tangan.
Cepat sembuh, Dellong
Malam harinya, aku membaringkan tubuhku di sofa sambil menonton TV dengan Ayah. Kami menonton SpongeBob SquerePants . Lupakan soal usia, ayah dan aku benar-benar menyukai kartun itu.
"Kau marahan sama Devan?" tanya ayah tiba-tiba tanpa mengalihkan perhatiannya dari TV.
"Hmm." Hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku tidak tahu bagaimana cara menjawabnya.
"Kenapa?" tanya ayah lagi. Kali ini dia menatapku lekat.
"Sebenarnyaaaa, hmm." Aku menghela nafas kasar. "Devan menolakku," gumamku pelan.
"Apa?" Ayah tertawa. "Kau nembak Devan?" tanyanya, mungkin lebih tepat: ledeknya. "Terus-terus apa jawabannya?" Ayah tidak berhenti tertawa.
"Dia nggak mau karena pacaran bisa merusak persahabatan. Pacaran hanya berakhir dengan dua kemungkinan, putus karena menikah atau putus karena pisah," ucapku mengingat-ingat kembali ucapan Devan.
"Devan benar. Aku setuju sama Devan. Persahabatan itu bisa berlangsung selamanya bahkan kalau kalian nantinya punya pasangan, walau itu tergantung dari pasangan kalian masing-masing sih. Ayah sendiri malah lebih nyaman menjadi sahabat daripada menjadi pacar. Lebih bebas saja gitu," papar ayah. "Jatuh cinta sama sahabat itu menyakitkan," lanjutnya.
Aku menghela kasar. Aku heran kenapa aku melakukannya jika menjadi sahabatnya saja sudah begitu menyenangkan.
"Minta maaflah dengannya besok. Ayah yakin harimu sulit dan hampa bagimu tanpa Devan."
__ADS_1
***
Pagi ini hujan turun, walau tidak sederas tadi tetap saja mampu membuat bajuku basah. Awalnya saat aku berangkat, langit masih terang-terangnya, tetapi waktu di jalan tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya, menghujam aspal sehingga menciptakan irama yang tenang.
Aku berlari dari gerbang menuju koridor kelas yang jaraknya 10 meter. Tentu saja ini membuat bajuku sedikit basah di hari sabtu ini.
"Dingin," lirihku. Aku kemudian meniup tanganku lalu menempelkannya ke pipi agar aku sedikit merasa hangat.
Tiba-tiba saja dari belakang ada yang memakaikanku sebuah jaket. Aku menoleh, tetapi orang itu malah membelakangiku dan berjalan menjauh. Itu Devanku, Devan yang selalu peduli padaku di situasi apapun.
Ingin sekali aku memanggilnya jika saja mulutku tidak kaku. Tetapi syukurlah, kakiku masih bisa berlari untuk mengejarnya. Aku memeluknya dari belakang sehingga membuat langkahnya terhenti.
"Maafkan aku," ucapku pelan. "Aku ingin semuanya kembali baik-baik saja. Aku benci jarak yang tercipta ini. Aku merindukanmu, Devan. Sungguh."
Dia kemudian melepaskan pelukanku, berbalik ke arahku dan memegang bahuku. Aku tidak berani menatap matanya, sedangkan dia malah memegang daguku dan membuatku mendongak ke arahnya.
"Priciliaku, maafkan aku juga. Maaf telah membuat menangis," lirihnya sendu. Dia kemudian tersenyum dan membuatku ikut tersenyum. "Hei, kau menangis lagi?" Dia menatap manik mataku.
"Aku hanya terharu." Aku memanyungkan bibirku dan dia malah mengusap pipiku.
"Tetapi lihatlah, kau membuat bajuku basah. Dasar." Dia berbalik, memperlihatkan bajunya.
"Nggak basah, tuh." elakku. Padahal ada bekas air di sana. "Sudahlah, ayo ke kelas."
"Ayo." Devan kembali merangkulku hangat. "Tunggu." Devan menghentikan langkahnya, begitu pula denganku.
"Apa?
"Bukankah kau ingin pergi ke pantai?" bisiknya pelan.
"Tetapi sekarang sekolah."
"Nanti temui aku jam 8. Ok"
Aku tersenyum kemudian mengisyaratkan 'Ok' dengan tanganku. "Btw, kenapa kau tak menjengukku kemarin?"
"Siapa bilang? Aku datang ke rumahmu. Bahkan aku melihatmu pura-pura tidur," sindirnya. Dia terkekeh pelan
"Dari mana kau tahu aku pura-pura tidur?" Aku menatap tajam matanya.
"Aku hanya pura-pura tidur, Bun." Dia menirukan gayaku dan mengubah suaranya sebisa mungkin menyerupai seorang wanita.
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, malu. Ternyata dia ada di sana, berdiri di balik pintu. Pantas saja kemarin Bunda melihat ke arah pintu sebelum menjawab pertanyaanku. "Lalu suara motor itu?"
"Mungkin suara motor orang lain," jawabnya acuh. Dia kemudian melangkah, mendahuluiku ke kelas.
__ADS_1
Aku tidak ingin lagi menciptakan jarak dengannya.