
“Cil, mau ke toko buku, enggak?" teriak ayah yang membuatku -yang tadinya main game di kamar- langsung berlari menemuinya, tidak peduli dengan ponselku yang aku lempar ke kasurku tadi. Aku begitu suka dengan toko buku dan berita bagusnya lagi, ayah yang mengajakku kali ini. Dengan begitu aku bisa bebas membeli buku tanpa harus mempertimbangkan harga buku itu.
"Ayo, Ayah" ucapku berdiri di hadapan ayah dengan senyumku yang paling manis. Bersiap untuk berangkat.
"Kau mau pergi dengan pakaian seperti itu? nanti orang malah mengira kau pembantu ayah." Ayah tertawa terbahak-bahak, terlihat begitu puas menertawai anaknya yang hanya memakai kaos oblong kebesaran berwarna abu-abu.
"5 menit, Yah," ucapku sembari memperlihatkan telapak tanganku dengan jari-jari terbuka. Aku kembali berlari menuju kamarku, mengganti pakaianku dengan hoodie merah muda dan juga celana jeans hitam. Rambut panjangku aku biarkan terurai di depan dada. Aku melihat sekali lagi penampilanku di cermin untuk memastikan tidak ada yang aneh kali ini, kecuali jerawatku yang muncul di tengah-tengah hidung semenjak pulang dari bukit hari itu.
Aku segera menemui ayah yang saat ini pasti sedang menungguku di mobil. Tetapi nyatanya, dia sedang asyiknya tidur di sofa dengan TV yang dibiarkan menyala.
"Ayah," panggilku seraya menggoyangkan badannya pelan agar dia bangun.
"Hm"
"Ayah, ayo pergi!"
"Ayah mengantuk, mau tidur," balas Ayah dengan suara malas.
"Ayaaaaah, huaaaaa, ayaaaaaaaahh, aku sudah siap, ayo kita pergi, hiks.”
"Malas, Cil."
"Ayaaaaah.” Aku menghela nafas kasar dan berjalan menuju kembali ke kamarku.
"Hai, Cil, enggak jadi pergi, nih?" goda ayah yang membuatku merasa kesal.
"Ngga ah, ngambek,” ketusku.
"Ya sudah," balas ayah yang juga ikut-ikutan ketus.
"Ayah, bukannya di bujuk malah ikutan juga, ih," gerutuku sambil berjalan kembali ke arah Ayah.
"Sudah-sudah, jangan marah putri kecil ayah. " Ayah mengacak- acak rambutku lalu merangkulku sambil berjalan menuju mobil. "Bunda, kami mau ke toko buku," pamit ayah yang di balas bunda dengan kata ‘iya’. Benar-benar singkat, padat dan jelas.
Perjalanan ini benar-benar terasa jauh padahal toko buku dan rumahku hanya berjarak 1,5 km. Tetapi aku sudah tidak sabar lagi mencium harumnya buku-buku yang baru saja tertata dengan rapi di rak buku atau hanya sekedar melihat bagaimana indahnya sebuah ruangan yang dipenuhi oleh buku-buku.
Ayah menghentikan mobilnya yang menandakan bahwa kami telah sampai. Aku menatap toko buku favoritku, toko buku yang sudah aku anggap menjadi bagian dari kehidupanku, ever.
"Oi, mau cuma liat dari luar saja?" panggil ayah yang membuatku tersadar dan segera berlari menyusulnya yang sudah berada di pintu toko ini.
"Adel?" panggilan itu membuatku menoleh ke meja kasir.
"Eh? Kak Amran? Sejak kapan kakak pulang dari Amerika?" tanyaku begitu antusias.
Kak Amran, dia anak pemilik toko buku ini, kuliah di Amerika dengan beasiswa. Sungguh, dia sangat pintar. Pertama kali mengenalnya saat dia membantuku mencari sebuah buku -aku lupa judul buku itu-, 2 tahun silam. Kalau soal parasnya? Dia mempunyai kulit sawo matang. Dia juga manis. Setiap kali dia tersenyum, kita juga seperti ingin ikut tersenyum dengannya. Tubuhnya tinggi, tidak terlalu kurus, dan juga perawakannya yang tegap.
__ADS_1
"Kemarin lusa. Bagaimana sekolahmu?"
"Uhuk." Suara ayah membuatku dan juga Kak Arman menoleh kepadanya. Aku menatap ayah dengan tawa cekikan karena mengabaikannya tadi.
"Ayah, ini Kak Amran, anak pemilik toko ini dan Kak, ini ayahku yang sangat aku sayangi," ucapku saling memperkenalkan mereka berdua. "Sekolahku baik. Oh ya, aku mau cari buku dulu, sampai jumpa nanti, Kak."
“Senang berkenalan denganmu, Amran.”
Aku berjalan bersama ayah menyusuri setiap rak-rak buku, mencari buku apa pun yang menarik perhatian. Aku terhenti saat melihat buku bersampul putih karya bang Tere Liye.
"About love?" tanya Ayah yang berdiri di belakangku membuatku tersentak kaget. "Bukunya bagus, beli saja," lanjut Ayah.
"Tentu saja aku akan membelinya, Yah, walau tanpa ayah suruh sih," kekehku.
Kami kembali berjalan, menyusuri rak-rak buku itu. "Cil. Buku ini untukmu, hadiah dari Ayah." Ayah memberikanku buku bersampul abu-abu. Aku memperhatikan buku itu. Judulnya saja sudah menarik untuk di baca.
"Ini buku tentang apa, Yah?"
"Kau akan mengetahuinya kalau sudah membacanya."
Ayah kembali berjalan, meninggalkanku, menuju dari satu rak ke rak yang lainnya, mencari buku-buku yang dia perlukan. Aku berjalan mengekor di belakang ayah sambil ‘cuci mata’. Ayahku juga suka sekali membaca buku, dan karena kebiasaannya itulah yang menurun padaku saat ini.
"Sudah, Cil?"
Aku mengangguk dan membawa tiga buku di tanganku ke kasir, sedangkan Ayah? Dia membeli lima buku. Setelah membayar semuanya, Ayah mengajakku makan es krim di Mal terdekat -sebenarnya ayah tidak begitu suka es krim.
"Ayah? Ayah tahu cinta itu apa?" tanyaku tiba-tiba memecah keheningan yang tercipta. Ayah juga dari tadi sibuk dengan ponselnya, mungkin karena urusan pekerjaan.
"Cinta?" Ayah tampak berpikir kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. "Mungkin saat kau bertemu dengan seseorang yang membuatmu bersemangat? kau ingin menghabiskan hari-harimu dengan dia, berbagi banyak hal atau entah. Definisi cinta bagi ayah itu sungguh rumit. Bahkan di usia ayah sekarang ini, ayah belum benar-benar paham tentang cinta, bagaimana cinta itu bekerja atau bagaimana cinta mampu mengubah perilaku seseorang.” Ayah mengambil jeda sebentar, “kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku cuma penasaran saja, Yah. Terkadang teman kelasku, Si Rasti itu, Yah, masuk di kelas, habis jam istirahat tiba-tiba saja bilang 'OMG, aku selalu jatuh cinta sama Bebeb Devan'" ucapku seakan mengikuti ekspresi Rasti kala itu.
Ayah tertawa kecil di hadapanku, menertawakan apa? entah. Walau Ayahku ini sudah berumur, dia masih saja menjaga image di tempat publik. Andai saja aku menceritakannya di rumah, pasti dia sudah tertawa terbahak-bahak.
"Akhirnya sudah datang," ucapku senang saat melihat es krim berwarna merah muda rasa stroberi itu. Aku sudah tidak sabar untuk melahapnya sampai habis dan menikmati bagaimana lembutnya tekstur es krim itu saat bersentuhan dengan lidahku.
"Eh, Ayah?" Suara yang sudah sangat akrab di telingaku itu membuat es krim yang baru saja akan masuk ke dalam mulutku berhenti bergerak.
"Devan? Mau ikutan makan juga?"
"Kalau ayah nawarin, aku tidak bisa menolak," ucapnya sok kalem.
"Kalau ayah tidak nawarin pun, kau pasti akan tetap ikut makan," sindirku tanpa menatapnya. Aku lebih memilih menatap es krim yang ada di hadapanku lantas melahapnya. Huaaa, siapa yang menciptakan makanan selezat ini?
"Kau makan saja, duduk dengan kalem di situ, ya, tidak usah nyinyir, nanti rasa es krimnya jadi tidak enak," ucap Devan sambil menarik kursi dan duduk di sampingku.
__ADS_1
"Bacot,” desisku sembari menatapnya tajam.
"Ayaaaaah, anakmu itu ingin membunuhku dengan tatapannya, Ayaaaaah, tolong aku ayaahh." Nah, sifat childish Devan muncul, lihat saja, benar-benar menjengkelkan. Seperti anak yang mengadu dengan orang tuanya karena habis di bully.
"Lu bisa diam enggak sih? Liat nih! kuping gw bisa budek." Aku menunjuk telingaku dan memperlihatkannya kepada Devan.
"Ih, kuping lu banyak tainya," ucap Devan jijik.
"Gw baru korek kuping kemarin," balasku judes. "Lu mau sekalian gw korek kuping lu biar gendang telinga lu pecah? mau?" ancamku.
“Ayaaaaah.” Lagi-lagi Devan mengadu. Dasar.
"Sudah-sudah, kalian berdua kayak anak kecil saja, ayah sudah tidak kuat lagi menahan tawa. Buahuwahuawa." Tawa Ayah meledak, membuatnya tidak lagi terlihat cool, bahkan pengunjung lainnya menatap ke arah kami dengan tatapan yang sulit di artikan. Ada yang merasa heran, ada yang ingin ikut tertawa, ada yang bodo amat dan yang lebih parah ekspresi risih. Tetapi siapa peduli? Aku dan Devan juga malah ikut tertawa dengan ayah karena suara tawa ayah yang seolah menggelitiki perutku, dan mungkin Devan juga.
"Oh ya, Devan. Bagaimana kabarmu dengan Rasti?" ucap ayah yang mencoba menghentikan tawanya dan juga membuat Devan terdiam, tetapi malah membuatku semakin tertawa.
"Devan, aku sayang sama kamu," ucapku memperodikan Rasti yang berhasil membuat Devan menciptakan wajah masam.
"Cil." panggilan Ayah membuatku berhenti tertawa dan beralih menatap Ayah. "Kamu mencium aroma gas yang bentar lagi mau meledak, tidak?"
Aku berpikir. Butuh tiga detik bagiku untuk paham bahwa Ayah sedang membicarakan Devan. Tentu saja, itu membuatku semakin tertawa. Wajah Devan mulai memerah, entah karena mau marah atau malah malu.
"Stop it," ucap Devan dengan datarnya.
"Oke, oke, aku berhenti," ucapku sambil mencoba menghentikan tawa ini. "Oke, sudah." Aku melihat ayah yang juga sudah berhenti tertawa.
"Devan, ayah mau bertanya?" Ayah menatap serius wajah Devan.
"Apa, Yah?" balas Devan yang juga ikutan serius.
"Kenapa kau tidak menyukai Rasti?" tanya ayah seakan menginterogasi Devan.
"Ayah, siapa yang akan menyukai orang yang berlebihan dalam mencintai, dia sangat lebay, ayah. Lagi pula, beberapa orang terkadang membenci orang yang mengejarnya. Dan juga malah sebaliknya berjuang mati-matian untuk orang yang dia cintai," jelas Devan
"Aku setuju denganmu," sahutku.
“Memang kau pernah jatuh cinta?” ledek Devan.
Au terdiam sejenak, berpikir, tetapi tidak menemukan jawaban yang tepat. Aku bahkan belum paham definisi cinta itu sendiri. “Memangnya kau pernah?” sindirku.
“Pernah” jawabnya acuh.
“Dengan siapa?”
"Adel.” Suara itu membuatku menoleh, "Eh? Bebeb Devan juga ada di sini?"
__ADS_1
Aku menyapa kembali Rasti. Entah kenapa aku bertemu dengan dua orang temanku di tempat yang sama dan jam yang sama. Ini adalah sebuah kebetulan. Aku beralih menatap Devan yang tiba-tiba saja menjadi diam dan malah sibuk menikmati es krimku. Eh sejak kapan Devan mengambil es krimku? Aku bahkan baru memakannya dua sendok. Aku kembali merebut es krimku darinya lalu berpaling, membelakanginya, menikmati betapa enaknya makanan yang bernama es krim itu. Btw, Es krim itu makanan atau minuman?
Lupakan itu, tampaknya Devan berada dalam masalah.