Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Yolanda


__ADS_3

Aku menghela nafas kasar, duduk menopang dagu di kursiku. Entah sedang menunggu kedatangan Devan atau enggak Kak Rega datang ke kelas yang sangat membosankan di jam istirahat ini. Karena sampai saat ini hanya mereka berdua yang bisa mengusir rasa bosanku itu. Aku benci rasa bosan ini.


"Adel, Bebeb Devan lagi berkelahi dengan Kak Rega." Suara panik milik Rasti membuatku refleks ikutan panik.


"Di mana?"


Dia tidak menjawab pertanyaanku, melainkan langsung keluar dari sana sambil menarik tanganku, membuatku harus menyesuaikan langkahku dengan langkahnya yang sedang berlari itu. Dia membawaku ke tempat yang dikerumuni beberapa siswa -atau mungkin hampir semua siswa sekolah ini.


Aku menerobos kerumunan itu dan mendapat Devan yang sedang menghajar Kak Rega. Kak Rega juga balik melawan. Tetapi kalau di lihat, Devan yang unggul dalam perkelahian ini. Sudah kayak pertandingan tinju saja.


“Ayo, Kak, lawan balik,” teriakku keras. Aku yakin kalau mereka akan mendengarnya. “Lanjutkan, Van. Semangat-semangat. Yuhuu,” sorakku seperti melihat pertandingan sepak bola. “Jangan mau kalah, Kak.”


“Adellong,” ucap mereka berdua bersamaan sehingga seperti terdengar kata tersebut. Mereka berdua menghentikan perkelahiannya dan menatapku dengan heran.


“Kalian ini.” Aku melangkah ke arah mereka lalu menarik tangan mereka. Sudah seperti ibu yang menengahi perkelahian anaknya saja aku ini. Aku membawa mereka ke tempat yang sepi- walau tidak sepi-sepi amat, ada beberapa siswa yang lalu lalang.


"Ada apa?" tanyaku pelan, membuka suara.


"Bukankah dia membuatmu menangis kemarin?" Devan mendesis, sepertinya dia benar-benar emosi.


"Dari mana kau tahu aku menangis?" tanyaku penasaran. Padahal aku benar-benar membersihkan bekas tangisanku kemarin.


"Mata dan hidungmu masih merah." Devan memutar bola matanya lalu melipat tangannya di depan dada.


Aku tampak berpikir. Perasaan saat bercermin di ponselku kemarin, semuanya seperti biasa-biasa saja. Apa jangan-jangan karena pesan itu sehingga Devan bisa menyimpulkan ini? Entah.


"Dan kenapa kakak juga balik melawan. Kenapa tidak mencoba menghentikannya, Kak?" Aku beralih menatap wajah Kak Rega yang lebam itu.


"Dia yang datang ke kelasku, menarik kerah bajuku ke lapangan. Tidak bicara langsung main pukul saja. Kalau di biarkan, wajahku bisa hancur,” sinis Kak Rega. “Tetapi Del, aku hanya menangkap Yolanda yang hampir terjatuh kemarin. Kau salah paham, A."


"Aku tadi bertanya sama Yola, dia bilang kalian memang berpelukan," ucap Devan memotong ucapan Kak Rega tanpa melirik sedikit pun ke arahnya.


“Maaf,” gumamku pelan, hampir tidak terdengar. Ini semua salahku. Kenapa aku harus menangis? Dan lebih parahnya lagi kenapa aku tidak langsung saja pulang ke rumah? Tetapi Devan adalah moodbooster-ku. Dia bisa membuatku tersenyum dan melupakan masalahku sejenak.


Beberapa detik kemudian, seorang gadis menghampiri kami dan mengatakan kalau Kak Rega dan Devan dipanggil ke ruang BK. Tentu saja Pricilia Adel akan ikut karena sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi.


"Devan, Devan, kamu bikin masalah lagi," sambut Pak Romi yang sudah menunggu kami. "Sama murid kesayangan bapak pula," lanjutnya.


"Dia yang membuat masalah, Pak. Dia membuat Dellongku menangis," jujurnya.


"Maaf, Pak, aku tidak bermaksud melakukan semua itu,” sahut Rega pelan. “Tetapi dia yang mulai memukulku.”

__ADS_1


"Astaga, masalah anak muda rupanya." Pak Romi terkekeh lalu kembali menyibak rambutnya yang menghalangi pandangannya.


Setelah di ceramahi panjang lebar oleh Pak Romi, mereka berdua di hukum untuk hormat di tengah lapangan menghadap ke bendera. Aku menatap bendera yang sedang berkibar karena ditiup oleh angin di cuaca cerah ini.


"Kenapa kau ikut, Adel?" tanya Kak Rega, dia menatapku tanpa menurunkan tangannya.


"Mana mungkin sahabat dan pacarku di hukum, aku malah duduk dengan santainya di kelas. Lagi pula hari ini Bu Farah sakit, jadi syukur kelasku free." Aku terkekeh. "Kau masih marah, Van?" tanyaku kini beralih menatap wajah Devan.


"Ngga tahu," jawabnya cuek. “Btw, kulitmu bisa menghitam,” ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari tiang bendera itu.


“Tenang saja, aku sudah pakai sunblock,”


“Kau pakai sunblock ke sekolah, Del?” tanya Kak Rega tiba-tiba.


“Begitulah, Kak.” Aku menampilkan deretan gigiku, tersenyum malu.


×××


"Yolanda." Aku menarik tangannya saat melihatnya berjalan menuju koridor pagi ini. Dia menoleh ke arahku lalu menghempaskan tanganku begitu saja sehingga refleks membuatku mengadu kesakitan.


"Kalau soal Kak Rega, kami memang berpelukan. Lagi pula kenapa kau tidak melupakannya saja? Kalau kau melupakannya, masalah akan hilang dengan sendirinya dan bukankah itu tiga hari yang lalu?" sinisnya


"Apa untungnya untuk gw jika gw mengatakan itu dan bahkan lu bilang kalau ini salah gw? Wait, bukankah ini salahmu sendiri karena menangis?"


Ucapan Yolanda membuatku tertegun. Apa ini memang kesalahanku? Aku sedang beradu dengan pikiranku saat ini. Yolanda berdecak, kemudian meninggalkanku yang saat ini berdiri mematung.


"Selamat pagi, Dellong," suara dan rangkulan tiba-tiba itu membuatku kembali tersadar. "Btw, kenapa kau berangkat sekolah lebih dulu?"


"Eh? Aku menunggumu, tetapi kau tidak datang. Dari pada terlambat, jadi aku ikut sama ayah."


"Ya sudah, ayo ke kelas."


"Adel." Panggilan itu menghentikan langkah kami berdua.


"Aku ke kelas dulu," ucap Devan yang langsung pergi.


Kak Rega kemudian berlari menghampiriku. "Dia masih marah?" tunjuknya ke arah Devan.


"Mungkin saja, Kak. Tetapi aku yakin, semua akan baik-baik saja."


×××

__ADS_1


Aku baru saja kembali dari WC sekolah saat melihat Kak Rega dengan Yolanda sedang duduk berdua di bangku taman. Karena aku adalah orang yang super penasaran aka kepo, aku memilih bersembunyi di balik tembok dan menguping pembicaraan mereka.


"Bagaimana aku tidak menjauh dari kamu? Kamu membuat Devan marah. Apa salahnya kamu jujur sama Devan kalau aku cuma menangkapmu kemarin yang hampir terjatuh itu. Kita berdua tahu apa yang terjadi di sana, bukan? Kenapa kau berbohong dan mengatakan bahwa aku memelukmu?” Suara Kak Rega terdengar judes.


"Kalau aku jujur sama Devan? Apa kakak tidak akan marah lagi?" tanya Yolanda.


"Mungkin saja."


Setelah mendengar itu, aku memilih untuk kembali ke kelas karena aku sudah mengerti arah pembicaraan mereka.


"Kau dari mana? Aku lelah menunggumu di sini, belum lagi kalau Rasti tiba-tiba saja datang." ucap Devan dengan kesalnya.


"Devan." Yolanda tiba-tiba saja berdiri di belakangku. Secepat ini? "Aku mau ngomong sesuatu." Dia menundukkan kepalanya.


"Apa?"


"Kak Rega benar, dia hanya menahanku karena kemarin itu aku hampir saja jatuh. Maaf karena telah berbohong. Maafkan aku juga, Del."


"Ok." Hanya kata itu yang di ucapkan Devan. Sepertinya dia enggan untuk menanggapi lebih lanjut. Sedangkan aku? aku tidak ingin bersuara, sudah terlanjur kecewa dengan Yolanda atau mungkin aku kecewa dengan diriku sendiri? Lagi pula Yolanda melakukan itu karena perintah Kak Rega. Ah, sudahlah.


Setelah mengatakan itu, Yolanda pamit, dia berjalan entah pergi ke mana, mungkin menemui Kak Rega untuk mengatakan bahwa dia telah melakukannya. Ya, Kak Rega memang pacarku, tetapi karena dia tidak membatasi pertemananku, apa aku harus membatasi kepada siapa dia ingin bergaul?


"Makan yuk, Del. Kamu traktir," ajak Devan.


"Sejak kapan kamu bisa memutuskan orang lain untuk mentraktir?” Aku memicingkan mataku.


“Ayo.” Devan lagi-lagi menarik tanganku. Tetapi tidak apa-apa, aku akan mentraktirnya untuk hari ini.


Setibanya di kantin aku segera memesan makananku kepada wanita paruh baya itu.


"Nasi ayam, bakso, es teh sama bakwannya 5k, Bu," pesan Devan yang mendahuluiku dan di tanggapi dengan anggukan pelan oleh Bu Ana. "Aku menunggumu di sana. Aku juga menitip pesananku, ya!" perintahnya yang saat ini berhasil membuatku menggerutu kesal.


“Nak, kau mau makan apa?” Bu Ana mengagetkanku.


“Eh, nasi goreng saja, Bu.”


Aku menghampiri Devan dengan membawa nampan berisi makanan yang di dominasi oleh pesanannya. "Kalau di traktir, sadar diri kek, malah menghabiskan uang gw. Tahu enggak, sih?" omelku.


Devan mengabaikanku, memilih untuk tetap diam dan menyantap makanannya. Walau begitu, bakso dan bakwan itu kami makan bersama.


Devan yang menyebalkan, always.

__ADS_1


__ADS_2