Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Jatuh Cinta?


__ADS_3

Setelah mengemas buku-bukuku di tas ransel kecilku, aku segera berlari menuju ke meja makan. Wajah menyejukkan bunda dan juga wajah penuh keberanian milik ayah menyambutku dengan sapaan hangat di sana.


"Wow, hari ini kita makan nasi goreng," ucapku bersemangat lalu mulai melahap enaknya nasi goreng buatan bunda. "Ayah, antar aku ke sekolah ya, please. Devan kayaknya telat bangun, Yah. Biasanya kalau jam begini, dia sudah ada di depan rumah berteriak enggak jelas."


Ayah mengangguk pelan. Setelah membereskan bekas makanku, aku meraih tangan bunda, menyalaminya, pamit untuk berjuang mencari ilmu yang sangat sulit di gapai kecuali dengan tekat dan kemauan yang besar. Ok, aku mulai berlebihan.


Aku melihat bunda melambaikan tangannya saat mobil yang ayah kendarai mulai melaju meninggalkan rumah. Itu sudah menjadi rutinitas keluargaku -kecuali kalau aku di jemput Devan.


"Sampai nanti, Ayah," ucapku setelah menyalami tangan ayah kemudian bergegas turun dari mobil.


Aku berjalan menuju kelas dengan semangat pagiku yang sudah tidak sabar untuk mengikuti mata pelajaran fisika, mata pelajaran favoritku. Lagi pula, gurunya juga asyik kalau menjelaskan, masih muda pula, ganteng lagi. Aku bukannya suka sama guruku, ya, cuma kagum saja.


Bel berbunyi menandakan pelajaran telah di mulai. Bagiku, waktu berjalan sangat cepat sampai-sampai bel kedua berbunyi untuk menandakan waktu istirahat. Tanpa aku sadari dua jam mata pelajaran itu telah lewat. Aku segera beranjak dari kursiku dan berjalan ke kelas Devan, mencari tahu apakah Devan ke sekolah hari ini atau tidak.


"Mau ke mana?" Sosok yang ingin aku temui itu tiba-tiba saja berada di hadapanku, seperti hantu yang tiba-tiba saja muncul. Tetapi setidaknya hantu tahu kapan akan muncul dibanding pria yang bertanya dengan polosnya di hadapanku setelah membuatku terkejut.


"Tadi mau ke kelasmu, soalnya pagi tadi kamu enggak jemput aku. Aku khawatir saja kalau kamu tidak masuk hari ini,” jujurku


"Ya maaf," dia menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal itu. "Ban motorku tiba-tiba bocor, jadi aku ke bengkel dulu."


"No problem. Oh ya, bantu aku kerja tugas, lagi malas banget aku menghitung.”


“Ck, memangnya harus di kerjakan di sekolah?”


“Ayolah, aku sangat malas mengerjakannya di rumah, Van.”


Devan menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. "Oke, oke." Devan berjalan menuju ke kursiku kemudian mengambil tasku, mencari sesuatu tanpa izinku.


"Cari apa?"


"Penghapus."


"Ada di bagian bawa. Ada tempat kecil di sudut sana. Lagi pula kau belum mulai menulis. Untuk apa penghapus itu?" tanyaku sambil memperhatikan apa yang dilakukannya


"Aku tidak mau pakai buat menghapus sih, cuma mau aku jadikan mainan doang," balasnya. "Wait? ini buku apa?" tanyanya mengambil buku dari tasku kemudian menghadapkan sampul buku itu kepadaku.


"Buku itu hadiah dari ayahku."


"Aku pinjam ya, terima kasih, aku ke kelas dulu." Devan mengambil buku itu bahkan sebelum mendengar jawabanku, tetapi bagaimana bisa buku itu masuk ke dalam tasku? mungkin tanpa sengaja aku memasukkannya pagi tadi. Eh, aku belum membaca buku itu, malah di ambil sama Devan.


"Devan, kembalikan buku gw. Kau bahkan belum membantuku mengerjakan tugas," teriakku, aku begitu malas untuk mengejarnya. Bentar juga pasti dia membalikkannya, mungkin besok.


Lupakan soal itu, bel pulang telah berbunyi empat jam setelahnya. Devan pasti sudah menungguku di gerbang. Aku segera berlari menemuinya setelah menyalami tangan lembut Bu Farah.


Tunggu, yang berdiri di sana Devan kan? Apa ada yang salah dengan hatiku saat ini? Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Pandanganku terarah pada Devan yang duduk di atas motornya itu dengan gaya seperti anak-anak motor, tetapi masalahnya bukan di situ, masalahnya ada di jantungku. Hai jantung, apa kau baik-baik saja?


"Bukuku mana?" tanyaku sekalem mungkin di depannya. Jantungku lagi-lagi memberontak ingin keluar dari tempatnya. Ini benar-benar mendadak.

__ADS_1


"Aku pinjam satu hari doang, besok aku kembalikan. Oke? soalnya bacaannya seru." Huaaa, kenapa dia memperlihatkan wajah imutnya. Aku tidak demam, bukan?


"Baiklah-baiklah."


"Devan." Teriakan cempreng milik Rasti membuat kami berdua menoleh. Dia berada kurang lebih 10 meter di belakangku.


"Cepat naik, Dellong."


Begitu aku naik, Devan langsung melajukan motornya, mengabaikan Rasti yang memanggilnya terus menerus. Maaf, Rasti. Bukan aku loh ya.


Devan lalu menghentikan motornya di depan penjual es kelapa di pinggir jalan. Enak nih, minum kelapa di siang hari yang panas begini. Cuacanya benar-benar mendukung.


"Lelah banget," keluhku.


"Lelah apanya? bukannya kau gila belajar?" sinis Devan.


"Ck, aku mau banget liburan, ke gunung atau enggak ke pantai."


"Boleh, lagi pula tahun ini aku belum ke pantai. Kapan kamu mau pergi?"


"Besok lusa, bagaimana?"


Belum sempat Devan menjawab pertanyaanku, penglihatan kami beralih pada anak kecil yang dikejar oleh wanita paruh baya yang menggunakan daster sambil membawa sapu lidi. Mulut wanita itu terus saja mengoceh, sedangkan anak yang di kejarnya, bukannya takut dia malah justru balik melawan.


Mataku dan Devan saling bertemu, terpaku, tanpa kata kami berdua langsung tertawa terbahak-bahak. Well, itu sangat lucu, astaga. "Kamu lihat ekspresi anak itu?" tanya Devan walau tawanya belum berhenti.


"OMG, tolong aku menghentikan tawa ini."


"Humorku receh banget, huahahaha."


"Mas? mbak?" panggil penjual es kelapa itu sehingga kami berdua mencoba untuk diam. Perutku sudah cukup lelah karena tertawa. “Ini kelapanya.”


"Eh? Iya, terima kasih."


Aku menghabiskan siang hariku di tempat ini bersama Devan, berbicara tentang humor, youtuber, apa saja, bahkan teman kami pun sudah jadi topik pembicaraan hangat hari ini.


"Beli lima untuk siapa?" tanyaku saat aku melihatnya membawa tiga kantong berisi es kelapa.


"Untuk emak, daddy, ayah, bunda, dan juga Mesya."


Devan kembali melajukan motornya, membela padatnya kota tanah kelahiranku. Jalan ini tak pernah sepi dari kendaraan yang berlalu lalang entah mau ke mana. Walau banyak kendaraan, udara di sini masih cukup bersih dari polusi. Masih ada banyak pohon-pohon yang di tanam di pinggir jalan.


"Tidak mau singgah?" tawarku saat kami telah tiba di depan rumahku.


"Biasanya tidak nawarin, malah di usir,” sinisnya. “Enggak dulu, titip salam rindu saja buat ayah sama bunda,” ucapnya sembari menyerahkan satu kantong plastik itu kepadaku


Aku mengangguk, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Aku melihat ayah dan bunda sedang menonton TV bak pasangan anak remaja di bioskop. Ayah merangkul bunda dan bunda menyandarkan kepalanya di bahu ayah. So sweet banget.

__ADS_1


"Tumben pulangnya telat?" Ayah menoleh kepadaku, begitu pula dengan bunda.


"Tadi singgah makan es kelapa. Oh ya, ini dari Devan, dia juga titip salam karena enggak bisa singgah. Aku ke kamar dulu ya, Ayah, Bunda. Lelah," ucapku sambil memberikan titipan dari Devan.


Aku membuka pintu kamarku dan langsung merebahkan diriku di kasur. Kalau di ingat-ingat, hari ini Devan manis juga, tumben-tumbennya dia traktir, belum lagi saat dia begitu tampannya di depan gerbang tadi. Aku baru menyadari kalau wajah manis, imut, dan gantengnya itu sudah kelewatan.


"Kenapa aku memikirkannya? Akh lupakan itu."


Sebenarnya waktu tidurku sudah terlewat, jadi aku putuskan hanya untuk bermain sosial media. Aku menatap jam di dinding kamarku, rupanya sudah jam lima. Aku segera bangun dari nikmatnya rebahan dan segera mengganti baju. Aku mendengar teriakan bunda dan segera berlari menyusulnya.


"Ada apa, Bun?"


"Bantu bunda masak." Bunda kemudian memberikanku cabai, bawang, dan bahan lainnya untuk di iris.


Aku mulai melakukan pekerjaan itu dengan hati-hati, takut jika tanganku terluka. Pernah sekali tanganku terluka karena teriris pisau dan membuatku trauma untuk memegang pisau selama seminggu.


"Kau lagi apa?"


Devan? sejak kapan dia ada di hadapanku? Menatapku dengan tatapan yang penuh perhatian. Dia sedang menahan kepalanya dengan kedua tangannya yang berada di atas meja sembari memperlihatkanku senyuman termanisnya.


"Aduh," refleksku saat merasakan tanganku pedis, teriris pisau, lagi, untuk kedua kalinya.


"Kau kenapa, Cil?" tanya bunda.


"Devan mana?"


"Devan?" tanya bunda dengan raut wajah penasaran. "Enggak ada Devan di sini. Lupakan itu, pergi obati lukamu, biar bunda yang melanjutkan ini."


Aku mencuci lukaku dengan air untuk menghentikan sementara darahnya, melapisi tisu agar darahnya tidak jatuh ke lantai lalu mengambil kotak p3k di samping televisi.


"Ada apa dengan tanganmu, Cil?" tanya ayah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang duduk di lantai "Sini, ayah bantu." Ayah meraih tanganku dengan lembutnya.


"Lain kali hati-hati, ya. Fokus sama apa yang kamu lakukan, apalagi kalau berhadapan dengan pisau," nasihat Devan membuatku tersenyum, entah dari mana dia muncul, tetapi dia membantuku mengobati tanganku.


"Cil?" panggilan itu mengubah sosok Devan yang tadinya aku lihat menjadi ayahku. "Kenapa kau tersenyum? melamun juga." Ayah terkekeh.


"Eh? Ayah? sejak kapan ayah di sini?" ucapku refleks. Lagi.


Tunggu, Devan yang aku lihat itu hanya imajinasiku? tetapi ini seperti terlihat nyata. Dia seperti benar-benar ada di hadapanku tadi. Ini halu, Pricilia. Halu. Aku benar-benar berimajinasi bahwa Devan ada di hadapanku. Apa jangan-jangan aku masih bermimpi. Aku mencubit pipiku dan merasa sakit. Ini bukan mimpi. Tetapi bagaimana imajinasiku bisa menciptakan sesuatu yang benar-benar terlihat seperti nyata.


"Oi? Kau tidak kesurupan, kan?" tanya Ayah, memegang kedua pipiku dan menggoyangkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, goyang, yeah. -Tadi itu lagu yang tiba-tiba terlintas di pikiranku.


"Ayah, kau membuatku pusing," keluhku, “Aku tidak apa-apa, Yah?"


"Kalau begitu apa yang kau lamunkan?" Ayah menggodaku, lebih tepatnya mengejekku.


"Sudahlah." Aku berdiri, beranjak menuju kamarku sebelum di interogasi lebih mendalam oleh Ayah. Aku bisa menebak bagaimana reaksi ayah saat aku memberitahunya. Aku pasti akan di bully-nya sampai dia benar-benar puas.

__ADS_1


Apa ini rasanya jatuh cinta?


__ADS_2