Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Dasar Devan


__ADS_3

Aku melihat jam di pergelangan tanganku. Tepat jam 08.00. Aku kemudian meminta izin kepada guru yang saat ini mengajar di kelasku bahwa perutku sakit dan aku ingin ke UKS. Dia kemudian mengangguk dan menyuruh salah seorang temanku untuk menemaniku, tetapi aku menolak karena alasan aku bisa sendiri.


Aku kemudian berjalan ke UKS tetapi di tengah perjalanan, tiba-tiba saja seseorang menarikku dan membuatku terkejut. Hampir saja aku berteriak jika dia tidak menutup mulutku.


"Akhh. Kau membuatku terkejut. Tidak bisakah kau memanggilku saja tanpa menarikku seperti ini?" Aku memutar bola mataku, malas.


"Kau ini kenapa sih? Di panggil nggak menoleh, malah marah-marah nggak jelas," balasnya protes.


"Dah lah, sekarang apa?" tanyaku.


Dia kemudian menarik tanganku, mengendap-endap seperti seorang pencuri menuju ke belakang kelas, tidak lupa dia mengawasi sekitar, jaga-jaga saja saat ada yang melihat. Btw, ini pertama kalinya dalam hidupku, tentu saja membuatku was-was


"Nah." Dia menunjukkan dinding padaku.


"Kau mau memanjat dinding itu? Kau tidak bercanda kan? Aku pakai rok, emang bisa?"


"Kita hanya perlu lompat, di sana ada kotak-kotak yang tersusun," tunjuknya pada setumpuk kotak yang terbuat dari kayu. Tumpukan kotak itu tinggi sehingga kita bisa mencapai pagar.


Aku mengikuti Devan kemudian melompat di tempat yang menurutku aman. "Sekarang apa?" tanyaku setelah kami melompat.


"Lari dulu....." teriak Devan kemudian berlari, membuatku refleks mengejarnya. Setelah cukup jauh dari sekolah. Devan mengajakku untuk membeli baju kaos agar nanti pakaian kami tidak kotor. Uang siapa? tentu saja uang Devan.


"Ambil hoodie aja," suruhnya.


"Panas."


"Pilih panas atau kulit kamu jadi lepek karena sinar matahari?" sindirnya. "Kamu nggak capek perawatan? wkwk."


Aku memanyungkan bibirku kemudian pergi mencari hoodie berwarna pastel favoritku, tidak lupa dengan celana jeans hitam. Bagi cewek sepertiku, lebih baik kepanasan dari pada perawatan kulitku sia-sia.


"Kita kemana dan naik apa?"


"Pantai Ancol, terus naik mobil teman aku."


"Teman kamu?"


"Iya."


Aku hanya mengangguk, mengikuti langkah Devan yang berjalan keluar dari mall. "Nah, itu dia," tunjuknya pada mobil kecil berwarna putih. Di hampirinya mobil yang terparkir rapi di parkiran mall ini.


"Hai yo. Apa kabar? Lama tak melihatmu," sapa Fadel. Dia masih sama sejak terakhir aku melihatnya, hanya saja dia lebih tinggi dibanding dulu, tidak banyak yang berubah sih, selain wajahnya yang berubah menjadi lebih tua. Wajar saja, dia usianya tiga tahun lebih tua dari kami. "Untung, saja kau mengajakku, bro. Kalau nggak kapan lagi kita bisa ketemu."


Devan hanya tertawa dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Dia siapa?" tanya Fadel ke Devan saat melihatku.

__ADS_1


"Kau tak mengenalnya? Atau kau melupakannya?" tanya Devan.


Fadel kembali menatapku intens, mengamati setiap detail inci wajahku lantas menyeritkan keningnya, bingung. Diperhatikan seperti itu tentu saja membuatku tersipu malu.


"Dia Adel," ucap Devan.


"Adel?" Fadel tampak berpikir. "Oh yang bocah ingusan itu, ya? Yang dulu sering kita ejek karena wajahnya kusam?"


"Yap."


"Eh, apa gw seburuk itu?" Aku memutar bola mataku malas lalu memanyungkan bibirku.


"Oh, Adel," panggil Fadel dengan nada puitisnya. Dibentangkan tangannya di hadapanku, seperti hendak memeluk.


"Eh? Kau tidak boleh melakukannya." Devan tiba-tiba saja berdiri di hadapanku untuk menghalauku dari Fadel. "Aku nggak memperbolehkan itu. Awas saja jika kau macam-macam," ancam Devan dengan nada bercanda.


"Lu siapa? Ck. Tetapi sungguh, dia benar-benar cantik," puji Fadel. "Kau sudah punya pacar?" tanyanya padaku yang aku tanggapi dengan gelengan kepala. "Kalau gitu jadi pacarku aja."


"Nggak," tolak Devan mentah-mentah. "Kamu playboy, suka mainin perasaan cewek, nggak peka, suka kasar, nggak pengertian, nggak bisa di percaya, suka kasih janji manis, suka"


"Woi stop. lu mau mulut lu gw kasih lakban. Itu nggak benar" Kini Fadel yang balik mengancam.


"Sudahlah, ayo pergi," ajakku menghentikan perdebatan yang tidak jelas itu.


"Fad, bagaimana kuliahmu?" tanyaku, membuka topik pembicaraan yang dari tadi hening.


"B aja. Tetapi kalau kuliah nanti, kamu lanjut ke kampus yang sama denganku, ya," ajak Fadel. Aku hanya tersenyum, tidak mengangguk ataupun menggeleng. "Oh ya, sudah berapa lama kita nggak ketemu? Terakhir kali ketemu waktu kamu masih dekil-dekilnya." Dia terkekeh.


"Itu pertanyaan atau ejekan?" tanyaku sedikit menyindir.


"Terakhir ketemu itu pas kami masih kelas lima," jawab Devan yang tiba-tiba masuk dalam inti percakapan. "Itu karena kamu yang melanjutkan pendidikan di luar negeri. Kan kita jadi pisah."


"Sifat lu masih belum berubah, yah. Dasar." Fadel beralih mengejek Devan. "Masih childish gitu." Aku yang pernah melihat sifat dewasa Devan hanya diam, tidak ingin menyanggah ataupun menambah.


"Serah-serah." Devan melipat tangannya di depan dada, merajuk. Lihat, betapi childish-nya dia


***


"Yeay, sudah sampai," girangku saat Fadel mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya.


Hari ini langit mendung tetapi tempat ini masih ramai. Setidaknya cuaca mendung ini dapat mengurangi rasa panas di jam yang mulai menuju tengah hari. Hawa bahkan menjadi agak dingin dengan tambahan angin sepoi-sepoi yang menusuk kulitku.


Devan kemudian mengajakku berfoto. Setiap poseku selalu saja di rusaknya. Saat aku memperbaiki poseku, dia kalau nggak menganggu malah mendorongku. Aku bahkan tidak yakin kalau ada fotoku yang bagus nanti.

__ADS_1


"Kalian ini pacaran nggak sih?" tanya Fadel dengan wajahnya yang bete. Mungkin saja, dia sudah malas meladeni kami berdua.


"Nggak, sahabatan doang." Aku tersenyum.


"Dia adekku yang benar-benar manis. uwu." Devan mencubit pipiku, memperlihatkan wajah jeleknya di hadapanku seakan akan menganggap aku anak kecil.


"Woii, sakit." Aku melepaskan tangannya dari pipiku.


"Sudahlah, ayo pergi minum. Haus nih," ajak Fadel.


Aku mengikuti langkah besar keduanya, berjalan menuju ke sebuah tenda di pinggir pantai. Duduk dan memesan minuman dingin.


"Fadel yang bayarin," ucap Devan seraya menaruh gelas yang sudah kosong di atas meja.


"Eh? kok aku?"


"Karena kau yang paling tua," ucapku yang berada di pihak Devan.


"Nggak," tolaknya mentah-mentah.


"Huaaa Fadel jahaaatt." Aku merajuk seperti anak kecil, begitu pula dengan Devan yang mulai mengikutiku.


"Kau yang mengajak kami makan ke siniiiiii. Huaaaaa."


"Kau yang harus bayariiinnn. Hiksss hikss hikss."


"Apaan sih kalian, alay banget. Iya, iya, gw bayarin," pasrah Fadel. Dia kemudian mengambil dompet di saku celananya dan menyerahkan uang biru.


Aku berjalan mengikuti Devan, berusaha mensejajarkan langkahku dengan langkahnya yang agak besar itu. Fadel sudah tertinggal di belakang sana. Devan berjalan ke jembatan, yang biasa orang sebut dengan Jembatan Cinta. Devan kemudian berhenti, menatap indahnya laut dari atas jembatan ini.


"Indah, ya," gumamnya tanpa menoleh. Pandangannya masih mengarah ke arah laut itu.


Aku tidak menjawab, sibuk dengan pikiranku sendiri saat melihat ke arah laut sana. "Aku harap bisa ke sini lagi denganmu."


Suaranya membuatku menoleh, menatap wajahnya dari samping. Dia kemudian menoleh padaku, "Del, terima kasih karena telah menjadi sahabatku. Aku benar-benar bahagia," ucapnya sambil menatap langsung manik mataku, membuatku diam membeku. "Terima kasih juga karena telah hadir dan menjadi bagian dalam setiap mimpi-mimpiku," ucapnya yang membuatku menyeritkan kening. Aku tidak mengerti dengan arti kata mimpi yang di ucapkannya.


"Terima kasih karena telah menjadi pria menjelkelkaaan yang pernah aku kenal," balasku dengan penuh penekanan tetapi malah membuatnya terkekeh.


"Woii, kalian tega banget ninggalin gw, sudah jam 12.00, kalian harus kembali ke sekolah," ucap Fadel yang datang entah dari mana. Dia benar, kami harus segera kembali ke sekolah.


Di perjalanan pulang, aku melihat kamera yang berisi foto-foto kami tadi. Di antara semua foto aku dan Devan yang bagus hanyalah satu. Di foto itu aku menatap Devan dengan wajahnya yang cemberut sedangkan Devan menatapku dengan cengiran khususnya. Aku akan mencuci foto itu dan membingkainya untuk aku simpan di kamarku, berharap semua bisa di ulang.


Jika saja waktu dapat di perlambat.

__ADS_1


__ADS_2