Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Canggung dan Maaf


__ADS_3

“Kau pulang sama siapa, Cil?" tanya ayah yang menatapku dengan tatapan heran -mungkin saja itu karena raut wajahku yang terlihat begitu sendu. Aku baru saja tiba di rumah setelah menunggu hujan reda di perpustakaan itu.


"Taksi,” lirihku.


"Devan mana?"


"Ayah, maafkan aku. Aku sangat lelah, ingin istirahat, nanti kita bicara lagi, Yah." Aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Rasanya benar-benar sakit, kecewa dan juga kacau. Tetapi itu bukan salah Devan, ini adalah salahku. Lagi pula suaraku pun begitu malasnya keluar dari mulutku.


Aku menghempaskan diriku di kasur, menatap ke langit-langit kamar, menghela nafas kasar lantas menutup mata untuk berpura-pura semua baik-baik saja. Ini mungkin akan sulit, tetapi aku tidak ingin lagi mengingatnya. Biarkan otakku beristirahat untuk sementara saja. Dia sudah lelah berpikir semenjak di perpustakaan tadi.


"Cil, ayo bangun. Kau masih sekolah, kan?" Suara panggilan Bunda membuatku terpaksa untuk membuka mataku. Kepalaku terasa begitu berat. Aku beralih menatap jam di dinding, rupanya sudah jam 6. Dari ucapan bunda aku tahu kalau aku tertidur semalaman.


"Bunda, sepertinya aku sakit," lirihku. Bunda kemudian memeriksa suhu tubuhku dengan tangannya.


"Badanmu panas, Cil. Apa kepalamu juga sakit?" Aku menjawab pertanyaan bunda dengan anggukan kecil. Bahkan menggerakkan kepalaku terasa sangat berat. "Istirahatlah dulu, bunda akan membuatkanmu bubur."


Aku tersenyum tipis. Saat bunda beranjak pergi, aku meraih ponselku, mencari nomor Devan untuk memberitahunya agar dia tidak perlu menjemputku hari ini ke sekolah.


Tunggu, Devan? Apa dia memang akan menjemputku hari ini? Mungkin tanpa aku beritahu pun dia tidak akan melakukannya. Aku bahkan tidak tahu cara untuk memulai berbicara kembali dengannya nanti, besok atau beberapa hari ke depan. Ini akan menjadi begitu canggung untukku. Kami memang selalu marahan, tetapi akur begitu saja. Tetapi kali ini, masalahnya beda.


Bunda kemudian kembali, membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. Aku begitu suka bubur, tetapi kali ini aku begitu tak berselera.


“Makanlah, Cil,” pinta bunda untuk ke sekian kalinya. Akhirnya aku menyerah dan membuka mulutku.


“Sudah, Bun. Aku tidak mau lagi.”


Bunda meletakkan piring itu di atas nakas samping tempat tidurku kemudian mengambil baskom kecil, memeras handuk itu, dan menaruhnya di dahiku.


"Istirahatlah, kau akan merasa baik nanti," ucap bunda. Aku tersenyum tipis lalu menutup mataku. Handuk di dahiku itu benar-benar membuatku nyaman dan rileks.


Aku kembali menatap dinding, jam menunjukkan pukul 11.00. Aku tertidur lima jam lamanya. Aku mencoba untuk duduk. Bunda benar, rasa sakit di kepalaku mulai berkurang.


Aku mengecek ponselku, berharap ada pesan yang masuk dari Devan. Ini sungguh aneh, apa dia tidak lagi peduli padaku atau bahkan hanya untuk sekedar mencari keberadaanku?


"Jangan menangis, Pricilia. Kamu kuat," gumamku pelan untuk menyemangati diriku yang sedang rapuh ini.


Aku lalu beranjak menuju kamar mandi. Aku butuh mandi. Badanku terasa begitu lengket. Seusai mandi, aku duduk di dekat jendela kamarku, menatap jalanan depan rumah yang begitu sepi. Tidak ada satu pun motor yang lewat, benar-benar sepi.


Sudah genap dua jam aku menunggu kedatangannya tetapi dia tak kunjung datang. Aku benar-benar benci situasi ini. Ke mana dia? Apa dia marah? Akh.


Suara mesin motor yang perlahan mengecil membuat mataku kembali menatap jendela. Dia? Dia datang. Senyum terkembang lebar di wajahku, begitu bahagia melihatnya. Aku beranjak, berlari menemuinya, tetapi ingatanku tentang kejadian kemarin menahan langkahku saat aku sudah berada di hadapan pintu. Aku begitu malu untuk menunjukkan wajahku di hadapannya. Apa yang harus aku lakukan, sekarang? Berpikir, Pricilia. Berpikir.


Setelah berpikir lama dan pada akhirnya tidak tahu ingin melakukan apa, aku memilih untuk pura-pura tidur saja dari pada salah tingkah nanti di hadapannya. Benar-benar canggung.


Aku mendengar suara langkah kaki menuju kamarku. Aku dengan segera membaringkan tubuhku, menarik selimut dan menutup mata.


"Kau masih tidur rupanya, Cil? ucap Bunda. Bersamaan suara Bunda, aku juga mendengar suara motor yang melaju, menjauhi rumah. Apa Devan sudah pulang?


Aku membuka sedikit mataku, mengintip walau samar-sama tetapi yang aku tidak mendapatkan Devan di sana, hanya ada bunda yang seperti menaruh sesuatu di atas meja.

__ADS_1


“Ada bingkisan dari Devan.”


"Bingkisan apa, Bun?" ucapku tiba-tiba membuat bunda tersentak kaget.


"Bukannya kau tidur?"


"Aku hanya pura-pura tidur, Bun." Eh? Aku keceplosan. "Maksud aku, aku sudah bangun dari tadi, cuma menutup mata saja,” kekehku malu. "Tadi Devan datang, Bun?"


Bunda menatap ke arah pintu sebentar, lalu kembali beralih menatapku. "Iya, dia sudah pulang."


"Kenapa pulang, Bun?"


"Ada urusan penting katanya."


Urusan penting apa? Huh. Aku rasa dia berbohong. 'Dia tidak ingin menemuiku' bukankah itu alasan yang lebih simpel? Dari pada harus bersusah payah untuk mencari alasan yang lebih logis.


"Kalian punya masalah?" tanya bunda, menatap langsung ke manik mataku, seperti menuntut sebuah jawaban.


"Huaaa, putri ayah kenapa?" Ayah tiba-tiba masuk ke kamarku dengan wajah yang dibuat seakan-akan dia panik. Tampaknya dia baru pulang dari kantor. Tasnya masih ada di tangan dan jasnya belum dia lepaskan.


"Aku tidak apa-apa, Yah. Lihatlah, anakmu ini bahkan sudah mandi."


"Baguslah. Kau ingin makan apa? Biar ayah pergi membelikannya," tawar ayah.


'Aku ingin Devan ada di sini, Ayah' Hatiku mengucapkan itu namun mulutku berkata, "aku tidak ingin makan apa-apa, Yah.”


“Oh ya, bunda, tadi ada.”


Aku meraih bingkisan dari Devan lantas membukanya. Bingkisan buah di keranjang kecil yang dibungkus rapi dengan plastik wrap.


Di cela buah itu aku menemukan secarik kertas, kertas kecil dan di dalamnya terdapat sebuah tulisan yang ditulis dengan tangan.


Cepat sembuh, Dellong


Hanya kalimat sesederhana itu yang mampu menciptakan seutas senyum di wajahku. Setetes air mata kembali menetes di pipiku. Aku merindukanmu, sahabatku, Devan.


Malam harinya, aku membaringkan tubuhku di sofa sembari menonton TV dengan Ayah. Kami menonton SpongeBob SquerePants . Lupakan soal usia, ayah dan aku benar-benar menyukai kartun itu.


"Kau marahan sama Devan?" tanya ayah tiba-tiba tanpa mengalihkan perhatiannya dari TV.


"Hm." Hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku tidak tahu bagaimana cara menjawabnya atau bahkan bagaimana memulai ceritanya.


"Kenapa?" tanya ayah lagi. Kali ini dia menatapku lekat.


"Sebenarnya, hmm ." Aku menghela nafas kasar dan menggigit bibir bawaku. . "Devan menolakku," gumamku pelan.


"Apa?" Ayah tertawa terbahak-bahak. "Kau menembak Devan?" tanyanya, mungkin lebih tepat: ledeknya. "Terus dia menolakmu?" Ayah tidak berhenti tertawa. Sepertinya perut ayah sudah mulai sakit karena tertawa.


"Dia tidak mau. Katanya, karena pacaran bisa merusak persahabatan kami. Pacaran hanya berakhir dengan dua kemungkinan, putus karena menikah atau putus karena pisah," ucapku mengingat-ingat kembali ucapan Devan.

__ADS_1


"Devan benar. Aku setuju sama Devan. Persahabatan itu bisa berlangsung selamanya bahkan kalau kalian nantinya punya pasangan, walau itu tergantung dari pasangan kalian masing-masing sih. Ayah sendiri malah lebih nyaman menjadi sahabat daripada menjadi pacar. Lebih bebas saja begitu," papar ayah yang entah kapan beralih ke mode serius. "Jatuh cinta sama sahabat itu memang menyakitkan," lanjutnya.


Aku menghela kasar. Aku heran kenapa aku melakukannya jika menjadi sahabatnya saja sudah begitu menyenangkan. Kenapa aku terlalu egois untuk menginginkan hubungan yang lebih


"Minta maaflah dengannya besok. Ayah yakin harimu sulit dan hampa tanpa Devan,” cetus ayah.


×××


Pagi ini hujan turun, walau tidak sederas tadi tetap saja mampu membuat bajuku basah. Awalnya saat aku berangkat dengan ayah, langit masih terang-terangnya, tetapi waktu di jalan tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya, menghunjam aspal dan menciptakan irama yang tenang.


Aku berlari mulai saat aku turun dari mobil menuju koridor kelas yang jaraknya 10 meter. Tentu saja ini membuat bajuku sedikit basah di hari Sabtu ini.


"Dingin," lirihku. Aku berdiri dan menatap ke arah gerbang, melihat siswa lain yang juga lari begitu dia turun dari mobilnya. Aku meniup tanganku lalu menempelkannya ke pipi agar aku sedikit merasa hangat. Aku bahkan lupa membawa jaketku.


Tiba-tiba saja dari belakang ada yang memakaikanku sebuah jaket. Aku menoleh, tetapi orang itu malah membelakangiku dan berjalan menjauh. Itu Devanku, Devan yang selalu peduli padaku di situasi apa pun.


Ingin sekali aku memanggilnya jika saja mulutku tidak kaku. Tetapi syukurlah, kakiku masih bisa berlari untuk mengejarnya. Aku memeluknya dari belakang sehingga membuat langkahnya terhenti.


"Maafkan aku," ucapku pelan. "Aku ingin semuanya kembali baik-baik saja. Aku benci jarak yang tercipta ini. Aku merindukanmu, Devan. Sungguh,” gumamku.


Dia kemudian melepaskan pelukanku, membalikkan tubuhnya ke arahku dan memegang bahuku. Aku tidak berani menatap matanya, sedangkan dia malah memegang daguku dan membuatku mendongak ke arahnya.


"Priciliaku, maafkan aku juga. Maaf telah membuat menangis," lirihnya sendu. Dia kemudian tersenyum dan membuatku ikut tersenyum. "Hai, kau menangis lagi?" Dia menatap manik mataku.


"Aku hanya terharu." Aku memayungkan bibirku dan dia malah mengusap pipiku. Huaaa, sepertinya aku ingin menangis lebih deras lagi.


"Tetapi lihatlah, kau membuat bajuku basah. Dasar." Dia berbalik, memperlihatkan bajunya.


"Ngga basah, tuh." elakku. Padahal ada bekas air di sana. "Sudahlah, ayo ke kelas."


"Ayo." Devan kembali merangkulku hangat. "Tunggu." Devan menghentikan langkahnya, begitu pula denganku.


"Apa?


"Bukankah kau ingin pergi ke pantai?" bisiknya pelan.


"Tetapi sekarang sekolah."


"Nanti temui aku jam 8. Ok"


Aku tersenyum kemudian mengisyaratkan 'Ok' dengan tanganku. "Btw, kenapa kau tak menjengukku kemarin?"


"Siapa bilang? Aku datang ke rumahmu. Bahkan aku melihatmu pura-pura tidur," sindirnya lantas terkekeh pelan


"Dari mana kau tahu aku pura-pura tidur?" Aku menatap tajam matanya.


"Aku hanya pura-pura tidur, Bun." Dia menirukan gayaku dan mengubah suaranya sebisa mungkin menyerupai seorang wanita.


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, malu. Ternyata dia ada di sana, berdiri di balik pintu. Pantas saja kemarin Bunda melihat ke arah pintu sebelum menjawab pertanyaanku. "Lalu suara motor itu?"

__ADS_1


"Mungkin suara motor orang lain," jawabnya acuh. Dia kemudian melangkah, mendahuluiku ke kelas.


Persahabatan yang simpel, bukan?


__ADS_2