
Setelah bersenang-senang kemarin dengan Devan, hari ini dia tidak lagi datang ke kelasku di jam istirahat. Aku beranjak dari kursiku dan berjalan menuju ke kelasnya.
Aku tidak melihat batang hidung orang yang aku cari itu. Setelah mengetuk pintu, aku masuk ke dalam ruang kelas itu, menghampiri Gergia yang sedang berbicara dengan temannya.
"Devan mana, Gi?" tanyaku.
"Kenapa kau tidak tanya saja sama pacarmu itu?" ucap Gergia judes.
Apa Gergia juga ikut-ikutan berubah aneh? Apa ada virus yang menyebar dan mengiveksi Devan lebih dulu kemudian Gergia? Apa virus itu mengubah tubuh inangnya menjadi aneh?
"Mana mungkin Kak Rega tau Devan di mana?" jujurku.
"Lantas kenapa kau menanyakan ini kepadaku, CK."
"Kau teman sekelasnya, bukan?"
"Lantas?"
"Wait, kamu bukan seperti Gergia yang aku kenal, deh."
"Nggak usah sok asik lu." Gergia mendorong satu bahuku. "Ya kali gw bersikap seperti ini di depan Devan, dan apa kau pikir aku beneran menyerah untuk ngerebut Devan dari kamu? Begitu? Jangan mimpi, bentar lagi Devan bakal jadi milik gw."
"Berarti yang di Cafe itu cuma sandiriwaranya kamu doang?" tanyaku pelan sembari berpikir.
"Nah paham." Gergia melihat kedua tangan di depan dadanya itu.
"Tetapi kenapa kamu ngelakuin ini, Gergia."
__ADS_1
Gergia tidak menjawab, melainkan menarik tanganku ke halaman belakang sekolah, sepertinya dia tidak ingin menarik perhatian banyak orang. Dan benar, hanya kami berdua di sini.
"Aku jelaskan baik-baik padamu ya, Adel. Jadi gini, alasan gw pindah ke sekolah ini karena gw baru tau ternyata Devan sekolah di sini, dan kenyaataan buruknya, kalian tetap bersama." Gergia diam sejenak, mungkin otaknya sedang beradu untuk menyusun kalimat.
"Yah, well, aku dapat berita baik lagi, Devan sekelas denganku. Semua baik-baik saja saat hari pertama aku dengannya, tetapi Devan mulai mencemaskanmu besoknya."
"Tetapi bukankah ka."
"Jangan potong pembicaaranku." Dia memutar bola matanya malas. Tetapi bukankah dia yang memotong ucapanku.
"Maaf," lirihku.
"Dan kau tahu betapa senangnya aku saat menerima pesan dari Devan yang mengajakku ke cafe hari itu lewat chat? Aku baru saja sampai di rumah. Saat melihat chat itu aku langsung otw. Aku pikir aku akan menghabiskan waktu soreku dengan Devan, tetapi nyatanya nggak." Intonasi suara Gergia berubah menjadi lebih kasar dan juga naik.
"Aku benar-benar benci kau, Adel."
"Hai, Kau bertanya dengan polosnya? Salahmu itu karena Devan suka sama lo."
"Wait, wait, wait, apa salahnya jika dia suka sama aku. Dia sahabatku," jawabku.
"Adel, Adel. Kamu udah besar tetapi pemikiranmu masih sempit." Gergia diam, begitu pula denganku yang berusaha mencerna perkataannya.
"Gini yah, Del. Kau memang tidak peka." Dia menghela nafasnya kasar. "Melihat dari cara Devan memandangmu, bagaimana pedulinya dia, dan juga perhatian yang dia terus berikan kepadamu, apa itu tidak cukup menjelaskan semuanya?"
"Menjelaskan apa?" tanyaku. Aku benar-benar tidak paham sama semua ini.
"Adel." Gergia menyebut namaku sembari menghela nafasya kasar, dia sepertinya benar-benar marah padaku. "Devan suka sama lo, suka seperti yang kamu katakan waktu itu kepadanya di taman hari itu. Aku ada di sana, melihat kalian berdua. Menyaksikan bagaimana setetes air mata turun dari matanya saat kau pulang hari itu. Dan jujur saja, itu alasan utamaku pindah ke sini. Untuk merebut Devan lagi."
__ADS_1
Gergia berjalan dan duduk di atas sebuah papan kayu. "Saat aku masuk ke sekolah ini, aku heran, kenapa kau dekat dengan seorang pria lain. Apa kalian marahan? Aku sempat berpikir bahwa jarak telah tercipta di antara kalian karena hari itu. Aku juga sempat menanyakan pada Devan siapa pria yang bersamamu. Dan kau tahu apa jawabannya? 'Pacarnya' Hanya satu kata itu yang dia ucapkan dengan wajah datar."
"Bukankah aku pernah bilang padamu, Del, waktu kita masih SD dulu." Intonasi Gergia berubah menjadi lembut. "Aku berhenti untuk mengejar Devan. Dan yang aku ucapkan itu benar-benar aku lakuin sampai aku melihatmu di taman. Dan obsesiku malah bertambah saat aku tahu kamu punya pacar. Aku memang masih menyukai Devan dan aku membiarkannya untuk bersamamu waktu itu. Tetapi lihat yang kau lakukan?" Dia menunjukku dan menatapku dengan tatapan tajam.
Bel masuk berbunyi tetapi Gergia masih diam di tempatnya, begitu pula denganku yang masih ingin mendengar semua penjelasan tentang Devan.
"Apa ini salahku? Aku sudah menembaknya lebih dulu," tanyaku.
"Adel, Adel, kesalahan keduamu karena kamu tidak peka dan tidak pernah mengerti tentang apa itu perasaan. Aku jadi kasihan sama pacarmu itu. Kau menjadikannya seperti pelampiasan karena kau di tolak Devan." Gergia beranjak dari kursinya dan berjalan di sampingku. Aku menahan tangannya membuatnya menoleh ke arahku.
"Aku punya satu pertanyaan," lirihku. "Kenapa Devan menolakku?"
Gergia menghela nafasnya kasar. "Bukankah Devan sendiri sudah memberitahumu? Dia tidak ingin merusak persahabatan kalian. Dan sejauh yang aku tahu, Devan lebih memilih untuk memendam perasaannya dan tetap menjadi sahabatmu agar dia tidak kehilangan kamu." Gergia melepas tanganku kemudian pergi meninggalkanku.
Aku berjalan ke kelas. Mengetuk pintu kelasku saat Pak Heri mengajar. "Maaf, pak. Aku terlambat." Pak Heri menyuruhku duduk. Pikiranku masih mencoba untuk benar-benar mencerna ucapan Gergia tadi sehingga membuatku tidak fokus pada pelajaran kali ini.
Bel pulang berbunyi. Aku segera mengambil ponselku di tas saat Pak Heri keluar dari kelas. Aku mencoba menghubungi Devan, tetapi dia tidak menjawab teleponku.
"Aku akan ke rumahnya."
Aku berjalan menuju ke gerbang sekolah yang mulai sepi ini, menunggu taksi lewat di hadapanku.
"Adel, kau belum pulang? Mau pulang bersamaku?" tanya Kak Rega dengan senyuman tipis.
"Aku mau ke rumah Devan, Kak. Kakak pulang saja dulu," jawabku.
"Baiklah, oh ya, tetap semangat, sayang," ucapnya lalu melajukan mobilnya.
__ADS_1